BENAR KATA SAKTI
“Pagi Bayu.”
Terdengar suara sapa khas Bapak-bapak dari Pak Burhan, Bossnya Bayu, ketika masuk ke ruangan kerja. Bayu yang sudah dalam posisi bekerja pun menyambut sapaan itu.
“Eh..Pagi Pak.”
Sambil membawa tas kerja, Pak Burhan mengambil posisi di meja kerja sebelah Bayu. Karena kantor Bayu memiliki lokasi yang terbatas, jadi kebijakan tempat duduk membuatnya duduk bersebelahan dengan Boss di tempat kerjanya. Pak Burhan memulai ritual sampai kantornya, mengeluarkan laptop, charger, menyalakannya, check handphone sebentar, lalu membereskan dokumen-dokumen di mejanya.

ilustrated by Lovelie Light (LVL)
Keheningan menyelimuti keduanya, lain dari suasana pagi hari biasanya, dimana di awal jam kerja keduanya sering sudah terlibat obrolan kecil ataupun diskusi serius mengenai urusan kantor. Tapi di pagi hari ini, pikiran Bayu masih banyak berkutat pada peristiwa kehilangan uang di laci Bossnya kemarin, kekhawatiran kemungkinan dia jadi tersangkanya belum bisa dia tepis, belum lagi membayangkan proses interogasi yang akan memakan waktu lama.
Banyak hal yang ada dalam skenario di otak Bayu, kalau ditanya ini maka dia akan jawab begitu. Kalau ditanya itu, dia akan jawab begini. Ketakutannya bukan berasal dari rasa bersalah, karena memang bukan Bayu yang mengambil uang kantor itu, tapi berasal dari overthinking dirinya sendiri. Belum juga kejadian, tapi pikirannya sudah menjalar kemana-mana dan mengulang berbagai macam skenario di dalam otaknya.
“Udah sarapan Bay ? ”, Suara Pak Burhan memecah keheningan di dalam ruang.
“Belum Pak, tapi nggak apa-apa. Saya kadang sarapan dan kadang nggak kok Pak.”, Bayu menjawab dengan suara yang dicoba ditenangkan.
“Ooo gitu, saya belum sempat sarapan nih. Kita enaknya sarapan apa ya ? Kamu biasa sarapan apa Bay ? ”
“Apa aja sih Pak, nggak ada keharusan kok. Tadi pagi saya niat mau beli roti di warung langganan saya pas jalan mau ke sini, tapi warungnya tutup.”
Ingatan Bayu kembali ke kejadian tadi malam, mengenai perbincangan aneh dengan Mas Sakti di Warung Pojoknya. Akhir percakapan yang aneh dan mengganggu dirinya semalaman. Apa sih maksudnya Mas Sakti. Niatnya tadi pagi untuk mampir lagi dengan alasan untuk beli roti di warung Pojok Mas Sakti pun belum bisa terlaksana, karena tadi pagi warung itu masih terlihat tutup.
Tidak seperti biasanya yang sudah buka dari pagi hari. “Mungkin karena tamu yang tadi malam, makanya Mas Sakti belum buka pagi.”, begitu pikir Bayu tadi pagi ketika melewati Warung Pojok itu.
“Boleh juga itu roti, setuju Bay. Kita beli roti ya pagi ini. Godam mana ?”, Pak Burhan menghentikan lamunan Bayu.
Godam adalah Office Boy di Kantor Bayu, seorang pemuda usia 20 tahun yang berasal dari Pemalang, sebuah daerah yang bersebelahan dengan Pekalongan. Namanya sebenarnya Husni, tapi orang-orang di kantor Bayu enggan untuk memanggil namanya, karena bunyinya nggak enak, huss..huss..huss..gitu. Tapi waktu pertama bekerja di Jakarta ini, si anak Pemalang punya kecenderungan kekota-kotaan, dengan umpatan ciri khasnya yaitu “God Damn”.
Cuma, karena pengucapannya masih berdialek Jawa Tengahan, sehingga umpatan itu langsung melekat menjadi nama panggilannya, sampai saat ini.
Nggak lama kemudian Godam pun sudah hadir di ruangan, “Ya Pak ? ”
“Godam, minta tolong dong beliin roti buat sarapan.”, Pak Burhan menyodorkan uang cash kepada Godam.
“Baik Pak, pengen beli roti apa Pak ? ”, tanya Godam sambil menerima uang cash dari Pak Burhan.
“Apa aja, yang di tukang roti. Beli aja beberapa macam Godam. Buat semua aja sekalian, sama buat sarapan kamu juga ya, jadi beli yang banyak.”, Pak Burhan mendetilkan deskripsi instruksinya.
“Waaah terima kasih Pak. Ada perayaan rupanya nih.”, Kata Godam.
“Nggak lah, cuma buat sarapan bareng-bareng aja ini.”, lanjut Pak Burhan.
Segera setelah menjawab pertanyaan Godam, Pak Burhan berpaling kepada Bayu lagi, sambil berkata.
“Jadi gini Bay, soal kasus kemarin itu..”
“Lho kamu ngapain masih di sini Dam ? ”, Pak Bayu melihat Godam belum beranjak.
“Saya mau ikut denger cerita Bapak juga ”, Godam dengan polos menjawab.
“Terus roti sarapan kita gimana ? ”, Tanya Pak Burhan.
“O iya Pak, tapi nanti saya ketinggalan ceritanya. Gimana ya Pak ?”, Polos sekali pemikiran anak ini, bingun untuk memutuskan.
“Ya nanti saya ulang lagi cerita kalau sudah ada roti buat sarapan ”
“Oooh baik Pak. Segera kalo gitu. ”, Godam bergegas balik badan dan keluar dari ruangan.
Pak Burhan refleks melihat Bayu, dan Bayu pun mengeluarkan reaksi spontan dengan menepuk jidatnya sendiri.
“Hahahahahaha”, keduanya tertawa bersama, dan sedikit cair suasana pagi ini.
“Jadi Bay, soal kasus kemarin itu…”, Kembali Pak Burhan memulai ceritanya.
“Iya Pak..gimana Pak ? ”, Burhan fokus mendengarkan Bossnya berbicara.
“Kita sekarang ber 6 Bay di kantor ini, tadi malam sudah ketahuan siapa pelakunya yang mengambil uang di laci kerja saya.”
“Hahhh ? Beneran Pak ? Siapa ? ”
“Si Yanto, tadi malam dia Whatsapp saya dan mengakui perbuatannya.”
“Kok bisaaaa Pak ?”, Bayu bertanya tanpa bisa ditahan.
“Ya si Yanto mengakui perbuatannya, alasannya biasa, karena alasan ekonomi. Nggak usah saya ceritakan lah alasannya. Tapi dasar bukan mental maling ya, dia nggak tahan sendiri. Nggak tahan rasa bersalahnya.”
“Owwwh..begitu ya Pak ? ”, ingatan Bayu langsung kembali ke kejadian tadi malam dan obrolan dengan Mas Sakti. “Kenapa bisa sama persis ya seperti yang digambarkan oleh Mas Sakti tadi malam ?”
“Saya sih masih respect ya sama Si Yanto, dengan bilang jujur dan mau mengembalikan uangnya. Tapi kita terpaksa cari gantinya untuk bisa bekerja sama-sama kita di sini. Sulit lagi untuk mengembalikan kepercayaannya soalnya kan. ”, Pak Burhan bercerita tentang isi hatinya, tapi terbentur dengan peraturan perusahaan dan memikirkan kenyamanan dan rasa aman dari karyawan-karyawannya yang lain.
“Iya Pak, saya juga sependapat..dan bersyukur, sudah ada jalan terangnya mengenai kejadiannya.”, Bayu merasa lega terhindar dari rasa khawatirnya akan proses yang berkepanjangan. Senang bahwa sudah ada kejelasan mengenai kejadian yang sebenarnya, pikirannya terasa ringan sekarang.
Justru malah pikiran Bayu sekarang banyak berkutat pada Mas Sakti, kok bisa kejadiannya sama persis dengan obrolan mereka tadi malam ? Kebetulan saja kah ? Atau…
“Permisi Pak, sarapan rotinya ”, Godam datang dengan membawa setumpuk roti segar yang sudah disusun dengan rapi di atas sebuah piring. Lalu meletakkannya di atas meja kerja di sebelah meja Pak Burhan.
“Jadi gimana Pak ? ”, Godam mengambil tempat duduk di depan meja Pak Burhan.
“Sebentar Dam, saya cobain dulu ”, ujar Pak Burhan, sambil mengambil satu potong roti, dan mulai mengunyahnya.
Godam diam menunggu dan menanti sambil melihat Pak Burhan mengunyah rotinya.
“Enak kok Dam, pintar kamu..ini enak kok rotinya ”, Pak Burhan memberikan komentar.
“Bukaaaaan Pak, bukan rotinya. Kalo rotinya sih saya tahu kok enak, itu langganan soalnya…jadi gimana ceritanya ? Saya nungguin loh..”, Godam menjelaskan maksudnya sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Owalaaaaah Godaaaaaaam…”, Pak Burhan menepuk jidatnya, dan bersama Bayu tertawa sambil menikmati sarapan roti mereka.
Sore hari ketika pulang kantor, Bayu bergegas absen dan langsung menuju kost nya. Pikirannya sudah tidak sabar untuk mampir dan bercerita di warung Pojoknya Mas Sakti. Ia segera melangkahkan kakinya, beranjak dari kantor menuju ke kostnya.
Tiba di dekat Warung Pojok itu, dia melihat dari luar sudah buka seperti hari biasa, tapi dengan cepat Bayu pun mengurungkan niatnya untuk mampir. Lebih baik dia ke tempat kostnya dulu, mandi, lalu pergi membeli makan malam untuk porsi dua orang. Kemudian menikmati makan malam di sana bersama Mas Sakti. Kelihatannya itu ide yang lebih bagus, sekalian menunjukkan rasa berterima kasih dan menghargai Mas Sakti atas nasehatnya kemarin malam, dan juga tempat numpang neduhnya.
Bayu pun bergegas melangkah cepat menuju kost nya.
“Permisi Mas Sakti”, Bayu menyapa dari luar warung, sudah berganti baju rumah sambil membawa dua bungkus nasi goreng, beli di dekat kostnya. Menurut Bayu, itu adalah nasi goreng terenak yang ada di daerah itu.
“Ya ? ”, nggak lama kepala Mas Sakti nongol dari balik etalase warung, seperti biasa, “Eh kamu Bay, masuk..masuk…”
“Mas, ini saya bawakan nasi goreng buat makan malam. Tapi saya juga mau sekalian numpang makan di sini Mas.”
“Owalaaaah..pas banget ini, lagi pengen nasi goreng dari tadi siang. Masuk Bay, lewat samping yaaa…saya ambil piring dulu..”.
Bayu pun menuju pintu di samping etalase warung dan duduk posisi yang sama dengan waktu kemarin. Tidak lama kemudian, Sakti masuk dengan membawa dua piring kosong beserta sendok garpu, juga dua gelas besar berisi air putih.
“Waaah asyik nih, pesta nasi goreng kita malam ini. Makasih loh Bay oleh-oleh nya”, Mas Sakti berkata.
“Sama-sama Mas, biar bisa makan bareng kan kita. ”, Bayu pun mulai membuka bungkusan nasi gorengnya, lalu menuangkannya ke dalam piring kosong. Asap panas pun menyeruak keluar dan membuat ruangan belakang etalase warung pojok itu dipenuhi dengan wangi sedap dan khas dari rasa smokeynya nasi goreng.
Keduanya sama-sama larut dalam suasana hangat dan makan bersama. Setelah keduanya selesai dan menaruh piringnya. Masih tetap dalam suasana santai, dengan mulai mengasapi ruang belakang etalase itu dengan aroma tembakau.
“Eh Mas, yang Mas bilang kemarin itu kejadian loh hari ini ? ”, Bayu mulai membuka pembicaraan, sambil menghisap rokok dan mengeluarkan asap nya.
“Ah yang mana Bay ? Saya aja lupa ngomong apa kemarin..”, Sakti menimpali dengan santai. Keduanya sudah menarik posisi duduknya dengan menyender ke belakang, seakan-akan menikmati suasana santai yang sudah
“Kemarin kan Mas Sakti bilang, soal kehilangan uang di kantorku, kalo nanti juga ada yang ngaku ngambil. Eh beneran kejadian dong Mas, tadi pagi diceritain Bossku, kalau udah ada yang ngaku ngambil uang kantor itu.”, Bayu bersemangat menceritakan kejadian tadi pagi di kantornya. Sementara Sakti dengan mengangguk-angguk mendengarkan.
“Syukurlah kalo gitu Bay, jadi kan kamu nggak punya banyak pikiran lagi kan ? ”, ujar Sakti. “Kan udah ketahuan siapa yang mengambil, berarti udah bisa tenang sekarang kerjanya kan ? ”
“Iya Mas, tapi kok Mas Sakti bisa tahu sih? Sumpah penasaran saya Mas..kok bisa kejadiannya sama persis seperti yang Mas Sakti bilang.”
“Itu namanya lucky guess Bay, keberuntungan aja itu. Lagi beruntung aja saya kalo tebakannya bener, nggak lebih kok dari itu. ”
“Ah masak Mas ? Masak penjelasannya sesederhana itu ? ”, Bayu membuat mimik muka yang tidak percaya dengan penjelasan singkat dari Sakti.
“Bay..nggak semua-semua itu perlu dipikirkan kok. Cukup memikirkan aja yang perlu dan yang bisa kita usahakan. Sisanya nggak perlu dipikirkan, apalagi bagian yang ngak bisa kita kontrol. Sayang-sayang energimu Bay..”, Sakti berkata pelan sambil menghembuskan asap rokok miliknya juga.
“Ah emang gitu Mas ? Masih tetap nggak percaya saya”.
Sakti hanya tersenyum kecil saja mendengar hal itu.
“Eh Mas, satu lagi yang saya penasaran. Boleh saya tanyakan nggak ? ”, Bayu memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang masih ada di dalam pikirannya.
“Apa tuh Bay ? ”
“Soal kemarin itu, yang Mas Sakti bilang tamu saya bukan manusia. Itu maksudnya gimana ya Mas ?”, Bayu memajukan badannya ke depan, pertanda ini adalah topik yang menarik untuk dirinya.
“Iya itu artinya, memang bukan manusia kok tamu saya kemarin. Itu aja jawabannya. ”, Sakti menjawab singkat.
Belum lagi sempat diperpanjang pembicaraan mengenai hal ini, tiba-tiba terdengar suara memanggil.
“Permisi”, terdengar suara perempuan tua di balik etalase. “Mas Sakti, permisi..”
“Yaaaaa..? ”, Sakti pun bergegas bangkit menghampiri asal suara dari depan etalase Warung Pojoknya.

Sakti illustrated by Lovelie Light (LVL)
See you next Chapter..