DOM SI KELINCI PUTIH
Sekembalinya dari Rumah Ari dan Alda, Bayu dan Sakti kembali duduk-duduk di dalam Waroeng Podjok Mangkoes, sementara waktu sudah menjelang tengah malam. Sakti baru terlihat kelelahan, mengambil posisi duduk di kursi dengan punggung menyender pada sandaran dan posisi pantat agak maju ke depan dari kursi. Sementara Bayu masih dengan posisi duduk tegak, dengan sebatang rokok menyala menempel di tangan.
“Gimana Bay ? Apa yang kamu lihat di sana tadi ? ”, Tanya Sakti.
“Sabrina yang sakit, Bapak Ibunya yang khawatir. Itu aja sih Mas. Tapi terus jadi lebih baik Sabrinanya ketika kita pulang ya Mas ? Buktinya dia udah mau makan tuh. Biasanya kan gitu ya kalau mau sembuh ? ”, Jawab Bayu.
“Iya..kalau badannya kerasa nggak enak, kan nafsu makan orang jadi hilang. Tapi kebalikannya akan begitu juga, kalau badannya kerasa enak, timbul nafsu makan nya. ”, Sakti menambahkan, dengan posisi duduk sambil menatap ke langit-langit Waroeng Podjok.
“Iya bener Mas..tapi kok Mas Sakti bisa lihat kemampuan Sabrina Mas ? Itu gimana caranya? ”, Bayu mulai bermaksud mengurai pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya satu per satu.
“Kamu mau tau apa yang saya lihat di sana Bay ? ”, Sakti bertanya.
“Apa Mas ? ”
“Begitu masuk ke kamarnya Sabrina, saya lihat Sabrina kecil yg sakit terbaring di ranjangnya. Itu yang dilihat oleh orang lain juga. Tapi yang orang lain nggak lihat, badannya Sabrina dalam kondisi lemah gitu, masih saja berusaha mengambil emosi sedih dari Papa Mamanya. Di mata saya, ada seberkas sinar dari tubuh Papa Mamanya Sabrina, yang tersedot masuk ke dalam badannya Sabrina. Dan itu berlangsung terus menerus, tanpa berhenti.”, Ujar Sakti.
“Sebentar Mas..emang energi bisa dilihat ? Mas Sakti bisa lihat itu gitu ? ”, Bayu semakin ingin tahu.
“Bisa Bay, semua orang bisa lihat kok, dan bukan perkara mudah untuk belajarnya. Tapi bukan soal itu yang mau saya highlight Bay. Tapi soal lain. ”
“Apa Mas ? ”, Tanya Bayu.
“Kamu gak perhatiin fluktuasi emosi dari kedua orang tuanya Sabrina ? Sebentar-sebentar mereka drop emosinya, merasa kesedihan, sebentar-sebentar merasa bahagia, nanti sedih lagi, nanti bisa ketawa-ketawa. Fluktuasi emosi itu gak wajar loh Bay. Karena biasanya orang yang sedih atau banyak pikiran itu selalu terbawa sedih terus, susah untuk membuat mereka tertawa. ”, Sakti menjelaskan dengan perlahan.
“Eh iya Mas, ku baru merhatiin hal ini loh setelah Mas Sakti bilang gini. ”, Bayu menerawang ke dinding Waroeng Podjok, sambil mengingat-ingat peristiwa tadi.
“Kebayang nggak Bay ? Sabrina terus-terusan absorb emosi negatif dan penyakit dari kedua orang tuanya. Orang tuanya sih jadi enak banget, karena jadi nggak ada kesedihan, marah, kecewa ataupun penyakit yang berkepanjangan. Semuanya segera diabsorb oleh anaknya. Sementara Sabrinanya baru bisa absorb, terus nggak bisa diapa-apain sama dia. Jadi numpuk di badannya semua…kasihan banget.”, Sakti berkata sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Yang benar emang gimana Mas prosesnya ? ”, Tanya Bayu.
“Yang benar itu, kalau benar belajarnya, boleh kok menyerap energi dan emosi orang, tapi ya harus bisa punya metode sendiri untuk mengeluarkannya dari tubuh sendiri. Karena kalau nggak gitu akan ngerusak tubuhnya, semua numpuk di dalam tubuhnya, tapi nggak bisa dikeluarin. ”
Bayu mendengar itu mengangguk-angguk.
“Terus tadi Mas Sakti yang absorb balik ya energi nya Sabrina yang penuh emosi negatif itu ya ? ”, Tanya Bayu. “Soalnya Sabrina nya langsung jadi segar tuh. ”
“Iya Bay, diabsorb oleh saya..tapi kan saya punya metode untuk keluarinnya, karena sudah belajar caranya. Yang saya khawatir, adalah Sabrina selanjutnya bagaimana. ”
“Berarti Mas Sakti harus terus2an ketemu sama Sabrina dong ? Untuk absorb terus energi dari emosi negatif dia Mas ? Eh bener gak sih logika ku Mas ?”, Bayu bertanya dengan alis mengangkat.
“Soalnya di logikaku, kan Sabrina masih kecil, jadi belum bisa kontrol kemampuan dia , juga belum bisa punya cara untuk “membuang” yang sudah dia absorb. Jadi kalau sekarang di”absorb” oleh Mas Sakti, berarti kan dia besok atau lusa masih secara otomatis absorb energi orang lain lagi. Nanti lama-lama numpuk lagi di badannya dan jadi penyakit. Nanti Mas Sakti jadi harus balik lagi ke sana, dan absorb lagi dari Sabrina. Begitu terus-terusan, sampai Sabrina nya bisa melakukan metode pembuangan sendiri, atau bisa mengontrol kemampuan absorbnya. Betul begitu nggak logika nya Mas ?”
Tiba-tiba Sakti terdiam dan melihat Bayu.
“Eh cerdas kamu, hebat bisa melihat itu. Saya cuma sekali loh jelasinnya ke kamu.”, Kata Sakti.
“Jadi beban dan kerepotan tersendiri dong buat Mas Sakti kalo gitu ?”, Bayu nggak memperhatikan kata-kata Sakti yang memuji dirinya, tapi masih terus mencari apa yang ada di dalam kepalanya.
“Saya punya ide sendiri sih gimana supaya nggak repot.”
“Gimana Mas ? ”
“Nanti aja Bay, ini baru ide kok. Kalau beneran kejadian, kamu bantuin ya ? ”, Kata Sakti.
“Aih siap Mas. Senang loh diajak Mas Sakti masuk ke dunia kayak ini..saya masih awam banget Mas di dunia seperti ini. Tapi tertarik..tapi takut, karena emang nggak ngerti apa-apa. Tapi aslinya pengen tahu lebih banyak lagi.”, Kata Bayu.
“Jadi diajak Mas Sakti malam ini, bisa lihat dan menyaksikan sendiri Mas..”
“Aman Bay, biar kamu bisa belajar juga ya ? ”, Sakti berkata, tapi sambil menerawang matanya, memikirkan ide yang dimiliki untuk membantu Sabrina dengan kemampuan yang dimiliki.
Bayu berpikir, kalau sudah sangat larut dan sudah waktunya untuk pulang. Biar Mas Sakti juga bisa segera melakukan metode pembuangan energi yang sudah dia absorb tadi, karena kelihatan sekali Mas Sakti semakin payah dan lemah semenjak kembali dari rumah Sabrina. Sementara dirinya juga sudah merasa semakin mengantuk.
“Saya pikir tadinya Sabrina itu digangguin makhluk halus gitu loh Mas. Makanya jadi sakit dan demam. Kayak yang orang-orang sering bilang..ketempelan gitu Mas. ”, Bayu berkata, sambil bersiap-siap untuk pamit.
“Hahahhaha Bay Bay..nggak semua nya di dunia ini tentang makhluk halus. Pendapat kamu itu gak salah, karena sebagian besar orang udah terbiasa dengan pendapat itu..dikit-dikit makhluk halus, dikit-dikit soal gaib…nggak selalu begitu Bay, masih banyak penjelasan lain untuk segala sesuatu di luar itu. ”, Mas Sakti tertawa mendengar penjelasan Bayu.
“Hahahaha..saya kan masih pikiran orang biasa Mas…eh pamit dulu ah Mas, udah malam ini. Nanti saya mampir lagi..dan ngobrol lagi sama Mas Sakti. ”, Bayu pun berpamitan untuk pulang.
“Makasih banyak ya Bay, udah ditemenin..”, Mas Sakti bangkit dan mengantarkan Bayu sampai ke pintu etalase Waroeng Podjok.
“Saya yang makasih Mas..ini semua pengalaman baru buat saya. ”, Ujar Bayu.
“Mas Bayu..Mas Bayu…bangun Mas..”, Godam mencolek tangan Bayu.
Bayu segera terbangun , ternyata dia tertidur di meja kerja di kantornya. Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, saking mengantuknya Bayu karena kegiatan semalam dengan Mas Sakti, setengah jam yang lalu dia hanya ingin mengistirahatkan matanya sebentar di meja kerja. Ternyata kebablasan tidur.
“Waaaah abis ngeronda kayaknya nih..ngantuk banget siang ini Mas Bayu. Mas, saya mau beli makan siang, Mas Bayu mau nitip apa ?”, Tanya Godam. Dia geli sendiri melihat Bayu masih linglung dan kebingungan bangun tidur. Mata Bayu masih merah, dan sembab, sementara geraknya masih bingung diajak ngobrol dan belum bisa menjawab.
“Godam…ketiduran saya nih..”, jawab Bayu perlahan dan lirih. Tapi nggak lama, Bayu bisa merasakan energi yang besar di dalam tubuhnya. Tidur siang sejenak memang efektif buat mengembalikan vitalitas diri ketika sedang bekerja.
“Iya Mas..daritadi saya lihatin Mas Bayu ketiduran di meja kerja. Abis ngeronda tadi malem Mas ?, Tanya Godam sambil mengambil posisi duduk di sebelah Bayu. Mengerti bahwa dia harus menunggu sejenak, sebelum Bayu bisa menjawab pertanyaannya.
“Ada kegiatan tadi malam Dam…dan kepaksa deh harus tidur malam. Eh kamu mau beli makan siang apa ? ”, tanya Bayu.
“Mas Sidiq titip warteg Mas, kayak biasa. Mas Bayu mau titip nggak ? Abis ini merem lagi aja Mas, kan lagi waktu istirahat ini..”, Godam memainkan kunci motor yang ada di tangannya.
“Ikut deh Dam, ikut aja deh, nasi rames warteg, pake telor aja, ” jawab Bayu seraya memberikan uang.
“Oke Mas Bayu, siaaaaap..”, jawab Godam sambil menerima uang titipan dari Bayu, lalu melakukan gestur badan memberi hormat dengan mengangkat tangan kanan ke sebelah kening.
Tiba-tiba Pak Burhan memasuki ruangan dengan tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh. Godam dalam posisi menghormat pun, segera berdiri dan memberi hormat kepada Pak Burhan. Dasar latah.
“Teman-teman, saya terpaksa ijin pulang duluan ya. Baru dapat telephone dari rumah, anak saya yang perempuan tiba-tiba sakit. Muntah-muntah dan demam tinggi. ”, Pak Burhan berkata ke seluruh ruangan.
Sambil menuju ke meja kerjanya, dan mulai membereskan barang-barangnya, Pak Burhan terus berkata , “Teruskan aktivitas hari ini ya teman-teman, saya titip kantor. Maaf harus pulang duluan.”
“Kamu kenapa hormat gitu Dam ? ”, tanya Pak Burhan setelah melihat Godam memberi hormat kepadanya.
“Eh enggak Pak, maaf…latah…”, Kata Godam sambil menurunkan tangannya.
“Ya sudah, saya duluan ya teman-teman..”, kata Pak Burhan sambil berjalan dengan terburu-buru keluar ruangan.
“Siap , semoga cepat sembuh untuk anaknya Pak. ”, Bayu menimpali perkataan Pak Burhan.
Pak Burhan pun meninggalkan ruangan kerja, diikut oleh Godam yang membukakan pintu ruangan untuk beliau, lalu membuntuti di belakangnya.
Tiba-tiba handphone Bayu berbunyi, tanda ada message.
“Bay, nanti malam bisa mampir ke Waroeng ? Sudah ada jawaban nih dari ide saya semalam untuk soal Sabrina” - Mas Sakti.
Demikian bunyi message yang diterima oleh Bayu.
“Baik Mas, bisa. Sehabis makan malam kah kayak kemarin ? - Bayu
“Lebih malam lagi aja gpp Bay.” - Mas Sakti.
“Siap Mas, meluncur jam 10 an nanti malam ” - Bayu.
Malam itu, Bayu tiba di depan Waroeng Podjok Mangkoes tepat jam 22 lewat lima menit. Dengan menenteng bungkusan berisi pisang goreng, yang dia beli di tukang gorengan dalam perjalanan. Rencananya untuk bekal ngobrol-ngobrol sama Mas Sakti nanti.
“Mas Sakti..permisi..”, Bayu memanggil dari depan etalase warung.
“Eh Bay, masuk Bay..lewat pintu samping ya ? ”, Sakti menjawab.
Bayu pun memasuki pintu samping dan duduk di tempat duduk di area belakang etalase warung.
“Mas, kubawain pisang goreng ini.”, kata Bayu sambil menyodorkan bungkusan berisi pisang goreng.
“Asyiiikkkk, terima kasih Bay. Bisa punya cemilan kita malam ini. ”, Kata Sakti sambil menerima bungkusan itu.
“Nanti malam, ada tamu saya mau datang, dia bisa bantu untuk urusan Sabrina itu Bay, gpp ya ? Ku mau minta tolong dirimu soalnya untuk masalah ini nanti. ”, Tanya Sakti.
“Sip Mas, santai aja… ”, jawab Bayu.
“Sebentar Bay, kubikinkan kopi dulu ya. Kamu ngopi kan ya ? Biar nggak ngantuk..”, tanya Sakti sambil berdiri dan berjalan ke belakang.
“Aman Mas, mau dong kalo kopi. Tapi saya udah tidur tadi sore, jadi aman sepertinya malam ini dari ngantuk. ”, jawab Bayu.
“PERMISIIII…”, tiba-tiba terdengar suara berat dan parau dari depan etalase warung.
Bayu yang ditinggal oleh Sakti yang sedang bikin kopi, segera merasa rikuh karena ingin menjawab sapaan itu, tapi merasa bukan tuan rumah. Tapi Sang Tuan Rumah sedang ada di belakang bikin kopi, jadi mau nggak mau, harus Bayu yang menjawab.
“Yaaaaa ? ”, Bayu pun berjalan ke etalase, dan melihat tamu yang datang.
Di depan etalase warung, terlihat seorang bapak-bapak tua, dengan pakaian tradisional dan menggunakan ikat kepala (udeng), serta menenteng sebuah kotak di tangan kanannya.
“Permisi Mas..Mas Saktinya ada ? ”, tanya Bapak-bapak tua itu dengan suaranya yang berat dan parau tadi.
“Ooooh ada Pak, tapi Mas Saktinya lagi ke belakang. Boleh tunggu sebentar Pak ? Mau beli sesuatu kah atau…?”, Bayu bertanya dengan sopan.
“Oooh nggak Mas, saya udah janjian mau ketemu sama Mas Sakti malam ini.”, jawab Bapak Tua itu.
“Mungkini ini orang yang ditunggu-tunggu oleh Mas Sakti”, pikir Bayu.
“Masuk aja Pak, Mas Sakti barusan bilang kalau sedang menunggu tamu juga kok.”, Bayu berjalan ke pintu samping etalase sambil menjemput tamu itu.
“Saya Bayu, saya juga tamu nya Mas Sakti”, Bayu memperkenalkan diri sambil mempersilahkan tamunya masuk.
“Panggil saja saya Tunggal Mas ”, kata Bapak Tua itu sambil masuk ke dalam etalase warung lewat pintu samping.
Pak Tunggal segera mengambil tempat duduk, caranya berpakaian sederhana dengan atasan lurik dan celana hitam, serta ikat kepala (udeng) batik melekat di kepalanya. Kesederhanaan ini membuat Bayu menaruh hormat pada kesederhanaan yang ditampilkan, dengan keyakinan bahwa ini hanya tampilan luar saja.
“Pasti di dalamnya bukan orang biasa ini, apalagi ini tamu nya Mas Sakti”, ucap Bayu dalam hati.
Pak Tunggal segera menaruh kotak yang dibawanya ke bawah. Bayu segera memperhatikan kotak itu, yang ternyata adalah sebuah kandang kecil. Sebuah kandang binatang, yang terbuat dari anyaman besi-besi kecil berwarna hitam. Bayu pun sekilas melihat sesuatu yang bergerak-gerak di dalam kandang itu.
Tidak lama kemudian, keheningan di ruang belakang etalase Waroeng dipecahkan oleh kedatangan Sakti. Sambil membawa nampan berisi 3 cangkir, yang Bayu yakin isinya adalah kopi, Sakti mengeluarkan ekspresi yang terkaget-kaget.
“Lho Bay ? ”, cuma itu ucapan yang keluar dari mulut Sakti.
“Mas Sakti, ini tadi Pak Tunggal datang dan nanyain Mas Sakti. Jadi saya minta untuk masuk saja dan duduk di dalam. ”, Bayu menerangkan tamunya Mas Sakti.
Tapi sepertinya Sakti sudah mengenal tamunya dengan baik, segera setelah dia meletakkan cangkir kopi di meja, tangannya menyalami Pak Tunggal, seraya melakukan gerakan sedikit membungkuk. Melihat hal ini, semakin menguatkan dugaan Bayu bahwa ini bukan orang sembarangan.
“Pak..maaf saya lagi bikin kopi tadi di belakang.”, demikian Sakti menyapa tamunya ketika bersalaman.
“Nggak apa-apa Nak Sakti, ini udah dipersilahkan masuk kok sama Nak Bayu.”, sambut Pak Tunggal sambil tersenyum dan tetap dengan suara yang parau.
“Saya kira Pak Tunggal masih nanti malam datangnya Pak, ”, kata Sakti.
“Kebetulan tadi di jalan nggak ada hambatan apa-apa Nak Sakti. Jadi Bapak bisa lancar perjalanannya ke sini. ”
Ini loh, Bapak bawakan ini..”, kata Pak Tunggal seraya mengambil kandang binatang yang tadinya diletakkan di bawah. “Kemarin kan Nak Sakti minta tolong mengenai masalah anak yang namanya Sabrina itu. Bapak sudah temukan jawabannya, ini…”
Pak Tunggal membuka kandang itu dan mengeluarkan isinya. Di dalamnya ada seekor kelinci putih bersih, yang kelihatannya baru saja lahir, ukurannya lebih kecil dari kelinci biasa.
“Nak Sakti dan Nak Bayu, perkenalkan..ini namanya Dom..”, kata Pak Tunggal sambil memegang kelinci itu di atas telapak tangannya.

“Dom” illustrated by Lovelie Light (LVL)
Bayu tertegun melihat apa yang terjadi di hadapannya. Sama sekali tidak menyangka bahwa akan melihat seekor kelinci putih kecil sebagai jawaban dari idenya Sakti tentang permasalahan Sabrina. Di tengah kebingungannya dan banyak pertanyaan di kepalanya, Sakti hanya bisa diam.
“Ini kelinci nya jantan Pak ? Makanya namanya Dom ya ? ”, tanya Sakti sambil mengambil kelinci itu ke telapak tangannya.
“Iya Nak Sakti, ini kelinci jantan. Namanya Dom, kalau di bahasa Jawa artinya jarum. Dia kecil banget soalnya waktu lahir, jadi kayak jarum (Dom)..hehehe..”, Pak Tunggal tertawa terkekeh dengan perkataannya.
Seketika Bayu merasa tawanya Pak Tunggal memberi suasana lebih mencekam ke seisi ruangan.
“Fix sih”, pikir Bayu, “ini pasti bukan orang biasa.”
“Ih cakep banget ini kamu Dom,eh ganteng deng..kan jantan ya..”, ujar Sakti sambil melihat Dom dari sisi kiri dan kanan.
“Nak Bayu mau coba pegang Dom ? ”, tanya Pak Tunggal, sambil melihat ke arah Bayu.
“Eh boleh Pak..”, dengan ragu-ragu, Bayu pun mengambil Dom, si kelinci putih dari tangan Sakti.
“Nah kan..Nak Sakti bisa lihat kan ? ”, Pak Tunggal melihat ke arah sakti dan mencari konfirmasi.
“Iya Pak, saya lihat kok. Bagus ini, ini ide yang bagus banget loh Pak Tunggal. Keren ini solusinya. ”, Sakti pun berkata sambil menganggukkan kepalanya sambil memegang dagu.
“Eh lihat apa Pak ? Lihat apa Mas ? Saya lihat nya kelinci putih ini aja, bagus sih, tapi kok kalian kayak membicarakan hal lain ya ? ”, Bayu kebingungan sambil mencari-cari apa yang aneh dari Dom, si Kelinci putih.
“Hahahahaha..Bayu ini belum bisa lihat Pak.”, ujar Sakti, yang kemudian tertawa bersama-sama dengan Pak Tunggal.
“Gini Bay..di mata saya dan Pak Tunggal, ketika Dom dipegang oleh kamu, dia menyerap energi-energi yang jelek dari emosi negatif yang ada di dirimu. Tapi karena kamu nggak punya emosi negatif yang besar, ya jadinya nggak banyak yang diserap oleh Dom”, Sakti menjelaskan.
“Haaaaaa ? Iya kah Mas ? Emang iya Pak Tunggal ? Bisa kelihatan ya ? ”, Bayu masih kebingungan sambil masih memegang Dom dalam tangannya, malah secara refleks semakin mendekatkan Dom ke dadanya dan mengelus-elus kepalanya secara perlahan.
“Gak apa-apa Nak Bayu, nanti juga lama-lama kamu bisa kok ”, Pak Tunggal menambahkan.
“Jadi Nak Sakti, rencana dan idenya itu nanti adalah…Dom akan diberikan kepada Sabrina, untuk menemani dia bermain sehari-hari. Biar Dom nanti yang menyerap energi dari penyakit dan emosi sedih yang numpuk di Sabrina. ” Pak Tunggal kembali menjelaskan idenya, “Tentu saja nggak bisa selamanya, karena nanti di suatu hari, Sabrina tetap harus belajar sendiri untuk melakukannya. Tapi minimal bisa jadi solusi terdekat dan terbaik untuk sementara waktu ini. ”
“Itu lah Pak Tunggal, seperti kubilang tadi..ini solusi yang keren loh. ”, kata Sakti.
Tidak lama kemudian Pak Tunggal pun berpamitan pulang, dan segera menghilang di balik etalase warung.
“Gimana menurutmu Bay ? ”, tanya Sakti, setelah mereka tinggal berdua saja di dalam Waroeng.
“Masih nggak ngerti Mas. Saya ngerti sih alurnya, tapi masih nggak ngerti gimana bisa lihat kalo kelinci kecil ini bisa menyerap energi. ”, Bayu menjawab pertanyaan Sakti.
“Nah itu..yang penting, kamu mengerti dulu alurnya. Soal bisa melihat atau tidak bisa melihat, itu nanti bisa terjawab seiring dengan waktu. ” Sakti menyalakan rokok lagi. “Ada satu lagi nih yang mau saya mintakan tolong ke kamu Bay…”
“Apatuh Mas ? ”
“Besok boleh kah minta tolong kamu untuk mengantarkan Dom ke rumahnya Sabrina dan kasih ke anaknya ? Harus kamu yang mengantarkan soalnya, nanti saya yang beritahukan kedatanganmu besok ke Mas Ari dan Mbak Alda. Nanti saya juga yang menjelaskan tentang Dom. Jadi hanya minta tolong untuk antarkan Dom ke Sabrina saja Bay, boleh kah ? ”, tanya Mas Sakti.
“Boleh sih Mas, sehabis pulang kantor akan saya antarkan ke sana. ”, jawab Bayu. “Tapi mengapa harus saya Mas ?”
“Ah iseng aja..biar kamu ada kerjaan aja setelah pulang kantor. Biar Sabrina kenal sama kamu, kan kemarin dia baru lihat Om Bayu sekilas.”
“Hahahaha..kirain ada apa saya yang harus mengantarkan ke sana. ”
“Eh Bay, ngomong-ngomong, kamu beneran nggak lihat energi nya Dom ya tadi ? ”, tanya Sakti.
“Nggak Mas, saya nggak lihat apa-apa, cuma lihat kelinci putih kecil aja ”
“Hmmmm…nanti juga bisa lihat kok Bay. ”, jawab Sakti.
“Perlu banyak belajar ya Mas ? Saya masih nggak tahu apa-apa soalnya. ”
“Nggak kok, udah ada kok tanda-tandanya Bay. ”
“Maksudnya Mas ? ”
“Inget nggak dulu, waktu kamu pertama datang ke Waroeng ini ? Ada tamu saya yang nggak kelihatan ? ”
“Inget Mas, saya pernah nanya ke Mas Sakti soal itu kan. Masih jadi tanda tanya nih di pikiran saya ”
“Nah..itu Pak Tunggal Bay, dan Pak Tunggal itu bukan manusia. Kamu udah bisa tuh sekarang lihat Pak Tunggal kan ?”
Bayu terhenyak dan kaget. Tidak heran kalau dia merasa kenal dengan suara parau dan berat dari Pak Tunggal. Setelah agak lama mengingatnya, benar, dia pernah mendengar suara itu, waktu pertama kali datang ke Waroeng Podjok ini.
Hari sudah gelap dan Bayu pun tiba di depan rumah Sabrina. Sejenak merapikan baju dan memeriksa kandang Dom yang dibawanya, sebelum memencet bel di depan rumah. Bunyi bel pun terdengar dari dalam rumah, dan sebentar kemudian nampak Mas Ari membuka pintu dengan tergopoh-gopoh, kemudian menghampiri Bayu.
“Eh Mas Bayu, mari masuk Mas…Silahkan. Mas Sakti tadi siang udah WA saya, dan menjelaskan kalau Mas Bayu mau mamir ke rumah. Silahkan Mas..”, Ari mempersilahkan Bayu masuk ke dalam rumahnya sambil menutup kembali pagar.
“Baik Mas, terima kasih. ”, ujar Bayu sambil masuk membawa kandang Dom.
Sementara di pintu rumah, Mbak Alda dan Sabrina sudah menanti mereka. Kelihatan sekali kalau kedatangan Bayu ditunggu-tunggu oleh mereka sekeluarga.
“Malam Mbak Alda”, Bayu menganggukkan kepala menyapa Mama nya Sabrina di depan pintu.
“Malam Mas..silahkan masuk”, Alda pun menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala.
Suasana keluarga ini sudah penuh dengan keceriaan, terasa sekali sudah tidak ada kekhawatiran di raut muka Ari dan Alda.
“Hai Sabrina, masing inget nggak sama Om ? ”, Bayu menyapa anak perempuan cantik yang masih digandeng ibunya.
“Masih Om..Om Bayu kan ? ”, Sabrina menjawab dengan senyum manisnya. Kali ini sudah dalam kondisi sehat dan ceria, pipinya sudah terlihat merah dan tidak pucat lagi.
“Om bawa hadiah nih buat Sabrina, ini hadiah karena Sabrina sudah sembuh ”, Bayu melirik ke kandang Dom yang dibawanya, sebagai penanda bahwa yang ada di dalam kandang itu adalah hadiah yang dimaksud.
Seketika raut muka Sabrina pun menjadi semakin ceria. Senyumnya menjadi semakin lebar, dan kali ini bukan hanya bibirnya yang tersenyum, tapi terlihat matanya juga berbinar senyuman.
“Benar Om ? Ini buat Sabrina ? ”, tanya nya.
“Benar dong..ini hadiah buat Sabrina, dari Om Sakti, yang waktu itu datang menengok Sabrina.”, jawab Bayu.
“Sabrina…sabar dong sayang, biar Om Bayu nya masuk dulu..jangan di tengah-tengah pintu doong..”, Alda, Mamanya Sabrina mengingatkan anaknya untuk mempersilahkan tamu mereka masuk dulu.
“Eh iya…lupa aku..sini Om Bayu, masuk sini yuk ke dalam. ”, kali ini tanpa ragu Sabrina menggandeng tangan Bayu dan menariknya masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka duduk bersama di ruang keluarga, Bayu pun segera meletakkan kandang Dom di hadapan mereka berempat. Perlahan Bayu membuka pintu kandangnya dan mengeluarkan Dom, si kelinci putih kecil dari dalam kandangnya. Saking kecilnya, ukuran Dom masih sebesar satu telapak tangan Bayu. Sementara Dom melihat dunia luar dengan sangat gembira, dia segera meloncat-loncat di atas tangan Bayu.
“Ini dia hadiahnya buat anak cantik yang sudah sembuh”, Bayu menyodorkan Dom ke Sabrina.
Sabrina membelalakkan matanya, dan terlihat matanya dipenuhi dengan air mata bahagia yang tidak bisa ditahan. Semakin dia mengamati Dom, semakin tidak tertahan linangan air mata mengalir di pipi Sabrina. Melihat hal itu, Alda, sana Mama pun terbawa suasana hingga merasakan kebahagiaan anak perempuannya dan ikut meneteskan air mata bahagia.
“Ini lucuuuu sekaliiiii..”, Kata Sabrina dengan mata yang basah.
“Ini beneran buat Sabrina Om ? ”
“Iya dong, kan hadiah, itu buat Sabrina kok. Om Sakti sama Om Bayu udah ijin kok Mama sama Papa Sabrina. Kata mereka boleh kok. Ya kan ? ”, Bayu melemparkan pandangan kepada Ari dan Alda, seakan meminta konfirmasi dan persetujuan dari mereka.
“Iya kok..Papa udah dikasih tau tadi siang sama Mas Sakti. Udah Papa kasih ijin kok, kalau Sabrina boleh pelihara kelinci putihnya. ”, Kata Mas Sakti setelah ditatap lama dengan harapan cemas oleh Sabrina.
“Aaaaaaaaaaa makasih ya Papaaaa…makasih ya Maamaaa..”, Sabrina memeluk kedua orang tuanya bergantian. Karena tangan kecilnya masih memegang Dom dengan hati-hati.
Alda semakin tidak bisa berkata-kata, melihat kegembiraan yang terpancar dari mata anaknya. Hanya bisa mengangguk sambil meneteskan air mata.
“Bilang makasih juga dong ke Om Bayu dong Sayang. ”, Ari mengingatkan anaknya.
“O iya, Om Bayu makasih banyak ya untuk hadiahnya. Sabrina seneeeeng banget sama hadiahnya. Semoga Om Bayu banyak dikasih hadiah lagi sama Tuhan nanti ya…”, Sabrina berkata sambil menunduk di hadapan Bayu, seakan memanjatkan doa tulus, sebagai pengganti untuk kebahagiaan yang diberikan kepadanya.
“Sama-sama Sabrina, terima kasih juga doanya. ”, ujar Bayu.
“Om Bayu, nama kelincinya siapa ? ”, tanya Sabrina.
“Namanya Dom..”, kata Bayu.
“Oh..Hai Dom, namaku Sabrina. Mulai sekarang kamu jadi sahabat aku ya. ”

“Sabrina & Dom” illustrated by Lovelie Light (LVL)
See you next Chapter