Dalam perjalanan keempat insan untuk mencari calon raja yang baru, mereka pun menemukan sebuah gedung besar yang kelihatannya adalah sebuah tempat pendidikan dan pelatihan. Gedung itu dipenuhi dengan murid-murid yang berjalan dengan tenang, dan semua memiliki raut muka yang memiliki antusias yang tinggi.
Kelihatannya tempat tersebut adalah sebuah sekolah, tempat dimana banyak anak muda yang menuntut ilmu dan mengkaji sebuah pengetahuan. Rasa bangga terpancar dari dalam dada keempat insan itu, terhadap sekolahan yang ada di dalam kerajaan mereka.
Tidak lama kemudian, merekapun disapa oleh seorang anak muda, yang menyambut mereka dan menanyakan maksud kedatangannya. Setelah Begawan Balawan menjelaskan maksud kedatangannya, maka anak muda itu menawarkannya untuk mengantarkan mereka menemui Guru Besar di sekolah tersebut.
Ke emapat insan tersebut berjalan memasuki gedung sekolah tersebut, dan diarahkan untuk memasuki sebuah ruangan yang cukup besar, yang berisi seorang pria dengan raut muka bijaksana, yang sedang berkutat dengan buku catatannya.

“Selamat datang “ , sapa pria tersebut. “Perkenalkan, saya Prambudi Jalapangus, saya adalah pimpinan di sekolah ini. Silahkan duduk. “ Guru Besar itu mempersilahkan keempat insan itu untuk duduk melingkar di ruangannya.
Tidak lama kemudian, nampak seorang muridnya masuk ke dalam ruangan sambil membawa minuman yang hangat sebagai tanda selamat datang dan pengantar perbincangan.
Begawan Balawan pun membuka pembicaraan pertama, “ Saya Begawan Balawan, dan kami berempat sedang dalam perjalanan membawa amanat, untuk mencari calon raja baru di Kerajaan Sangkan Nenggala ini. Semoga dari Guru Prambudi Jayapangus, kami bisa mendapatkan petunjuk lebih dalam mengenai pencarian kami ini. “
Sang Guru Besar, Prambudi Jayapangus pun memberikan sambutan yang menerima, “ Kalau begitu selamat datang di Perguruan kami yang tidak seberapa ini. Di sini lah tempat anak-anak muda menimba ilmu dan memperoleh pengetahuan mengenai segala hal. Silahkan dicari pengetahuan dan ilmu yang dibutuhkan di tempat kami, pun bila memang dibutuhkan untuk rehat sejenak, tempat ini juga punya fasilitas yang cukup baik.”
Dewi Anna segera mengambil alih pembicaraan, “Pak Guru Besar, boleh kah saya minta ditunjukkan mengenai beberapa pengetahuan yang sedang saya cari ? “
“Boleh Dewi Anna, silahkan, mari saya antarkan ke Perpustakaan kami, tempat dimana kami mencatat semua pengetahuan dan mengarsipkannya. “, jawab Prambudi Jayapangus.
Keduanya pun segera beranjak dari ruangan, dan menyisakan tiga insan untuk menikmati teh hangat suguhan Sang Guru Besar.
Prabu Alit membuka pembicaraan dari mereka bertiga, “ Kelihatannya Sang Guru Besar ini bukan orang yang kita cari, tapi yang kita butuhkan. Karena Beliau tidak cocok ada di posisi teratas, tapi di posisi tengah-tengah, karena Beliau lah tempat yang paling pas yang menghubungkan dan menjembatani orang atas dengan orang bawah. Selain itu, Beliau juga banyak dicari oleh orang, karena memiliki banyak pengetahuan tentang banyak hal. Seorang Pengajar. “
Angkerani Gayatri menambahkan, “Dari sisi energinya, beliau memiliki pola pikir yang terbuka, untuk banyak hal baru. Ini membuat energinya punya potensi besar untuk jadi semakin baik dan semakin besar. Mungkin juga karena darah keturunannya yang berasal dari keturunan seorang Raja dari sisi timur pulau di Kerajaan Sangkan Nenggala ini. “
Begawan Balwan menganggukkan kepalanya sambil memberi kesimpulan, “Guru Besar ini cocok sekali mendidik seseorang karena concern utamanya adalah pendidik. Belum tentu bisa memimpin di depan, tapi menciptakan pemimpin. “

Tidak lama Dewi Anna pun kembali dengan memegang sebuah buku kecil.
“Aku dapaaaat apa yang aku cari, dibantu sama Prambudi Jayapangus Sang Guru Besar tadi”, ujar Dewi Anna sambil melambaikan buku kecil di tangannya.
Semua yang melihatnya pun tersenyum.
Begawan Balawan pun berkata, “Prambudi Jayapangus, terima kasih atas keramah tamahan dan bantuan dari dirimu. Kami pamit dulu untuk melanjutkan pencarian kami. Pesan kami kepada dirimu, jangan pernah berhenti mencatat dan mempertanyakan segala sesuatu. Lalu berikutnya adalah tajamkan lah instink dirimu, setelah menimbangnya dengan logika mu. Bukan kebalikannya. Logikamu harus berjalan dulu, membentuk pilihan-pilihan, baru setelah pilihan terbentuk dari logika maka instink dibutuhkan ketika akan memilih. “
Dewi Anna menambahkan, “ Aku tambahkan sedikit untuk Pak Guru Besar ya” .

“Kami pamit ya Guru Besar, semoga bisa memberi insight terbaik buat dirimu. Dan kami tetap membutuhkan keahlianmu, karena kami akan kembali ketika sudah menemukan misi kami. Seorang Raja yang baik harus memperoleh pendidikan yang baik pula dari sumber yang terbaik.”
“Anda bukan tokoh utama dalam kisah megah, tapi tanpamu, sejarah tak punya arah. “
Sampai jumpa.

artworks by : Lovelie Light (LVL) writing by : King Of Alit Analysis & Quotes by : Wisanggeni Energy by : Cindy Delviana
All rights reserved at another dimension, feel free to read, but all kind of replication or use of any materials without permissions, will have consequences in another dimension (not this one).

Mood today…