Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Happy Halloween

Selamat siang Kawans Sekala Niskala, selamat hari Halloween. Tulisan ini bukan mau membahas tentang Halloween kok, entah itu origin nya dari mana, evo...

lovelie-light 3 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Happy Halloween

Selamat siang Kawans Sekala Niskala, selamat hari Halloween.

Tulisan ini bukan mau membahas tentang Halloween kok, entah itu origin nya dari mana, evolusinya bagaimana, dan apa esensi dari perayaan itu. Bukan pula soal satire, menyangkut masalah “bukan budaya kita”.

Tapi justru mau mendorong teman-teman yang mau merayakannya dan merasakan sensasinya, silahkan.

Biar tahu, suasana nya seperti apa, feelnya kayak apa dan experience nya gimana…

Pada dasarnya, nggak apa-apa kok merayakan kebudayaan orang lain. Karena kita sendiri juga butuh sebuah perspektif yang lebih luas tentang sesuatu. Biar tahu rasanya.

Saya sendiri bukan muslim, tapi ikut dalam puasa Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Tapi ya udah lah ya, itu udah biasa dan common di mana-mana. Tapi beberapa rekan yang Nasrani, juga sering mengajak saya untuk ikut misa mereka, sekedar duduk, ikut berdoa dan mengamati. Perayaan Nyepi yang saya belum pernah ikutan, tapi pengen sebenarnya kalau diperkenankan, pengen ngerasain apa rasanya ada di dalam itu…

Sama seperti Halloween, predikat “bukan budaya kita”, sepertinya kurang pas kalau buat saya.

Mungkin kalau di saya lebih kepada, utamakan budaya dan identitas kita terlebih dahulu. Setelah itu dilakukan, kalau mau mendapatkan pengalaman di budaya orang lain pun tidak apa-apa. Jadi bukan larangan keras kalau bagi saya, melainkan sebuah anjuran dan saran saja.

Yang terpenting ada di sisi identitas diri. Ketika identitas diri kita sudah lengkap, silahkan kalau mau mengalami pengalaman unik lainnya. Tapi ketika mendalami pengalaman baru, tanpa identitas yang lengkap, ini yang sering “tersesat” jadinya. Bisa mengarah kepada jatuh cinta pada pengalaman barunya, dan menjadikannya sebagai sebuah identitas diri yang baru.

Fokus utamanya adalah selalu pada kondisi internal diri dulu, ketika sudah tau diri ini berasal dari mana, apa budaya yang ada di dalam keluarga, apa tradisi yang dilakukan di dalam keluarga, bagaimana adab unik yang ada di keluarga, itu sudah menjadikan diri ini memiliki identitas yang utuh. Misalnya : saya orang Sunda, yang biasa nyekar setiap hari Lebaran, ada tradisi makan malam bersama di meja makan setiap malam, dan selalu membungkuk ketika bertemu dengan orang yang lebih tua. Ini membentuk diri menjadi memiliki identitas yang lengkap. Akan jauh lebih lengkap lagi ketika dipadu padan dengan keyakinan yang dimiliki.

Tapi ketika bingung dengan identitas dirinya, dan mendapat pengalaman baru yang disukai, maka seketika diri ini bisa berubah total menjelma menjadi sebuah identitas baru.

Saya dulu pernah menulis begini, jaman dahulu pada masa banyak bangsa Belanda yang bermukin di sini, yang paling kasihan adalah yang menjadi wannabe. Orang Indonesia yang krisis identitas, sehingga menjadi ke “Belanda-Belanda”an. Dia yang bingung akan akarnya, pada akhirnya dan mencoba mengambil identitas diri yang baru.

Implikasinya biasanya, oleh orang Indonesia asli tidak akan diterima total, karena sudah ke “Belanda-Belanda”an, rasanya sudah bukan asli orang Indonesia lagi (atau bukan warlok lagi gayanya). Tapi oleh orang Belanda yang asli pun tidak mendapatkan tempat, karena bukan asli orang Belanda.

Jadi…ini tentang identitas diri..

Nggak apa-apa mau merayakan Halloween juga, tapi lengkapi dulu identitasmu. Setelah lengkap, merantau lah dan ambil pengalaman dari banyak tempat. Tetap sediakan ruang analisis di benakmu untuk selalu ambil yang baik dan berguna, serta buang jauh yang tidak cocok.

Seperti juga tulisan ini.

image

C7 Lobjoit at Pinterest

Cheers,

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar