Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

CHAPTER 7 - Waroeng Podjok Mangkoes

DIMENSI TRANSISI "Mas Bayu..", Godam memanggil Bayu. Siang itu di kantornya Bayu, di waktu menjelang makan siang, pada saat semua rekan kerja Bayu ada...

lovelie-light 28 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel CHAPTER 7 - Waroeng Podjok Mangkoes

DIMENSI TRANSISI

“Mas Bayu..”, Godam memanggil Bayu.

Siang itu di kantornya Bayu, di waktu menjelang makan siang, pada saat semua rekan kerja Bayu ada di meja masing-masing di ruangan kerja, tiba-tiba Godam datang memanggil Bayu, sambil membawa bungkusan makanan.

“Ada kiriman makanan ini, buat makan siang..ciyeeee..”, ujar Godam sambil menunjukkan bungkusan makanan dalam plastik di tangan kanannya.

“Halah ngarang kamu Dam..kiriman makanan dari manaaa ? ”, Bayu mentertawakan becandaan Godam.

“Eh benerannn..tadi ada perempuan yang antar ke kantor..cantik lagi. ”, kata Godam sambil cengengesan.

“Kalo becanda jangan kelewatan Dam..siapa juga perempuan yang mau anter makanan buat saya..”, jawab Bayu dengan acuh.

“Beneran ini Mas..nggak becanda…Mbak Sarah namanya..”, jawab Godam sambil pasang raut muka menggoda.

“Haaaahhh? Mana Dam? Orangnya masih ada di luar ? ”, seketika Bayu kaget mendengar nama itu.

“Ciyeeeeeee kaaaan..namanya juga artis, emang suka nggak kenal sama penggemarnya..”, goda Godam lagi. “Udah pulang Mas, dia cuma anter makanan aja, sambil nanya ini kantornya Bayu ya ? Boleh titip makanan nggak buat dia ?”.

“Terus..ke mana dia sekarang Dam ? ”, tanya Bayu dengan antusias.

“Yaaaaah tadi cuek, sekarang nyariin. Mas Bayu, Mas Bayu, ternyata womaniser ya di luar sana..”, kata Godam lagi sambil tertawa. Seperti biasa, Godam selalu punya keinginan tersendiri untuk bisa tampil dengan bahasa-bahasa yang canggih, tapi selalu dengan kesalahan yang sama, yaitu pengucapannya yang sederhana. Seperti waktu bilang womanizer, yang menurut lafal pengucapannya Godam adalah womaniser, woman yang maniser.

Itulah makanya namanya jadi dipanggil Godam, yang jauh dari nama aslinya yaitu Husni.

“Apaan sih Dam, womaniser womaniser..”, kata Bayu.

“Tadi hasil gosipan sama Mbak Sarah, ternyata teman kost Mas Bayu ya…dan ternyata..Mas Bayu itu orang pintar…” perkataan Godam terhenti.

“Selamat siang teman-teman ”

Nampak Pak Burhan tiba di kantor dengan raut muka cerah dan mood yang bagus.

“Siapa Dam yang orang pintar ?”, tanya Pak Burhan.

“Eh anu Pak..bukan..maksudnya, Mas Bayu ini orang pintar di kostnya ternyata…” Godam terbata-bata melihat Boss besarnya sudah hadir di kantor. “Kok Bapak sudah masuk kantor ? ”

“Kan ini kantor saya Dam, masak nggak boleh masuk ?”, kata Pak Burhan.

“Bukan Pak..itu..maksudnya..kan anak Bapak lagi sakit ”, jawab Godam.

“Sudah pulang Dam, tadi pagi sudah diurus kepulangannya, makanya saya sudah bisa datang ke kantor lagi nih. ”, Pak Burhan bercerita sambil menyiapkan laptopnya di meja kerjanya.

“Siap Pak, saya buatkan teh atau kopi Pak ?”, tanya Godam seraya memberikan bungkusan plastik isi makanan itu Bayu. Bayu pun menerima nya dengan perlahan.

“Teh aja Dam..makasih ya..”, kata Pak Burhan.

Tidak lama Godam pun meninggalkan ruangan, untuk menyiapkan teh untuk Boss Besarnya.

“Gimana Pak..kondisi Astrid ? ”, tanya Bayu.

“Syukur sudah sehat Bay. Sudah boleh pulang sama dokter tadi malam. Tapi keputusan dokter terlalu malam untuk urus administrasi Rumah Sakit. Jadi kami urus kepulangannya tadi pagi. ”, kata Pak Burhan menjelaskan.

“Syukurlah Pak..’, ujar Bayu.

“Sekali lagi, terima kasih loh Bay..Astrid udah bisa cepat sembuh gitu..”, kata Pak Burhan.

“Ah bukan apa-apa kok Pak..sekedar ikut mendoakan..”, jawab Bayu singkat.

“Ah saya yakin bukan “sekedar mendoakan” kok Bay..”, kata Pak Burhan dengan senyum kecil.

Bayu pun enggan untuk menanggapi perkataan Pak Burhan selanjutnya, dan memilih diam lalu membuka bungkusan makanan yang dibawakan oleh Mbak Sarah.


Sore itu ketika jam pulang kantor, Bayu segera beres-beres peralatan kerjanya. Dalam pikirannya mulai melakukan absensi terhadap barang-barang yang harus dia bawa pulang kembali. Laptop, charger laptop, charger handphone, earphone…

“Bay, bicara sebentar boleh ?”, tanya Pak Burhan. “Sebelum kamu pulang. ”

“Siap Pak…gimana Pak ? ”, Bayu segera meletakkan barang-barang dan tas ranselnya, lalu duduk kembali di meja kerjanya yang sudah kosong dan rapih.

“Jadi gini Bay..” Pak Burhan menjelaskan sesuatu dengan suara yang berhati-hati.

“Saya sekali lagi mau mengucapkan terima kasih, atas doa dan ikhtiarmu, apapun itu, sehingga Astrid bisa cepat sembuh dari sakitnya. Apapun itu loh Bay, terima kasih banyak.”

“Ah bukan gitu Pak..kesembuhan Sabrina itu kan anugrah Pak, dari Tuhan. Bersyukurnya kepada Yang Di Atas Pak..”

“Betul sih, itu saya juga bersyukur kok kepada Yang Di Atas, tapi perantara nya kan dirimu dan Sabrina Bay. Tolong sampaikan juga rasa terima kasih saya kepada Sabrina dan orang tuanya ya ? Sampai mau menjenguk Astrid. O iya, nanti sekalian saya minta contact orang tuanya boleh Bay ? Astrid udah nanyain Sabrina tuh..pengen banget dia ketemu lagi sama Sabrina.”

“Boleh Pak, nanti saya kasih contactnya..”

“Sama satu lagi nih…tadi siang saya ngobrol sama Godam. Soal cerita nya Mbak Sarah, temen sekost mu yang antar makanan ke sini Bay. Saya baru tahu kalau kamu bisa hal-hal kayak gitu. ”

Aduuuuuh Godaaaaam..kenapa lemes banget sih mulutnya ? Pake cerita-cerita segala lagi ke Boss..”, Bayu berkata dalam hatinya. Tapi enggan untuk mengeluarkan kata-kata tanggapan atas perkataan Bossnya itu.

“Jadi gini…ini cerita aja ya Bay. Bukan nyuruh loh saya, bukan kasih instruksi..”, lanjut Pak Burhan.

“Apa Pak ceritanya ? ”, jawab Bayu.

“Ada rekan bisnis saya, namanya Pak Drajat. Dia punya kantor dan usaha konveksi yang jadi satu, kira-kira sih layout ruangannya dua lantai, konveksinya di lantai dasar dan kantornya di lantai atas. Sudah lama dia sering mengeluh tentang kantornya yang sering diganggu oleh makhluk halus Bay. Dan saya sebagai teman, bingung mau minta tolong ke siapa tentang hal ini. ”

Bayu hanya terdiam menunggu cerita selanjutnya dari Pak Burhan. Dalam hati dia sudah bisa menduga arah pembicaraan selanjutnya.

“Barangkali, dirimu atau ada kenalanmu yang bisa membantu mengatasi hal itu Bay ? Kasihan dia, karena tadinya usaha konveksinya ramai dan lancar bisnisnya, tapi sejak banyak gangguan ghaib di lokasi, pegawainya jadi banyak yang resah dan ketakutan.”, lanjut Pak Burhan tentang cerita teman nya.

Sejenak Bayu menghela napas panjang. Dalam bayangannya segera muncul bayangan Sakti yang mengiyakan kalau dia meminta tolong mengenai hal ini.

“Saya coba cari tahu dulu ya Pak, tapi saya nggak bisa janji apa-apa..”, kata Bayu.

“Nah gitu..itu pun udah cukup buat saya Bay ”, kata Pak Burhan.

Pak Burhan berbalik badan dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop coklat kecil seukuran buku saku, dengan nama bank tertera di depan amplopnya.

“Ini buat kamu Bay, sebagai rasa terima kasih…”, Pak Burhan meneruskan amplop tersebut ke arah Bayu.

“Eh jangan Pak…”, kata Bayu.

“Nggak apa-apa, ini rasa terima kasih kami sekeluarga, saya, istri dan Astrid, atas ikhtiar kamu dan Sabrina, ini cuma sedikit rasa bersyukur kami yang bisa kami bagikan. ”

“Jangan Pak..mohon maaf sekali, saya nggak bisa terima Pak Burhan. ”, ujar Bayu sambil memberi gesture gerakan menolak.

“Lho..kenapa Bay ? ”

“Jangan tersinggung ya Pak, saya dari awal dengar cerita Bapak sudah punya niatan ingin bantu. Tapi tanpa mengharapkan apa-apa. Dan lucunya, sepertinya jalannya dimudahkan, dan didukung oleh banyak orang. Jadi, saya cukup dengan bersyukur niat saya udah kesampaian aja udah senang Pak..ditambah lagi berita kesembuhan Astrid, plus ditambah Sabrina punya teman baru.”

“Sudah lengkap Pak kebahagiaan saya, jadi…bukan menganggap ini remeh, tapi saya nggak bisa terima Pak. Yang saya dapat dari kegiatan ini sudah lebih dari cukup buat saya. ”

“Oh gitu..oke oke Bay..nggak apa-apa..yang penting kamu nggak tersinggung sama hadiah saya ini. ”, Pak Burhan berkata sambil merasakan perasaan yang lega.

“Bukan kebalik ya Pak ? Saya malah takut Bapak yang tersinggung kalau saya tolak. Tapi ya musti saya tolak kok, karena memang motivasi saya bukan ke situ. ”

“Nggak Bay, sama sekali nggak tersinggung kok..tapi tetap berterima kasih saya ya, dan istri dan juga Astrid. ”

“Baik Pak..kalo gitu saya pamit dulu Pak. ”, ujar Bayu sambil mengambil tas ranselnya.

“Silahkan Bay, jangan lupa ya, nanti minta no contact Papa nya Sabrina. ” Pak Burhan mengakhiri pembicaraan mereka.

Kantor Pak Drajat adalah sebuah bangunan bertingkat yang besar, terletak di daerah yang lumayan sepi, hampir di pinggiran kota. Mungkin karena faktor kebisingan dari pekerja-pekerja konveksinya ketika bekerja di lantai bawah. Layout lantai bawahnya seperti sebuah ruangan besar yang terbuka, yang isinya berpuluh mesin-mesin konveksi, beberapa meja besar yang sepertinya tempat pemotongan kain dan pembuatan pola, serta tempat penyimpanan gulungan-gulungan kain yang besar menempel di dinding belakangnya. Sementara di dinding samping adalah sebuah white board raksasa, tempat pencatatan jadwal, skedul dan proses kerja yang sedang berlangsung.

Ketika Sakti dan Bayu tiba di sana, di sore hari, ruangan workshop konveksi sudah hampir kosong karena jam kerja biasa sudah usai. Hanya tersisa 3 pekerja yang masih mengerjakan sesuatu, mungkin mereka perlu lembur untuk mengejar sebuah deadline, begitu dugaan Bayu. Sementara di lantai 2 hanya terdiri dari satu ruangan panjang berisi meja-meja workstation yang saling berhadapan. Lalu di ujung ruangan nampak 3 ruangan tertutup, yang dugaan Bayu adalah ruangan untuk manager dan direktur dari perusahaan itu.

“Mas Sakti, makasih ya udah mau bantuin..”, ujar Bayu ketika menaiki anak tangga di depan bangunan tersebut.

“Sama-sama Bay..tenang aja, selama niat kamu mau bantu orang, pasti saya support kok. Apapun itu bentuknya. ”, ujar Sakti dengan santainya. “Kamu santai aja Bay, fokus aja sama apa yang ada di depan dan selalu waspada ya nanti. ”

Setelah melewati pintu depan dan memasuki ruang di dalam gedung, seorang tua dengan perawakan kecil dan kurus, tapi dengan dandanan menunjukkan kelas di atas rata-rata, menghampiri mereka.

“Bayu ya ? ”, kata orang itu sambil menyodorkan tangannya. “Saya Drajat.”

“Iya Pak, saya Bayu. Ini rekan saya, Mas Sakti ”, Bayu pun menyambut uluran tangan Pak Drajat, sambil memperkenalkan Sakti.

“Saya Sakti Pak”, ujar Sakti sambil mengulurkan tangan, dan segera disambut oleh Pak Drajat.

“Selamat datang di tempat saya Mas Sakti, dan Bayu. Pak Burhan sudah cerita mengenai kalian berdua. Sebelumnya, ijin untuk berterima kasih dulu karena sudah bersedia membantu. ”, kata Pak Drajat sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Sama-sama Pak ”, ujar Bayu dengan gestur yang sama.

“Kalau boleh tahu ceritanya tentang kasusnya sendiri, gimana ya Pak ? ”, Sakti menanyakan lebih jelas mengenai kondisi yang akan dihadapinya.

“Begitu lah Mas Sakti, saya sendiri sudah sekitar 3 tahun menempati gedung ini. Dulu-dulu sih nggak ada masalah apa-apa Mas, semua berjalan lancar dan aman. Kerjaan lancar, meskipun nggak banyak-banyak amat orderan ketika merintis di awal, tapi membaik dan jadi lancar. Tapi sejak 6 bulan yang lalu, mulai banyak kejadian yang meresahkan. ”, cerita Pak Drajat sambil menggiring tamu-tamu nya untuk berjalan bersama.

“Kayak di sini, ini adalah ruang produksi, semua hasil produksi kita dikerjakan di sini. Tadinya kita mulai dari hanya 2 - 3 jenis mesin saja dan masih ruang yang lowong. Tapi sekarang, kalau pagi sampai sore, ini penuh sekarang Mas. Semua bekerja berkesinambungan, mengerjakan produksi. Dari awal bahan kain, dilempar ke sana, setelah jadi akan melalui proses itu, lalu masuk ke proses di sini. Sampai terakhir QC di dalam ruangan sana. ”, kata Pak Drajat sambil menunjuk sana sini, dan terakhir menunjuk sebuah ruangan besar tertutup di sebuah pojok.

“Biasanya paling banyak gangguannya di lantai produksi ini Mas. ”, lanjut Pak Drajat.

“Tadinya hanya pegawai-pegawai yang lembur saja yang diganggu, itu awal-awalnya. Mereka-mereka yang bekerja setelah shift biasa, mulai maghrib mulai banyak gangguan. Ada yang tiba-tiba merasa ruangannya panas dan gerah, ada yang mesin nya ngadat, ada yang tiba-tiba seperti orang linglung bingung mau ngerjain apa.”

“Gangguan-gangguan seperti itu yang terjadi di awal Mas..”

“Di awal ? Berarti bertambah dong sekarang Pak Drajat ? Atau berkurang ? ”, tanya Bayu.

“Makin lama gangguannya makin berat Bay. Ada yang melihat penampakan makhluk halus di ujung. Ada yang tiba-tiba melihat harimau sedang berjalan. Ada yang dicolek-colek pada waktu bekerja. Sementara gangguan yang terjadi di waktu hari sudah gelap semakin berat, mulai bergeser juga waktunya Bay. ”

“Makin ke sini, mulai setiap waktu Ashar sudah mulai ada gangguan-gangguan kecil, yang menjadi semakin parah seiring terbenamnya matahari. Terakhir malah di pagi hari suka ada yang menyerupai pekerja saya yang nggak masuk kerja. Pekerja itu ijin sakit dan nggak masuk kerja, tapi teman-teman nya mengaku melihat dia tetap bekerja di hari itu. ”, lanjut Pak Drajat.

“Sampe begitu ya Pak Drajat ? ”, tanya Sakti.

“Sekarang produksi turun banget, tapi permintaan tetap ada. Anak-anak yang bekerja di sini jadi pada takut Mas Sakti. Mereka sering mengaku sakit dan nggak masuk kantor jadinya. Belum lagi yang berhasil mengatasi rasa takutnya, kesalahannya jadi banyak. Akibatnya, banyak barang hasil produksi yang nggak lolos QC, sehingga jadi sebuah kerugian lagi. ”, Pak Drajat menjelaskan.

“Saya sudah sampai bingung menghadapinya. ”, Pak Drajat mempersilahkan para tamunya untuk menaiki tangga ke ruangan atas.

“Di ruang atas ini adalah kantor Mas. Disini semua kegiatan manajemen dan administrasi terpusat. Kalau di ruang ini agak minim terasa gangguan nya. ”, lanjut Pak Drajat.

“Paling maksimal kalau di sini adalah printer yang berbunyi sendiri, atau tumpukan kertas kerja yang jatuh berantakan di pagi harinya. Tapi tidak jadi gangguan yang meresahkan. ”

Pak Drajat sampai di sebuah ruangan tertutup di lantai atas itu, dan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.

“SIlahkan Mas Sakti dan Bayu, silahkan duduk di dalam. Di sini ruangan saya, dan tempat saya bekerja. ” Pak Drajat mempersilahkan tamunya untuk duduk.

Setelah keduanya duduk, Pak Drajat mulai bertanya, “Jadi bagaimana menurut Mas Sakti dan Bayu ?”

“Kalau diizinkan oleh Pak Drajat, saya ingin mencoba membantu Pak. Tapi biar saja, saya dan Bayu nanti yang mencoba menanganinya. ”, jawab Sakti singkat.

“Tentu saja boleh Mas Sakti. Justru malah saya yang berterima kasih mau dibantu. ”, jawab Pak Drajat. “Ada hal-hal yang dibutuhkan oleh Mas Sakti dan Bayu? Jangan sungkan-sungkan loh Mas kalo butuh sesuatu. ”

“Sementara ini nggak ada Pak. ”, jawab Sakti.

“Apa gitu ? Air putih, kembang, kemenyan, ubo rampe ? ”, tanya Pak Drajat.

“Hahahaha nggak Pak, kan kita nggak mau bikin ritual apapun di sini. Baru mau lihat-lihat saja ini kok. ”, Sakti tertawa mendengar pertanyaan Pak Drajat. Tapi segera menyadari kesalahannya dan langsung memperbaiki hal itu dengan sebuah penolakan yang lebih sopan, “Tapi nanti kalau butuh sesuatu, pasti kami bilang. ”

“Ooo gitu ya Mas Sakti ? Kasih tau saja kebutuhannya Mas, nanti saya siapkan. ”

“Mas Sakti, aku harus ngapain ini ? ”, tanya Bayu.

“Tenang aja Bay, nggak usah ngapa-ngapain. Kamu diam aja, tenang..jangan takut..dan waspada..”, kata Sakti.

“Ada yang harus aku lakukan kah ? Ada instruksi tertentu dari Mas Sakti ? ”

“Instruksinya cuma : bernapas Bay. Napas biasa aja, teratur, nggak usah ditahan-tahan. ”, kali ini Sakti berkata tanpa nada bercanda.

Keduanya berdiri berdampingan di depan area produksi di lantai bawah, menghadapi ruangan yang kosong. Tampak ruangan sudah sepi dari pekerja-pekerja yang tadinya mengerjakan pekerjaan lembur di situ. Suasana menjadi jauh lebih sepi dan sedikit mencekam, tidak lama kemudian desir angin dingin memenuhi seisi ruangan.

Bayu melihat Mas Sakti hanya berdiam diri saja, berdiri sambil memejamkan mata, dengan posisi kedua tangan saling memegang di bawah pusar. Meskipun gestur yang ditampakkan adalah gestur rileks, tapi dari raut muka nya Mas Sakti, Bayu melihat sebuah ketegangan. Detik demi detik semakin terlihat raut muka Mas Sakti semakin berganti ekspresi, bukan menjadi semakin relaks, tapi justru menurut Bayu berganti-ganti dari ekspresi ketegangan yang satu menjadi ketegangan yang lainnya. Otot mukanya menjadi semakin keras dan dahinya berkerut.

Sementara Bayu melhat di ruangan lantai bawah itu, di hadapan mereka, tidak terjadi apa-apa dan nampak ruangan yang kosong. Selain dari desir angin dingin yang semakin terasa, tidak ada hal lain yang terjadi. Semua tampak biasa saja di mata Bayu.

Bayu mengingat pesan Mas Sakti, untuk bernapas biasa. Tanpa disadari, diapun menerapkan nya dengan mengatur napas perlahan, dan teratur. Setiap tarikan nafas dirasakan dan hembusannya pun dinikmati dengan perlahan-lahan. Tanpa bisa dikontrol, pandangannya semakin gelap dan memudar, dan matanya semakin menutup. Dengan nafas yang teratur dan tubuh yang rileks, Bayu mulai meraskaan keadaan di sekitarnya.

[Di Dimensi Transisi]

Dimensi transisi adalah tempat di mana terletak perbatasan antara dimensi tempat manusia hidup dan dimensi lain dari makhluk atau entitas astral yang berbeda-beda ras dan asalnya. Dimensi Transisi punya regulasi energi sendiri yang tentunya berpengaruh pada kondisi fisik manusia dengan level energi tertentu.

Mendadak Bayu membuka mata, tapi apa yang dilihatnya sungguh mengejutkan dirinya. Dia tidak lagi berada di lantai bawah gedung milik Pak Drajat. Tapi terasa berada di dalam sebuah gua yang remang-remang dengan udara yang lembab dan banyak air di sekitarnya.

“Lho Bay..kamu kok bisa di sini ? ”, sebuah suara mengagetkan dirinya.

Itu suara Mas Sakti ”, pikir Bayu.

Ketika Bayu menengok, tampak Mas Sakti sedang mengambil posisi kuda-kuda, dan bersiap-siap menghadapi sesuatu di depannya.

Sementara di samping Mas Sakti ada seorang pendekar wanita yang memegang sebuah pedang. Di sebelahnya lagi, nampak perempuan muda dengan baju ringkas seperti baju senam, juga sedang memasang kuda-kuda. Kedua perempuan tersebut menengok ke arah Bayu.

Pendekar perempuan itu melihat Bayu dengan ekspresi yang keheranan, sementara wanita muda yang kelihatan masih muda sekali, kira-kira berusia tidak jauh dari usia Bayu, justru malah melempar senyuman dan membuat gestur melambaikan tangan kepada Bayu.

Tapi hanya sebentar, tidak lama ketiganya melanjutkan kuda-kuda mereka, dan bersiap-siap menghadapi apa yang akan datang di hadapan mereka. Wajah ketiganya pun menjadi lebih serius lagi.

Bayu merasa kebingungan sekali, tetapi juga penasaran dengan apa yang dihadapi di depan mereka.

Tanpa ragu, Bayu memalingkan muka nya melihat ke depan.

Nampak di hadapan mereka berdiri seekor harimau loreng dengan surai yang cukup panjang. Duduk dengan gagah dan berwibawa. Harimau ini memiliki ukuran yang tidak biasa, jauh lebih besar dari yang pernah Bayu lihat. Ukurannya kira-kira hampir menyamai ukuran mobil SUV yang sering kelihatan berkeliaran di jalanan.

Kedua bola mata harimau itu menatap tajam keempat orang yang ada di depannya, Bayu bisa melihat dengan jelas pupil mata harimau itu semakin mengecil dan meruncing tajam. Disusul dengan suara auman yang membahana, yang mengisi setiap relung gua dengan gema dari setiap sudut dan kiri kanan gua secara bergantian, membuat suara auman harimau itu semakin terasa tidak berkesudahan.

image

Kalingga illlustrated by Lovelie Light (LVL)

[Di Kantor Pak Drajat]

“Haaaaaaahhh, apa itu barusan ??? ”, Bayu tersadar dan membuka matanya di dunia nyata.

Dia kembali berada di lantai bawah gedung, nafasnya terasa berat dan terengah-engah. Sementara disorientasi masih terasa olehnya, perpindahan dari kondisi suasana di dalam gua ke suasana di lantai bawah gedung masing sulit diadaptasi oleh diri Bayu.

Dia hendak berteriak minta tolong kepada Mas Sakti, tapi Mas Sakti masih terlihat memejamkan matanya di sebelah. Tapi kali ini dengan raut muka yang tegang, dan mulai terlihat bulir keringat-keringat kecil di wajah Mas Sakti.

“Pasti Mas Sakti butuh bantuan ini, aku harus segera tenang”, ujar Bayu dalam hati.

“Mungkin dengan tenang seperti tadi, aku bisa menembus tempat tadi, tempat dimana Mas Sakti berada dengan kedua teman perempuannya.”, pikir Bayu.

Pikirannya tidak sempat lagi untuk mencari jawaban dari segala pertanyaan yang ada di pikirannya. Konsentrasinya penuh difokuskan untuk ketenangan bernafas seperti tadi.

Perlahan Bayu mulai merasa tenang, mulai bisa mengambil napas dengan penuh perasaan. Satu persatu nafas pun bisa dihembuskan secara perlahan dan penuh rasa. Sampai akhirnya semua pandangan menjadi blur, dan suasana berubah lagi menjadi lebih gelap.

[Di Dimensi Transisi]

Sakti tampak siaga begitu juga Tunggal Dewi dan Maheswari, dua pendekar wanita yang berasal dari dimensi berbeda. Tunggal Dewi berasal dari Ekosistem Dimensi Gaib Bumi sementara Maheswari adalah Extraterrestrial dari Ekosistem Dimensi Luar Bumi.

Ketiganya bersiap menghadapi sosok siluman Harimau yang cukup besar, Kalingga dia biasa dipanggil oleh para pengikutnya. Bukan hanya bangsa harimau, tapi ada ras lainnya yang cukup mengejutkan. Dan energi makhluk-makhluk ini cukup gelap dan pekat, ini pertanda mereka feral bukan tanpa alasan. Mereka adalah makhluk-makhluk buangan yang sebelumnya dipakai untuk praktek ilmu hitam dengan tujuan mencelakakan orang lain. Dan energi paling besar berasal dari sosok harimau yang dipanggil Kalingga ini.

Saat Sakti, Tunggal Dewi dan Maheswari siaga, tak jauh dibelakang mereka tampak samar sosok Bayu yang coba mempertahankan kesadarannya di dimensi transisi ini. Raga Astralnya masih berusaha menstabilkan bentuk, ini terlihat dari kondisinya yang tampak seperti hologram, tidak solid seperti Raga Astral Sakti dan lainnya.

Ini pertama kalinya Bayu mengalami kejadian ini, Astral Projection ke dimensi transisi, dan ini bukan hal sepele. Kedekatan Bayu dengan Sakti mungkin bisa membuatnya sensitif pada entitas gaib tapi Aspro ke domain transisi ga bisa dilakukan sembarangan orang.

Bayu berdiri dengan raga astral yg tidak stabil, tapi dia dapat melihat jelas apa yang terjadi di dimensi transisi ini, dia bisa melihat Sakit, Tunggal Dewi dan Maheswari bertarung dengan sosok asing dengan bentuk yang menyeramkan.

“Bukan manusia? Itu apa? Bukan manusia!” Bayu terus bergumam, tubuh astralnya bergetar hebat.

Sesekali tampak beberapa sosok berusaha menggapai raga astral Bayu tapi kemudian Maheswari menariknya dan menghajarnya, ga ada satupun sosok yang berhasil mendekati Bayu.

Bayu terkesima dengan sosok Maheswari ini, perempuan muda tapi dengan gesit dan lentur bisa menarik dirinya dari bahaya sosok yang menariknya. Maheswari pun merasakan tatapan keheranan Bayu melalui sudut matanya, sambil terus menghajar makhluk-makhluk yang mendekati Bayu, Maheswari masih sempat melemparkan senyum kecil dan kedipan mata kepada Bayu.

image

Maheswari illustrated by Lovelie Light (LVL)

Di tengah pertarungan yang semakin intens tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi, dimensi transisi berubah bentuk menjadi abstrak dan mereka dibawa ke sebuah tempat baru, yang merupakan domain baru.

“Tunggal Dewi, apa yang terjadi?” tanya Sakti kaget.

“Singularitas… ada yang menggunakan Ekspansi Omniversal!” kata Tunggal Dewi yang juga merasa terkejut.

“Siapa.. ? Kita ?”, tanya Sakti.

“Bukan..aku nggak tahu..tapi ada yang menyeret kita ke sini..”, jawab Tunggal Dewi.

Makhluk-makhluk yang tadi dihadapi oleh Sakti, Tunggal Dewi dan Maheswari menghilang seketika. Mereka bertiga merasa keheranan. Entitas apa yg bisa mengaktifkan Ekspansi Omniversal di tengah pertarungan dalam dimensi transisi dan memindahkan semua isinya secara bersamaan.

“Aroma ini…” tiba-tiba Tunggal Dewi terdiam menganalisa aroma yang tidak asing baginya.

“Aroma?” Sakti bertanya penasaran.

“Aku kenal aroma ini… kalo dia mungkin sekali bisa ekspansi disini Sakti, ikuti aku!” kata Tunggal Dewi sambil memberi aba-aba.

Entitas di dimensi gaib menandai satu sama lain dengan aroma tertentu. Ketika seseorang atau satu entitas dari trah tertentu memiliki aroma signifikan dan berbeda dari trah lainnya. Ini kenapa Tunggal Dewi yakin dia mengenali aroma ini, dia tau trah-nya, di dunia manusia biasa ini bisa dikenal dengan sebutan bau darah.

Sakti mengikuti Tunggal Dewi diikuti Maheswari yang sedari tadi menggandeng Bayu yang kondisi raga astralnya masih seperti hologram yang kadang jelas kadang redup kaya TV butut. Setelah melewati beberapa layer dimensi, mereka berhenti di hadapan sebuah kondisi.

“Sudah kuduga… itu dia!” kata Tunggal Dewi sebari tersenyum sumringah.

“Dia?… siapa?… Kalingga?” tanya Sakti.

“Bukan, tapi gadis itu!” Tunggal Dewi menunjuk seorang gadis yang berdiri penuh percaya diri dihadapan Kalingga yang tampak mencoba mengintimidasinya. Sakti mengernyitkan dahinya demi memandang jelas sosok gadis yang ditunjuk Tunggal Dewi, gak ada yang aneh dengan gadis itu, Sakti bahkan tidak bisa merasakan energinya.

“Kalo dia bisa Sakti!” lanjut Tunggal Dewi.

“Dia? Aku tidak bisa merasakan apapun dari gadis itu!” ujar Sakti keheranan…

“Belum saatnya memang, tapi kelak kamu akan mengenalnya, seluruh dimensi ini akan mengingatnya…” lanjut Tunggal Dewi. Mereka menyaksikan kejadian itu di balik selamur tipis buatan Tunggal Dewi yang melindungi mereka ber-empat.

image

Tunggal Dewi illustrated by Lovelie Light (LVL)

[Penglihatan Sakti]

“Ikut aku yuk!” sahut gadis itu pada Kalingga. Dan dibalas dengan pandangan sinis juga dengusan kesal.

“Kamu sama saja dengan manusia lain, hanya butuh aku untuk kerakusan-mu!” ujar Kalingga sinis.

“Aku belum punya kucing sekeren kamu, namamu siapa?” tanya gadis itu sok akrab.

“Bukan urusanmu namaku siapa, sekarang kalian pergi dari sini!” bentak Kalingga, energinya menjalar melalui udara dan Sakti bisa merasakan itu. Namun gadis itu tidak bergeming, dia malah tersenyum antusias.

Kemudian gadis itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar, dan mengambil memutuskan untuk duduk santai di tanah dengan menyilangkan kakinya.

“Kak, kalian patroli aja dulu ya di sekitar sini, tapi jangan menyerang apapun, bentengan aja!” sahut gadis itu pada orang-orang disekitarnya. Kemudian orang-orang itu meninggalkan si gadis sendirian bersama Kalingga.

“Ngobrol yuk!” sahut sahut gadis itu pada Kalingga.

“Sudah ku bilang tidak!” balas Kalingga ketus dan berbalik menjauhi gadis itu, lalu merebahkan dirinya di antara perisai-perisai energi yang dibuatnya dalam kegelapan.

“Aku ingin bertanya, kenapa di gedung ini banyak sekali gangguan gaib?” tanya gadis itu sedikit berteriak pada Kalingga.

Karena tidak juga ada jawaban gadis itu tampak mendekati Kalingga dengan cara merangkak perlahan. Dia dengan mudah memasuki beberapa layer perisai yang diciptakan Kalingga. Tanpa kesulitan yang berarti gadis itu berhenti merangkak dan duduk bersila santai tak jauh di hadapan Kalingga. Kemudian Kalingga membuka matanya, mata merah itu menatap sang gadis dengan sinis. Tapi lagi-lagi gadis itu hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum

“Hai, namaku …, dan mereka biasa memanggilku …” sahut gadis itu sambil nyengir. Kalingga ini memalingkan wajahnya dan berbaring membelakangi gadis itu. Tiba-tiba terdengar gangguan pendengaran di penglihatan semua insan di sana, sehingga nama dan panggilan gadis itu sama sekali tidak terdengar oleh mereka.

“Siapa… siapa namanya?… Pendekatan macam apa itu, dia sama sekali gak takut Kalingga akan menyerangnya?” Sakti keheranan.

“Kamu tau kan sekarang kenapa dia berbeda, dia satu-satunya yang tidak ikut aturan ekosistem Sakti, tapi dia dilindungi. Dia melakukan semuanya semau dia tapi dia selalu dijaga.” lanjut Tunggal Dewi.

“Siapa dia sebenarnya Tunggal Dewi? Musuh atau Kawan?” tanya Sakti penasaran.

“Gak ada yang tau, tapi yang jelas dia tidak berdiri di kubu siapapun, dia berkubu hanya dengan dirinya sendiri! Dia selalu bilang bahwa dia hanya punya Tuhan” jelas Tunggal Dewi.

[Penglihatan Sakti]

Sakti lanjut memperhatikan gadis itu dan Kalingga.

“Kamu emang diapain sampai semarah ini sih?” tanya gadis itu lagi.

Tapi Kalingga tak bergeming tetap membelakangi gadis itu tanpa memberi tanggapan, hanya sesekali terlihat telinganya bergoyang, menandakan dia masih waspada.

“Tapikan ga semua manusia jahat, sama kaya bangsa kalian, manusia juga ada yang baik!” sahut gadis itu sambil menopang pipinya dengan tangan kiri.

“Iya sih, pasti kesel banget kalo disakiti, ditinggalin apalagi sampe mau dibunuh kaya gitu!” sahut gadis itu lagi ber empati.

“Tapi kalo temenan sama aku ga akan disakitin kaya gitu lho….” lanjutnya merayu.

Kalingga tetap tidak menunjukkan tanda dia peduli dengan kata kata gadis itu, hanya telinganya terlihat tetap dalam posisi waspada.

“Aku kasih kamu namaya, Hero… Heropath!” kata gadis itu santai.

Kalingga mendengus kasar dan perlahan bergerak menghadap kearah gadis itu dan berkata. “Kamu berisik!” ujarnya ketus.

“Hai Hero!” ucap gadis itu.

“Jangan ngasih nama sembarangan!” ujar Kalingga kesal.

“Kenapa? Kan arti namanya bagus, nama baru sama kaya lembaran hidup baru!” balas gadis itu cengengesan.

“Kamu jelek ga usah senyum senyum!” Balas Kalingga geram.

“Tunggu sebentar, itu tadi apa?” Sakti terkejut.

“Memberi nama pada Entitas berarti klaim kepemilikan, gadis itu….” belum juga Sakti selesai dengan kata-katanya, Tunggal Dewi menepuk-nepuk pundak Sakti.

“Itu belum seberapa Sakti, banyak entitas yang tidak berdaya hanya dengan mendengar kata-kata dari dia, itu salah satu kelebihannya” terang Tunggal Dewi.

“Liat aja nanti, dia ga perlu mengeluarkan energi besar untuk menaklukan Kalingga.” lanjut Tunggal Dewi lagi.

Sementara Sakti dan Tunggal Dewi sibuk ngerumpi, Maheswari berusaha membantu Bayu menstabilkan energinya yang mulai melemah. Dan boostingan energi dari Maheswari berhasil membuat raga astral Bayu solid di dimensi transisi.

“Wah… ini dimana!” sahut Bayu panik.

“Sini Bay… kita lihat pertarungan!” ujar Sakti sambil melambaikan tangannya. Bayu menghampiri Sakti dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sakti.

“Ha… harimaunya gede banget!” ujar Bayu panik dan langsung menutup mulutnya sendiri.

“Itu bukan harimau biasa Bay… itu siluman harimau, penguasa teritori disini yg bikin lokasi di sekitar sini jadi wingit, termasuk tempatnya Pak Drajat.

“Cuma harimau itu, lalu gadis itu siapa?” tanya Bayu lagi.

“Kalo gadis itu aku juga gak tau Bay, tapi kita tetap harus waspada!” lanjut Sakti.

“Enggak kok, kamu waspadanya sama mereka aja, gadis itu ga usah dipikirkan.” lanjut Tunggal Dewi.

Dan seketika mereka bisa melihat ada banyak makhluk-makhluk menyeramkan terlihat juga sedang memperhatikan Kalingga dan gadis itu di balik perisai pelindung yang masing-masing mereka buat dalam kegelapan saat Tunggal Dewi menjentikkan jarinya.

[Penglihatan Sakti]

“Kamu bilang gitu ga akan bikin aku berhenti koq! Aku mau kamu ikut aku!” sahut gadis itu dengan nada suara serius dan pandangan mata tajam menatap ke arah Kalingga.

“Apapun yang kamu lakukan, aku ga akan pergi kemana mana!” balas Kalingga.

“Kita main game, kalo kamu kalah kamu ikut aku dan kalo aku kalah aku pulang dan ga akan gangguin kamu dan semua makhluk disini!” sahut gadis itu menantang. Kalingga menatap tajam gadis itu dan kemudian berdiri.

“Janji, kalo kamu kalah kamu dan teman teman manusiamu itu harus pergi dari sini, dan jangan ganggu kami lagi!” sahut Kalingga tegas.

“Janji demi Tuhan!” sahut gadis itu sambil mengangkat dua jarinya dan tersenyum. “

“Hero, kamu serang aku dulu. Kalo aku bisa bertahan, gantian aku yang menyerang kamu!” sahut gadis kecil itu bersemangat, seolah bocah kecil yang merencanakan sebuah permainan seru.

“Kamu pede banget bisa menang dari aku!” ujar Kalingga sinis.

Kalingga kemudian menghentak hentakkan kaki depannya. Dan seketika tanah disekitar gadis itu retak dan muncul percikan api yang berubah menjadi kobaran api merah menyala yang mengelilingi gadis itu.

Dan tiba tiba tanah yang dipijak sang gadis menjadi lembek seperti meleleh. Dia kehilangan kesembangannya berdiri dan saat gadis itu kehilangan konsentrasinya, sebuah energi besar menghempas ke arahnya.

Dengan nafas yang tersengal, gadis itu mengucap istighfar berkali kali dan menutup dengan kalimat Tauhid, Laa ilaaha illallaah. Dia membalikkan energi serangan dari Kalingga dan mengumpulkannya di telapak tangannya lalu menembakkannya ke arah Kalingga.

“BANGGGG!” tembakan energi itu akurat mendarat ke tubuh Kalingga.

“Waaahhhh… apa itu, kok bisa gitu!” lagi-lagi Bayu keheranan dengan apa yang dilihatnya. Dan itu membuatnya terus mengoceh.

“Ini di mana? Ini di dalam game?” ocehan Bayu ga berhenti saking terkejutnya.

“Ini lah dimensi Astral Bay, selamat datang!” balas Sakti singkat.

“Mas Sakti… gak bisa saya…” tiba-tiba tubuh astral Bayu kembali ke tampilan hologaram dan tampak bergetar hebat, dalam sekejap kemudian tubuh astral Bayu hilang.

“Kamu cepat kembali Sakti, urusan disini biar aku dan Maheswari yang bereskan, ga perlu khawatir. Anggap semuanya selesai.” ujar Tunggal Dewi sambil tersenyum untuk meyakinkan Sakti.

Sakti pun bergegas kembali ke tubuh fisiknya untuk segera memberi pertolongan pada Bayu.

Bayu mulai membuka matanya perlahan-lahan, dia sudah kembali berada di gedung milik Pak Drajat. Tapi sulit sekali mendapatkan kesadaran penuh, masih samar-sama Bayu melihat semuanya.

Dia hanya merasa bahwa dia digandeng oleh Mas Sakti, dan dituntun untuk masuk ke dalam ruangan Pak Drajat. Bayu merasa sudah membuka matanya lebar-lebar, tapi merasa tidak dapat melihat segalanya yang ada di ruangan kerja Pak Drajat. Dia pun menyerah, dan hanya menajamkan telinganya untuk mendengarkan apa yang terjadi.

“Pak Drajat, seperti nya sudah aman Pak. Jadi tadi saya sudah…mmmmmmhhhhhhssp…mmmssssh…”, Suara Mas Sakti terdengar, tapi Bayu tetap nggak bisa mendengarkan full semua pembicaraan. Yang tertangkap oleh kesadarannya hanya sepotong demi sepotong kalimat saja.

Terdengar suara Pak Drajat bertanya, tapi Bayu sama sekali nggak bisa mereka-reka apa kalimat yang diucapkan Pak Drajat.

“Oooh Bayu nggak apa-apa Pak, terkuras dia energinya…biar saja, nanti saya…mmmsssssshhhh…ssssssshhhhp…krrrrrrssssssp…”, benar-benar bingung Bayu dengan kondisi ini. Dia merasa kesadarannya ada, tapi belum penuh dan belum bisa menangkap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Tidak lama Bayu membuka mata kembali, namun dilihatnya dia sudah berada di dalam mobil, dengan Mas Sakti ada di sampingnya. Bayu bisa merasakan mobil itu berjalan, dan melihat driver di depan yang mengendarai mobil itu ke suatu tempat. Bayu mulai melihat kepada Mas Sakti lagi, dan ingin meminta penjelasan.

“Udah Bay, tenang aja. Semua udah selesai kok. Kamu tidur aja dulu. Kehabisan energi kamu tuh. ”, ujar Mas Sakti.

Bayu merasa badannya lelah sekali dan berat untuk memiliki kesadaran penuh. Antara tidur dan bangun, antara sadar dan tidak, dia rasakan.

Dia hanya ingat ketika sudah berada di kamar kostnya diantar Mas Sakti, lalu dibaringkan ke tempat tidur.

“Sudah Bay, tidur saja. Besok kalau kamu sudah balik energinya, baru kita ngobrol tentang tadi. ”

Itu suara terakhir dari Mas Sakti yang didengarnya. Tidak lama, Bayu merasakan gelap total dan menghilang lagi kesadarannya.

See you next Chapter, which will be the last chapter

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar