Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

CHAPTER 5 - Waroeng Podjok Mangkoes

KESURUPAN Sebuah siang di hari Sabtu, di tempat kost Bayu, terdengar suara suara obrolan orang dari luar kamar Bayu. Maklum lah, namanya weekend, dan ...

lovelie-light 15 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel CHAPTER 5 - Waroeng Podjok Mangkoes

KESURUPAN

Sebuah siang di hari Sabtu, di tempat kost Bayu, terdengar suara-suara obrolan orang dari luar kamar Bayu. Maklum lah, namanya weekend, dan hampir semua orang yang kost di rumah itu adalah pekerja kantoran. Jadi ketika hari biasa, kostan itu terasa sepi baik di siang, sore ataupun malam, karena semua penghuni nya memiliki ritme yang sama bekerja di kantor, dengan jam pulang kantor yang berlainan. Tapi ketika memasuki weekend, semua orang ada di rumah dan beristirahat.

Begitu juga dengan Bayu, dengan alunan musik yg halus dari speaker bluetooth kecilnya, Bayu sedang santai membaca beberapa artikel dan berita menarik di laptopnya. Di sebelahnya ada gelas besar berisi teh yang sudah dingin. Sabtu siang, memang waktunya beristirahat, Bayu merasakan penatnya minggu ini, karena selain ada kejadian besar di kantor, juga banyak kejadian dan rasa yang dia alami di luar kantor.

Sebenarnya kost-kostan Bayu tidak terlalu besar dan mewah, tergolong di kelas yang “biasa aja”. Tidak mewah, tanpa halaman luas, tanpa taman exclusive, hanya deretan 10 kamar berjajar di lantai bawah, 5 di sisi kiri dan 5 di sisi kanan, dan 10 kamar lainnya di lantai atas. Kamar Bayu sendiri terletak di deretan bagian pojok di lantai bawah.

Tapi sayangnya, suasana adem dan santai ini, tidak berlangsung lama. Karena dari luar kamar Bayu, suara ngobrol orang-orang yang tadinya terdengar santai dan samar, tiba-tiba menjelma menjadi teriakan perempuan yang histeris dan suara lain yang berteriak-teriak juga. Belum lagi suara gedebak gedebuk yang datang kemudian, seakan ada benda-benda yang memukul-mukul dinding kost.

Bayu yang kaget mendengar hal itu, segera melirik ke jendela kamarnya. Nampak beberapa teman di sebelah kamarnya segera berhamburan keluar kamar dan menuju ke sumber suara. Melihat hal itu, Bayu segera berdiri dan bergegas keluar kamarnya, mengikuti arah orang-orang berlari dan menuju sumber suara.

Ternyata sumber suara adalah di kamar kost yang pojok, berlawanan dengan kamar Bayu. Sudah banyak orang-orang di kost Bayu yang melihat apa yang sedang terjadi dari luar kamar. Karena semakin penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Bayu pun segera menerobos kerumunan orang-orang itu, ingin melihat sendiri apa yang sedang terjadi di dalam kamar kost itu.

Itu kamarnya Mbak Sarah, dia adalah seorang pekerja kantoran di sebuah bank. Setiap pagi, Bayu melihatnya pergi ke kantor pada saat yang hampir bersamaan dengan dirinya. Sering berjumpa di pagi hari ketika akan sama-sama berangkat, membuat Bayu sering membuat penilaian tersendiri untuk Mbak Sarah. Sepanjang penilaian Bayu, Mbak Sarah adalah pribadi yang tertutup, tapi kalem dan tidak banyak bicara. Setiap kali mereka bertemu di pagi hari hanya sapaan ringan dan pembicaraan kecil saja yang terdengar dari Mbak Sarah.

Tapi kali ini Bayu seperti melihat orang yang berbeda yang ada di dalam kamar Mbak Sarah. Bayu melihat seorang wanita yang kelhatan lebih tua, dengan rambut yang acak-acakan, sedang berdiri di atas kasurnya dengan gerakan siap menerkam. Sementara di sekitar tempat tidurnya, ada 3 orang yang sedang bersikap hati-hati mendekati Mbak Sarah.

“PERGIIIII…PERGI KALIAN !!!! JANGAN GANGGU CUCU KU..!!!! ”, Mbak Sara berteriak keras dengan suara yang lebih berat dari yang biasa Bayu dengar ketika berpapasan di pagi hari dengannya. Disertai dengan gerakan tangan yang siap mencakar siapapun yang mendekat, serta mimik muka yang menyeringai menyeramkan.

“SIAPA KALIAN ? PERGIIIIII !!! AKU NGGAK KENAL SAMA KALIAN, KALIAN MAU JAHAT SAMA CUCUKU KAN ? PERGIIII !!!! ”, teriakan Mbak Sarah menggema di lorong kost-kostan lantai bawah itu.

“Mbak, tenang Mbak…tenang..”

“Sabar Mbak, sabar..jangan diteruskan..tenang dulu..”

“Astafirullah..nyebut Mbak Sarah, nyebut..”

Beberapa orang yang mendekati Mbak Sarah pun berkata pelan, sambil berusaha menenangkan dan memegang Mbak Sarah yang meloncat-loncat di atas tempat tidur, serta berusaha menghindar dari orang-orang yang berusaha mencengkramnya.

“AAARRRRRGGGGHHHHHHHHHH…!!!! ”, Mbak Sarah berteriak memekik panjang.

Semua orang yang mendengarnya memicingkan mata, karena suaranya terasa melengking tinggi dan memekik, menyakitkan telinga.

Bayu bertanya ke orang yang ada di sebelah kirinya, “Kenapa Mas ? ”

“Kui Mas, Mbak Sarah kesurupan ketoke..”, jawab anak muda di sebelahnya.

Wah kendala bahasa nih, nggak bisa nanya2 lebih detil lagi”, pikir Bayu.

Bayu pun berpaling ke sebelah kanannya, “Kesurupan ya Mbak dia ? ”

“Iya Mas, tadi nggak apa-apa loh. Tadi tuh lagi ngobrol sama adiknya di kamar, pintunya kebuka. Kita kebetulan lagi nongkrong di luar Mas, jadi kelihatan mereka lagi ngobrol. Tiba-tiba kayak dikasih kabar buruk gitu Mbak Sarah nya, terus nangis…terus marah-marah sendiri..eh nggak lama jadi teriak-teriak gini Mas..”, perempuan muda di sebelah kanan Bayu menerangkan dan menceritakan kisahnya.

Bayu yang lanjut memperhatikan Mbak Sarah yang masih loncat-loncat di atas tempat tidurnya dan bertingkah seperti ODGJ.

Tiba-tiba Bayu berjalan menuju kamarnya sendiri, dan bermaksud menelpon Mas Sakti.

image

Bayu illustration by Lovelie Light (LVL)

“Ya Bay ”, suara Mas Sakti terdengar di telephone genggamnya Bayu.

“Mas Sakti, maaf ganggu. Mau minta tolong Mas, ada yang kesurupan di kostan ku nih..”, Bayu berkata cepat dan kebingungan.

“Siapa Bay ? Teman? ”, suara Mas Sakti bertanya.

“Nggak gitu kenal sih Mas, tapi ya temen kost. Beda 3 kamar lah sama kamarku. Cewek, namanya Mbak Sarah.”, Bayu menjelaskan dengan terbata-bata.

“Terus dia ngapain sekarang ?”,

“Dia di atas tempat tidur, teriak2 histeris Mas.”

“Teriak-teriak apa dia ? ”

“Jangan ganggu cucuku, pergi, jangan ganggu cucuku…gitu Mas ”

“Kamu udah lihat sendiri ke kamarnya ? ”

“Udah Mas. ”

“Apa yang kamu lihat di sana Bay ? ”

“Ya itu tadi, Mbak Sarah loncat-loncat di atas tempat tidurnya, sambil histeris ”

“Udah ? Itu aja yang kamu lihat ? ”

“Iya Mas, itu aja..”

“Nggak lihat yang lain-lain lagi Bay ? ”

“Nggak Mas, yang ku lihat cuma itu..”

“Oooowhh..”

Bayu bingung mendengar tanggapan dari Mas Sakti, seketika hening dalam pembicaraan telephone di antara kedua nya.

“Jadi gimana Mas ? Mas Sakti bisa nolongin kah ? ”, tanya Bayu memastikan.

“Kalo itu sih nggak usah saya Bay, kamu aja juga bisa. ”, suara Mas Sakti menjelaskan.

“GImana caranya Mas ? Saya kan nggak bisa, nggak tau apa-apa Mas ”, Bayu mulai panik. Karena tidak menyangka tanggapan Mas Sakti akan begitu.

“Bisa Bay…kamu bisa sendiri itu. Percaya deh.”, ujar Mas Sakti di telephone.

“Gak bisa Mas Sakti, saya nggak ngertiiiiiiiii…”, selain kehilangan kepercayaan dirinya, Bayu mulai kehilangan kesabarannya.

“Bisa Bay..kamu harus yakin bisa. Saya percaya kok kamu bisa. ”

“Mas Sakti pandu saya ya ? ”

“Iya, tenang aja. Nggak usah dipandu juga kamu bisa. ”

“GImana caranya Mas ? Apa yang harus saya lakukan ? ”

“Kamu deketin orangnya, terus kamu bacain doa di kupingnya. Setelah itu di doa kamu yang terakhir, kamu tahan napas di perut, terus cubit tangannya. Tapi cubit kecil ya, jangan cubit yg besar. ”

“Tapi kan dia loncat-loncat Mas ? ”, tanya Bayu.

“Ya ampun Bay, minta tolong orang untuk sekap dong. Tangkap, sekap, pengangin tangan dan kakinya, baru kamu bacain doa di kupingnya. ”, Sakti menjelaskan.

“Oooo iya iya…terus ? Doanya apa Mas ? ”, lagi Bayu bertanya detilnya.

“Doa apa yang sering kamu ucapkan ? Pakai doa itu aja. ”

“Yakin Mas ? Doa biasa ? Nggak ada doa atau mantra khusus gitu ? ”

“Nggak usah, pake doa biasa aja Bay. Atau kamu berdoa pakai bahasa Indonesia, bilang di kupingnya, Mbak Sarah..kembali dong Mbak Sarah, pulang yuk, ada Bayu di sini, bisa cerita-cerita sama Bayu nanti…”

“Haaah ? Gitu doang Mas ? , Bayu nggak yakin dengan cara yang diajarkan Mas Sakti.

“Iya, gitu aja…jangan lupa dicubit ya, yang kecil, tapi kenceng aja..”, Mas Sakti mengingatkan.

“Bisa Mas ? Bisa gitu ? ”

“Bisa Bay, bisa…udah sana..bisa kok kamu sendiri, nggak perlu saya itu. Kamu aja bisa nanganin itu kok. ”

“Tapi pandu saya ya Mas ? Telephone nya jangan ditutup ”, kata Bayu masih nggak yakin dengan dirinya sendiri.

“Ya nggak dong Bay…masak sambil telephone. Nggak pede nanti kamu. Belajar sendiri ah, tutup telephone nya dan lakukan Bay. ”, kata Mas Sakti.

“Tapi Mas…”

“Udah Bay, kasihan itu Mbak Sarahnya. Nanti makin kelamaan makin drop kondisinya. ”

“Iya Mas..iya..”

“Buruan Bay, jangan ditunda-tunda ya. ”, pesan terakhir Mas Sakti, sebelum menutup panggilan telephone itu.

Bayu meletakkan handphonenya, dan menghela napas panjang. Bersiap-siap dulu dan mengumpulkan keberanian, tapi yang utama adalah mengumpulkan keyakinan. Bukan apa-apa, karena metode yang diberikan oleh Mas Sakti terlalu “biasa” kedengarannya di kuping Bayu, nggak ada unsur-unsur yang bisa meyakinkan diri.

Tapi kata-kata ” Jangan ditunda-tunda” dari Mas Sakti yang bikin Bayu jadi merasa harus dilakukan.

Dengan segera Bayu menuju kamarnya Mbak Sarah, menyeruak di antara kerumunan orang-orang yang ada di sana. Di depan pintu kamar, Bayu masih melihat Mbak Sarah berdiri di atas tempat tidur, sementara masih ada 3 orang di dalam kamar yang berusaha menenangkan Mbak Sarah.

image

Sarah illustration by Lovelie Light (LVL)

Bayu dengan yakin dan percaya diri, langsung berteriak kepada orang-orang di sekitarnya.

“Tangkap Mas…Mbak tangkap Mbak Sarahnya. Pegangin. ”, teriak Bayu kepada orang-orang yang ada di kamar itu.

Seketika ketiga orang yang di sekitar Mbak Sarah, 2 laki-laki dan satu perempuan, kebingungan mulai dari mana.

“Tangkap Mas..tangkap aja Mbak Sarahnya, nanti keburu dia melukai diri sendiri..takut kepalanya kejedot, tangkap dulu biar bisa ditenangin. ”, Bayu mengulang perintahnya.

Ketiganya pun segera maju dan menangkap Mbak Sarah yang masih berusaha menghindar dan membuat gesture menakut-nakuti. Tapi tidak lama kemudian, tangan Mbak Sarah bisa diringkus dan berhasil dibaringkan di atas tempat tidur. Seisi tempat kost Bayu, masih berdiri di depan pintu dan menonton peristiwa tersebut.

Bayu pun maju dan mendekati Mbak Sarah yang sudah dibaringkan.

“Pegang tangannya ya Mas ? ”, perintah Bayu kepada 2 laki-laki di samping kiri dan kanan Mbak Sarah. Sementara yang perempuan, memegang kedua kaki Mbak Sarah dengan kuat.

“Tolong satu orang lagi dong bantu pegang kakinya Mbak Sarah. ”, perintah Bayu kepada yang menonton di luar kamar. Nggak lama masuk salah satu laki-laki penghuni kost, yang ikut membantu memegang kakinya Mbak Sarah.

Mbak Sarah sekarang posisinya berbaring, tapi masih berusaha meronta-ronta. Kepalanya saja yang masih berpaling ke kanan dan kekiri, berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang meringkusnya.

Bayu mendekati Mbak Sarah dari sisi kanan tempat tidurnya. Dengan gerakan cepat, langsung memegang kepala Mbak Sarah dengan kedua belah tangannya, lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Mbak Sarah, sambil membisikkan sebuah doa.

Sebentar kemudian, Mbak Sarah pun mereda meronta-ronta, dan lebih tenang sedikit.

Bayu merasakan tambahan kepercayaan diri yang tinggi melihat hal ini, keyakinannya mulai naik melihat kalau apa yang ia lakukan ada efeknya. Segera setelah doanya selesai, Bayu pun berbisik kecil ke telinga Mbak Sarah.

“Mbak Sarah, yuk pulang yuk..kembali..ada Bayu di sini yang bisa diajak cerita. Tenang dan pulang ya Mbak Sarah ke suaranya Bayu.”

Di akhir kata-katanya, Bayu melakukan persis seperti yang diinstruksikan oleh Mas Sakti. Bayu menahan napasnya, dan mencubit lengan kanan atas Mbak Sarah dengan kuat.

“Sakiiiiit goblooookkk…Bayuuu sakit dong ahhhh..”

Seketika suara Mbak Sarah kembali seperti semula, lalu Mbak Sarah menangis sambil menyembunyikan wajahnya di paha Bayu.

“Alhamdulillah..”, terdengar rasa syukur dari orang-orang yg di kamar itu, dan yang nonton.

Bayu yang jadi kikuk sekarang, baru menyadari bahwa ada perempuan yang menangis di pahanya, dan ditonton oleh orang banyak.

“Mas Sakti…Mas..”

Panggil Bayu tergopoh-gopoh dari depan etalasi Waroeng Podjok Mangkoes. Setelah semuanya selesai dan kondisi di kostnya kembali normal, Bayu segera berlari ke tempat Mas Sakti, mau menceritakan apa yang terjadi dengan detil.

Segala rasa senang, percaya diri dan kebanggaan ada di dalam dada Bayu. Pertama pasti ia ingin berbagi cerita dengan Mas Sakti, lalu berikutnya ingin berterima kasih kepada Mas Sakti. Tentu saja, semua itu ingin dia lakukan dengan cepat dan terburu-buru, karena rasa excited nya.

“Eh Bay, masuk lah…”, Mas Sakti berkata sambil menunjuk ke pintu samping etalase.

Bayu pun segera masuk ke ruang belakang, dan langsung bercerita panjang lebar mengenai kejadiannya. Semua dilakukan dengan rasa bersemangat dan menggebu-gebu.

Sementara Mas Sakti hanya mendengarkan semua cerita Bayu, sambil tersenyum, kadang-kadang kepala Mas Sakti manggut-manggut.

Setelah Bayu mengakhiri ceritanya, sambil bertanya, “Kok bisa sih Mas ? Kok saya bisa melakukan itu ? ”

“Tenang dulu Bay..minum dulu ya ? Kamu bersemangat banget…” , kata Mas Sakti.

