Ketika hari pernikahan tiba, Sang Calon Pengantin Wanita dan Calon Pengantin Pria mengikuti sebuah prosesi tradisional untuk menyambut hari penting tersebut.
Sebuah rangkaian persiapan acara yang sudah cukup melelahkan dan menguras energi serta tenaga.
Persiapan berawal dari sebuah pertemuan dengan perias pengantin, lalu pemilihan baju adat, serta menjaga kondisi tubuh.
Salah satu nya yang unik adalah, ketika bertemu dengan perias pengantin, dilewati dengan sebuah pesan dan wanti-wanti yang aneh, “Puasa ya ? Jangan makan garam dan gula, selama 3 hari aja. ”
Berat sekali rasanya, untuk dalam kondisi tidak nyaman selama tiga hari masa persiapan.
“Biar apa ? ”, tanya calon pengantin.
Minimal biar keringatmu tidak terlalu banyak, yang bisa merusak riasan. Itu satu-satunya hal yang terucap oleh Sang Perias Pengantin. Bersyukur bila yang terucap masuk di dalam logika dan nalar calon pengantin, sehingga dilakukan dan dilaksanakan dengan baik.
Yang tidak tersampaikan oleh Sang Perias Pengantin adalah, puasa itu membuat emosi menjadi tidak punya bahan bakar. Dan memperkuat diri secara energi. Ini yang dibutuhkan oleh Sang Pengantin di hari besarnya.
Ini tidak disampaikan, karena banyak yang tidak memiliki nalar untuk sampai ke arah sana. Karena kecantikan dan pesona, sejatinya tidak hanya dari riasan, tapi merupakan semua kombinasi dari bahasa tubuh yang disampaikan.
Pesona adalah sebuah perpaduan yang rumit rumusannya.
Kenapa begitu ?
Karena akan menjadi beban berat ketika tampil menjadi pusat perhatian banyak orang di atas pelaminan. Semua harus bisa keluar, apapun itu namanya, pesona, kharisma, wibawa, daya tarik, harus bisa keluar semua dalam kondisi optimal dan stabil selama seharian (semalaman)..tergantung durasi upacara dan resepsinya.
Satu hal yang dibutuhkan untuk mengeluarkan semua itu adalah : minimalisasi emosi.
Kondisi tenang (calm), akan dicapai ketika bisa mengontrol emosinya. Berbeda cerita ketika Sang Pengantin punya overthinking yang bertumpuk-tumpuk, mudah menangis ataupun mudah tertawa terbahak-bahak, akan meninggalkan kesan yang kurang mempesona dan lebih turun kharisma nya.
Dalam kondisi tenang, bisa dicapai sebuah percaya diri (confidence).
Dua hal itu yang merupakan modal utama sebuah pesona. Calm yang menjadi confidence.
Tanpa emosi, lebih tenang, tidak banyak bergerak, hanya tersenyum tenang (tanpa tertawa gelak-gelak), akan membuat diri lebih penuh percaya diri.
Hal-hal lain yang sangat berpengaruh adalah rangsangan yang masuk dari indera reseptor Sang Pengantin.
Dari mata, melihat bunga-bunga yang indah dan riasan / make up pengantin yang ciamik, ataupun melihat dekorasi yang indah di pelaminan, tentu akan sangat membantu. Dari kulit, akan terasa bagaimana kehalusan kain baju dan pakaian terasa di atas kulit. Dari indera perasa/lidah, akan diminimalisasi rasanya dari berpuasa. Dari indera telinga, dilantunkan lagu-lagu yang beritme rendah dan calming.
Dan utamanya..dari indera penciuman, diberikan aroma bunga-bungaan yang menenangkan. yang paling dekat dengan Sang Pengantin adalah aroma melati, yang memang memberikan sebuah nuansa menenangkan.
..yang akan akan berujung pesona..
Ketika ini semua dilakukan, dengan doa dan afirmasi yang tepat, akan menciptakan sebuah pesona yang dirasakan semalaman dan stabil, bak seorang pengantin yang berdiri anggun di atas pelaminan.
Memperkenalkan…

Calm. Confidence. and Charm…all in a small bottle..
Cheers,