Kawans, di sini seperti biasa saya mengingatkan ada spoiler lho didalam tulisan ini, jadi yg blom nonton dan gak suka spoiler, gak ush dibaca tulisan ini. Tapi kalo yg belom nonton tapi ga masalah ama spoiler, silakan baca. Sudah saya peringatan dari awal jadi jangan tantrum kaya bocah!
Film horor yang kita tonton malam ini di acara NEMENIN CINDY NONTON HOROR (NCNH) kali ini berjudul “KERAMAT 2 - CARUBAN LARANG”. Seperti film pertamanya, “Keramat 2: Caruban Larang” disajikan sepenuhnya melalui sudut pandang kamera para mahasiswa, dengan gaya found footage. Penonton diajak untuk merasakan langsung ketegangan dan kengerian yang mereka alami melalui rekaman-rekaman yang semakin kacau dan panik.

Nah, “Keramat 2: Caruban Larang” ini mengambil latar waktu yang jauh setelah kejadian mengerikan dalam film Keramat sebelumnya Saya awali dengan para pemain di film ini, bagi saya pribadi tokoh sentral di film ini adalah Ute (Lutesha) karena kemampuan supranaturalnya lah yang menentukan nasib pemain yang lainnya. Pemain lainnya ada Umay (Umay Shahab), Ajil (Ajil Ditto), Arla (Arla Ailani), Jojo (Josephine Firmstone), Maura (Maura Gabrielle), Keanu (Keanu Angelo). Nah mereka ini (*Kecuali Ute) Datang ke Cirebon untuk beberapa maksud, ada yg mau bikin film dokumenter, ada yg mau nge-vlog dan ada yang mau bikin tugas kuliah, pencarian mereka ini membawa mereka ke kota Cirebon, untuk meneliti tentang tarian yang hilang yang disebut “Caruban Larang”. Perjalanan mereka awalnya tampak seru aja sampai akhirnya mereka menabrak kucing hitam di tengah jalan, tanpa dikuburkan kucing itu ditinggalkan di pinggir jalan… garis nasib mereka berubah disitu.

Di Cirebon ini Arla sudah nemu guide yang bersedia mengantarnya ke sebuah Padepokan/Sanggar tari “Caruban Larang” dimana semua tari topeng yang telah lama hilang pernah diajarkan. Mereka bertemu dan berkenalan dengan gadis sederhana bernama Badriyah (Badriyah Afiff), awal melihat sosok Badriyah ini saya sebenarnya punya perasaan aneh, karena dia terlalu pucat dan pendiam untuk manusia, apa lagi guide, kalo teman-tema mau liat dengan seksama, gerak-gerik Badriyah itu terlalu pelan untuk manusia normal.
Di padepokan itu mereka ketemu ana Pak Djalil (Ence Bagus), yang sudah mewanti-wanti mereka untuk berhati-hati dan jangan sembarangan menyentuh barang-barang di padepokan, semetara Pak Djalil akan menghubungi pemilik terakhir sanggar tersebut Mimi Kemuning (Elly D. Luthan) yang rencananya akan di wawancara untuk kebutuhan misi mereka masing-masing.
Tapi emang dasarnya orang lancang, yang gak bisa menahan pikirannya sendiri, setelah tanpa sengaja (kalo kata saya sih justru sengaja) Badriyah membuka sebuah peti dengan alasan inisiatif mau bersih-bersih padepokan sekali peti-peti dan isinya krn kelihatan kotor. Padahal udh di peringatkan Pak Djalil, si anak-anak kota ini kemakan ama egonya dan serampangan liat isi dari peti itu, bukannya nurut kata Pak Djalil (**ya tipikal lah~🙄), terus mereka malah sengaja melihat-lihat dan membuka barang-barang di dalam peti bahkan sambil merekamnya, seolah-olah mereka menemukan harta karun berharga. Puhleeeessss~😏

Inget ya, pertama mereka menabrak kucing hitam di jalan, kedua mereka membuka peti yang sudah diperingatkan untuk gak di buka. Kebodohan nya gak berhenti sampai disitu. Ajil dan Keanu malah bikin konten buat Vlog mereka yang namanya “Mistis, Kocak, n’ Total” di sebuah Rumah Sakit yang memang terkenal Angker. Lokasi syuting di film ini bener-bener di lokasi RS legendaris itu.
Main Jailangkung di tempat modelan gini, apa yg lu harepin ya lu dapetin, Ajil dan Keanu di kejar-kejar makhluk penghuni RS terbengkalai itu sampai seseorang teriak sama mereka “Siapa yang nyuruh main Jailangkung di sini?” Ajil dan Keanu melihat sosok Ute menghampiri. Jangankan cuma di film sih, kalo saya pribadi penemuan orang-orang ignorant modelan gini bakalan gedeg juga… ga usah lah ditolongin keluar dari domain, biarin aja sesat disana… kan mereka pingin tau toh… silakan makan tuh demit.

Jadi ada berapa sekarang hal misfit yang udah mereka bikin?
Nabrak kucing, buka peti, main jailangkung di RS terbengkalai… jangan dikira sampai disitu, kecerobohan atau entah ya saya harus bilang “ketololannya” karena cuma kata ini yang bisa mewakili perasaan saya saat nonton.
Ingat peti yg mereka buka seenak jidatnya walau tanpa ijin. Disana mereka menemukan beberapa barang dan foto. Salah salah satu fotonya adalah milik Suryani (Rosmala Sari Dewi) seorang ex Penari Keraton Kacirebonan, yang keluar dari Keraton (*kalo menurut saya dan King, lebih ke diusir dari Keraton karena melakukan kesalahan) Nah, Suryani ini bikin Padepokan “Caruban Larang” lalu mengajarkan tarian yang telah hilang, tarian yang dilarang ditarikan di luar Keraton. Tapi setelah Suryani menghilang, ga ada yang tau lagi tentang tarian itu.
Saat Ute datang ke padepokan setelan nyelamatin Ajil dan Keanu, mereka menunjukkan isi peti itu pada Ute. Mereka meminta dan mendesak Ute untuk menerawang apa yang sebenernya terjadi, mereka juga pingin tau soal tarian yang hilang itu gimana nasibnya. Ute melihat-lihat foto Suryani yang sedang menari bersama timnya, kemudian menceritakan apa yang dia dapat dari hasil retro-kognisinya, Ute bilang Suryani dan tim tarinya bukan menghilang atau kabur, tapi dijadikan Jugun Ianfu* tentara Jepang.
*Jugun Yanfu (慰安婦) secara harfiah berarti “wanita penghibur.” Istilah ini adalah eufemisme yang digunakan oleh militer Kekaisaran Jepang untuk merujuk kepada wanita yang dipaksa menjadi budak seks bagi tentara mereka sebelum dan selama Perang Dunia II.
Ute kemudian mencoba mencari benda-benda yang lebih personal sama peti itu dan hal supernatural terjadi, Ute muntah2 darah dan kerasukan. Disini saya harus memuji akting kerasukan Ute yang relate banget. Entitas dalam tubuh Ute mengaku sebagai Suryani.
Suryani… bade nari, kagem panjenengan sedoyo!
Itu yang terucap saat Ute kerasukan Suryani sambil tersenyum menyeringai, dan ini bikin teman-temannya yg lain ketakutan dalam memutuskan meninggalkan Ute dalam kamar.
Dari kejadian ini Ute dapet pesan dari Suryani kalo dia bisa mengajarkan tarian yang sudah lama hilang itu, mereka hanya tinggal mempersiapkan ritualnya saja. Dan mereka pun mempersiapkan semuanya untuk Suryani agar mau menari menggunakan raga Arla.
Jujur nih dari awal film Arla ini tokoh yang paling bikin sebel aku, pertama karena dia BERISIKK!, NGOCEH MULU! Udah gitu suka sinis gitu sama temen-temennya, alih-alih diobrolin baik-baik dia selalu jadi penyulut keributan, egonya keliatan banget disini. Ini kenapa aku suka film ini, bisa bayangin ga… tanpa skrip… tapi pemainnya bisa in to segitunya sampe aku bisa sebel ama karakter Arla disini. Semua yg main disini feel-nya bisa dapet, emosinya terkoneksi, entah saat konflik, marah, ribut, kocak, bahkan takut… semua dapet.

Setelah semua persiapan ritual narinya beres, mereka tinggal menyalakan lilin sebagai penerang dan juga benteng domain, agar saat tubuh Arla menjadi medium arwah Suryani yang lainnya akan aman dari efeknya. Tarian pun dimulai dengan suara gamelan. Belum lama menari Mimi Kemuning datang, memohon untuk tarian itu dihentikan, karena berbahaya…
Setop Nak, mboten pareng… Nak, ini Mimi Nak…
Mimi Kemuning bahkan menghampiri para pemain gamelan dan memohon mereka untuk menghentikan musiknya.
Ampun Pak, sampun… setop Pak, setop…
Ute menghampiri Mimi dan bersikeras bahwa tarian ini tidak bisa diberhentikan begitu saja karena berbahaya. Banar saja, saat musik berhenti tubuh Arla jatuh lunglai dan lilin-lilin menyala yang jadi barrier tadi berterbangan terpental dan sesuatu menabrak tubuh Maura dan menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri. Maura yang gak sadar pun dibawa ke rumah sakit.
Nah disini tingkah nyebelin si Arla keluar lagi, pingin saya toyor kepalanya. Mimi datang ke rumah sakit untuk menjelaskan semuanya, tapi dasar ratu drama Arla mulai berulah dan BERISIK teriak teriak padahal di rumah sakit… NORAK!! (*eheum… maaf)
Kita lanjut, Mimi menjelaskan bahwa tarian “Caruban Larang” ini langka dan tidak boleh keluar dari Keraton, kalo ada yang memaksa belajar atau menarikannya diluar Keraton maka akan ada kutukan atau celaka buat mereka. Belum terlambat untuk berhenti memang, tapi mereka semua memikirnya kondisi Maura yang divonis Koma oleh dokter Rumah Sakit tersebut.
Ute berbicara pada Ajil untuk balik ke Jakarta, transfer Maura ke rumah sakit yang lebih canggih dan cancel semua rencana mereka. Ute juga mau berhenti dan ga melanjutkan semua ini. Ketakutan yang muncul adalah adanya kutukan pada siapa saja yang mempelajari tarian ini.
Di padepokan Ajil dan Ute masih ribut, soal berhenti atau lanjut. Ute bersikeras kalo dia melakukan kesalahan udah membantu teman-temannya melakukan ritual, makanya sampai Maura koma. Tapi Ajil bersikeras meminta Maura mencari solusi untuk menyelamatkan Maura. Semua lagi-lagi mendesak Ute untuk menyelamatkan Maura.
Inget ya Kawans! di atas tadi Ute didesak untuk menerawang tentang artefak dalam peti sampai akhirnya mereka melakukan ritual tari yg menyebabkan Maura koma, Ute tau bahayanya dan teman2 yang mendesaknya juga tau resiko bahaya itu. Sekarang mereka mendesak Ute lagi untuk menyelamatkan Maura.
Tau gak punya kemampuan supranatural itu gak enak sekali, karena apa… orang2 disekitar kita akan dengan sangat gak tau dirinya demanding ama kita, tapi nih walau kita udah ngasih tau resikonya, udah ngasih tau bahayanya dan udah ngasih tau syaratnya, mereka tanpa mikir panjang akan bilang gak papa, setuju, sanggup dan mendesak kita, capek banget dah….
Tapi kalo hal celaka terjadi… kita yang punya kemampuan supra ini yg bakalan tetep disalahin koq… “kenapa elu ga cegah?” “kenapa elu ga nolak, waktu kita maksa minta?” lah… bangkee kan!!
Padahal yang ngelanggar mereka, yang maksa mereka, yang gak nurut mereka, tapi yang disalah tetep kita… kureng gak tau diri apa coba itu? 😛 Apa lagi ngadepin yang cuma kepo atau skeptik tapi kepo…
Makanya mendingan dari awal gak perlu di bantuin. Mendingan dari awal tutup kolom komentar dan DM… 🙄🤪

Sama disini Ute pun disalahin, aku bisa relate ama perasaan Ute disini, emang siapa yang pingin usaha nolongin temennya gagal? Makanya sekarang Ute bersikeras buat pulang dan ga ikut campur… Tapi 1x lagi the power of “desakan temen-temen” Ute nyerah dan mencarikan solusi, bahkan di momen ini dia jadi baikan sama Keanu, yg dari awal udah “anjng-anjng”an setiap ngomongin Ute, mereka Keanu, Ajil dan Ute berhasil menyelesaikan masalah mereka perihal Kanal Terawang dan kenapa Ute mengambil alin kanal itu. Ada mimpi tentang Kematian mereka ber-3, yg sebelumnya Ute rahasiakan, sampai mimpi itu datang lagi diiringi oleh penampakan peti artefak milik Suryani yg ada di Pendopo ini.
Jalan satu-satunya menyelamatkan Maura adalah dengan mengambil kembali “sukma” Maura yang ditahan di dimensi gaib, domain dimensi dimana Suryani tinggal. Dan untuk masuk ke sana mereka harus “mati”.
“Mati” disini gak bener-bener mati, tapi mereka melakukan ritual “dikubur hidup-hidup”, prosesnya kalo ada yg tau atau pernah melakukan itu sama seperti “Tapa Mendem” cuma ini ga diperlakukan seperti jenazah aja hanya mereka harus masuk dalam liang lahat, tiduran dan di kubur.
Nah, bagian adegan ini juga keren sih menurutku, rasa takut dari merekanya dapet, khawatirnya dapet, bahkan disini mereka menyebut nama Tuhan, seneng saya dengernya, dari pada sepanjang film sebelumnya saya disuguhkan kata-kata kasar dan umpatan, begitu dalam kesempitan mrk masih inget Tuhan, bukan Badarawuhi atau lainnya wkwkwkwk…
Buat yang tidak paham apa yg terjadi di momen ini. “Rencana” Ute ini adalah untuk membawa teman-temannya berpindah Domain dimensi. Buat manusia yang punya raga fisik berpindah domain dimensi full-body itu nyaris impossible tanpa energi besar atau tanpa ritual dan bantuan atau boosting dari entitas lain. Makanya Ute memilih melakukan Tapa mendem, dan dilanjut mantra pati geni di liang lahat tadi, yang mengantar mereka pada perpindahan domain. Tapi untuk informasi saja, ritual in bukan untuk ditiru dan dilakukan, ga akan semua seberuntung mereka di film ini bisa pindah domain! Yang ada pada moedaaarr…
Setelah mereka pindah domain pun, penggambaran domain transisinya relate… remang dan redup di tengah hutan tanpa ujung…
Di domain ini mereka bertemu dengan 3 orang yang mengejutkan, saya pribadi sempet heran “eh… eh… eh… itu Poppy Sovia ya King!” tanya saya, karena saya kenal suaranya… Poppy (Poppy Sovia) itu main di film Keramat (2009) dan dia adalah satu dari beberapa pemain yg hilang. Ternyata ini momen yang menyatukan film Keramat (2009) dengan Keramat 2: Caruban Larang ini. Selain Poppy ada Migi (Migi Parahita) dan Sadha (Sadha Triyudha), mereka memang yang tersesat di ending film Keramat (2009).
Sepertinya Ute mengetahui sesuatu, karena setelah bertemu dengan Poppy, Migi dan Sadha, Ute memutuskan mengajak mereka ke dalam kelompok. Dan mencari sukma Maura, lalu pulang kembali bersama-sama…. Yaa… rencananya sih gitu…
Untuk mendapatkan petunjuk, Ute melakukan mediumisasi, membiarkan tubuhnya dirasuki secara penuh oleh sesosok entitas yang mengenali semua orang yang datang bersama Ute, sosok ini tampak senang dan memuji kecantikan mereka yang datang…
“Ayune… ayune…” (cantiknya… cantiknya) ya di puji cantik sama entitas yg wujudnya cukup serem ga bikin seneng sih yaaa… 😁
Lalu sosok ini memberi perintah untuk mengikutinya, dan demi Maura mereka mengikuti Ute yang masih dirasuki ini, just info aja… sebenernya entitas setipe yg merasuki Ute ini biasa ada sebagai penjaga wilayah yang memisahkan teritori setu dan teritori lain, dia biasanya berwujud nenek-nenek bungkuk dengan tongkat dan rambut putih berantakan, tipikalnya berpakaian kebaya dan menggunakan kain batik sebagai jarik. Koq saya tau?… lah… di rumah saya ada 1 yg modelan kek gini hehe… penjaga teritori, kalo didunia nyata ini dia jagain gerbang perbatasan kota dan kabupaten wkwkwkwk…. 😁🤭
Dalam ketakutan rombongan ini bersabar mengikuti “Ute” yang bertingkah aneh layaknya nenek-nenek yang kadang berjalan bungkuk, pincang, kadang juga meludah. Kedengeran Jojo ngeluh terus, mulai kesel saya dengernya.
Tiba-tiba “Ute” berbalik dan berjalan menghampiri rombongan sambil memanggil “Umay”. Lalu “Ute” memberi perintah pada Umay:
“Dekatkan kuping, ketemanku!”
Sosok ini menyuruh Umay untuk mencari temannya, “cari… cari… cari…”. Umay berjalan lebih dulu dari temannya, mencari yang dimaksud sama si “Ute” ini, tiba-tiba si Umay kaget karena gak jauh di depannya tampak tergeletak jenazah terbungkus kain kafan di tanah. Lalu “Ute” bilan lagi:
“Ketika yang hidup diam, yang mati bicara!”
Umay pun terpaksa mendekati sosok itu dan mendekatkan telinganya ke arah mulut jenazah. Sementara Ute kembali ke kesadarannya.
“Gua cuma danger, ga tau kuburan atau kuburkan yang sudah meninggal!” Kata Umay.
Kalian ingat kan mereka menabrak Kucing Hitam, itu yang harus di kuburkan!
Dan tiba-tiba mayat kucing hitam itu muncul di depan mereka. Bukannya dikerjain nguburin kucing itu… tetap aja mereka berantem dulu… Umay yang di awal naksir Arla malah lebih sering berantem ama Arla di sini wkwkwkwkk…
Dari atas kuburan kucing yang dibuat itu muncul tangan yang memegang petunjuk selanjutnya, mereka harus mengikuti batu yang bersuara. Sambil mengikuti suara batu yang ditempa dari jauh, mereka menemukan jalan yang menurut Ute akan membawanya keluar dari dimensi ini.
Dikira jalan mereka akan makin gampang di sini mereka malah di teror ama arwah tentara Jepang yg seenak jidatnya ngayun2 Katana, ribet amat dah. Gegara ini mereka jadi mencar dalam 2 kelompok. Sampai salah satu kelompoknya di cegat sama beberapa jenazah tergantung di atas pohon. Jenazah ini perlahan turun dengan tali yang masih mengikat di leher, kemudian mereka mulai menari.

Sementara kelompok lain yg terpisah mengikuti suara gamelan yang mengiringi jenazah penari ini menari.

Saat kedua kelompok ini saling bertemu, Ute memberi tahu bahwa mereka harus menonton tarian ini sampai selesai. Sampai salah satu dari mereka menyadari sesuatu.
“Badriya… May… itu Badriyah”
Ternyata salah satu dari penari-penari itu adalah Badriyah, yang selama ini jadi guide mereka untuk mencari tau tentang tarian “Caruban Larang”. Yaa… Badriyah yang (sengaja) membuka peti artefak Suryani dengan alasan mamu membersihkannya…

Setelah mereka selesai menari, semua jenazah itu kembali ditarik keatas pohon dan mengantung, kecuali satu, Suryani… dia memberikan sebuah kayu pada Ute. Kayu ini akan memberi pentujuk jalan untuk menemukan Maura. Saat Ute mencoba kayu tersebut tiba-tiba muncul api di ujungnya seperti sebuah Obor, semakin terang nyala obor itu berarti mereka ada di jalan yang benar.
Petujuk itu membawa mereka menemukan Maura yang sedang menari menggunakan topeng, Ute memberhentikan teman-temannya, menyuruh mereka menunggu sampai Maura selesai menari.

Setelah di periksa dan dibuka topengnya ternyata itu benar-benar Maura. tapi sebelum mereka sempat kangen-kangenan, tubuh maura tertarik keatas. Sukma itu kembali ke badannya.
Sekarang tugas Ute membawa yang lainnya kembali ke dunia manusia, obor yang dipegang Ute menunjukkan jalan lagi, mereka harus melompati tebing berkabut untuk kembali kedunia manusia. Tersisa Ute, Poppy, Sadha dan Migi. Sayangnya Poppy, Sadha dan Migi gak bisa menembus tembok kabut itu, mereka terhempas satiap kali hendak melewatinya, disini Sadha sadar bahwa mereka sudah terlalu lama terjebak di domain itu dan mustahil untuk keluar dalam keadaan hidup. Ute bersikeran ingin membawa mereka pulang.
Dan juju, momen ni bikin mewek sih, karena saya paham perasaan Ute. Kalo udah ga ada didimensi manusia, giman abisa kembali tanpa wadah. Kalo Poppy, Sadha dan Migi kembali ke dimensi manusia, mereka udah ga punya wadah lagi, beda sama Ute dan teman-temannya yang fisiknya masih ada di dunia fana.
Akhirnya mereka kembali ke liang lahat tempat mereka “tapa mendem” dari luar terdengan galian dan dan ada yang berusaha membuka kuburan mereka, saat terbuka seseorang berteriak:
“Ade gua mana! Temen-temen gue mana!” Ternyata itu Miea kalo di Keramat (2009) dia sama-sama membuat film bersama Poppy, Sadha dan Migi tapi Miea selamat, tidak tersesat ke dimensi gaib. Ute lalu memeluk Miea dan meminta maaf karena gak bisa menyelamatkan dan membawa pulang adik dan teman-teman Miea. Pada mewek lah tuh disitu kan…. berasa lah sedihnya kek gimana…
Ke-ngenesan gak cuma berhenti disitu, Maura bangun dari koma dan mulai pulih, saat dia dijenguk teman-temannya dan ditanya bagaimana kondisinya sekarang, Maura bertingkah bukan seperti Maura… 😁
yaa… mereka menjemput sukma yang salah~ 😅 kocak kan Monty Tiwa ini… 😛 Capek lho pindah domain itu, summmpaahhhh!!

Kalo dari King Of Alit , film ini emosinya dapet banget, emosinya dilepas karena tanpa skrip. Jadi semua kejadian terasa nyata. Bahkan adegan di kubur hidup-hidup pun berasa banget takutnya dan paniknya.
Selama nongton film ini kami banyak membuat spekulasi, jadi Suryani ini kan dikatakann “minggat” dari keraton dan gak tau kemana rimbanya, sampai akhirnya gak ada lagi yang tau lagi soal tarian “Caruban Larang” ini.
Maka Spekulasi pertama, Suryani dan tim penarinya ini diculik oleh tentara Jepang untuk dijadikan Jugun Ianfu seperti yang disampaikan Ute di awal. Tapi ada yang aneh dari keterangan Pak Djalil bahwa Suryani sempai mengajarkan tarian Caruban Larang itu di Padepokan, padahal jelas-jalas tarian itu gak boleh ditarikan atau diajarkan di luar Keraton.
Apakah mungkin, Keraton memiliki intel khusus yang akhirnya diminta untuk menyingkirkan Suryani dan mereka-mereka yang mempelajari tarian itu tanpa ijin…
Kenapa saya berspekulasi seperti ini?
Di domain gaib dimana para penari itu dibelenggu, mereka tampak terikat dan “nyaman” tanpa ada perlawanan, seolah-olah mereka tau “tempat mereka memang di situ” kemudian mereka dijaga oleh arwah tentara Jepang. Kutukan karena melanggar aturan Keraton, ditambah meninggal dengan cara yg tidak wajar karena siksaan keji (digantung-gantung di pohon), bisa saja membuat mereka menjadi terdistorsi seperti itu.
Oke… balik lagi ini cuma spekulasi aja sih. Belom tentu bener juga hehe… 😎
——— ⋆ ˚。⋆୨>0<୧⋆ ˚。⋆ ———
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀
