Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Hikayat Kerajaan Sangkan Nenggala - Padma Swastika, Sang Putri Mahkota Kerajaan lain (Part 6 dari 7)

Dalam pencariannya mencari pengganti Sang Raja Sangkan Nenggala, keempat insan itu tiba di sebuah kota yang cukup besar. Mereka berada di sebuah pasar...

lovelie-light 6 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Hikayat Kerajaan Sangkan Nenggala - Padma Swastika, Sang Putri Mahkota Kerajaan lain (Part 6 dari 7)

Dalam pencariannya mencari pengganti Sang Raja Sangkan Nenggala, keempat insan itu tiba di sebuah kota yang cukup besar. Mereka berada di sebuah pasar yang penuh hiruk pikuk, banyak orang yang berjalan kesana kemari, masing-masing dengan kesibukannya sendiri-sendiri.

Ada yang sedang menawarkan dagangan, ada yang sedang melakukan transaksi jual beli, ada yang sedang mengangkut bahan baku untuk dijual, ada yang sedang celingukan mencari barang yang dicari. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing dan sendiri-sendiri.

“Lihat itu, perempuan muda itu menarik perhatianku deh, “ kata Angkerani Gayatri sambil menunjuk sesosok perempuan muda yang sedang membawa buku catatan kecil.

image

“Apa menariknya dia ?”, tanya Dewi Anna ingin tahu.

“Energinya menarik, perilakunya berbeda sendiri. Ketika yang lain sibuk dengan segala aktivitas fisik, dia sibuk dengan aktivitas otaknya. Mengamati dan mencatat segala perlakuan dan pengetahuan baru, tanpa mengganggu orang-orang yang sedang beraktivitas. Perempuan ini menarik.”, ujar Angkerani Gayatri.

“Perempuan semuda itu sudah punya kharisma kewibawaan ? Ini menarik, kusetuju dengan Angkerani Gayatri. “ Kata Prabu Alit.

“Ooooo gitu ya…”, Dewi Anna membuat huruf O dengan mulutnya.

Begawan Balawan beserta rombongannya pun mendekati perempuan muda itu. Tanpa mengalihkan perhatian dari buku dan alat tulisnya, perempuan muda itu tidak memperhatikan sama sekali bahwa dirinya sedang diamat-amati dan didekati oleh rombongan 4 insan ini. Dia tetap saja mencurahkan konsentrasinya pada buku catatannya.

Setelah dekat, Begawan Balawan pun menyapanya, “ Selamat berjumpa hai perempuan pelajar, boleh kah kami berkenalan ? “

Perempuan muda itu tampak terkesiap dan kaget ketika mengetahui ada serombongan insan yang tanpa disadari sudah berada dekat dengan dirinya. Ia pun tergagap-gagap dan terlihat sedikit gugup menjawab, “eh…selamat siang juga Pendeta. “

Kosa kata Pendeta yang cukup asing dilontarkan, menandakan bahwa dia sendiri bukan berasal dari Kerajaan Sangkan Nenggala. Karena menggunakan kosa kata yang asing bagi telinga penghuni kerajaan ini.

“Perkenalkan, namaku Begawan Balawan, boleh kah kami tahu namamu ?”, segera setelah itu, Begawan Balawan pun memperkenalkan Prabu Alit, Angkerani Gayatri dan tidak lupa Dewi Anna yang dengan sigap mengulurkan tangan kepada perempuan muda itu.

“Namaku Padma Swastika, aku adalah pendatang di Kerajaan Sangkan Nenggala ini. Aku berasal dari kerajaan tetangga, dan ke sini untuk belajar dan menimba ilmu. Boleh kah ku tahu mengapa Begawan Balawan begitu tertarik untuk berkenalan dengan diriku ? “, Padma Swastika memperkenalkan diri sambil bertanya kembali.

“Kami melihat aktivitasmu berbeda sendiri dengan orang-orang di sekelilingmu. Ketika mereka beraktivitas dengan otot dan tenaga, kamu malah mencatat dan memperhatikan semua gerak-gerak setiap orang. Ini yang membuat kami tertarik. Maaf apabila ini mengganggu kegiatanmu Padma Swastika. “, Begawan Balawan memberi jawaban.

“Begawan Balawan, aku mendapatkan amanat dari Kerajaanku, untuk mencari ilmu dan menambah pengetahuan di Kerajaan Sangkan Nenggala ini. Jadi aku sedang berusaha untuk memetakan dan mencatat sistem yang kalian lakukan di Kerajaan ini, agar kami di Kerajaan sebelah, dapat mempraktekkannya dan membuat kerajaan kami menjadi lebih baik lagi. “, jawab Padma Swastika.

“Kalau boleh kami tahu, siapakah yang menugaskanmu untuk melakukan hal itu ? “, tanya Begawan Balawan.

“Ayahku yang memberiku tugas. Beliau memberi amanat untuk menimba ilmu di Kerajaan Sangkan Nenggala ini, tapi aku menerjemahkannya dengan memetakan sistem-sistem yang berlaku di Kerajaan ini. Hari ini aku sedang memetakan sistem perdagangan yang berlaku Tetapi setelah ini aku berencana memetakan sistem pendidikan, sistem dalam keluarga, sistem dalam pemerintahan. PR ku masih banyak Begawan, mohon petunjuk darimu”, jawab Padma Swastika sambil membungkuk.

image

Mendengar hal itu, Begawan Balawan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil berkata, “ Siapa kah Ayah mu Putri Padma Swastika ? “.

“Ayahku adalah Raja di Kerajaan tetangga”, jawab Padma Swastika sambil menunduk.

Semua yang mendengar hal itu, menarik napas panjang.

Ketika sedang berjalan bersama, Prabu Alit berkata kepada Begawan Balawan, “Padma Swastika itu memang peran nya memimpin sebuah kerajaan. Ini bukan hanya tentang aliran jalan darah dari Ayahnya, tapi pola pikirnya sendiri sudah memenuhi segala syarat untuk melakukan hal itu. Dia tidak mementingkan ilmu yang didapat untuk dirinya sendiri, melainkan menimba ilmu untuk dipraktekkan kepada kerajaannya. “

Sementara itu Angkerani Gayatri menambahkan, “ Kerajaan Sangkan Nenggala beruntung sekali karena memiliki sistem yang dianggap bagus oleh Kerajaan tetangga, sehingga mereka menugaskan Putri Mahkotanya sendiri untuk belajar cara hidup Kerajaan kita. Itu pertanda kita dijadikan panutan. Tapi di lain pihak, Kerajaan tetangga itu lebih beruntung karena memiliki calon Ratu yang kuat dalam hal pemikiran dan tingkah laku yang membumi. Sementara Kerajaan Sangkan Nenggala masih mencari Raja barunya. “

Mendengar hal itu, Begawan Balawan pun menengahi, “Bukan sepertinya..ini bukan soal beruntung atau tidak beruntung. Tapi ini soal waktu dan tempat yang pas untuk menemukan. Saya kira Kerajaan kita, Sangkan Nenggala ini adalah tempat yang paling pas. Karena di sini banyak berkeliaran orang yang mencari ilmu. Mau seorang pendatang, mau seorang anak kepala desa, mau seorang istri demang ataupun guru besar, semua berkumpul di Kerajaan ini. Sampai Putri Mahkota Kerajaan Tetangga pun mencari ilmunya di sini.”

“Saya setuju, kalau Padma Swastika adalah calon yang pas sebagai pengganti Raja atau Ratu di Sangkan Nenggala, karena pemikirannya. Tapi pengalamannya menandakan ia belum siap untuk hal itu. Tugas kita selanjutnya adalah mengisi dirinya dengan ilmu pengetahuan yang pas dan tepat. Sampai akhirnya akan tiba waktunya bagi Padma Swastika untuk dapat berdiri sendiri dan menentukan, dia akan memerintah Kerajaan yang mana.”

“Biarlah dia yang mengambil keputusan apabila waktunya sudah tepat. Apakah dia akan memerintah Sangkan Nenggala, tempat dia mencari ilmunya. Atau dia akan kembali ke Kerajaan tetangga dan memerintah di sana, tempat kelahirannya. Tapi firasat saya….dia akan menyatukan kedua kerajaan ini menjadi sesuatu yang lebih besar lagi. “ Begawan Balawan memandang ke depan mereka.

“Ia belum sampai di singgasana, tapi langkahnya sudah seanggun permaisuri. Masih belajar, tapi semesta tahu: ia sedang dipersiapkan untuk mendampingi takhta.”

Di depan mereka, nampak Padma Swastika sedang berjalan bersama Dewi Anna, dan Dewi Anna sedang menunjukkan sesuatu.

image

Begawan Balawan pun berkata sambil memanggil, “ Padma Swastika…”

image

“Ya Begawan ? “, Padma Swastika segera berbalik dan berhenti menantikan ketiga insan lainnya untuk menyusulnya. Sementara Dewi Anna berdiri tenang tepat di sebelahnya.

“Terima sudah mau mengikuti kami dan misi kami, semoga nanti dirimu bisa banyak belajar di Kerajaan Sangkan Nenggala. Kami memilki banyak tempat yang bisa kamu ambil ilmunya, ada anak Kepala Desa yang bisa dengan baik mengatur lingkup sekitarnya, ada seorang istri Demang yang bisa memerankan peran support sang suami dengan baik sehingga Kademangannya menjadi besar, ada seorang Guru besar yang penuh dengan pengetahuan, dan ada seorang pendatang dari Kerajaan lain yang sedang belajar mengenai ketenangan hidup.” Begawan Balawan memberi petuah kepada Padma Swastika mengenai apa yang akan dihadapi di depan, dalam perjalanan mencari pengetahuan untuk menjadi seorang Ratu.

“Saya yang seharusnya banyak berterima kasih pada Begawan Balawan, dan yang lainnya, saya diperkenankan untuk ikut menimba ilmu di Kerajaan Sangkan Nenggala ini. “

“Silahkan diteruskan perjalananmu Padma Swastika”, Prabu Alit pun berkata pelan.

Angkerani Gayatri menambahkan, “ Dewi Anna, kamu temani Padma Swastika ya. “

Dewi Anna segera menjawab, “ Pastiii dooong…Padma Swastika ini darahnya saja yang darah Kerajaan, tapi kelakuannya rakyat biasa kok Angkerani Gayatri. “

Tidak lama kedua nya berjalan lebih laju mendahului yang lainnya, dalam perjalanan pulang….

Prabu Alit berkata kepada Begawan Balawan, “ Dewi Anna jadi bersemangat karena sudah menemukan yang kita cari. “

Angkerani Gayatri menambahkan, “ Dia nggak sadar, kalau perjalanan baru saja dimulai..biar saja dia menikmati momen ini. “

Sementara Begawan Balawan hanya tersenyum saja menikmati suasana kebersamaan dalam jalan panjang menuju sebuah tujuan yang sudah pasti.

Quorahttps://qr.ae/p2jzpm

artworks by : Lovelie Light (LVL) writing by : King Of Alit Analysis & Quotes by : Wisanggeni Energy by : Cindy Delviana

All rights reserved at another dimension, feel free to read, but all kind of replication or use of any materials without permissions, will have consequences in another dimension (not this one).

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar