Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Hikayat Kerajaan Sangkan Nenggala - Pranadyah Siliwengsi, Sang Pemimpin Padepokan Tari (Part 7 dari 7)

Kini kelima insan berjalan untuk pulang kembali, setelah menemukan calon Raja Sangkan Nenggala yang baru. Meskipun yang mereka temukan bukanlah kondis...

lovelie-light 7 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Hikayat Kerajaan Sangkan Nenggala - Pranadyah Siliwengsi, Sang Pemimpin Padepokan Tari (Part 7 dari 7)

Kini kelima insan berjalan untuk pulang kembali, setelah menemukan calon Raja Sangkan Nenggala yang baru. Meskipun yang mereka temukan bukanlah kondisi ideal yang didambakan, yaitu seorang Raja yang siap memimpin Kerajaan, melainkan seorang calon Ratu yang masih butuh pengalaman dan pengetahuan dalam menjalankan perannya.

Namun keempat insan yang mendapatkan amanat tersebut, menerima kondisi dengan lapang hati. Yang artinya, perjalanan mereka dalam mencari sudah berakhir, namun perjalanan dalam menempa calon yang mereka temukan baru saja dimulai.

Setelah berjalan beberapa lama, singgah di beberapa tempat peristirahatan, pada siang ini mereka pun sampai kepada sebuah padepokan yang cukup besar. Sedari pintu masuk sudah terdengar suara musik yang membahana, yang segera menarik perhatian mereka.

“Kelihatannya tempat yang menarik “ , ujar Dewi Anna.

“Kamu betul Dewi Anna. “ Begawan Balawan segera mengiyakan perkataan Dewi Anna. “Ini yang kita lupakan sedari kita mulai perjalanan kita sampai saat ini. Kita terlalu serius dan lupa akan faktor hiburan yang bisa membuat kita lebih menikmati hidup ini. “

“Kita masuk Begawan ? “, tanya Padma Swastika.

“Yuk..kita coba lihat apa yang ada di dalam. “, jawab Begawan Balawan.

Mereka berlima pun segera memasuki pintu gerbang Padepokan itu. Tulisan di depannya menandakan bahwa itu adalah Padepokan Tari, dan musik yang terdengar cukup membahana memberikan tanda bahwa sedang ada pertunjukkan di dalam.

Nampak beberapa orang bergerombol dan saling bersenda gurau di sekitar arah menuju panggung pertunjukkan, semua seakan ceria dan bahagia. Suara musik yang keras pun masih ditambah suara tawa, perbincangan dan canda dari orang-orang di sekitar. Beberapa orang nampak terhanyut dalam lantunan musik dan ikut menggerakkan badannya seiring musik.

“Permisi, sedang ada pertunjukkan apa hari ini ? “, tanya Dewi Anna kepada seorang penonton di dekatnya.

“Ada tari klasik dari Nyai Pranadyah Siliwengsi, sebentar lagi mulai. Ini yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang.”, jawab orang tak dikenal tersebut.

“Baiklah, terima kasih “, jawab Dewi Anna.

Tidak lama mereka pun mengambil posisi di depan panggung, dan mulai mengikuti pertunjukkan. Hanya sesaat mereka menikmati, dan puncak pertunjukkan tarian Klasik Nyai Pranadyah SIliwengsi pun segera hadir. Terdengar tepuk tangan yang sangat riuh ketika Sang Penari utama mulai terlihat di atas panggung, dan semua orang bersorak-sorai melihatnya.

image

Sang Nyai Penari pun meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik dengan sangat anggun dan gemulai. Melihat hal itu dan sambutan dari para penonton, mereka berlima mulai mengerti mengapa ini menjadi pertunjukkan utama.

Namun ketika suara musik mereda dan gerakan tari Sang Nyai Penari melambat, tangan dan jari telunjuk Sang Nyai Penari perlahan menunjuk rombongan Begawan Balawan, dan tersenyum. Lalu dengan gerakan menari, tangan Nyai Penari tersebut seakan mempersilahkan rombongan untuk bertemu dirinya di pendopo belakang panggung.

Sebagai seorang Begawan yang ahli membaca situasi, isyarat ini pun ditangkap dengan baik, dan segera Begawan Balawan mengajak rombongan untuk berjalan ke arah belakang panggung, menuju pendopo.

Dalam perjalanan, Angkerani Gayatri berkata, “Begawan dan Prabu Alit, aku pamit dulu sebentar, telingaku sakit mendengarkan musik yang terlalu keras begini dan energi dari terlalu banyak orang juga menggangguku. “

“Silahkan Angkerani Gayatri. Semoga bisa cepat kembali normal energimu. “ , Prabu Alit pun mempersilahkan.

“Silahkan Angkerani Gayatri, nanti susul kita ketika energimu sudah normal kembali. “ , demikian juga dengan Begawan Balawan.

Tidak lama, Angkeran Gayatri pun menghilang dari pandangan, dan menyisakan 4 orang yang berjalan menuju pendopo untuk bertemu dengan Sang Nyai Penari.

“Prabu Alit, Angkerani Gayatri kenapa? , tanya Dewi Anna.

“Biarkan saja dia, dia memang tidak suka dengan keramaian yang terlalu, biar dia menenangkan diri dulu. Nanti setelah energinya kembali normal, dia akan menyusul kita “, jawab Prabu Alit.

“Oooooh…baiklah “ , kata Dewi Anna.

Tidak lama kemudian, rombongan sudah sampai di depan Pendopo Padepokan Tari tersebut.

Ke empat orang tersebut diantarkan oleh seorang penerima tamu, menemui Sang Nyai Penari yang sedang duduk di sebuah kursi besar di tengah ruang Pendopo.

“Selamat Datang di Padepokan Tari kami, saya Nyai Pranadyah Siliwengsi, pimpinan di Padepokan Tari ini…Silahkan kalian memperkenalkan diri “ , ujar Nyai Pranadyah Siliwengsi sambil melambaikan tangannya dengan perlahan.

image

“Salam perkenalan Nyai Pranadyah Siliwengsi, saya adalah Begawan Balawan. Dan kami sedang dalam perjalanan mengemban sebuah amanat dari Raja terdahulu Kerajaan Sangkan Nenggala dalam mencari penggantinya. Kami sedang dalam perjalanan pulang, dan tertarik untuk melihat pertunjukkan yang sedang disuguhkan oleh Padepokan Tari Nyai, sehingga mampir ke sini. “, Begawan Balawan menjawab dengan tenang.

“Tapi pakaian kalian tidak terlihat seperti utusan Raja. Adakah tanda dari mendiang Raja bahwa memang beliau yang mengutus kalian ? “, tanya Nyai Pranadyah Siliwengsi.

Begawan Balawan menjawab masih dengan nada tenang, “Terkadang memang utusan dari Raja akan dibekali oleh tanda dari Rajanya bila dalam urusan formal atau kenegaraan mengenai sebuah perintah. Tapi kebetulan saya mengemban amanat yang tidak dalam kondisi formal dan kenegaraan, tetapi dalam kapasitas seorang sahabat baik yang diberikan secara langsung. “

Mendengar hal itu, Nyai Pranadyah SIliwengsi hanya menganggukkan kepalanya.

“Lalu apa yang bisa saya bantu di Padepokan tari saya ini ? Tempat beristirahat ? Jamuan makanan ? Silahkan Begawan bilang kalau membutuhkan sesuatu, akan kami bantu sediakan. “ , Nyai Pranadyah Siliwengsi menawarkan dengan sopan.

“Sepertinya semua sudah cukup Nyai. Terima kasih atas pertunjukannya dan hiburannya. Terima kasih sudah mengingatkan kami, bahwa hidup ini tidak perlu terlalu serius dan butuh hiburan sebagai penyemangat. Ini sangat berarti bagi kami, yang memang selama ini terlalu serius dan fokus sampai melupakan faktor ini. “ , Begawan Balawan pun memberikan tanda penghormatan kepada Nyai Pranadyah Siliwengsi.

Sang Nyai segera membalas penghormatannya.

Begawan Balawan pun meneruskan, “Dan sebagai balasannya, perkenankan saya memberikan sedikit saran kepada Nyai, mengenai Padepokan Tari ini dan pertunjukannya.”

Nyai Pranadyah Siliwengsi pun bertanya, “ Saran apa itu Begawan ? “

“Padepokan ini memiliki image yang bagus, pertunjukkan yang sangat menghibur dan penari-penari yang bagus-bagus. Namun terasa sekali ada perbedaan yang mencolok antara penonton dan yang ditontonnya. Saran saya sih, libatkan penonton acara Nyai dalam setiap pertunjukannya. Kalau memang dibutuhkan, tidak perlu terlalu menjaga kharisma Padepokan Tari ini dengan sangat ketat. Tunjukkan kepada penontonmu bahwa diri Nyai sama dengan mereka, ada sisi buruknya juga, ada sisi rapuhnya juga, ada sisi kebingungannya juga. “

“Karena dengan menyamakan diri dengan penonton, tidak akan mengakibatkan kharisma Padepokan ini menjadi turun. Tapi akan lebih membuat banyak simpati dan berbagi rasa dengan penonton Nyai. Jangan terus-terusan membagi rasa dengan penontonmu Nyai, tapi berikan mereka juga jalan untuk berbagi rasa dengan dirimu. “ , Begawan Balawan memberikan saran yang cukup panjang demi kebaikan Padepokan Tari Nyai Pranadyah Siliwengsi.

“Jadilah hujan yang tahu kapan turun sebagai suara, dan kapan jadi embun yang diam tapi menyembuhkan rasa.”

Tidak lama kemudian, Dewi Anna memberikan sebuah ilustrasi kepada Nyai Pranadyah Siliwengsi.

image

Nyai Pranadyah Siliwengsi kelihatan banyak menganggukkan kepalanya mendengar saran dari Begawan Balawan dan ilustrasi dari Dewi Anna.

Sementara itu, keempat orang itu tidak lama berpamitan dan kembali dalam perjalanan pulang mereka.

Setelah keluar dari Padepokan Tari itu, Dewi Anna pun bertanya, “Begawan Balawan, kita pulang sekarang ? Kan sudah selesai misi kita ? Atau kita teruskan lagi perjalanannya ? “

Prabu Alit segera menjawab, “ Kamu maunya bagaimana Dewi Anna ? “

“Aku sih senang jalan-jalan begini, tambah banyak kenalan, tambah banyak pengetahuan. “, ujar Dewi Anna sambil tersenyum.

“Aku temani ya jalan-jalan nya ya ? “, Padma Swastika pun ikut menimpali.

“Boleh doong Padma Swastika “ , kata Dewi Anna.

Begawan Balawan segera menjawab, “Perjalanan kita sebenarnya baru saja dimulai. Kita masih perlu memberi jalan kepada Padma Swastika untuk mendapat banyak pengetahuan yang dia butuhkan. Sebelum nanti dia menentukan jalan hidupnya sendiri. “

“Kita masih perlu untuk banyak belajar juga dalam perjalanan kita. Jadi kalau dirimu bertanya, apakah perjalanan kita sudah selesai ? Jawaban saya adalah, perjalanan kita sudah menemukan tujuan dan arahnya, sekarang kita perlu melangkah menuju ke sana. “

Mendengarkan hal itu, Dewi Anna dan Padma Swastika pun tersenyum.

Tidak lama kemudian, di depan mereka, muncul Angkerani Gayatri sambil membawa sebuah bungkusan kecil dan kelihatan sedang menikmati sebuah apel di tangan.

“Angkerani Gayatriiiiii…kamu nyusul juga..”, Dewi Anna pun segera berlari dan memeluknya.

“Itu apa ?”, tanya Dewi Anna.

“Apel, kamu mau ?”

“Mauuuuuuu…” , jawab Dewi Anna.

Kelima insan itu pun beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, sambil menikmati apel yang dibawah oleh Angkerani Gayatri. Sambil berbincang ringan dan saling bercerita mengenai pengalaman mereka.

Tidak terasa hari sudah semakin sore, dan perjalanan panjang mereka baru dimulai.

END OF THE STORY, BEGINNING OF THE JOURNEY

Quorahttps://qr.ae/p2jzpm

artworks by : Lovelie Light (LVL) writing by : King Of Alit Analysis & Quotes by : Wisanggeni Energy by : Cindy Delviana

All rights reserved at another dimension, feel free to read, but all kind of replication or use of any materials without permissions, will have consequences in another dimension (not this one).

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar