WAROENG PODJOK MANGKOES
Bayu adalah seorang pekerja kantoran, baru saja lulus kuliah 3 tahun yang lalu dan sekarang sedang bekerja di sebuah kantor kecil sebagai staff administrasi. Pria biasa berusia 25 tahun, yang biasa saja secara penampilan ataupun fisik, pun sedang dalam pencarian diri di sisi internalnya.
Tinggal di sebuah kost2an yang dekat dengan kantornya, adalah strategi Bayu untuk menghemat biaya perjalanan. Sehingga setiap pagi, dia berangkat ke kantor dengan berjalan kaki dan pulang pun dengan kegiatan yang sama. Jarak dari tempat kostnya sejauh 2 kilo an, nggak begitu terasa buat dirinya, terutama karena sudah terbiasa dengan kegiatannya sehari-hari.
Staff administrasi di bagian keuangan, begitulah kira-kira penggambaran pekerjaan dari Bayu di kantornya yang nggak seberapa itu. Sebuah kantor kecil dengan hanya 7 orang pegawai, dan Bayu adalah bagian staff keuangan yang paling bawah dan memiliki tanggung jawab terkecil.
Kesehariannya serasa sebuah rutinitas yang monoton, bangun pagi hari, berangkat ke kantor, bekerja, istirahat, bekerja lagi, absen pulang dan berjalan pulang ke rumah.
Penggambaran dari sebuah perjalanan hidup yang tidak terasa menarik dan minim dinamika.
Yang tersulit adalah ketika musim hujan tiba. Seringkali hujan yang deras membuatnya enggan untuk terus berjalan dan memilih untuk mencari berteduh sejenak menunggu hujan reda.
Seperti yang terjadi pada petang hari ini.
Turunnya hujan yang tadinya rintik-rintik menjadi semakin deras dan menjadi lebat. Bayu yang sedang dalam perjalanan pulang ke kost nya, memilih untuk mencari tempat berteduh. Secara cepat, matanya langsung melihat sebuah warung serba ada yang ada di pinggir jalan. Warung yang menjual segala kebutuhan sehari-hari. Beberapa kali Bayu sering mampir dalam perjalanannya ke warung itu untuk membeli rokok.
Keputusan mengenai tempat berteduhpun cepat diambil, dengan sedikit berlari kecil menuju warung tersebut sambil berharap menghindar dari hujan yang sudah lebat.

illustrated by Lovelie Light (LVL)
“Permisi Mas..”, Bayu segera menyapa dari luar warung, berharap ada Mas-mas setengah baya yang sering ditemuinya ketika berbelanja ke warung Pojok itu.
“Ya Mas ?”. Seketika sebuah kepala mendongak dari balik etalase warung,
Nah ini dia, pikir Bayu, sesosok wajah yang dikenalnya, karena beberapa kali bertemu ketika mengunjungi warung itu. Bayu pun merasa tidak enak hati sekedar numpang neduh saja, merasa punya kewajiban untuk berbelanja juga.
“Boleh minta rokok ******** satu Mas ? ”, tanya Bayu.
“Iya Mas, sebentar ya.”, Sang penjaga warungpun menunduk sebentar, mengambil pesanan bayu di etalasenya.
“Tapi sambil numpang neduh boleh ya Mas ? Hujannya deres banget.”
“Oooh silahkan Mas, masuk aja ke dalam kalo gitu. ”, Mas Penjaga Warungpun menunjuk ke pintu di samping etalase warungnya.
“Boleh Mas ? Gak apa-apa nih ? ”, tanya Bayu.
“Gak apa-apa lah Mas, santai aja. Mari-mari, silahkan..masuk aja Mas”.
Bayu pun menuju pintu samping etalase dan masuk ke dalam. Agak terkejut melihat dekorasi yang tertata rapi dan nyaman, Sementara tadinya dalam bayangan Bayu, di belakang etalase biasanya adalah sebuah tempat tinggal, yang kumuh dan kotor. Tapi di warung yang ini, lebih mirip ruang keluarga suasanyanya daripada area di belakang etalase warung. Cermat dan apik penataan pemiliknya, sehingga langsung terasa suasana dan vibes yang seperti rumah tinggal.
“Duduk aja Mas. Mau kopi nggak ?”, Mas Penjaga Warungpun bertanya.
“Eh..” Bayu sedikit tertegun mendengar pertanyaan itu. Mau jawab nggak, tapi kok dalam bayangannya enak banget suasana hujan deras dan angin dingin ini dilewati sambil nyeruput kopi hangat. Tapi mau dijawab iya, kok ya jadi kayak orang numpang yang nggak tahu diri.
“Santai aja Mas, saya juga mau bikin ini, biar sekalian. ”, Mas Penjaga Warungpun seakan bisa menebak pikiran Bayu.
“Eh iya Mas, takut ngerepotin..”, Bayu agak nggak enak hati karena takut terlalu nyaman.
Nggak lama kemudian, Mas Penjaga Warung keluar dengan membawa 2 cangkir kopi panas, lalu meletakkannya di atas meja di dekat tempat Bayu duduk.
“Silahkan Mas..”, sambil mengambil tempat duduk di depan Bayu.
“Terima kasih loh Mas..waduh, ini enak banget, kopi panas sambil dengerin hujan..”, Bayu masih nggak enak hati, tapi nikmatnya kopi sudah terbayang di dalam pikirannya.
“Saya Sakti Mas, ini dengan Mas siapa ? ”, Mas Penjaga Warung memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanannya.
“Nama saya Bayu, Mas Sakti,” Bayu pun menyamput uluran tangan perkenalan dari Sakti.
“Mas Bayu tinggal dekat sini ya ? Saya sering lihat Mas Bayu mampir ke warung saya soalnya untuk beli rokok.” Sakti pun membuka pembicaraan.
“Iya Mas Sakti, saya kost deket sini. Kebetulan kantor juga nggak begitu jauh, jadi setiap hari memang jalan kaki. Eh ini numpang ya Mas ? Lagi pulang kantor, tiba-tiba hujan deras gini..”, Bayu mulai nggak tahan lihat kopi yang aromanya semakin terhirup di hidung.
“Silahkan Mas Bayu, santai aja. Warung saya terbuka kok untuk siapa saja. Namanya juga warung Mas, harus nyaman buat siapa saja yang berbelanja kan ?”, Sakti ikut mengambil cangkir kopi, setelahnya mengambil sebuah asbak, dan disodorkan ke arah Bayu.
“Monggo Mas Bayu, nggak enak ngopi kalau nggak sambil merokok.”
“Aaaah terlalu nyaman ini, jadi kayak namu loh Mas Sakti, bukan kayak orang numpang neduh.”
“Gpp Mas Bayu, sudah sering kok saya terima tamu begini. Nggak membeda-bedakan siapa tamunya kok. ”
Melihat Sakti mulai menyalakan rokok juga, Bayu pun mengikuti dengan gerakan yang sama. Tidak lama dengan perantara asap rokok dan rasa kopi, obrolan pun jadi lebih luwes dan lancar.
“Sering kok Mas, yang ke warung saya ini bukan cuma untuk membeli kebutuhan nya aja. Tapi mampir, dan ngobrol-ngobrol di sini. Kadang mereka numpang ngopi, kadang ada yang cerita, kadang ada yang berkeluh kesah di sini.
Tapi kan namanya warung ya, warung yang menjual kebutuhan hidup. Kadang-kadang ngobrol dan cerita-cerita juga merupakan kebutuhan hidup kan ?”, Sakti melanjutkan obrolannya.
“Maksudnya Mas Sakti…ngobrol-ngobrol itu juga bisa dijadikan komoditas jualan juga Mas ?”, Bayu mempertanyakan.
“Iya dong..eh, saya panggil Bayu saja ya, tebakan saya dirimu masih di usia 20an soalnya..”
“Iya, Mas Sakti, saya 25 tahun. Mas Sakti sendiri usia berapa Mas ?”
“Saya sudah masuk ke pertengahan kepala 3 usianya Bay. Jadi kembali ke topik, ngobrol-ngobrol bisa juga kok jadi komoditas, dan diperjual belikan, karena memang kebutuhan hidup. Mengenai dibayarnya menggunakan apa, kan itu bebas. Nggak harus dan nggak musti dibayar pakai uang kan ?”
“O iya sih Mas, rasa terima kasih saja bisa ya..”
“Malah seringnya wujud rasa terima kasih itu diberikan oleh tamu-tamu saya dengan membeli barang-barang dagangan saya. Yang mungkin mereka nggak butuhkan. Seperti misalnya cemilan-cemilan, yang kita nikmati bersama-sama waktu lagi ngobrol.”
“Bener juga Mas”, Bayu mengiyakan, sambil bertanya dalam hati,
“Apa aku harus beli cemilan di sini juga ya ? Mungkin nanti ah, sewaktu pulang..”
“Malah kadang ada yang bawa makanan dari rumah Bay. Seru kok tetangga-tetangga di sini, mereka kadang bawa pisang goreng bikinan sendiri dari rumahnya ke sini, buat teman ngobrol-ngobrol. ”, Sakti tertawa kecil,
“Soalnya tempatnya Mas Sakti enak dan nyaman ini. Makanya tetangga-tetangga seneng mampir.”
“Begitu ya ? Bisa jadi…kantor mu gimana Bay ? Kerja nya di bidang apa ?”
“Wah kalau saya sih cuma staf admin kecil Mas. Ngerjain keuangan kantor aja, kantor kecil juga kok, nggak besar-besar amat.”
“Gak apa-apa Bay, biar ada perjuangannya dari kecil. Jadi pas udah waktunya di kantor gede, udah tau rasanya berjuang.”, Sakti menimpali jawaban Bayu yang terasa tidak memiliki kepercayaan diri.
“Berjuaaaaaang bangetttt Mas Sakti…apalagi tadi siang baru ada masalah nih. Ada uang yang hilang dari laci petty cash kantor. Bukan tanggung jawab saya sih, itu Boss saya yang simpan di laci kantornya dan dikunci sama dia. Tapi tiba-tiba tadi siang Boss saya bilang ada uang yang hilang.”
“Waduh…banyak Bay hilangnya ? ”
“Nggak sih Mas, tapi kan namanya kehilangan ya ? Jadi besok kata Boss akan ada pemeriksaan ke seluruh pegawai. Mungkin malah interogasi sama Polisi.”
“Trus ? Kamu dituduh Bay ? ”
“Nggak kok Mas Sakti, tapi ya takutnya aja jadi kebawa-bawa. Karena saya duduknya kan di sebelah meja Boss di kantor. Jadi ya gitu deh, udah kebayang kerepotannya besok, jadi tersangka utama, karena tempat duduknya paling dekat dengan Boss.”
“Nggak ada CCTV Bay ? ”
“Nggak ada yang mengarah ke meja Boss sih Mas, kalo ke arah lain ada.”
“Nah loh, gimana tuh ? Ya ngarang dong berarti security nya, kan meja Boss justru yang paling harus dimonitor.”
“Ya gitu deh Mas, namanya juga kantor kecil, mungkin belum kepikiran sampe ke situ nya ya ”, Bayu menghisap dan menghembuskan asap rokoknya.
“Gak apa-apa Bay, tenang aja. Nggak usah terlalu dipikirkan, besok juga ada yang ngaku kok ambil itu. ”
“Hahahaha..menghibur banget Mas Sakti nih. Mana ada maling ngaku Mas.”
“Ada kok Bay, ada yang bukan maling. Cuma tergoda aja sesaat, abis itu rasa bersalahnya tinggi, karena emang bukan jiwa maling.”
“Bisa aja Mas Sakti nih”.
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang berat, berasal dari depan etalase warung.
“Permisi…”
Bayu & Sakti menoleh ke arah asal suara, namun Sakti segera bangkit dan menjawab, “Yaaa ? ”
Sementara Bayu tidak dapat melihat orang yang ada di balik etalase, karena dari posisi duduknya pandangan Bayu terhalang oleh etalase warung.
“Ya Pak ?”, Bayu hanya bisa melihat Sakti berbicara dengan lawan bicaranya dari balik etalase.
Respond percakapan dari tamu warung pun tidak terdengar sama sekali dari tempat Bayu duduk. Hanya suara menggumam kecil saja yang terdengar dari tamunya, sementara suara Sakti masih terdengar jelas.
“Boleh kok, tapi saya lagi ada tamu. Mungkin bisa nanti ? Lebih malam lagi ?”
Mendengar sekilas percakapan itu, Bayu jadi nggak enak, serasa jadi penghalang untuk tamunya Mas Sakti. Dengan refleks, Bayu menyeruput sisa kopi di cangkirnya, dan membereskan rokok dan korek apinya. Sekilas menoleh ke arah luar warung, hujan pun terlihat sudah reda.
“Baik, silahkan saja nanti agak malam kembali lagi, kita bisa ngobrol panjang lebar nanti.”, Sakti menyudahi pembicaraannya dengan tamunya.
“Lhoh, mau kemana Bay ? ”, Sakti bertanya ketika melihat Bayu sudah beberes.
“Eh gak enak Mas, itu ada tamu lagi yang mau berkunjung. Jadi nggak enak saya kelamaan, abis keenakan ngobrolnya sih.”
“Halah, gak apa-apa Bay..dia nanti malam mau balik lagi kok, saya udah bilang lagi ada tamu. Santai aja dulu.”
“Nggak deh Mas, nggak enak. Udah kemaleman juga & hujan nya udah reda juga kok.”
“Ooooh gitu ? Ya udah nggak apa-apa..kapan-kapan mampir lagi Bay, jadi kita bisa ngobrol-ngobrol lagi.”
“Siap Mas. Eh tapi BTW, itu tamu nya disuruh masuk aja Mas, saya udah mau pulang kok.”
“Gak apa-apa, dia udah pergi kok. Nanti malam dia pasti balik lagi.”
“Yah kasihan, orang sini Mas ? Tinggalnya deket sini ?”
“Nggak Bay, jauh dia tinggalnya dari sini… ”
“Kasihan banget..kalo gitu, panggil aja ya Mas ? Kasihan dia nunggu di mana itu sekarang ? Lagian sih Mas Sakti, kenapa nggak disuruh masuk aja sih ? Kan bisa ngobrol-ngobrol bertiga di sini dulu, saya juga mau jalan kan ini. ”, Bayu mulai berdiri sambil mengambil tas ransel kerjanya.
“Gak apa-apa Bay, nanti nggak nyaman kalau bertiga…”
“Nggak nyaman gimana Mas ? Dia yg nggak nyaman kah? Kalau saya sih oke-oke aja kok. ”
“Kamu nanti yang nggak nyaman Bay.”
“Lho ? Kok gitu ? Enggak lah, masak saya nggak nyaman.”
“Dia bukan orang soalnya Bay”
“Maksudnya gimana Mas ? ”
“Tamu saya yang tadi bukan manusia.”

Bayu ilustrated by Lovelie Light (LVL)
Pesan dari Penulis : Paling pas baca novelnya sambil dengerin lagu-lagu di sini :
See you next Chapter..