“Saya ambil minuman dingin di cooler depan etalase aja Mas. ”, ujar Bayu sambil beranjak mengambil sendiri minuman dingin di dalam cooler di depan etalase. Lalu kembali lagi ke ruang belakang.

“Tenang dulu…sudah minum ? ”, tanya Mas Sakti.

“Sudah Mas. ”

“Sudah tenang ? ”

“Sudah Mas. ”

“Sudah makan ? ”

“Ahahahaa Mas Sakit becanda ah…belum lapar Mas..”

Sakti pun tertawa terkekeh sebentar, dan melanjutkan perkataannya, “Jadi tadi waktu di kamarnya Mbak Sarah, kamu lihat apa Bay ? ”

“Kan tadi udah kujawab Mas waktu di telephone, lihat Mbak Sarah lagi kesurupan. ”, jawab Bayu sambil kebingungan, mengapa hal itu jadi ditanyakan terus-terusan ya sama Mas Sakti.

“Nggak lihat ada makhluk lain gitu di sana ? ”, tanya Mas Sakti.

“Makhluk lain Mas ? Maksudnya ? ”, Bayu masih kebingungan dikasih pertanyaan gitu.

“Iya..makhluk lain..makhluk gaib, makhluk halus..ada nggak yang Bayu lihat di sana ?”

“Nggak ada Mas..cuma lihat yang nyata aja. Tapi kaaaaan…tapi kan saya emang nggak bisa lihat makhluk halus kan ?”, Bayu membela diri dengan keyakinannya.

“Yakin kamu ? ”

“Yakin lah Mas, belum pernah kok seumur hidup..pasti yakin lah..”

“Nah itu kemarin ? Pak Tunggal malah bisa ngobrol sama kamu..kan dia bukan manusia Bay ”

“Haaaah ? ”, seketika Bayu terkaget-kaget dengan perkataan Mas Sakti. Dia baru menyadari hal itu, padahal kemarin-kemarin sudah dijelaskan Mas Sakti tentang hal itu.

“iya ya Mas ?”, tanya Bayu.

“Makanya Bay, tadi di telephone, saya tanyakan itu ke kamu. ”, kata Mas Sakti.

“Emang nggak lihat apa-apa sih Mas. ”, ujar Bayu.

“Nah…kalau kamu nggak lihat apa-apa, berarti makhluknya nggak ada kan ?”, tanya Mas Sakti.

Bayu hanya mengangguk mengiyakan.

“Kalau makhluknya nggak ada, berarti nggak ada yang menyurupi kan ? Berarti itu bukan kesurupan Bay.”, Kata Mas Sakti.

“Tapi Mas…”, Bayu terhenti sampai di situ pertanyaannya.

“Tapi kenapa Bay ?”

“Tapi apa penglihatan saya bisa dipercaya Mas ? Kan saya baru aja..bisa..lihat. Maksudnya, bahkan saya sampai sekarang nggak sadar kalau saya bisa lihat. ”

“Ya betul itu, bisa saja kamu salah Bay..bisa saja kamu nggak lihat makhluknya.”

“Kalau penglihatan saya nggak bisa dipercaya..berarti kesimpulannya Mas Sakti salah dong ? ”, tanya Bayu.

“Apapun itu Bay, mau kamu bener penglihatannya dan memang nggak ada makhluk di sana, ataupun kamu salah melihat, yang artinya ada makhluk halus di sana tapi nggak kelihatan sama kamu. Tapi di saat itu dan kondisi itu, kamu satu-satu nya sensor di sana Bay. ”

“Daripada berdebat kamu bener atau nggak, melihat atau nggak, nggak akan ada gunanya. Jadi saya ambil saja asumsi bahwa kamu bener-bener tidak melihat makhluknya, berarti tidak ada makhluknya. Dan itu hanya histeria saja, bukan kesurupan. ”, Mas Sakti menjelaskan panjang lebar.

“Dan terbukti kan ? Bisa tenang kan akhirnya Mbak Sarahnya walaupun cuma dicubit aja.”, Sakti tersenyum lebar.

“Tapi kalau Mas Sakti salah asumsinya ? Dan nggak berhasil ? ”, tanya Bayu.

“Ya palingan kamu nelphone lagi kan ? Dan baru saya ke sana. ”, Sakti tersenyum semakin lebar.

“Oooo gitu ya…”, Bayu mendadak menjadi lemas. Adrenaline yang dia rasakan sudah turun, menyisakan badan yang mendadak lemas dan merasa kecapekan. Sebuah rasa bangga dan percaya diri yang dia rasakan dari kostnya, mendadak dijatuhkan di Waroeng itu oleh perkataan Mas Sakti.

“Berarti..sebenarnya semua orang bisa melakukan itu ya Mas ? ”, tanya Bayu kemudian, semakin merasa drop keyakinan dan rasa percaya dirinya.

“Betul Bay, bisa kok. ”

“Jadi gini, yang namanya kesurupan itu nggak semuanya kesurupan, bisa jadi hanya histeria. Indikator utamanya adalah yang bisa melihat hal itu, ada nggak makhluknya ? Kalau makhluknya nggak ada, kan berarti bukan kesurupan.”

“Salah satu cara paling gampang adalah dicubit mendadak orangnya, kalau reaksinya cepat karena kesakitan, ya itu fix bukan kesurupan. ”

Bayu semakin lemas mendengar hal itu, rasanya yang tadinya serasa menjadi Bayu baru yang punya kemampuan supranatural baru, kembali lagi menjadi Bayu yang biasa aja.

“Tenang Bay..gak usah terlalu down gitu. Kamu tetap special kok, bukan berarti orang biasa aja. Yang harus kamu ambil pelajarannya dari peristiwa tadi, bukan soal kamu bisa atau tidak bisa. Tapi soal kamu berani atau tidak berani. Karena butuh keberanian dan keyakinan tinggi loh untuk bisa melakukan hal itu. ”

“Iya ya Mas ? ”, tanya Bayu. “Mas Sakti tau aja pikiranku, baru aja berpikir begitu. ”

“Coba lah kamu lihat peristiwa tadi. Ada berapa orang di sana yang “cuma nonton” dan nggak ngapa-ngapain ? Tapi kamu kan beda sama mereka, kamu mau berbuat sesuatu. Mau bantuin Mbak Sarah. Kamu yang kasih komando di sana kan tadi ? Sampai akhirnya semua jadi reda dan baik-baik saja. ”, jelas Mas Sakti panjang lebar.

“Iya sih Mas..”, Bayu merasa sedikit terhibur.

“Itu modal loh Bay…modal utama untuk belajar segala sesuatu, apapun itu. Mau berbuat sesuatu dulu, setelah itu yakin..baru ada jalan nya menuju ke sana..iya kan ? ”.

“Waaah..dalam nih obrolan kita dong jadinya..”, ujar Bayu dengan lebih santai. Kata-kata dan penjelasan dari Mas Sakti membuat dirinya merasa lebih tenang.

“Selamat datang di dunia ini Bay..hahahahaha..”, kata Mas Sakti.

“Eh dunia apa ini maksudnya Mas ? ”

“Ya dunia kehidupan yang realistis…dimana ada waktunya kamu yang punya kemampuan “segitu”, menjadi orang yang jadi tumpuan harapan banyak orang. Seperti peristiwa tadi tentang Mbak Sarah. ”

“Maksudnya Mas..? ”, tanya Bayu.

“Nanti kamu juga ngerti sendiri Bay. Eh ngomong-ngomong gimana Mbak Sarah kondisi nya ? ”

“Tadi sih sudah tenang dan sudah tidur Mas..sepertinya kelelahan setelah peristiwa tadi. ”

“Nanti kalau dia jadi seneng sama kamu, cuekkin aja ya ? Hahahahhaa..itu bukan perasaan beneran..”

“Nah loh, maksudnya gimana ini Mas ? ”, Bayu jadi tersipu mendengar perkataan Mas Sakti.

“Iya, nanti itu..besok, atau lusa, pas kondisi baik-baik aja. Dia akan berterima kasih ke kamu. Terus seakan-akan punya perasaan senang ke dirimu. Kamu cuekkin aja, jangan ditanggepin…”

“Emang iya Mas bakalan begitu ?”

“Iya lah…tapi bukan karena kamu cakep Bay. Itu karena dia punya rasa terima kasih ke orang yang dia anggap sudah menyelamatkan dia, jadi timbul rasa suka..”

“Ah, masak ? Emang gitu ?”

“Ya pokoknya, pesan saya gak usah kege-er an aja. Tanggapin aja dengan normal dan biasa. Kamu nggak secakep itu Bay..”.

See you next chapter,

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar