Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Kenal Dulu Dengan Diri Sendiri.

Hai Kawans Sekala Niskala, hari ini perbincangan dan diskusi nya dimulai lagi dengan tema "Kenal Dulu dengan Diri Sendiri". Hari ini saya coba untuk k...

lovelie-light 3 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Kenal Dulu Dengan Diri Sendiri.

Hai Kawans Sekala Niskala, hari ini perbincangan dan diskusi nya dimulai lagi dengan tema “Kenal Dulu dengan Diri Sendiri”.

Hari ini saya coba untuk kasih tema tentang hal ini, karena banyak yang over rated di luar sana mengenai self-love. Banyak yang mengartikan hal ini sebagai sebuah definisi yang membenarkan sebuah egoisme untuk membahagiakan diri sendiri. Buat diri sendiri bahagia dulu yang penting, baru mulai pikirkan orang lain. Yang penting diri sendiri aman dulu, gak apa-apa, gak kekurangan suatu hal, baru mulai memikirkan orang lain.

Sementara definisi aslinya dari self-love adalah “the practice of accepting, valuing, and cherishing yourself unconditionally.” Jauh dari kondisi membahagiakan diri sendiri.

Langkah awal nya adalah tentang mengenal diri sendiri dulu.

Karena tak kenal maka tak sayang.

Kenal dulu dengan diri sendiri, yang merupakan sebuah kesatuan antara yang baik dan yang kurang baik, yang bagus dan yang nggak bagus, Yin dan Yang. Jangan hanya kenal dengan hal yang positif saja, tapi juga mengenal yang negatifnya. Jangan hanya menyadari potensi diri saja, tapi juga mengakui limitasinya dan kesalahan yang sering dibuat.

Karena mengenal diri secara utuh itu adalah bagian dari sebuah langkah awal untuk menyayangi diri sendiri tanpa syarat.

Bukan yang…”Saya hanya suka bagian diri saya yang rajin, tapi tidak suka bagian suka emosinya.” Bukan hanya…”Saya suka diri saya yang punya empati terhadap orang lain, tapi tidak suka bagian bapernya.”

Tapi lebih kepada kondisi yang..

Saya suka bagian diri saya yang rajin, tapi saya tahu limit saya tentang emosi yang meluap-luap. Terkadang suka keterusan meluapkan emosi, ini yang harus saya control. Saya suka diri saya yang punya empati, tapi sering saya terlalu jauh kasih perasaan ke orang lain, ini yang harus saya waspadai.

Ini bukan soal suka atau tidak suka, tapi soal kenal dengan semua bagian diri. Bukan soal suka bagian yang baik-baik saja, dan meniadakan yang jelek-jelek. Tapi soal suka yang baik-baik, dan mengakui, merangkul dan mengendalikan bagian yang dinilai jelek. Karena self-love itu tanpa syarat alias unconditionally.

Bukan hanya suka, asalkan… Tapi suka, meskipun…

Mengapa saya bilang begitu ?

Karena tidak semua orang sama, dan seharusnya tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama.

Semua saling menyeimbangkan, saling mengisi dan saling menjaga.

Kalau semua orang sama cara berpikirnya, nanti ketika semua orang berpikiran jangka pendek, siapa yang akan berpikiran jangka panjang dong kalo gitu ? Demikian juga dengan sebaliknya.

Di acara SN Hajatan “Rahasia Tanggal Lahirmu” kemarin, kita sudah diskusi panjang mengenai tipe-tipe pola pemikiran manusia. Ada yang jangka pendek, ada yang jangka menengah, ada yang jangka panjang dan lebih visioner lagi dari itu.

Jadi jangan menerapkan diri harus selalu berpikiran visioner, karena tetap butuh pemikiran jangka pendek untuk mengatasi pekerjaan teknis dan harian. Jangan hanya menerapkan pola pikir jangka pendek, karena hanya berfokus kepada rutinitas harian, tanpa tahu konsep dan tujuan besarnya sampai di mana.

Keunikan di dalam diri, akan membuatmu dibutuhkan di dalam sebuah komunitas atau masyarakat.

Jangan sampai mencoba untuk menjadi seperti orang lain. Jadi dirimu yang unik dan berbeda, tapi…jangan lupa..kenal dulu dengan dirimu, sadari peran di dunia ini…sehingga bisa memiliki sebuah kesadaran dalam bersikap.

image

Cheers,

Quorahttps://qr.ae/p2jzpm

Note : Terima kasih atas partisipasinya di acara SN Hajatan kemarin, seruuuuuuu…..dan panjang diskusinya sampai lewat tengah malam gitu. Nanti kita bikin lagi yaaaa..

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar