Keempat insan itupun kembali berjalan menyusuri wilayah-wilayah di Kerajaan Sangkan Nenggala, dalam misi mencari Raja Baru.
Dewi Anna membuka pembicaraan di tengah perjalanan, “Begawan Balawan, sepertinya perjalanan kita akan sia-sia ya ? Sudah 3 orang kita temukan, meskupun mereka adalah orang-orang yang tergolong “bukan orang sembarangan”, tetapi sepertinya, mereka bukan orang yang kita cari. Apa perjalanan kita sejauh ini sia-sia ya Begawan ? “
Begawan Belawan menjawabnya dengan pandangan yang jauh ke depan, seakan melihat jalanan panjang di hadapan mereka, “Tidak ada yang sia-sia kok Dewi Anna, tenaga dan upaya yang kamu keluarkan, akan dikembalikan kepada dirimu ketika sudah menemukan “rasa”nya. Itu sebuah hukum yang tidak bisa diganggu gugat. “
“Perjalanan kita memang belum menemukan orang yang tepat untuk menjadi Raja Sangkan Nenggala. Tapi ini menunjukkan bahwa, apa yang kita cari tidak mudah, sehingga ketika kita menemukannya nanti, kita tidak akan menyia-nyiakan penemuan kita yang sudah diperoleh dengan usaha yang besar. “
“Pencarian kita juga tidak sia-sia, beberapa orang yang sudah ditemui, memang bukan orang yang tepat untuk menjadi seorang Raja. Tetapi di dalam diri mereka, ada peran dan karakter yang dibutuhkan oleh seorang Raja untuk membantunya memerintah. “
“Jadi sama sekali tidak ada yang sia-sia.”
Dewi Anna berkata pelan dengan sedikit cemberut, “Tapi aku capeeeek jalan terussss..”
Sementara yang lain hanya tertawa mendengar keluh kesahnya.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah desa yang damai, asri, penuh tanaman, tenang dan damai.
Desa terpencil itu tidak mencerminkan aktivitas masyarakat yang hiruk pikuk, melainkan kondisi yang tenang dan damai. Seperti semua kehidupan berjalan dengan lebih lambat di Desa itu. Namun dalam suasana yang sepi dan sederhana itu, tercermin sebuah kedamaian dan keselarasan yang terasa.
“Rumah itu energinya besar sekali”, kata Angkerani Gayatri sambil menunjuk sebuah rumah yang cukup besar, namun ditata dengan sederhana. Apabila orang melihat sekilas dari tepi jalan desa, maka rumah itu hampir tidak terlihat, karena ditutupi oleh rimbunnya dan indahnya pepohonan di halaman depan nya yang luas.
Mereka berempat pun berjalan pelan menuju rumah itu, dan setibanya di pintu depan, Begawan Balawan mengucap salam. Namun tidak ada balasan dari pemilik rumah. Sementara itu, secara pelan terdengar suara musik pelan berasal dari sisi samping rumah besar itu. Mereka berempat pun mencari asal suara lantunan musik pelan itu, berjalan menyusuri rumah mengarah ke samping, hingga sampai di sebuah pendopo terbuka yang terpisah agak jauh di sisi halaman samping rumah.
Dalam pendopo terlihat beberapa orang sedang melakukan gerakan-gerakan tertentu diiringi lantunan musik lembut. Mereka semua bergerak seirama dengan perlahan dan lembut. Nampak seorang wanita yang memimpin kegiatan tersebut di depan kelompok orang itu.
Mereka dengan sabar menunggu hingga kegiatan itu selesai.
“Itu gerakan apa ya ?”, tanya Dewi Anna.
“Sepertinya itu sebuah gerakan khusus untuk menenangkan jiwa dan membuat tubuh lebih bugar. Tapi energinya bagus sekali dan kelihatan selaras serta seimbang”. Ujar Prabu Alit.
“Wanita itu bisa membagikan energinya melalui gerakan tertentu. Tapi dia juga perlu perbaikan sedikit, energinya terlalu keras dan maskulin, yang diajarkan oleh dirinya ini adalah energi yang feminin. Dia berusaha belajar sambil mengajarkannya kepada orang lain, sebuah siasat yang bagus”, kata Angkerani Gayatri menambahkan.
“Oooooooo…begitu “, kata Dewi Anna sambil tetap memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan.
Segera setelah kegiatan kelompok itu terlihat sudah selesai, mereka berempat pun mendekati wanita itu.
Begawan Balawan menyapa, “Salam kenal pemimpin, boleh kami berbincang sejenak ? “.
“Siapa kalian ? “, tanya wanita itu sambil duduk bersila, dengan sikap berhati-hati dan sedikit ketus.
“Kami berempat pengembara, yang mendapat tugas untuk mencari Raja baru untuk kerajaan Sangkan Nenggala ini, bisa kah kami berbincang sejenak dengan dirimu. “ , Begawan Balawan pun memperkenalkan dirinya dan keempat insan lainnya.
“Ooooh..salam kenal, saya Dewita Hiraya, dan asalku bukan dari kerajaan ini. Aku dari Kerajaan seberang, dan sama dengan kalian, merantau juga. Aku merantau sampai ke Kerajaan Sangkan Nenggala ini dan akhirnya memilih untuk menetap di sini.” , Wanita itu memperkenalkan dirinya, dengan nada yang mulai ramah.

“Di desa ini aku mendapatkan kepercayaan untuk mengajarkan sebuah rangkaian gerakan yang dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Banyak warga desa ini yang membutuhkan hal ini di sini, dan mau ikut belajar denganku. “
“Silahkan kalian melihat-lihat di sini, apabila ada yang dicari. Namun apabila kalian mencari seorang calon Raja di sini, sepertinya kalian salah tempat, karena desa ini sedang berupaya untuk menjauh dari kehidupan biasa. Desa ini ingin menjadi desa yang tenang dan damai, seperti karakter rakyat-rakyat di dalamnya. Aku sendiri merasakan hal ini, menyukai kondisi ini, makanya memilih untuk tinggal di tempat yang tenang dan terasa kehidiupannya lebih lambat di sini.” , Dewita Hiraya memberikan penjelasan dan cerita yang panjang lebar tanpa diminta.
Prabu Alit pun segera menambahkan, “Baiklah Dewita Hiraya, kelihatan sekali bahwa memang hidupmu untuk sekitarmu, bukan untuk dirimu sendiri. Dan dirimu memang akan banyak belajar dari sekelilingmu, bukan kebalikannya. Tapi caramu untuk mendapatkan pengetahuan dari mengajarkan sebuah kebaikan adalah cara yang paling tepat. Dengan demikian kamu bisa belajar sendiri, mengenai hidup ini, sekaligus bisa mengajarkannya kepada orang lain juga. “
Angkerani Gayatri turut menambahkan, “ Sebagai pesan dari saya, dirimu banyak terbawa oleh cerita kenangan dari Kerajaanmu yang lama, itu yang membuat dirimu semakin tertahan. Kalau boleh menyarankan, lepaskan bebanmu dan mulai lembaran yang baru lagi, selagi waktunya pas dan tepat, di Kerajaan Sangkan Nenggala ini adalah tempat yang pas untuk dirimu. “
Dewi Anna segera menggambarkan sebuah kondisi untuk Dewita Hiraya

Begawan Balawan pun berpamitan, “ Dewita Hiraya, kalau begitu kami pamit dulu, kami mungkin memang tidak menemukan apa yang kami cari di sini, tapi kami menemukan sebuah cara hidup dan strategi yang paling pas dari dirimu, belajar dengan cara mengajarkan kepada orang lain. Terima kasih banyak. “
“Sebuah kebaikan itu bukan pelarian dari masa lalu, tapi tekad suci agar masa depan tak serapuh yang dulu.
“Kami pamit dulu “
Dewita HIraya pun mendekapkan kedua tangannya sembari mengeluarkan gesture sedikit membungkuk.

—-----
Ketika rombongan sudah berjalan meninggalkan rumah itu, mereka pun asyik berbincang mengenai Wanita yang baru saja ditemui. Mereka saling berbalas pendapat dan mengomentari pendapat orang lain dengan asyik.
Hingga akhirnya Angkerani Gayatri bertanya, “Loh, Dewi Anna ke mana ya ? “
Rombongan itu baru sadar kalau Dewi Anna tidak ada bersama mereka. Sambil melihat ke samping dan ke belakang, mereka berusaha untuk mencari Dewi Anna.
Sampai Begawan Balawan melihat bayangan kecil Dewi Anna di kejauhan, yang sedang mengikuti gerakan-gerakan seirama, bersama kelompok orang-orang lainnya di pendopo Dewita Hiraya.
“Itu dia, lagi ngikutin gerakannya kelompok Dewita Hiraya “ , kata Begawan Balawan sambil menunjuk di kejauhan.
Serentak mereka bertiga pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Begawan Balawan. Melihat hal itu, Prabu Alit langsung menepok dahinya.
artworks by : Lovelie Light (LVL) writing by : King Of Alit Analysis & Quotes by : Wisanggeni Energy by : Cindy Delviana
All rights reserved at another dimension, feel free to read, but all kind of replication or use of any materials without permissions, will have consequences in another dimension (not this one).

Today’s Mood