Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

DADAKAN NONTON BARENG: WAKTU MAGHRIB 2 (2025)

Spoiler Alert lhoooooo Jadi, jangan komplen karena aku udah kasih tau image https://qph.cf2.quoracdn.net/main qimg 63c6fc9a28cabe2622f08605311fe872 Di...

lovelie-light 11 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel DADAKAN NONTON BARENG: WAKTU MAGHRIB 2 (2025)

Spoiler Alert lhoooooo!! Jadi, jangan komplen karena aku udah kasih tau!

image

Di Waktu Maghrib tahun 2023 kita semua dibuat bingung sama “makhluk apa ini” yang tiap mangrib meneror warga desa dan merubah anak jadi mesin pembunuh tidak terkendali.

Di Waktu Maghrib 2 ini ternyata di spill, bahwa sosok ini adalah Ummu Sibyan, damn…. kalo emang ini adalah sosok Ummu Sibyan, aku paham… kalo emang Jin ini yang Sidharta maksud… maka kita berurusan sama Penyihir dari ras Jin tua yang memang sejak ribuan tahun lalu slalu mengincar anak-anak.

Film ke 2 ini masih kelanjutan dari film pertamanya di tahun 2023, tapi berlatar 20 tahun setelah kejadian mengerikan di Desa Jatijajar pada film pertama. Sekarang, teror itu muncul lagi di desa lain, yaitu Desa Giritirto.

Adi (tokoh dari film pertama, yang sekarang diperankan oleh Omar Daniel) kembali, tapi dia membawa trauma masa lalu. Dia berusaha keras membantu warga desa Giritirto dan anak-anak yang kini jadi target Ummu Sibyan, mencoba menghentikan teror yang sudah menghantuinya selama puluhan tahun. Tapi usahanya apa, gak diceritakan dengan detail. ini jadi hole plot buat aku!

Film ini berlatar 20 tahun setelah teror mengerikan yang dialami oleh Adi dan kawan-kawannya di Desa Jatijajar pada film pertama. Walau waktu sudah berlalu, luka trauma Adi (kini diperankan oleh Omar Daniel) masih terasa. Ternyata, teror itu tidak benar-benar berakhir, melainkan hanya berpindah tempat, kini menghantui Desa Giritirto yang tidak jauh dari Jatijajar.

Semua kekacauan bermula dari hal yang terlihat sepele: pertandingan sepak bola antar anak-anak desa. Fokus utama kini ada pada sekelompok anak, termasuk Yogo, Dewo, dan Wulan. Yogo dan teman-temanya yang kalah dalam pertandingan bola merasa sangat kesal dan marah. Dalam luapan emosi negatif dan sumpah serapah yang spontan, mereka mengucapkan kata-kata kebencian. ⬅ Sama kaya momen Adi dan temannya menyumpahi Bu Woro 20 tahun lalu.

Mereka melakukan hal itu tepat saat Adzan Maghrib berkumandang. Dalam kepercayaan tradisional, waktu Maghrib adalah waktu sakral atau “waktu sandekala,” di mana energi negatif dan makhluk halus sedang berkeliaran, dan mengucapkan hal-hal buruk (terutama sumpah serapah) akan membuka portal atau memanggil petaka.

Sumpah kebencian itu tanpa sadar membangkitkan kembali Jin Ummu Sibyan, entitas gaib yang memangsa dan meneror anak-anak, dengan kekuatan yang kali ini lebih gila dan brutal.

Teror benar-benar terjadi ketika Ummu Sibyan mempengaruhi salah satu anak dalam kelompok itu untuk memburu nyawa anak-anak lain tanpa ampun. Anak-anak di Desa Giritirto mulai menghilang satu per satu, dan suasana desa berubah mencekam.

Sutradara Sidharta Tata sendiri menjanjikan teror kali ini akan lebih bersifat brutal dan sadis. DAMN!

Adi dewasa yang penuh trauma muncul. Berbekal pengalaman pahitnya 20 tahun lalu menghadapi Ummu Sibyan, Adi kembali ke tengah kengerian. Ia berusaha keras untuk membantu warga desa dan melindungi anak-anak dari ancaman yang menghidupkan kembali trauma lamanya. Adi harus menyusun rencana untuk mengusir roh jahat ini, menghadapi ketakutan terbesarnya, dan melawan kekuatan Ummu Sibyan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

image

Menurut kamu, kenapa sumpah serapah di waktu Maghrib itu bisa jadi trigger utama kebangkitan Ummu Sibyan? Apakah ini ada kaitannya sama hukum tarik-menarik energi (Law of Attraction) yang lagi kuat-kuatnya di waktu senja?

Sepemahamanku Waktu Maghrib itu kan sering disebut “waktu pergantian” (twilight zone). Secara spiritual, ini adalah momen di mana frekuensi vibrasi antara alam manusia (kasar) dan alam jin (halus) menjadi sangat tipis. Ibaratnya, portal atau veil-nya lagi terbuka lebar.

Saat matahari terbenam, energi terang sedang “turun” dan energi gelap/dingin sedang “naik.” Ini menciptakan gelombang energi yang fluktuatif, membuat energi negatif lebih mudah bermanifestasi dan energi proteksi alami kita (yang biasanya kuat di siang hari) sedikit menurun.

Di saat portal terbuka ini, segala sesuatu yang diucapkan atau dipikirkan (terutama dengan intensitas tinggi) punya daya pantul yang lebih kuat ke alam semesta, dan lebih gampang “dijawab” oleh entitas yang berkeliaran.

➡ Sumpah Serapah: Law of Negative Attraction (LOA Versi Gelap)

Sumpah serapah, kebencian, dan kemarahan yang diucapkan anak-anak itu kan bukan sekadar kata-kata kosong. Itu adalah energi emosi negatif berfrekuensi rendah yang sangat kuat (low-vibration). Menurut prinsip LOA, like attracts like. Ketika emosi negatif yang intens dilepaskan di waktu di mana veil tipis (Maghrib), energi itu langsung mencari resonansi di alam gaib.

Jin Ummu Sibyan adalah entitas yang diasosiasikan dengan gangguan, kekacauan, dan bahaya bagi anak-anak. Dia adalah arketipe dari energi negatif yang pas banget sama frekuensi kemarahan dan sumpah serapah itu! Sumpah itu ibaratnya “undangan” dengan vibrasi yang tepat sasaran. Mereka memanggil Ummu Sibyan bukan dengan ritual, tapi dengan luapan emosi kotor yang dikirimkan pada waktu yang krusial.

image

Anak-anak, secara supranatural, sering dianggap lebih sensitif dan “bersih” (atau polos secara energi). Tubuh dan aura mereka belum sekuat orang dewasa dalam menahan energi luar. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap kerasukan dan gangguan. Ummu Sibyan dipercaya menyukai kekacauan. Luapan emosi negatif saat Maghrib itu menunjukkan adanya keretakan emosional/spiritual pada anak-anak. Keretakan inilah yang dimanfaatkan oleh Ummu Sibyan untuk masuk dan meneror.

Jadi, ini bukan cuma soal melanggar aturan agama untuk tidak bermain saat Maghrib. Ini adalah gabungan timing energi semesta yang krusial (Maghrib), dengan pelepasan energi vibrasi negatif paling kuat (Sumpah Serapah), yang secara efektif menciptakan “Jalan Tol Supranatural” bagi entitas berfrekuensi rendah seperti Ummu Sibyan untuk masuk dan bermanifestasi.

4me… It’s about pure, raw, misdirected energy!

Kemudian dari segi pemain, anak-anak yang berperan di film ini, terutama yang termanipulisi, perlu aku apresiasi sih karena akting mereka yang fresh dan berenergi. Bahkan energi dari karakter mereka jauh lebih kuat dari si pemeran utama (kalo dia bisa dibilang pemeran utama yaa…) Adi versi dewasa yang di perankan oleh Omar Daniel.

Bisa dilihat dengan mudah ketika Adi face to face dengan Wulan yang dirasuki oleh Ummu Sibyan, kalo soal dominisai sosok Adi kalah telak, padahal diceritanyakan dia punya dendam dan trauma yang besar kepada entitas Ummu ini, but sorry to say pemeran Adi tidak dapat menunjukkan “rasa” dan “energi” itu. Belum lagi banyak hole plot dari karakter Adi ini, selain pemeran Adi sendiri gak ngasih kesan “dominan” pada karakter Adi yg penuh dendam dan traumatis, gak dijelaskan juga perjalanan Adi, memburu Ummu selama 20th, tiba2 nongol aja gitu…

Apa ya… “energinya” berasa kosong, terus kalo diperhatikan banyak banget dialog yang di ucapkan pemeran Adi itu berantakan, kadang kebolak-balik, tapi anehnya kok gak di perbaiki… dahlah, yang janggal dari film ini cuma tokoh Adi dan kenapa yg memerankannya harus beliaunya itu.

Apakah ini yg jadi penyebap Waktu Maghrib 2 ini penontonya sepi… entahlah, tapi yg jelas kalo di sisi eksekusi lainnya (selain karakter Adi) aku akui film ini keren dan logika supranaturalnya juga keren, aku juga akui Sidharta Tata berhasil mengembangkan ketakutan dan kengerian yang dia sudah janjikan tentang film ini, anak-anak yang jadi vessel dari kekuatan teror Ummu Sibyan di bekali celurit dan senjata lainya buat mengejar dan membantai siapa aja yang mereka temui… dah kaya film zombie tapi zombienya dikasih kesadaran ala sikopet… 😅

Yang paling konsisten, tak tergantikan dan nyambung dari film pertama ama film ke dua itu cuma karakter HANSIP yang diperankan oleh Sandana Agung, si tukang munth. Di film pertama itu jadi Bapaknya yang tugas di Jatijajar, di film ke dua jadi Anaknya yang bertugas di Giritirto, tapi sama2 ngejago dan hobi munth~🤣😅 Aku malah jadi curiga jangan-jangan sosok Ummu Sibyian ada hubungannya ama si hansip ini wkwkkkk…. 🤣

image

🔸 Review Teh Riska H.

Seperti biasa, di opening nonton waktu magrib, kita akan disuguhkan ketegangan dimana ada “sosok” yg mengincar anak”. Sepanjang jalan film jg lumayan tegang, apalagi adegan manusia seperti “zombie”, yg berlari” mengejar mangsanya sambil membawa sajam seperti celurit (salah satu ciri khas waktu magrib yg aku suka). Ditunjang dengan akting anak” nya yg keren banget, membuat kesan merinding dan capenya kerasa banget buatku.

Cuma setelah nonton keseluruhan, ternyata dibanding kesan horornya, di magrib 2 ini buatku terasa lebih ke genre thriller, dimana sosok Adi yg mencoba balas dendam terhadap sosok “ummu” yg mengincar jiwa anak”, ditambah dengan adengan pembunuhan yg cukup intens disini. Namun, endingnya sedikit mengecewakan buatku. Terutama ritual pengusiran “ummu”nya kurang greget. Bener kata teteh lov, apalagi pemeran sosok “adi”nya kurang bagus.

Timpang bgt dengan totalitas akting pemeran anak”nya. Hal ini membuat ekspresiku yg sepanjang film dari awal bergumam “aslii seru keren bagus bgt”, tapi diakhir jadi “yahh ko endingnya gtu”. 🤣 Terlepas dari ending yg mengecewakan itu, overall filmnya seru dan yg terpenting ga membuat ngantuk sama sekali.

Riska’s Rate: 7,5/10

.

🔸 Review Kak Jovanka

Menurutku filmnya keren, dari segi acting anak-anak yang menjadi pusat cerita film ini, aktingnya sangat natural terutama karakter Wulan, dia mampu memberikan rasa hanya melalui facial expression, terlebih sorotan matanya saat dia melihat ke Yogo di dalam kelas.

Ga kalah akting adalah anak-anak pemain cadangan yang menghilang di hutan saat mereka kembali menterror anak-anak di kampung Giri Tirto. Mimic muka dan make up mereka terutama mata mereka menjadi putih semua mengingatkan ku pada artwork Junji Ito di liminal space. Sutradara mampu memberikan “terror” yang mencekam dengan kehadiran sosok anak-anak ini. Kudos untuk anak-anak pemeran pemain “cadangan tim sepakbola Giri Tirto… kalian berhasil mebuatku takut di film ini.

Sama seperti review Teh Riska aku juga berpendapat bahwa di film ini kita tidak takut akan sosok Ummu Sibiyan tapi lebih takut melihat tingkah nya Endro and the gang.

Aku suka cinematography film waktu Maghrib baik yang pertama dan ke 2 ini. Aku kurang sreg saja sama pemeran Adi, kurang dapat feel sebagai Protagonist dalam film ini… dan satu lagi yang aku perhatikan dari film waktu maghrib 1 dan 2, kendaraannya pick up semua ya apakah ada significancenya dalam setting tempat ceritanya (wkwkw gabut aja kumperhatikan hal tersebut).

Overall aku menyukai film ini, film yang tidak terasa udah mau selesai saking tegangnya dan “engaging” cerita dan karakter dalam film itu pasti aku beri 2 thumbs up! 👍👍

image

Ini expresi muka endro and the gang yang seperti ini membuatku takut 😅🤣

Joo’s Rate: 8/10

.

🔸 Review King Of Alit

Nggak tau sih siapa yang musti diacungin jempol, apakah Casting Directornya atau Sidharta Tata yang jadi Directornya. Karena persis seperti di Waktu Maghrib yang pertama, main talent anak-anaknya mampu banget keluarin mimik muka yang bikin merinding dan menakutkan. Malah di WM 2 ini ditambah pake gestur dan oalh tubuh yang gak kalah menakutkannya. Entah itu bagian Casting Directornya yang begitu bagusnya bisa cari talent2 anak2 yang cocok dan theatrical banget, entah itu Directornya yang bisa kasih direction ke main talentnya dengan bagus. Tapi yang pasti sih main talents anak-anak tetap punya credit yang besar di sini.

Tapi ini bikin implikasi ke tempat lain, pemain Adi yang udah dewasa kerasa banget susah ngimbangin acting dan olah tubuh ataupun gesture dari anak-anak itu. Sering beradu acting sama anak-anak yang nggak pake dialog, sementara Adi yang udah dewasa butuh banyak dialog. Jadi keliahtan lebih drop aja.

Terakhir yang nggak enak banget…

Ternyata ada satu nama yang hilang di bagian penulis…

Ini bikin jadi beda banget soalnya sama Waktu Maghrib pertama. Di Waktu Maghrib pertama, kita nggak disuguhkan sama conclusion di akhir film yang lengkap. Sengaja dikaburkan konklusinya, apalagi ditambah kita nggak disuguhkan dengan after resolution nya di Waktu Maghrib yang pertama. Nggak digambarkan kondisi desa Jaitjajar setelah teror selesai. Tapi itu justru malah bikin kerasa naikkin nilai filmnya, plus bikin penasaran sama sequel keduanya.

Tapi sayangnya, di sequel kedua, itupun nggak didapatkan dengan enak dan pas. Ada beberapa penjelasan mengenai konklusinya, tapi kita aja tadi malam debat mengenai “konklusi apa ini ? ”. Mungkin dari sisi cerita ini yang bikin penonton WM 2 ini drop jadi cuma 900 ribu penonton, dibanding yang pertama yang mencapai 2,4 juta.

Singkatnya sih .. durasi 104 menit, bisa dibagi dua. 90 menit masih bisa 8 rate-nya (biar lah terlalu royal sama angka). Tapi 14 menit terakhir bikin drop jadi 4 rate-nya.

image

Jadi buat aku dan temen-temen yg ikutan nobar semalem, kami semua komplen soal sosok yg memerankan Adi, tapi tetep appreciate sama para cast anak-anak itu. Kemudian pada Bonifasius Mariano yang memerankan Ummu Sibyan di film ke-2 ini oke banget wardrope nya ampe di gantung-gantung begitu pasti effort banget nahannya kan wkwkkk… aku pingin ngasih rate tinggi untuk menghargai anak2 yg mainnya bagus tapi gak bisa karena ada faktor lainnya yg bikin “duh, kalo rate segitu enggak deh…” gitu, maap ya adek-adek yg udh effort berperan total banget~💖🧃

Luv’s Rate: 7/10

✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧

Be kind and respectful, and I will do the same for you!

Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.

Makasih, Lovelie Light~🍀

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar