Perjalanan keempat insan itu pun berlanjut menuju arah Utara, hingga sampai ke sebuah desa yang cukup besar. Sebelum memasuki desa itu, sudah terlihat hamparan sawah yang hijau yang tertata dengan baik, pengairan yang nyaris sempurna, serta ladang-ladang tanaman di pinggiran jalan menuju desa.
Pemandangan yang indah yang mencerminkan kondisi desa yang tertata dengan baik, terjamin kehidupannya serta tidak melupakan keasrian alam dan keseimbangan yang dibutuhkan.
Memasuki pintu gerbang desa, keempat insan tersebut bertemu dengan seorang wanita cantik, yang merupakan anak kepala desa itu. Wanita itu terlihat sangat dekat dengan anak-anak kecil di desa itu dan mengajarkan mereka mengenai tata cara dalam kehidupan. Sekilas pun mereka mendapatkan kesimpulan pertama, bahwa tatanan rapi dari desa itu, berasal dari ajaran turun temurun yang ditanamkan sejak kecil, yang sedang dipraktikkan oleh wanita ini.

“Selamat datang di desa kami..”, sang Wanita cantik itupun menyamput kedatangan keempat insan ini dengan ramah.
“Perkenalkan, namaku Upasanti Rupala, Ayah ku adalah kepala desa ini. Semoga kesan pertama dari desa kami memberikan yang terbaik buat kalian para pendatang. “ Upasanti Rupala mengulurkan tangan satu per satu dan menyalami para insan pendatang ini.
“Salam perkenalan Upasanti Rupala, kami berempat sedang dalam perjalanan untuk mencari Raja baru untuk kerajaan kita ini, Sangkan Nenggala.”, ujar Begawan Balawan memperkenalkan diri. “Dan kami meminta izin untuk bisa beristirahat sejenak di desamu yang rapi dan tertata ini.
“Silahkan Begawan, kami sangat terbuka, silahkan melihat-lihat dan barangkali nanti Begawan dan teman-teman lainnya bisa menemukan petunjuk untuk misinya di desa kami yang sederhana ini.”
“Saya permisi dulu, mau melanjutkan mengajar anak-anak ini, biar mereka bisa lebih memahami apa yang ada di sekitar mereka. “ , demikian Upasanti Rupala berpamitan kepada keempat insan tersebut.
Setelah ditinggalkan oleh Upasanti Rupala, Prabu Alit pun membuka perbincangan, “ Begawan, kelihatannya wanita tadi bukan yang kita cari, karena memang bukan peran nya untuk menjadi seorang Raja negri ini. Memaksakan kehendak untuk membuat dia menjadi Ratu atau pemimpin negeri ini, hanya akan merenggut dia dari masyarakat dan anak-anak di desa ini. Mereka lah yang paling akan merasa kehilangan akan Upasanti Rupala, karena mereka tumbuh dan berkembang ditemani oleh ajaran dari Upasanti Rupala di desa ini, sehingga menjadi orang yang mengerti dan memahami kehidupan di alam ini.
Begawan Balawan pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan hal itu.
Sementara Angkerani Gayatri dengan tugasnya berkata, “ Energi dari Upasanti Rupala bagus, dan cukup besar. Apalagi didukung oleh kedua sosok “teman” di belakangnya yang selalu setia mengikuti dan melindungi. Ini bikin dia disenangi oleh banyak kalangan, dan bisa diterima di banyak lapisan masyarakat desanya. Tapi sayangnya, energi dominasi dan wibawanya hanya sedikit sekali, sehingga dia tidak mampu untuk bisa memimpin sebuah negara. Tapi kalau soal dibutuhkan, dia sangat dibutuhkan desa ini, tidak ada lagi yang lebih bisa menjaga keseimbangan alam desa ini selain dia.”

Begawan Balawan pun semakin merenung dan memahami maksud perkataan Angekerani Gayatri.
Dewi Ana pun menunjukkan sebuah ilustrasi yang ditangkap oleh dirinya. Sebuah gambar yang menunjukkan tingkat-tingkat dari karakter Upasanti Rupala menurut gambaran dirinya.

Semua setuju dengan gambaran dari Dewi Ana, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Begawan Balawan pun berkata, “ Tapi dia masih harus meningkatkan kemampuan bersosialisasinya, karena peran nya sangat baik di masyarakat. Dia cocok untuk masuk ke dalam semua kalangan, dan mampu melihat sebuah opportunity dengan baik. Tetap dibutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi yang baik, untuk menunjang peran nya dalam kehidupan ini.”
Ketiga insan yang lain pun setuju dengan kesimpulan akhir dari Begawan Balawan.
—--------
Keesokan harinya, keempat insan itu berpamitan dengan Upasanti Rupala.
Begawan Balawan pun berkata, “ Upasanti Rupala, kami tidak menemukan yang kami cari di desamu, yaitu mencari orang yang akan menggantikan Raja di Kerajaan Sangkan Nenggala. Namun kami berterima kasih atas keramahan dan penerimaan desa ini terhadap kedatangan kami. Terima kasih juga telah memberi kami kesempatan untuk melihat sebuah keinginan yang datang dari dirimu mengenai pentingnya menanamkan tradisi sejak kecil pada anak-anak desa ini. Yang nantinya akan membuat desa ini menjadi lebih makmur dan sejahtera, bukan karena penghasilan yang berlebih, tetapi karena hidup berdampingan secara harmonis dengan alam semesta ini.”
“Kami pamit dulu, karena akan meneruskan pencarian kami. Sampai berjumpa kembali. “
““Ada dunia di luar sana yang ramai. Tapi dunia di dalam dirimu lebih layak kau selami.”
Upasanti Rupala memberikan gesture sembah sebagai tanda penghormatan kepada keempat insan tersebut.

artworks by : Lovelie Light (LVL)
writing by : King Of Alit
Analysis & Quotes by : Wisanggeni
Energy by : Cindy Delviana
All rights reserved at another dimension, feel free to read, but all kind of replication or use of any materials without permissions, will have consequences in another dimension (not this one).