Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

KEPOIN APA KITA HARI INI? Part #6 :: SALAH SANGKA & LEBAY AJA! ::

Pagi ini aku terpancing buat ngebahas salah satu podcast horor yang biasa aku puter sebagai temen ngerame ramein telingaku supaya di dapur gak cuma di...

lovelie-light 8 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel KEPOIN APA KITA HARI INI? Part #6 :: SALAH SANGKA & LEBAY AJA! ::

Pagi ini aku terpancing buat ngebahas salah satu podcast horor yang biasa aku puter sebagai temen ngerame-ramein telingaku supaya di dapur gak cuma di temenin si Nini ama si Chaya aja.

Aku udah nanya ama King Of Alit di discord, tapi pagi-pagi tuh biasanya belio pasti masih bubuk manis di pelukan Ibu Penari wkwkwkwk…. 😆🤣

Dan saking gumusnya apa episode poscast kali ini aku nulis aja deh disini… Aku gak akan kasih link videonya, tapi aku kasih thumbnail nya aja deh:

image

Tumben-tumbenan ini ada 2 cerita dalam 1 video. Mungkin karena durasinya kurang, tapi okelah. Jangan fokus ke judul yaa!! Karena podcast ini ceritanya sama sekali bukan soal si Gancet ini, justru cerita soal gancet cuma selingan doang. Ada hal lain yg lebih utama di cerita yang di ungkap Narsum di podcast ini…

👻 PART 1 - ANALISA SUPRANATURAL KISAH TEH SELLA DAN ETITAS DARI POHON TUA 🌳

Aku lebih suka cerita Part 1, tentang entitas yang ngikutin si Teh Sella ini, dimana kemudian entitas ini minta “baju” sama Teh Sella. Dan yang lucu secara fisik Teh Sella nya benerin ngasih Entitas ini Baju wkwkwkwkkw…

Semua bermula di sudut remang kantin area parkir sebuah mall di Jawa Barat. Teh Sella, sang narasumber, mulai mengalami gangguan yang sangat personal (*dan detalian ini harus diingat-ingat yaaa) ➡ dari panggilan suara lembut hingga penampakan sosok wanita bergaun merah yang wajahnya selalu msiterius. Tapi, yang membuat kisah ini unik secara metafisika bukanlah sekadar penampakannya, melainkan sebuah interaksi melalui mediator yang mengungkap bahwa entitas ini “menyukai” Sella dan meminta sebuah baju atau kelambi.

Jika aku bedah menggunakan logika supranatural ku dan pengalamanku pribadi, permintaan baju dari entitas non-fisik ini tentu bukan tentang kebutuhan akan tekstil atau kain. Sebagai makhluk astral, arwah atau entitas apapun itu sebenarnya sedang berkomunikasi menggunakan bahasa simbolik. Aku pribadi jika berkomunikasi dengan Entitas tinggi katakanlah selevel Danyang, biasanya mereka memakai bahasa “Kiasan” yang kadang bikin aku males menerka maksud mereka.

Kasus Teh Sella ini juga sama menurutku, mengingat sejarah kelam mall tersebut, Teh Sella percaya sosok yang dia ceritakan ini adalah korban kekerasan seksual yang dikubur secara hina di bawah pohon tua, sebelum mall ini dibangun, yang kemuadian mintaan “baju” adalah sebuah kiasan mendalam. Ia bukan meminta penutup tubuh fisik, melainkan meminta restorasi martabat. Dalam dunia astral yang bergantung pada energi, tragedi yang ia alami telah membuat frekuensinya menjadi corrupt atau rusak, ia terjebak dalam memori abadi tentang rasa malu dan kedinginan batin.

Nah, ini ANOMALI yang mau aku bedah, klaim bahwa sosok ini kemudian menjadi “pendamping” atau pelindung bagi Sella. Secara “Logika Supranatural”, ini adalah sebuah red flag. Arwah manusia asli pada dasarnya bersifat self-centered, mereka terjebak dalam loop memori rasa sakitnya sendiri dan tidak memiliki kapasitas kognitif untuk menjadi “bodyguard” bagi manusia hidup. Jika urusan restorasi martabatnya sudah selesai lewat ritual baju, arwah tersebut seharusnya memudar. Fakta bahwa ia tetap tinggal dan memberikan bisikan gaib mengarah pada satu kesimpulan ➡ sosok itu kemungkinan besar adalah entitas penyamar (imposter), jadi bukan arwah sesungguhnya.

Identitas asli sosok ini aku yakin adalah sosok wanita berbaju merah, yang dalam hierarki astral dikenal sebagai Kuntilanak Merah, punya energi yang jauh lebih dominan dan manipulatif daripada sekadar residu arwah manusia. Dengan memakai “topeng” sosok yang pernah dibantu Sella, entitas ini sedang melakukan investasi energi jangka panjang. Melalui bisikan peringatan bahaya, ia membangun kebergantungan psikologis dan emosional (adiksi energi) agar Sella merasa butuh dan nyaman. Ini bukanlah perlindungan tulus, melainkan upaya penjajahan energi halus di mana Sella dijadikan “inang” bagi eksistensi sang entitas di dimensi fisik.

Entitas itu terkoneksi dengan ku dan memperkenal dirinya dengan menyebut nama tapi aku gak bisa spill, aku kasih inisialnya aja “SA” haha… dia bukan Arwah, tapi sosok Jin!

Yaa… aku tau dengan pasti membedakan intuisi murni dengan bisikan manipulatif bukanlah hal mudah bagi orang awam, itu adalah proses learning by doing yang penuh risiko. Kisah Teh Sella mengingatkan kita bahwa dalam dunia supranatural, empati yang tanpa dibarengi kewaspadaan dan logika yang tajam bisa menjadi pintu masuk bagi entitas oportunis untuk mengikatkan diri dalam sebuah hubungan simbiotik yang ganjil.

Dari tracing energi sudah bisa dipastikan, sosok yang kini “mendampingi” Sella bukanlah arwah wanita pohon tua tersebut, melainkan entitas lain yg menyamar. Entitas non-manusia yang oportunis seringkali menggunakan momentum empati manusia untuk bisa memanipulasi seseorang. Dengan memakai “topeng” sosok wanita yang telah dibantu Teh Sella, entitas ini membangun rasa percaya dan ketergantungan melalui bisikan-bisikan gaib. Ini bukanlah bentuk perlindungan tulus, melainkan upaya pembangunan investasi energi jangka panjang. Teh Sella mungkin merasa terjaga, namun secara metafisika, ia sedang menghadapi risiko penjajahan energi halus oleh entitas yang menyamar demi mendapatkan “inang” yang hangat dan penuh empati.

Kenapa? Karena mereka tahu kalau mereka muncul dengan wujud asli, Teh Sella mungkin akan mengusir atau waspada. Tapi kalau mereka memakai kedok “arwah wanita yang butuh bantuan/berterima kasih”, Sella akan membuka pintunya lebar-lebar karena rasa empati.

Terus masalah gangguan sihir untuk Warung Makan Ranu milik Ibunya Teh Sella, udh lah ya… ini hal biasa yg biasa terjadi di lingkungan bisnis modelan gini, justru buat aku hal itu gak janggal sama sekali. Tapi yang aku amaze, ada pegawai nya Teh Sella yang tau cara menetralkan gangguan menggunakan “air cucian beras” wkwkwkwk…. ini gak banyak orang tau soalnya, cuma yg paham atau pernah punya pengalaman gak enak dengan sihir yang tau urusan ini, paling banter orang taunya “garam” dan “air doa” wkwkwkwkk…. tapi “air cucian beras” itu sih Next Level lah~ 😆🤭

image

BING ID: lovelie_light

PART 2 - DRAMATURGI SI PETUGAS KEAMANAN RUMAH SAKIT

Analisa ➡ Antara Residu Astral dan Mentalitas “Lebay”

Kalian kalo udah nonton podcast ini kemungkinan bakalan punya perasaan yang sama deh ama aku, perasaan JENGAH. Kasus Si Petugas Keamanan Rumah Sakit ini punya dinamika yang beda sama ceritanya Teh Sella. Kalau di cerita Sella tadi lebih ke arah empati dan restorasi, kasus Petugas Keamanan ini kental banget dengan “Vampirisme Energi” dan “Obsesi Frekuensi”.

Jadi Cerita ke-2 di Podcast ini, mengisahkan kejadian di sebuah rumah sakit tua di Jakarta Barat, di mana seorang Petugas Keamanan baru terjebak dalam pusaran ketakutan yang kalo aku analisa lebih dalam, berasa sangat berlebihan dan ganggu banget bahkan buat aku yang dengerin podcest ini, bukan makhluk atau ceritanya, tapi justru si Petugas Keamanannya ini… ganggu!

Gangguan yang dia alamin bermula dari manifestasi entitas nenek berambut putih di ruang lab yang secara konsisten mengintai. Tapi masalahnya, reaksi yang ditunjukkan si Petugas Keamanan ini menjadi poin yang sangat mengganggu secara profesional maupun metafisika. Alih-alih menjaga batas energi sebagai garda depan keamanan, ia justru membiarkan pertahanan mentalnya runtuh secara total, hingga mengalami serangan “lumpuh” energi (ampe sakit 1 minggu) setelah merasa ditekan oleh sosok tinggi besar di lantai 3.

Aku tau, aku gak bisa berharap semua orang bersikap kaya aku ketika berhadapan dengan entitas astral, aku tau kalo aku bilang “dih lemah amat”, bakal di komplen ama orang, di angap gak berempati 😏*… tapi PLZ lah gak perlu jadi lebay dan menganggu orang lain juga donk, apa lagi ditempat kerja.*

Secara “Logika Supranatural”, Petugas Keamanan ini adalah personifikasi dari target paling empuk bagi entitas gaib, yaitu energi rendah yang dibalut ketakutan akut. Entitas nenek tersebut, yang menurut pekerja senior memang gemar menggoda pegawai baru, sebenarnya tidak sedang mengincar tumbal, melainkan hanya sedang “bermain” dengan frekuensi ketakutan manusia. Sayangnya, si Petugas Keamanan ini merespons dengan logika yang sangat dangkal, ia merasa dirinya begitu istimewa hingga akan “diambil” oleh sosok gaib, padahal ia hanya sedang menjadi “sumber makanan” energi (vampirisme energi) yang sangat lezat karena reaksinya yang lebay dan berisik!

Hal lain yang aku sayangkan adalah penjelasan sang Paman yang bilang kalo “Wah ini mah anak teteh disukai ama nenek-nenek itu” bisa gak sih kalian yang dilabeli “orang pinter” gak usah bikin onar pake nakut-nakutin orang lain, NORAK tau, apa lagi kalo kalian gak punya skill buat menyelesaikan masalah dan mengalahkan demitnya… dah diem-diem-an aja, gak usah ngaku SAKTI!!

Dari kacamata sosiologi kerja, perilaku si Petugas Keamanan ini bukan lagi sekadar korban horor, melainkan sosok rekan kerja yang sangat merepotkan dan tidak kompeten. Sikapnya yang manja (menurutku), seperti minta ditemani patroli hingga heboh sendiri dengan kekacauan yg dia ciptakan sendiri, sampai menganggu perawat dan keluarga pasien, menunjukkan rendahnya profesionalisme. Wajar jika ia akhirnya dijatuhi Surat Peringatan (SP), bukan karena setannya, melainkan karena ia sering bengong dan tidak merespons panggilan HT hanya demi fokus pada panggung dramaturgi ketakutan pribadinya.

Di dunia supranatural, semakin seseorang bertindak “resek” dan manja, entitas gaib justru akan semakin “gemas” untuk terus mengacak-acak energinya karena mereka sangat menikmati vibe ketidakberdayaan manusia tersebut!

Kisah ini mau aku jadikan contoh supaya Kawans sekalian bisa belajar hal penting, di mana dalam menghadapi fenomena astral, yang dibutuhkan bukan hanya doa, tapi juga kematangan mental dan profesionalitas. Tanpa counter-attack energi yang kuat dan logika yang jernih, seseorang hanya akan berakhir menjadi “badut” bagi penghuni dimensi lain, sekaligus menjadi beban bagi lingkungannya sendiri.

image

BING ID: lovelie_light

✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧

Be kind and respectful, and I will do the same for you!

Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.

Makasih, Lovelie Light~🍀

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar