Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Hikayat Kerajaan Sangkan Nenggala - Shinta Anggraeni, Istri Sang Kepala Kademangan (Part 3 dari 7)

Perjalanan pun diteruskan kembali, dan kali ini keempat insan sampai pada sebuah tempat yang berupa sebuah Kademangan besar. Sebuah Kademangan yang te...

lovelie-light 5 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Hikayat Kerajaan Sangkan Nenggala - Shinta Anggraeni, Istri Sang Kepala Kademangan (Part 3 dari 7)

Perjalanan pun diteruskan kembali, dan kali ini keempat insan sampai pada sebuah tempat yang berupa sebuah Kademangan besar.

Sebuah Kademangan yang terlihat sudah maju dan berkembang dengan pesat. Ditandai dengan banyak bangunan besar dan ramai penduduk, namun masing-masing dengan tertib dan rapi menjalankan aktivitasnya tanpa membuat kesan ruwet dan berantakan. Lingkungan yang bersih, pakaian yang bagus yang dimiliki oleh penduduknya, serta kondisi kesehatan penduduk kademangan yang tercermin dari postur mereka.

Semua memberikan cerita dan kesan pertama, tentang kemakmuran, kebesaran dan kesehatan dari Kademangan ini.

Beberapa langkah memasuki Kademangan tersebut, keempat insan ini pun bertemu dengan seorang wanita bersahaja yang terlihat sedang memimpin para wanita di Kademangan tersebut dalam sebuah pertemuan kecil di sebuah pendopo yang terbuka.

Wanita itu memiliki pesona yang luar biasa, sehingga bisa menarik perhatian semua mata untuk memandangnya. Kumpulan para wanita lainnya pun kelihatan sangat menghormati wanita tersebut dan mendengarkan dengan seksama penjelasan wanita itu sambil mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Hai..kalian pasti pendatang ya di Kademangan kami ? Selamat datang, mari mari masuk.”, tiba-tiba wanita itu menghampiri keempat insan yang baru datang, dan mengajak mereka masuk ke dalam pendopo dan duduk bersama.

image

Setelah mereka berlima duduk bersama, wanita itu pun memperkenalkan diri, “ Perkenalkan, namaku Shinta Anggraeni, dan aku adalah istri dari Kepala Demang di sini. Bolehkah tau nama-nama dari kalian ? “

Begawan Balawan pun menanggapi perkenalkan itu, “Namaku adalah Begawan Balawan, dan kami berempat mengemban sebuah tugas dan amanat, untuk menjelajahi negeri ini dalam mencari calon Raja baru untuk kerajaan Sangkan Nenggala ini. Kami ijin untuk beristirahat sejenak di Kademangan Shinta Anggraeni, untuk memulihkan tenaga dan mungkin bisa mendapatkan petunjuk lebih jauh tentang apa yang sedang kami cari.”

“Silahkan loh, sebentar ya saya pesankan beberapa minuman penyegar dan makanan kecil untuk menemani obrolan kita ya. “ Shinta Anggraeni pun beranjak dari meja dan menuju ke arah belakang, untuk mempersiapkan jamuan bagi para tamu pendatangnya.

Sepeninggal Shinta Anggraeni, Prabu Alit pun membuka pembicaraan, “ Ku rasa Shinta Anggraeni bukan sosok yang kita cari untuk jadi pengganti Raja. Karena meskipun karakter kepemimpinan yang cukup tinggi, dan mau mengurus hal-hal yang kecil, tapi peran nya lebih besar di Kademangan ini. Sepertinya untuk yang lebih besar lagi, dia masih belum ada di taraf itu, dan dia akan jauh lebih baik memimpin Kademangan ini, daripada sebuah negara. “

Angkerani Gayatri pun menambahkan, “Melihat dari energinya, energinya lebih banyak fokus kepada merawat dan memperhatikan orang lain. Dalam arti, Shinta Anggraeni mampu untuk membesarkan dan merawat beberapa orang, tapi akan sulit untuk membuat keputusan utama. Sebagai supporting dia akan jauh lebih cocok, daripada pembuat keputusan utama, seperti peran nya sebagai istri Demang di sini. Meskipun secara pendamping, dia memiliki banyak tuntunan yang positif dari yang mendampingi, tetapi untuk menjalan sebuah keputusan besar, sepertinya masih kurang cocok.”

Dewi Anna segera menggambarkan dalam bentuk sebuah grafik yang lebih mudah dilihat.

image

Keempat insan itu saling bertukar pandangan mata dan sama-sama saling tersenyum tanda setuju.

image

Tidak lama kemudian, Shinta Anggraeni pun kembali beserta 3 wanita lainnya yang membawa beberapa makanan dan minuman. Kemudian mereka pun menghidangkan makanan dan minuman itu di tengah meja.

Setelah selesai, Shinta Anggraeni segera ikut duduk dan mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang tersedia, “ Silahkan dinikmati, ini hanya sebuah tanda penghormatan dan selamat datang kepada tamu di Kademangan ini. Semoga bisa sesuai dengan selera kalian. “

Tidak lama, Shinta Anggraeni pun bercerita dengan detil mengenai kondisi Kademangannya, mulai dari cara mereka bercocok tanam, cara mereka berdagang, cara mereka memasak makanan, sampai dengan pendidikan dan pelatihan yang diberikan olehnya kepada para wanita di Kademangan itu, terutama dalam hal pendidikan anak dan keluarga.

Merekapun terhanyut dalam suasana yang akrab dan obrolan yang semakin terbuka, kadang terselip suara tertawa yang renyah dari para peserta di meja pendopo itu, dan hari pun semakin cepat berlalu.

Hingga tiba saat nya untuk kelompok 4 insan itu untuk pamit dan meneruskan perjalanan.

Begawan Balawan segera membuka percakapan pertama, “Shinta Anggraeni, terima kasih sekali atas segala keramah-tamahan yang kamu berikan kepada kami, juga jamuannya yang istimewa. Kami harus segera meneruskan perjalanan dalam mencari calon raja baru untuk kerajaan ini.”

“Tempatmu di sini Shinta Anggraeni, di Kademangan-mu, karena begitu apik penataan serta support dari dirimu. Meskipun kami tidak menemukan apa yang kami cari di Kademangan-mu, tapi kami menemukan karakter yang diperlukan oleh Raja Sangkan Nenggala di dalam dirimu. Untuk itu, kami mengharapkan dirimu bisa menjadi seorang pengajar apabila diperlukan, yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada calon raja kami, manakala kami sudah menemukannya.”

Shinta Anggraeni pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Silahkan Begawan Balawan, saya siap membantu apabila dibutuhkan. “

Begawan Balawan pun menganggukkan kepalanya, seraya menambahkan, “ Pesan saya adalah, jangan takut dianggap sombong oleh orang lain. Karena pasti ada yang akan menganggap dirimu seperti itu, seorang pemimpin pasti akan terlihat kewibawaannya dan itu cenderung membuat orang lain salah persepsi dan menganggapnya sebagai seorang yang sombong. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, dan menyebarkan keceriaanmu untuk semua orang. Ingat untuk tetap bersabar dan tidak terburu–buru dalam segala sesuatu. Niscaya arah kehidupan ke depan akan semakin maju untuk Kademanganmu.”

“Ia tak duduk di singgasana, tapi hatinya cukup lapang untuk menopang seluruh istana.”

“Kami pamit dulu, dan sampai berjumpa kembali.

Dewi Anna pun memeluk Shinta Anggraeni dengan erat sebelum pergi, karena merasa memiliki ikatan lebih erat daripada yang lainnya.

Ketiga insan lainnya hanya tersenyum melihat hal itu.

Quorahttps://qr.ae/p2jzpm

artworks by : Lovelie Light (LVL) writing by : King Of Alit Analysis & Quotes by : Wisanggeni Energy by : Cindy Delviana

All rights reserved at another dimension, feel free to read, but all kind of replication or use of any materials without permissions, will have consequences in another dimension (not this one).

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar