Kawans, di sini seperti biasa saya mengingatkan ada spoiler lho didalam tulisan ini, jadi yg blom nonton dan gak suka spoiler, gak ush dibaca tulisan ini. Tapi kalo yg belom nonton tapi ga masalah ama spoiler, silakan baca. Sudah saya peringatan dari awal jadi jangan tantrum kaya bocah!
Film horor yang kita tonton malam ini di acara NEMENIN CINDY NONTON HOROR (NCNH) kali ini berjudul “BADARAWUHI DI DESA PENARI” atau “Dancing Village: The Curse Begins” yang merupakan lanjutan dari KKN DESA PENARI, walaupun ceritanya sebenernya mundur kebelakang, dimana menerangkan awal mula kutukan di Desa Penari.

Jujur saya gak tau mau cerita apa sih di sini… Film ini bagi saya dan teman-teman di SN, sangat PLAIN. Kehilangan ciri khas utama, dan kehilangan ENERGI. Iyaa sih untuk teknik dan lainnya lbh bagus dari pada KKN DP, karena Badarawuhi di Desa Penari menjadi film pertama di Indonesia yang mendapatkan label “Filmed for IMAX” setelah direkam menggunakan kamera yang telah disertifikasi oleh IMAX. Tapi soulnya tetep gak sama kaya KKN DP, banyak hal yang hilang terutama energi. Energi Badarawuhi yang hilang mempengaruhi energi lainnya yg ada di film ini.
Tokoh utama di film ini itu fokusnya pada Mila (Maudy Effrosina,) sepupunya Yuda (Jourdy Pranata,) teman mereka Jito (Moh. Iqbal Sulaiman,) dan Arya (Ardit Erwandha.) Mereka ini pergi ke Desa Penari untuk mengembalikan sebuah kawaturih (gelang lengan untuk penari) yang ternyata milik Badarawuhi yang sejak 20th sengaja di bawa keluar Desa itu. Namun karena Mbah Putri (Pipien Putri) sebagai Sesepuh Desa meninggal karena Kutukan Badarawuhi, Kutukan itu berhasil mengenai Inggri (Mayram Pubrata) yang adalah Ibu Mila yang sudah keluar dari Desa sejak lama dan Jiyanti (Dinda Kanyadewi) yang saudara kembarnya Santika (Baiq Vania) digunakan sebagai Dawuh pengganti Inggri 20th lalu.
Mila dengan diantar sepupu dan kedua temannya datang ke Desa ini dengan harapan jika mengembalikan kawaturi kedesa itu maka sang Ibu akan sembuh dari penyakit anehnya, tanpa dia tau bahwa “panggilan” ke desa itu merupakan manipulasi Badarawuhi. Disinilah Mila bertemu dengan Ratih (Claresta Taufan) yang ternyata putri dari Jiyanti yang mengalami sakit aneh yang sama seperti Inggri setelah Mbah Putri meninggal.
Biasanya tuh film horor garapan Kimo Stamboel punya ciri khas yang bisa naikin nilai film horor, pada sisi gore… yang ternyata kurang di tonjolkan di film ini, walau semua itu udah berasa di film Kimo Stamboel sebelumnya “Sewu Dino,” mungkin hal ini juga jadi mengurangi energi dari karya ini, diluar pengaruh energi lainnya yg emang udah ga ada lagi.
Selain adegan gore yang kureng, dia film ini gak ada jeratan napsu birahi yang merupakan ciri khas dari ras siluman ular kaya Badarawuhi. Kalo yg KKN DP itu relate, karena siluman ular emang mainin napsu biarahi manusia… 😝. Di sini cuma ditunjukkan menipulasi tipis-tipis, dan yang paling berasa justru kesalah pahaman manusianya aja, yang justru mencelakakan dirinya sendiri. Kaya tokoh Ratih yang dengan bodohnya menjebak Mili agar bertemu Badarawuhi dengan harapan Badarawuhi akan menyembuhkan penyait aneh yang diderita ibunya.
Padahal di awal Badarawuhi gak pernah menjanjikan akan meyembuhkan Jiyanti, dia hanya menyuruh Ratih membawa Mila padanya, dengan iming-iming manipulasi jiwa Jiyanti yang mendatangi Ratih dan berkata “tolong ibu ndok” padahal itu bukan benar-benar jiwa Jiyanti.
Ada beberapa tokoh di film ini juga ada di film KKN DP, selain Badarawuhi (Aulia Sarah) itu sendiri, tapi usia mereka semua masih muda. Niat Mila dan yg lainnya kedesa untuk mengembalikan kawaturih itu sempat tertahan karena mereka harus menunggu Mbah Buyut yang sedang keluar desa. Nah kalo di KKN DP Mbah Buyut diperankan oleh Didin Boneng, di Film ini juga ada Mbah Buyut muda yg diperankan oleh Aming. Mbah Buyut muda yang di perankan Aming adalah yg membatu Mbah Putri untuk menghentikan Badarawuhi, lalu menyelamatkan Inggri keluar dari kampung. Saat Mila kembali ke desa 20th kemudian Mbah Buyut kembali di perankan Didin Boneng.
Tokoh yg ada disini selain Mbah Buyut adalah tokoh Pak Purba muda (Bima Sena) di KKN DP Pak Prabu ini adalah Kepala Desa, kemudian ada Ibu Sundari muda (Putri Permata) di KKN ini Bu Sundari (Aty Cancer) itu yang rumahnya dijadikan tempat tinggal Nur, Widya dan Ayu.
Yang bikin seneng itu adalah kita ga perlu liat Cane Corso hitam lagi pada penyelamatan Mila dari Angkoro Murko. Karena seperti yang kita tau di KKN DP, Mbah Buyut ini punya kemampuan shapeshifting berubah jadi anjingkan yaa… Dalam beberapa kepercayaan di Jawa ada beberapa ilmu kanoragan yg membuat pemiliknya bisa merubah diri menjadi makhluk lain salah satunya Anjing. Nah kalo di Jawa Barat, sosok ini dikenal dengan “Siluman Ajag” atau “Siluman Anjing Hutan”. Cuma penggambarannya salah. Ajag itu gak kaya Cane Corso bentuknya, tapi seperti anjing hutan berbadan ramping, besar, berbulu kasar dengan moncong panjang, kadang bisa berdiri dan berjalan dengan 2 kaki.
Selain Siluman Ajag sendiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada sosok yang sama bernama “Asu Baung”. Kedua entitas ini sama-sama memiliki kemampuan menditeksi musibah dan marabahaya untuk sebuah desa dan bisa keluar masuk layer-layer dimensi dengan mudah makanya kenapa di film ini dan film KKN DP dia menyelamatkan tokoh utamanya dari lokasi yang di sebut Angkoro Murko. Yaa mau Ajag atau Asu Baung yang jadi penciptaan karakter *shapeshifting-*nya Mbah Buyut, ceritanya cukup relate, dan kami di SN lebih suka siluman Anjing ini tidak terlihat secara fisik seperti di film ini. Karena Cane Corso sendiri lebih cocok jadi Hellhound yaaa dari pada siluman anjing di film ini, karena secara breed atau ras ga nyambung hehe…
Soal Angkoro Murko, tadinya saat kami menonton KKN DP, kami menganggap Angkoro Murko adalah bagian dari Dimensi Void. Ternyata setelah melihat film ini, saya sadar kalo anggapan kami kemarin setelah nonton KKN DP itu salah besar. Angkoro Murko yang dimaksud Badarawuhi dan warga desa adalah bagian teritori Badarawuhi yang digunakan untu menahan tawanan dari jiwa-jiwa yang sudah di tumbalkan sebagai Dawuh, jadi semacam dimensi “penjara”. Di sini lah Badarawuhi bisa malakukan apapun seenak dia pada tumbal yg sudah 100% di klaim olehnya.
Sebagai informasi saja, Setiap entitas yang menguasai teritori biasanya memang memiliki layer dimensi dalam teritorinya yang digunakan untuk menahan atau menampung jiwa-jiwa yang dianggap sudah menjadi hak si penguasa teritori. Dan biasanya dibagi beberapa jenis “penjara”, untuk tahanan yang melakukan kesalahan kaya pengkhianatan atau tugas yang tidak dilakukan dengan baik dan sejenis itu, kemudian ada juga untuk tumbal yang dikorbankan atas nama si pemilik teritori tersebut, misalnya ternyata pemilik teritori ini melakukan perjanjian dengan manusia dan si manusia ini akan “menyuguhkan” tumbal, nah di sinilah lokasi untuk menahan dan menampung tumbal-tumbal itu, disini lah lokasi yg disebut dengan istilah Angkoro murko di Film ini dan KKN DP. Jadi Angkoro Murko di film KKN DP dan Badarawuhi gak ada hubungannya dengan Dimensi Void. Karena Dimenci Viod sendiri gak dikuasai oleh 1 entitas saja, ini merupakan bagian dari system karma alam semesta.
Trus pas Nobar kemaren, Teh Riska nanya: Kenapa sih Badarawuhi butuh tumbal?
Tumbal bagi entitas astral penguasa teritori tuh sama kaya boosting vitamin atau makanan sehat seimbang kaya gizi buat tubuh manusia supaya bertambah energi. Makin banyak tumbal jiwa manusia yang dimiliki sama entas ini, makin tinggi tambahan energi yang dimiliki sama si entitas ini, maka akan main bertambah kemampuannya untun berkuasa dan memanipulasi manusia. Tapi bukan cuma pada manusia, pengaruh ini juga bisa membuat entitas ini memiliki kemampuan untuk menaklukan entitas lain. Selain untuk nakut-nakutin manusia tentunya, secara kesadaran manuisa kalo tau ada demit bisa mencelakainya kan akan takut, makanya jadi nurut disuruh ritual A B C D, disuruh ngasih tumbal dll.
Ini kenapa Teh Riska, kalo teteh punya kepakaan ya, terus datang kebeberapa Pantai di Utara atau di Selatan Jawa… disana ada “Angkoro Murko” milik penguasa teritori lokal disitu. Tapi bukan berarti cuma di pantai aja, di gunung juga ada teh, danau, sungai-sungai besar, Hutan… Pokonya dimana ada entitas Raja atau Ratu demit, akan ada tempat yg namanya angkoro murko ini. 😅

Hal yang paling bikin saya greget sepanjang nonton film ini adalah… Koq bisa-bisanya Badarawuhi dibikin sekuat itu, mengirimkan semua kroconya untuk menghancurkan desa. Terus kenapa warga desa ga ada yg inget Tuhan… ini aneh banget sih. Kejadian tahun 1985-an lho itu… kenapa di buat skema bahwa Demit sekelas Badarawuhi bisa sangat kuat bahkan mengendalikan semua hal di Desa itu. Padahal Badarawuhi sendiri kan dikutuk dan stuck di desa itu. Logika supranatural saya ga bisa terima aja gitu!! Entitas yang di kutuk kok masih bisa betingkah seenak jidatnya, terus dibiarin aja ama yang levelnya lebih tinggi dari dia~🙄😑
Badarawuhi itu adalah Outcaster, di buang dan di asingkan oleh koloni asal-usulnya (para siluman ular) karena keangkuhannya. Tapi masih bisa sesombong itu energinya… kocak aja sih~🤪
——— ⋆ ˚。⋆୨>0<୧⋆ ˚。⋆ ———
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀
