#Kuliah Politik Part 2
“Api di Jalan Raya, Bara dari Istana”
Kisah Tentang Unjuk Rasa
By Wisanggeni

Foto : Antara
Ada ironi yang begitu telanjang di negeri ini. Pemerintah seakan tak sadar bahwa kebijakannya berjalan kian ngawur. Wakil Presiden lahir dari akal bulus Mahkamah Konstitusi; RUU Perampasan Aset yang entah mengapa tak kunjung disahkan; Program MBG yang menuai kontroversi; hingga PHK massal yang terjadi di banyak sektor. Di sisi lain, data ekonomi yang diklaim gemilang diragukan keabsahannya.
Belum lagi perilaku pejabat yang korup, komunikasi politik yang buruk, sampai bahasa kasar pejabat negara yang lebih sering melukai hati rakyat daripada merangkulnya. Kata-kata seperti “ndasmu”, “kau saja yang gelap”, “kau saja yang kabur sana”. Sangat tidak mencerminkan adab dan etika.
Di tengah suasana muram ini, DPR justru menambah luka. Tunjangan mereka naik, gaya hidupnya mewah, dan di ruang publik mereka bisa dengan enteng berjoget di atas penderitaan rakyat. Bahkan lebih jauh, ada anggota yang menantang balik masyarakat di media sosial dengan kata-kata kasar: rakyat disebut tolol dan brengsek.
Kemarahan rakyat akhirnya menemukan martirnya: Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol, tewas dilindas kendaraan taktis Brimob. Nyawa yang melayang di jalan raya itu menjadi simbol bahwa rakyat kecil begitu rapuh di hadapan negara. Ironisnya, DPR yang sebelumnya sempat menantang rakyat justru bungkam, tanpa permintaan maaf yang tulus dan kabur ke luar negeri padahal ibu pertiwi sedang disakiti.
Dari titik itulah emosi rakyat meluap. Demonstrasi merebak di berbagai kota. Mereka tak lagi sekadar melawan kebijakan yang ngawur, tetapi juga perilaku pejabat yang congkak.
Sebenarnya, mayoritas masyarakat turun ke jalan dengan damai. Tak ada niatan menjarah, membakar, apalagi merusak. Namun, di lapangan selalu ada yang menunggangi. Provokator menyiram bensin ke bara, memancing kerusuhan, merusak fasilitas umum, bahkan menjarah rumah pejabat.
Respons presiden sejauh ini masih normatif. Katanya kritik sopan akan didengar, tapi sejarah membuktikan sebaliknya. Aksi Kamisan sudah ratusan kali dilakukan, apa pernah ditindaklanjuti? Kritik akademisi dan aktivis yang elegan malah dijawab dengan kata “ndasmu”.
Lebih jauh, media sosial seperti TikTok “disabotase” agar tidak menyiarkan live. Padahal jutaan orang menggantungkan rejeki di sana. Sejujurnya bagi saya pribadi ada apresiasi kecil ketika beberapa partai memecat kadernya yang arogan, atau ketika ada pejabat minta maaf atas kematian Affan. Tapi maaf saja tidak cukup—tanpa tindakan nyata, kasus ini apakah akan bernasib sama seperti Kanjuruhan atau Kamisan: bisa jadi tak jelas ujungnya.

Kemasan Baru
Dulu, demonstrasi jelas: ada korlap, ada spanduk, ada kelompok mahasiswa. Kini, cukup dengan e-flyer di media sosial, massa berkumpul. Jam dan titik ditentukan di dunia maya, lalu ribuan orang hadir tanpa perlu struktur. Demokrasi digital ini bisa efektif, tapi juga rawan diselewengkan. Jika ditilik lebih lanjut, sejujurnya seruan ini seperti kode alam yang memanggil, kemarin pun sahabat nunjauh disana seperti Jalatrang, Bungur Beres, Bantar Panjang, Ambit yang biasanya acuh tak acuh mereka justru mengajak untuk turun. Padahal tidak biasanya seperti ini.
Dari sekian peristiwa yang menarik adalah tidak semua daerah berakhir rusuh. Bandung ricuh, Jakarta panas, Surabaya mengepung Grahadi, rumah pejabat jadi sasaran. Tetapi lihatlah Kuningan dan Minang. Demonstrasi berjalan damai. Mahasiswa diterima, aparat tidak represif, pejabat daerah turun langsung menyapa warganya. Masyarakat Minang terbiasa berdiskusi, pemimpin mendengar keluhan, sehingga api amarah tak sempat menyala. Sedangkan kuningan pagi para alim ulama menggelar doa bersama dan hujan menyambut para demonstran sehingga turut menenangkan.
Sejatinya, rakyat tidak ingin anarkis. Mereka hanya ingin didengar. Jika pemerintah mau berlaku adil, pejabat menjaga adab, DPR rendah hati, maka masyarakat pun akan menjaga ketertiban. Tetapi bila penguasa terus menutup telinga, jangan kaget bila peristiwa serupa akan berulang. Karena di negeri ini, rakyat hanya punya dua pilihan: diam dalam sakit, atau bersuara meski dianggap gaduh.
Namun di balik riuh rendah itu, kita tetap menyimpan secercah harapan. Bahwa Indonesia masih bisa bertumbuh menjadi rumah yang adil, ramah, dan beradab bagi setiap warganya. Bahwa suara rakyat bukanlah ancaman, melainkan kompas untuk menuntun arah bangsa.
Dan di tengah refleksi ini, izinkan saya menyampaikan selamat ulang tahun ke-527 untuk Kabupaten Kuningan. Semoga tanah kelahiran yang berhawa sejuk ini terus memberi teladan: bahwa kearifan lokal, kepemimpinan yang mendengar, serta masyarakat yang guyub bisa menjadi penawar di tengah hiruk pikuk bangsa. Dari Kuningan yang teduh, kita belajar bahwa Indonesia selalu punya alasan untuk berharap.
#Memayu Hayuning Bawana