Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

[LVL-NCNH-16] — GHIBAHIN FILM SETELAH NOBAR - RUMAH TETEH: STORY OF HELENA (2025)

Film kali ini judulnya RUMAH TETEH: STORY OF HELENA di rilis 13 Februari 2025 kemarin. Jadi, film ini emang diangkat dari yang katanya kisah nyata yan...

lovelie-light 8 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel [LVL-NCNH-16] — GHIBAHIN FILM SETELAH NOBAR - RUMAH TETEH: STORY OF HELENA (2025)

Film kali ini judulnya RUMAH TETEH: STORY OF HELENA di rilis 13 Februari 2025 kemarin. Jadi, film ini emang diangkat dari yang katanya kisah nyata yang sempat viral di X (dulu Twitter) lewat akun @Briistory di tahun 2019.

image

Aku selalu berfikir bahwa karya seni apapun bentuknya biasanya membawa “Rasa” yang ingin disampaikan oleh seniman penciptanya pada orang-orang yang melihat karyanya. Walau interpretasi penikmat karya akan berbeda, tapi biasanya “Rasa” yang ingin disampaikan akan tersalurkan dengan sendirinya pada level intuitif dan emosional penikmatnya. Itu kayak getaran energi yang nggak perlu diucapkan, tapi langsung sampai di hati atau benak penikmatnya.

Ibaratnya, seniman itu kayak menyalurkan vibe atau soul mereka ke dalam kanvas, pahatan, melodi bahkan sebuah film. Dan kita yang melihat atau mendengarkannya, tanpa sadar akan menangkap frekuensi itu. Makanya, kadang ada karya yang bikin kita merinding, nangis, atau tiba-tiba senyum, padahal kita nggak tahu persis cerita di baliknya. Itu bukti kalau “Rasa” itu punya jalur komunikasinya sendiri, yang melampaui logika dan penjelasan verbal.

Tapi, seperti yang King Of Alit bilang “aku rasa ini pembuat film sama menulis naskah filmnya ga percaya sama cerita ini!” dan yaa… aku juga sependapat karena gak ada “RASA” yang tertangkap dari pembuat film ini sehingga kita yang nonton gak merasakan apa yang sebenarnya ingin diungkapkan dari film ini.

Di GHIBAHIN FILM lain sebelumnya aku selalu membahas soal “Logika Supranatural” di film ini, jangankan logika supra, plot cerita aja loncat-loncat sampai kita yg nonton aja bingung, kenapa kok plot bisa berubah dengan cepat seperti itu, sehingga kita ga bisa ngerasain vibe asyiknya nonton.

Kalo “Rasa” dari pembuat filmnya ada gak tersalurkan, terus plot berantakan, boro-boro logika supra yg bisa dinikmati kaya di beberapa film lain kan. Makanya sangat disayangkan eksekusi modelan gini diberlakukan pada sebuah karya yang pernah viral.

“Rumah Teteh” adalah kisah horor yang diangkat dari utas Twitter viral oleh akun @BriiStori tahun 2019 lalu dan viral, bahkan sampai diadaptasi jadi buku dan film. Aku yakin banyak yang mengikuti kisah ini di X dan aku gak perlu menulis panjang lebar soal itu.

Ceritanya berpusat pada pengalaman mencekam sekelompok mahasiswa yang menempati sebuah rumah kos di Bandung. Rumah yang mereka seisi awalnya dianggap biasa, tapi lama kelamaan mulai menunjukkan keanehan dan teror tak terduga yang berhubungan erat dengan sosok perempuan misterius di dalamnya.

Tokoh utamanya adalah Brii, seorang mahasiswa yang tinggal di rumah kos tersebut bersama teman-temannya seperti Nando, Kamil, Doni, dan Asep. Namun, inti misteri dan kengeriannya ada pada sosok “Teteh” itu sendiri, yang belakangan diketahui bernama Helena dalam adaptasi filmnya. Teteh ini digambarkan sebagai perempuan cantik yang pendiam, tapi kehadirannya justru menjadi pemicu berbagai kejadian aneh dan teror yang bikin para penghuni kos ketakutan setengah mati.

Aku bahkan gak paham, apa penyebab teror itu, Apakah karena Nando bawa pacarnya… mereka lho gak ngapa-ngapain. Atau gegara ada calon penghuni yg jorok pipis ga disiram… too shalow! Teror apa sih? Apa penyebabnya… apa hanya karena Teteh “mengkorting nyawa” di rumah itu?

Ternyata, Teteh atau Helena ini punya masa lalu yang kelam dan tragis banget. Dia adalah sosok dengan “garis nasib yang menggores sampai ke nadi, menghadirkan perih di tempat terdalam.” Perasaannya digambarkan menjerit menembus dua alam, seolah mencari jawaban dalam kesendirian. Kejadian horor di rumah kos itu semakin menjadi-jadi setelah Brii mengenal dan dekat dengan Helena, di mana misteri di balik sosoknya yang menyimpan rahasia gelap perlahan-lahan terkuak dan membawa teror nyata bagi semua yang terlibat.

garis nasib yang menggores sampai ke nadi, menghadirkan perih di tempat terdalam.” Ini juga, kaya yang Cindy Delviana bilang film ini juga terlalu “anak senja” banget, pake kata-kata puitis, lagu-lagu yg bikin film jadi gak serem, sama adegan monolog gak penting yang harusnya semua potongan itu bisa dimanfaatkan penulis cerita untuk menciptakan adegan lain yg bisa menjelaskan lebih dalam tentang sosok Helena ini.

Perasaannya digambarkan menjerit menembus dua alam, seolah mencari jawaban dalam kesendirian.” Ini maksudnya apa coba, kalimat ini yang dijadikan trademark sosok Helena disetiap promosinya.

Sementara Kita aja gak dikasih tau sebenernya apa yang terjadi, cuma ada kilasan clip cerita Helena di khianati lalu “mengkorting hidupnya” dirumah itu…

Kenapa clip sesingkat itu dianggap bisa memberikan luka dalam sampai pantas dibilang “Perasaannya digambarkan menjerit menembus dua alam, seolah mencari jawaban dalam kesendirian?” ini ya bikin kita yang nonton jadi bingung dan bertenya-tanya maksudnya apa…

Kalo emang beneran semenderita itu ya ungkapkan dong dengan detail, ceritakan dong kepenonton dengan runut kenapa dan apa saja yg terjadi sampai cerita ini jadi tragedi, bukan masukin monolog gak jelas, puisi-puisi, masukin lagu-lagu roman yang sama sekali gak cocok ama cerita horor, kaya sengaja buang-buang waktu aja, atau itu permintaan sponsor… entahlah.

Nah, hukum sebab akibat di film ini aja gak jelas lho. Detail-detail yg harusnya bisa membuat cerita makin seru malah gak masuk di film ini. Gak kaya dia tulisannya BriiStory sendiri.

Yang bener cuma, Arwah orang yang “mengkorting hidupnya” ya akan terikat dengan lokasi dia mati, bahkan jiwanya bisa terditsorsi energi gelap dan nge-flip secara emosi. Dan hal ini digambarkan bener sih di film ini walau tetap ga bold selayaknya film horor… masih kalah sama adegan “anak senja” yang panjang dan membosankan itu.

Makanya kalo aku sih sampai berfikir “ahh… 1 jam 25 menit dan 34 detik hidupku terbuang sia-sia nonton beginian” 😤

Karena *dragging-*nya parah banget, dan bener kata Cindy Delviana monolog dan puisi-puisi itu gak ada gunanya, soundtrack nya lebih pantas jadi soundtrak “Sore Istri Dari Masa Depan” ketimbang “Rumah Teteh” yang berasa banget terlalu dipaksain buat ngimbangin kata-kata putis bin romatisnya si Brii. Hey… ini Film horor lho!!

Pujianku hanya kulontarkan untuk Sang Pemeran utama, Nova Eliza (Teteh/Helena), dia gak ada masalah dalam memerankan tokoh ini, emosi, eksperesi semuanya Aman. Tapi tandemnya duhhhh….

King Of Alit bilang “Kenapa di film Indonesia itu kerasa banget yang main itu-itu aja? Kenapa sih Reza Rahadian lagi atau Sheila Dara lagi? Karena biasanya yang gua tau pembuat film gak mau ngambi resiko filmnya berantakan, makanya pake pemeran itu-itu lagi. Dan pemain film ini kebanyakan udah mah wajah baru, terus berantakan banget anktingnya. Kalo Nova Eliza sih gua gak ada masalah ama aktingnya, tau deh yang lainnya koq ancur banget.

Teh Riska H. juga punya pandangan yang sama dengan Ku, sebagai orang Sunda nih, kami berdua sangat terganggu sama penggunaan bahasa Sunda yang ada di film ini. Atulah mun teu bisa Nyunda mah geus make bahasa Indonesia we lah… teu ngenah didenge na!

Pilihannya cuma dua, antara pake pemain yang beneran orang Sunda atau gak usah sekalian pake dialog berbahasa Sunda! Logat, artikulasi dan kata-kata yang dipilih itu krusial lho buat sebuah film, koq ya ga sensitif kesitu sih?!

Tau gak denger bahasa Sunda kaku kaya di film ini tuh langsung ngerusak mood nonton**, bahkan dari awal cerita.**

Teh Riska H. juga bahkan dengan detail masih menyoroti soal prilaku yang absurb yang ada di film ini. yaitu tentang kedatangan si Dukun. Ada 2 detail yang salah besar juga disini.

Detail pertama, Dukun atau paranormal biasanya cek ombak dulu tuh kalo mau menangani sebuah kasus, supaya mereka bisa mengukur kemampuan, kalo mereka gak sanggup akan bilang. Jadi, gak akan ujug-ujug datang kelokasi, bawa macem-macem, terus nantangin, makanya gak aneh dilempar lah ama demit keluar lewat jendela ← ini jelas logika supranya tentang bagaimana dukun/paranormal bekerja itu minus 360!

Detail kedua, nih yang penting ya aku kasih tau… research yang bener dah tentang kearifan lokal! Mana ada orang Sunda, manggil Dukun MBAH?! Orang Sunda kalo ke Orang Pintar biasanya ada 3 panggilan;

  • Aki
  • Abah
  • Sepuh

Itu aja, bukan MBAH! Manggi Eyang aja jarang, soalnya biasanya kalo Eyang dan Karuhun itu ditujukan pada entitas gaibnya… bukan pada Dukun/Paranormalnya.

Dahlah pokonya emang berantakan aja, sampai akhirnya terlontar kalimat “pantes sih kalo yang nonton cuma 68.675” bahkan di IG resminya mereka berhenti menghitung jumlah penontonnya di angka:

image

Terakhir dari Manu (Manuscript), salah satu teman kami juga yg ikut nobar, dia menyoroti banyak keanehan pada momen jumpscare-nya yang pada kaku dan juga make-up nya juga aneh.

Cindy Delvianapas jadi hantu emang pake CGI ya? 😅 gak mungkin Cin, terlalu effort kalo pake CGI, sementara kalo liat kualitas dari detail lainnya seadanya gitu, masa iya ampe pake CGI.

Riska H.Darah aja kaya pake cat gitu~ 😅

“bisa bantu aku pasang kepala aku ga?” apaansih itu, cringe banget bahkan untuk sekelas hantu jalanan sekalipun! Sementara aku boro-boro mikirin soal jumpscare apa lagi kaget atau ketakutan, aaku udh keburu ilfeel duluan ama logat sundanya dari awal.

Mening nonton atau dengerin podcast horor di youtube dah… 😒✌

Owh iya 1 lagi, kerasa banget film ini di buat dengan banyak merubah detail dari cerita aslinya, sepertinya indikasi yg paling masuk akal adalah demi kepentingan si pembuat film dan sponsor. Kalian akan tau maksud aku kalo liat ada siapa-siapa aja yg mensponsori film ini dan kenapa mereka maksain pake lagu-lagu tertentu untuk film horor yg notabene gak cocok sebenernya.

Dah lah ya… sampe sini aja!

Ratingnya kalo dari saya: 3/10

✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧

Be kind and respectful, and I will do the same for you!

Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.

Makasih, Lovelie Light~🍀

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar