“Getir Teh Tubruk dan Wajah Keadilan” by Wisanggeni
Sore itu, aku duduk di teras sambil menyeruput teh tubruk cap Sepatu khas Pekalongan. Aromanya sederhana, hangat, pekat dan getir—mirip dengan pikiran yang berputar di kepalaku tentang kata yang indah sekaligus rapuh: keadilan.
Keadilan sering dipuja dalam pidato para pemimpin, dituliskan dalam konstitusi, bahkan dijadikan dasar hukum. Namun dalam kenyataan sehari-hari, keadilan justru sering menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Kita merasa adil itu sederhana: yang salah dihukum, yang benar diberi ruang. Tetapi hidup tidak sesederhana hitam dan putih.
Di antara keduanya, terbentang ruang abu-abu yang luas, penuh dilema, air mata, dan pilihan yang sulit.
Mari kita tengok satu kisah. Seorang perempuan yang bekerja sebagai pekerja malam demi memberi makan anak-anaknya. Di mata masyarakat, ia tercap hina. Tetapi di balik tubuh yang diperdagangkan, ada naluri keibuan yang tak sanggup membiarkan anaknya kelaparan.
Pertanyaannya: apakah adil bila ia hanya dinilai dari pekerjaannya, tanpa melihat alasan dan keadaan yang membuatnya terpaksa memilih jalan itu?
Kisah lain datang dari seorang bapak yang menyumbangkan uang untuk pesantren, masjid, gereja dan kegiatan sosial lainya. Uang itu membantu pembangunan asrama, membiayai anak-anak yatim, menolong yang hendak meninggal, mengobati yang sakit dan menghidupi kegiatan belajar.
Namun kita tahu, uang itu berasal dari tindak korupsi. Pertanyaannya: apakah kebaikan itu tetap kebaikan jika bersumber dari keburukan? Apakah haram hukumnya sedekah yang dibungkus dengan uang kotor?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat kita sadar bahwa keadilan bukanlah soal menghitung kesalahan dan kebaikan layaknya matematika.
Keadilan adalah soal perspektif, soal empati, soal keberanian untuk melihat lebih jauh dari permukaan.
Sayangnya, di ruang publik kita sering tergoda untuk saling menyalahkan. Kita terbiasa melempar cap: “pendosa”, “kafir”, “munafik”, “haram”. Dengan mudah lidah menuding, seakan kita sendiri berdiri di menara kebenaran yang paling tinggi. Padahal, hidup setiap orang adalah cerita yang rumit. Jalan yang mereka tempuh bukan selalu cerminan dari apa yang mereka inginkan, melainkan apa yang mereka mampu jalani.
Di sinilah saya percaya, keadilan bukan hanya tentang hukuman atau penghargaan, melainkan tentang ruang untuk memahami. Adil berarti berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain, mencoba merasakan getir yang mereka rasakan. Adil berarti berani mengakui bahwa manusia bisa keliru, tetapi setiap orang tetap berhak diberi kesempatan untuk berubah dan diperbaiki.
Namun tentu saja, bukan berarti kita harus membenarkan segala kesalahan. Korupsi tetaplah korupsi, prostitusi tetaplah pekerjaan yang penuh risiko dan dilema moral. Tapi ketika kita melihat manusia yang ada di baliknya, kita belajar bahwa tugas kita bukan sekadar mengutuk, melainkan menciptakan jalan keluar.
Mungkin bagi seorang perempuan itu, keadilan hadir bukan ketika ia dihakimi, melainkan ketika masyarakat memberi alternatif pekerjaan yang lebih bermartabat. Mungkin bagi sang bapak koruptor, keadilan bukan ketika uangnya diterima tanpa kritik, melainkan ketika hukum bekerja tegas tanpa mafia peradilan.
Keadilan, pada akhirnya, bukan sekadar soal hukum, melainkan juga soal hati. Kita bisa menegakkan undang-undang setegak-tegaknya, tetapi jika hati kita keras dan penuh kebencian, keadilan akan kehilangan wajah manusianya.
Sebaliknya, ketika hati kita lembut dan penuh empati, bahkan dalam ruang hukum yang kaku pun masih ada cahaya kemanusiaan yang bisa menyusup.
Saya percaya, kita tidak akan pernah menemukan definisi tunggal tentang keadilan. Tapi kita bisa merawat semangatnya dalam hal-hal sederhana: tidak mudah menghakimi, berusaha memahami, dan memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.
Mungkin itu memang bukan keadilan dalam pengertian ideal, tetapi setidaknya itu adalah keadilan yang manusiawi.
Dan sore itu, ketika tegukan terakhir teh tubruk cap Sepatu menyisakan rasa getir di lidahku, aku teringat bahwa keadilan pun begitu: getir, hangat, dan sederhana pada saat yang sama.
Ia bukan sekadar aturan di atas kertas, melainkan upaya terus-menerus untuk saling memahami.
Sebab hidup bukanlah tentang menimbang hitam dan putih. Hidup adalah tentang bagaimana kita belajar menerima abu-abu dengan lapang dada, tanpa kehilangan kompas moral untuk tetap berbagi kebaikan.
#Memayu Hayuning Bawana
Photo by pinterest