Spoiler Alert! It’s about trauma, mass hysteria, and the dark side of belief…
Film ini membawa kita kembali ke era kelam tahun 1998 di Banyuwangi, di mana paranonia dan ketakutan kolektif menguasai masyarakat. Isu santet dan praktik ilmu hitam memicu gelombang kekerasan yang tak terkontrol.
Desa-desa di Banyuwangi dilanda kekacauan. Sekelompok orang berpakaian serba hitam dan bertopeng, yang disebut “Ninja”, mulai melakukan penghakiman sepihak dan brutal. Target mereka: Siapa pun yang dituduh sebagai dukun santet. Namun, amukan ini tak pandang bulu. Korban berjatuhan, termasuk para tokoh agama, ustadz, dan santri yang sebenarnya tidak bersalah. Kekerasan ini menjadi tragedi sosial yang mencekam, mengubah desa yang damai menjadi lautan darah dan fitnah.

Kisah ini dipotret dari sudut pandang Satrio (Kevin Ardilova), seorang santri muda yang cerdas dan penuh empati. Ia menjadi saksi mata pembantaian mengerikan yang menimpa empat orang gurunya di pesantren. Kejadian ini tidak hanya menimpanya, tapi juga mengancam keluarganya.
Satrio, bersama teman-temannya seperti Annisa (Aurora Ribero) dan Nurul (Kaneishia Yusuf), harus berjuang untuk survive di tengah badai konflik ini. Di satu sisi, ia harus melindungi kedua orang tuanya yang terancam dituduh dan dibunuh, dan di sisi lain, ia bertekad mengungkap siapa dalang sebenarnya di balik pembantaian massal yang mengubah pesantren menjadi tempat teror.
Satrio menyadari bahwa teror ini bukan hanya soal amukan massa. Ada kekuatan yang lebih gelap dan terorganisir yang bermain di belakang layar. Misi Satrio adalah mencari tahu kebenaran di balik gelombang kekerasan yang absurd ini, termasuk mengungkap sejarah kelam keluarganya yang ternyata berkaitan erat dengan tragedi tersebut.
Film ini bukan hanya menyajikan kengerian fisik dari pembantaian, tapi juga teror psikologis dari fitnah, hilangnya nalar, dan trauma mendalam yang membekas pada ingatan kolektif.
Definitely bikin kita bertanya-tanya, mana yang lebih seram: santet itu sendiri atau histeria massa yang membabi buta?

Skenarionya diadaptasi dari thread viral yang tulis sendiri oleh JeroPoint, yaitu “Lemah Santet Banyuwangi” dimana judul ini sempat jadi polemik kemudian terpaksa mengganti judulnya dengan “Pembantaian Dukun Santet” yg sebenernya sama sebali gak ada hubungannya ama tragedi besar itu kalo dari POV aku yaa…
Sementara Sutradaranya adalah Azhar Kinoi Lubis udah familiar banget sama genre horor dan thriller yang serius, pernah sukses dengan thriller yang bikin deg-degan. Dia memastikan film ini punya atmosfer mencekam dan sinematografi yang gelap, fokus pada ketegangan psikologis.
Tapi karena ini thread nya JeroPoint, jangan diharepin ceritanya sesuai dengan judulnya yang menurup pengakuan seakan ngomongin soal tragedi 1998, dan jangan ngarepin logika supranaturalnya sesuai… 😅😆
Karena bagi aku pribadi, film ini lebih ke:
Dukun Santet Ngebantai Pesantren! 😓
and God damned logika supranaturalnya berantakan banget, ampe emosi nontonnya…🙄😒
.
King Of Alit : Kayanya berantakan sih ini, gak tau deh… kita liat aja…
“Salah pemilihan Judul, sampe banyak yang marah kemudian diganti judul kedua yang masih juga salah!”
King’s rate: 2/10 ✨
.
Riska H. : Ini lebih cocok judulnya “Lemah Santet” aja.
Riska’s rate: 3/10 ✨
.
Rissabing : Bagus Setting tempatnya… ← saking gak ada yang bisa di puji
Rissa’s rate: 1.5/10 ✨
.
Jovanka : Harusnya ada ustadz yang bisa Ruqyah masa di pesantren gak ada yg bisa ruqyah
Joo’s rate: 2/10 ✨
Walaupun nih judulnya di kait-kaitkan ama sejarah kelam Indonesia (tentang banyak pemimpin Muslim yang dibantai oleh “ninja” pada tahun 1998), buat aku pribadi dan teman-teman yg ikutan nobar kemaren, kita meyakini kalo film ini sendiri bukan tentang sejarah tersebut.
Ini kaya 2 Film yg dijadiin satu.
Film ini lebih tentang bagaimana ilmu hitam yang secara fiktif bekerja dan menghantui sebuah pesantren. Yang secara logika Supranatural way to far to be true!! Alurnya berantakan, bahkan bagi aku pribadi membosankan, walau dihiasi adegan gore, cipratan darah, dan eksekusi berdarah di mana-mana, gak bikin filim ini jadi keren kok, malah banyaknya plot hole dalam adegan di film ini yg bikin aku mengumpat kesal!
Luv’s rate: 1/10 ✨
✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya.
Makasih,
