Kawans Sekala Niskala pasti sering menemukan anggapan bahwa tradisi 1 Suro “sesat”, nah bagi aku hal ini seringkali muncul dari kurangnya pemahaman mendalam tentang akarnya dan juga adanya interpretasi yang keliru. Sebagian masyarakat, terutama mereka yang melihat dari sudut pandang agama tertentu tanpa konteks sejarah dan budaya, mungkin menganggap tradisi ini bertentangan dengan ajaran agama. Banyak alasan sebenarnya tapi seperti biasanya yg namanya persepsi tidak ada benar atau salah sampai persepsi itu menjadi tindakan yang akhirnya merugikan orang lain.
Dalam perjalanannya, beberapa individu atau kelompok mungkin mencampuradukkan tradisi 1 Suro dengan praktik klenik, perdukunan, atau ritual yang dianggap syirik. Hal ini menciptakan citra negatif yang kemudian digeneralisasi pada seluruh tradisi 1 Suro.
Banyak yang tidak mengetahui bahwa kalender Jawa dan perayaan 1 Suro adalah hasil akulturasi cerdas antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam. Mereka hanya melihat permukaan tanpa memahami latar belakang integrasi budaya yang mendalam.
Beberapa orang mungkin terlalu terpaku pada simbol-simbol tertentu yang terlihat “aneh” atau “magis” tanpa memahami makna filosofis dan tujuan spiritual di baliknya, seperti kirab pusaka atau tirakatan. Ada paham keagamaan yang cenderung menolak semua bentuk tradisi lokal yang dianggap tidak berasal dari teks keagamaan murni, sehingga tradisi seperti 1 Suro mudah dicap sebagai sesat.

BING ID: lovelie_light
✧ TOLERANSI LELUHUR, MENGAPA AKULTURASI ANTAR AGAMA DAN BUDAYA BEGITU INDAH DAHULU KALA?
Aku selalu tertarik untuk merenungkan bagaimana nenek moyang kita mampu menerima dan merangkul akulturasi antara agama dan budaya lokal dengan toleransi tinggi, sementara sebagian orang zaman sekarang, dengan segala akses informasi, justru menunjukkan sikap intoleran.
Ternyata penyebabnya terletak bada landasan pola pikir dan kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu!
Para penyebar agama di Nusantara, khususnya para Wali Songo dalam konteks penyebaran Islam di Jawa, tidak datang dengan membawa pedang atau memaksakan keyakinan. Mereka menggunakan pendekatan kultural yang sangat bijaksana. Mereka tidak serta-merta menghancurkan atau melarang tradisi lokal, melainkan mengisi dan menyelaraskan nilai-nilai agama dengan budaya yang sudah ada. Contoh paling nyata adalah penggunaan wayang, gamelan, atau upacara adat sebagai media dakwah. Ini membuat agama baru terasa “membumi” dan tidak asing bagi masyarakat.
Masyarakat Nusantara memiliki kearifan lokal yang sangat tinggi. Mereka sudah terbiasa dengan konsep keberagaman dan adaptasi. Sebelum datangnya agama-agama besar, sudah ada berbagai kepercayaan animisme dan dinamisme. Ketika Hindu-Buddha datang, mereka pun mampu menyerapnya tanpa menghilangkan kepercayaan lama sepenuhnya. Pola ini berlanjut saat Islam masuk. Masyarakat melihat agama sebagai pelengkap dan penyempurna kehidupan, bukan sebagai pengganti total dari identitas budaya mereka.
Dalam filosofi Jawa, ada konsep seperti Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan) atau Sedulur Papat Lima Pancer. Konsep-konsep ini mengajarkan keselarasan antara dunia lahir dan batin, antara manusia dan alam, serta antara sesama manusia. Pemahaman spiritualitas yang mendalam ini membuat mereka lebih terbuka terhadap ajaran baru yang bisa membawa kedamaian dan harmoni, tanpa harus merusak tatanan sosial atau budaya yang sudah kokoh.
Penyebaran agama di masa lampau lebih banyak melalui teladan hidup, akhlak mulia, dan praktik nyata daripada doktrinasi verbal yang kaku. Para pemuka agama kala itu hidup berdampingan, saling menghormati, dan menunjukkan sisi kemanusiaan yang universal. Hal ini menumbuhkan rasa percaya dan penerimaan dari masyarakat.
Peran Penguasa/Kerajaan dalam Integrasi, seperti peran Sultan Agung dalam menyatukan kalender Jawa dan Hijriah adalah contoh nyata dukungan penguasa. Para raja dan pemimpin adat memahami pentingnya stabilitas sosial. Mereka memfasilitasi akulturasi ini sebagai cara untuk menguatkan persatuan dan harmoni dalam masyarakat, alih-alih menimbulkan perpecahan.
✧ MENGAPA ORANG JAMAN SEKARANG JUSTRU LEBIH BANYAK YANG INTOLERAN TERHADAP TRADISI MEREKA SENDIRI?
Di era modern, dengan kemudahan akses informasi, seringkali muncul pemahaman agama yang sangat literal dan tekstual, tanpa mempertimbangkan konteks sejarah, budaya, atau filosofi di balik ajaran. Segala sesuatu yang dianggap “di luar teks” langsung dicap sesat, termasuk budaya dan tradisi lokal.
Gelombang ideologi keagamaan dari luar yang bersifat puritan dan eksklusif seringkali masuk ke Indonesia melalui berbagai media. Ideologi ini cenderung menolak tradisi lokal dan menganggapnya sebagai “campuran” yang tidak murni, bahkan mengarah pada kesyirikan.
Di era digital, terjadi polarisasi yang kuat di masyarakat. Agama seringkali dijadikan alat untuk politik identitas, memicu permusuhan antar kelompok. Tradisi lokal yang dulunya menyatukan, kini bisa menjadi titik perpecahan jika dikaitkan dengan narasi politik tertentu.
Banyak generasi sekarang yang minim pengetahuan tentang sejarah dan asal-usul budayanya sendiri. Mereka tidak memahami bagaimana akulturasi terjadi dan mengapa ia penting. Akibatnya, mereka mudah terprovokasi oleh narasi yang menyalahkan atau menolak tradisi.
Penyebaran informasi yang tidak akurat, hoaks, atau propaganda kebencian melalui media sosial dapat dengan cepat membentuk opini negatif terhadap tradisi. Orang-orang cenderung mempercayai apa yang viral tanpa melakukan verifikasi.
Beberapa penafsiran agama tidak mempertimbangkan konteks lokal, sosial, dan budaya masyarakat Indonesia yang majemuk. Mereka cenderung menerapkan ajaran secara universal tanpa penyesuaian yang bijaksana, berbeda dengan pendekatan Wali Songo yang sangat kontekstual.

BING ID: lovelie_light
Leluhur kita menunjukkan bahwa toleransi dan akulturasi adalah kekuatan yang membangun peradaban. Mereka mampu melihat nilai-nilai universal dalam setiap ajaran dan mengintegrasikannya dengan kearifan lokal. Sementara itu, tantangan di zaman sekarang adalah bagaimana kita bisa kembali menumbuhkan semangat itu, dengan memperkuat literasi, dialog, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang warisan budaya dan agama kita yang majemuk. Ini adalah ujian buat kesadaran kita untuk kembali pada kearifan leluhur dalam merangkul harmoni.
—“Merayakan tradisi, merangkul budaya adalah hak dan kewajiban siapa-siapa yang lahir di tanah ini dan berdarah Nusantara”—
✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀
