Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

[LVL-NCNH-15] — GHIBAHIN FILM SETELAH NOBAR: PERNIKAHAN ARWAH (2025)

Film kali ini judulnya Pernikahan Arwah atau disebut juga dengan The Butterfly House di rilis akhir Februari 2025 kemarin. Di perankan oleh Morgan Oey...

lovelie-light 5 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel [LVL-NCNH-15] — GHIBAHIN FILM SETELAH NOBAR: PERNIKAHAN ARWAH (2025)

Film kali ini judulnya Pernikahan Arwah atau disebut juga dengan The Butterfly House di rilis akhir Februari 2025 kemarin. Di perankan oleh Morgan Oey sebagai Salim, dan Zulfa Maharani sebagai Tasya.

Film ini diawali dengan acara pertunangan Salim dan Tasya, yang kemudian rencana pernikahan mereka harus terganggu karena tante Salim yang adalah kerabat satu-satunya Salim meninggal dunia. Yang akhirnya sebagai kerabat hanya Salim yang harus mengantarkan kepergian bibinya itu dan disini lah semua misteri itu dimulai.

image

Jujur aku emosi nonton film ini, bukan karena ide ceritanya, bukan karena logika supranturalnya tapi gegara detail propertinya dan acting pemainnya. Expressi mereka tuh bikin gregetan! Kadang kaku kadang kaya orang mabok, dah lah… kata King Of Alitmau pake Laura Basuki kemahalan!” wkwkwkkk…. 😂😅

Banyak detail attitude yg aku gak suka, pertama si Febri (Jourdy Pranata) yang adalah fotografer pernikahan Salim sama Tasya yang selalu menunjukkan rasa sukanya ama Tasya tanpa ada boundaries, dan itu menyebalkan.

Kedua itu di Arin (Puty Sjahrul) penata make-up dan sahabatnya Tasya dan Salim. Di mana hobi dia gelatakan barang-barang orang, main pegang, main buka, main ngambil, beneran lancang-nya. Attitude kaya gini bisa nyelakain dirinya sendiri dan orang lain yg barengan ama dia.

Ada juga Harja (Ama Gerald) yang gampang banget marah-marah, terus marah juga lebay banget dah, kadang aku mikir… “emang perlu ya semarah itu” kan semua yang ada disitu gak tau kalo keluarga Mei Hwa menyimpan jazad Mei Hwa di dalam ruangan tak berpintu dia dalam rumah itu. Ga perlu lah se-marah itu. Pokoknya marahnya Harja ini aneh lah, walau akhirnya dia jadi salah satu yg selamat di film ini.

Aku gak masalahin Konsep ceritanya dimana mengangkat tentang budaya Tionghoa-Indonesia, khususnya tentang dua dunia, dunia kematian dan dunia kehidupan. Walaupun cerita dimulai dengan rumah tua berhantu yang tipikal banget, tapi pov cerita horor berbasis budaya Tionghoa itu buat aku cukup menarik.

Kalo saja di garap lebih “Apik dan Epic” aku yakin aku dan teman-teman SN yang nonton ini bakalan kecolok bawang pas ngelihat cerita latar belakang kematian Mei Hwa (Brigitta Cynthia) bibi buyutnya Salim yang kematiannya menjadi misteri.

Koh Chung-Chung (Verdi Solaiman) ini kurang garang karakternya, aku suka dengan pembawaan ramahnya tapi, karisma sebagai pemuka agama apa lagi yang paham hal-hal mistik kaya gitu-nya kureng banget. Malah jadi keliatan kaya yang gak percayaan diri ama metodenya dia sendiri.

image

Kalau saja, konsep cerita ini di garap dengan baik bukan di eksekusi dengan cara yang aneh den setengah-setengah (*menurutku) aku yakin film ini bakal bagus banget.

Penjelasan tentang “Pernikahan Arwah” di film ini sangat shallow, Apa itu → “Pernikahan Arwah supaya nanti bisa dapat warisan dari mertuanya” ← ini bukan konsep utama Pernikahan Arwah. Kalo data supranatural yang aku dapat tentang “Pernikahan Arwah” itu diperuntukan untuk menenangkan arwah yang meninggal sebelum menikah. Karena di percaya arwah yang meninggal sebelum menikah bisa membawa kesialan atau apes bagi keluarganya, makanya diadakan pernikahan arwah ini.

Pernikahan Arwah ini bisa dilakaukan antara Arwah dengan Arwah, atau dengan Arwah dan Manusia yg masih hidup. Dan ketika dilakukan dengan manusia yang masih hidup, biasanya pengantin manusianya ini akan diberikan hadiah… gak melulu dikasih warisan ama mertuanya kok, hadiah secukupnya atau semampunya juga gak apa-apa toh si pegantin manusia ini juga tetap bisa menikah lagi.

Nah detail seperti ini harusnya dikasih tau dulu di awal, jangan cuma nyomot secuil dari keseluruhan konsepnya, karena ini bisa bikin gedek orang yg nonton dan salah paham sama kebudayaan lain. Orang nanti nangkepnya malah dengan menikahi arwah bisa dapet warisan… duh matre banget! 😤😓

Ini adalah komentar dari anak-anak SN yg ikutan nobar:

hadoohhh… aaa… enaknya dari mana ya, jadi gini, premis film kan tentang Pernikahan Arwah ya makanya kita tertarik nonton, tapi film ini terlalu dangkal. Aku sendiri dari awal udah mengharapkan ada gambaran ttg Pernikahan Arwah ini krn aku sendiri blom tau tentang Pernikahan Arwah, banyak metafora tapi tidak menarangkan apapun dan hanya muncul di depan, semakin kebelakang cerita jadi makin berantakan. Dari awal sampai akhir harusnya penoton dikasih tau kapan Salim ama Tasya itu kerasukan kapan sembuh.” — King Of Alit

aku tau dia konsepnya pingin nakut-nakutin kita, dengan jalan, liat sana-liat sini tapi aku malah gak ngerasain rasa takutnya, dragging banget, aduh capek banget aku nontonnya, lambat dan inti ceritanya kureng. Padahal lumayan seru ama konsepnya apa lagi dia masuk ke domain residual memori-nya Mei Hwa, aku bilang itu bagus, cuma bagian itu yg aku suka vibe nya beda, selebihnya aku ga suka. Aku gedek ama si Febri!” — Cindy Delviana

ya itu… hahahaaa… alurnya lambat, jadi ngantuk, Yaa Allah jarang2 nonton horor jadi ngantuk. Maksud ceritanya kurang tersampaikan karena actingnya, bahkan adegan sedihnya ga bikin aku sedih, padahal aku kan gampang seding. Jadi maksudnya “Pernikahan Arwah” teh nu kumaha sih?” — Riska H.

Yahh…. hahaha… bentar… kalo aku sih yg paling kerasa kesannya ga dapet. Kan kalo kita nonton film akan ada hal yang bisa kita dapet. Tapi film ini kaya yang beres nonton teh udah kita gak dapet apa-apa” — Luthfi

.

Aku juga setuju dengan King yang mempermasalahkan make-up. Buat orang awam gak akan nyadar lho kapan Tasya “ketempelan” Mei Hwa kapan dia dalam keadaan sadar sebagai Tasya sesungguhnya. Aku pribadi menangkap dari gerak gerik yg berubah, kerena sejak awal hantu Mei Hwa sudah menunjukkan cara dia muncul dan bergerak, yang ternyata sering ditiru Tasya, dan Tasya juga sering bersenandung dan menyanyikan lagu milik Mei Hwa… ya ini bisa jadi tanda Tasya sedang dipengaruhi kesadarannya oleh Mei Hwa. Tapi tanda ini tipis-tipis aja, kebanyakan seringnya karakter Tasya yg nyata dan yg kerasukan itu tumpang tindih.

Terus masalah “Alam Baka” pun terlalu flat (*harusnya nanya sama yg udah perna nyari sukma orang yg diculik ke dimensi lain, gimana rasanya dan kondisinya) hehe… terlalu mudah menemukan arwah Bhanu (Alam Setiawan) tanpa ada rintangan yg berarti. Satau saya, walau kamu pegang jimat pelindung, tapi jalan menuju “alam baka” yang di maksug gak bakan ngasih kamu perjalanan se-smooth itu wkwkwkkk… Karena perpindahan domain dimensi itu sama kaya kamu sengaja menjebak diri kamu sendiri dalam kekacauan.

Ratingnya kalo dari saya: 4/10

✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧

Be kind and respectful, and I will do the same for you!

Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.

Makasih, Lovelie Light~🍀

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar