Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

LVL [SNUFILES #25] LOGIKA DI BALIK TABIR ➡ KENAPA MENJADI SPIRITUAL GAK HARUS HALU DAN 'NGAWANG'?!

Halo Kawans Sekala Niskala, Semalam Kelas Meditasi Senin Self Development berakhir dengan seru dan lancar sampai jam 1 malem 🤭. 17 Member, masing mas...

lovelie-light 5 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel LVL [SNUFILES #25] LOGIKA DI BALIK TABIR ➡ KENAPA MENJADI SPIRITUAL GAK HARUS HALU DAN 'NGAWANG'?!

Halo Kawans Sekala Niskala, Semalam Kelas Meditasi Senin Self Development berakhir dengan seru dan lancar (sampai jam 1 malem) 🤭. 17 Member, masing-masing dipersilakan menceritkan siapa dirinya sendiri, kemudian nanti teman yang lain akan bertanya dan memberikan pendapat. Sampai tiba pada giliranku membacakan “siapa diriku” menurutku… dan kocaknya semua orang punya pemikiran yang sama tentang aku di dalam kepala mereka. Tapi yg seru kemudian ada sebuah pertanyaan dari Pak Hand , tapi semalam itu karena aku udah 5 watt aku gak bisa berfikir runut untuk menjawab pertanyaan Pak Hand. Dan pagi ini aku kepikiran untuk menjawab dan di sinilah aku tulis jawabannya, semoga bisa membantu, sebenernya bukan cuma buwat Pak Hand tapi teman yang lain juga, kenapa aku bisa kaya aku yang sekarang hehe… 😁

.

Pertanyaan Pak Hand kira-kira seperti ini Kamu kan anak desain, dan beriteraksi dengan hal-hal supranatural sejak kecil, tapi kenapa pola pikir dan tulisan-tulisan kamu bisa sangat dalam, filosofis dan rasional, biasanya sepengetahuan saya orang yg suka gaib-gaib-an itu pikirannya ngawang bahkan mendekati halu?” 😅

Aku tau kalo banyak orang yang berfikir kalau seseorang sudah mulai bicara soal supranatural, hal-hal metafisika, dan spiritual, otaknya otomatis bakal pindah ke “ngawang”, alias nggak napak bumi dan cenderung halu. Jadi, pas pada tahu latar belakangku sebagai desainer tapi punya tulisan yang filosofis dan rasional, mereka bingung. Padahal sebenarnya, dunia desain dan dunia energi itu punya satu benang merah yang sama ➡ keduanya adalah soal memahami struktur dan pola yang nggak terlihat oleh mata awam sebelum akhirnya diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata.

Bukan cuma Pak Hand kok yang mikir kek gitu, A Chiko Wisanggeni dan Mas eh Om Ryo Damha pernah tersirat mempertanyakan hal yang sama hehe… 🤭

Sebagai desainer, aku dilatih untuk nggak cuma liat hasil akhir yang cantik, tapi gimana cara kerja di baliknya agar fungsinya dapet. Nah, cara kerja otak ini terbawa saat aku mengeksplorasi sisi spiritual. Aku nggak bisa cuma sekadar “percaya” tanpa mempertanyakan esensinya. Buatku, supranatural itu bukan pelarian dari realitas, tapi justru dimensi lain dari realitas yang belum banyak orang temukan rumusnya. Jadi, aku lebih suka membedah fenomena gaib dengan logika supranatarulku yg sudah terbentuk sejak kecil daripada cuma sekadar ikut-ikutan takjub tanpa dasar, kaya orang-orang ‘ngawang’ diluar sana.

image

BING ID: lovelie_light

Dunia supranatural itu luas banget, dan kalau kita nggak punya jangkar rasionalitas yang kuat, kita bakal gampang terseret arus fantasi. Aku justru merasa aneh kalau ada orang yang mengaku spiritual tapi logikanya mati. Spiritual yang sehat itu harusnya bikin kita makin sadar diri dan makin bijak mengelola hidup, bukan malah bikin kita jadi orang yang dikit-dikit nyalahin “kiriman” atau “energi luar”, dikit-dikit ngerasa disantet, dikit-dikit ngomongin “bahasa langit” tanpa mau evaluasi diri secara lebih dalam.

Kalo buat aku pribadi, filosofi itu justru jadi jembatan yang bikin hal-hal yang sifatnya abstrak jadi punya bentuk yang bisa dipahami. Lewat cara pikir yang rasional, aku mencoba menerjemahkan getaran atau perasaan yang “tak kasat mata” menjadi kalimat yang membumi. Aku ingin orang paham bahwa apa yang kita sebut “gaib” itu seringkali cuma ilmu pengetahuan yang belum ketemu aja label ilmiahnya. Dengan begitu, kita nggak bakal gampang dibodohi oleh klaim-klaim yang nggak masuk akal. Contoh sederhananya kaya istilah “Hantu” yang banyak orang pake untuk melabeli semua fenomena yang dianggap berhubungan dengan dimensi astral, sementara aku sendiri udah gak mau menggunakan istilah itu, karena dimensi astral bagiku sudah terdevinisi dan gak perlu jadi “Hantu” lagi…

King Of Alit bentar lagi ngomelin gua nih kaya emak-emak “biarin aja teh, itu cuma istilah, perbedaan bahasa, perbedaan pemahaman!” iya-iye… entah kenapa omelannya langsung keputer di kepala wkwkwkwkk…. 😂🤣

Lanjut aja dah… Nah, mungkin nih bagi sebagian orang, apa yang aku lakuin ini terlihat kontradiktif. Tapi bagiku, ini adalah bentuk keseimbangan yang aku ciptakan sendiri dalam hidupku, ini pilihanku supaya aku bisa menikmati hidupku tanpa perlu khawatir orang akan mencibir atau menghinaku. Biarlah mereka sibuk dengan pikiran dan perasaan mereka, aku gak perlu ngasih akses mereka untuk ‘menggangguku’. Setiap orang itu kan sebenernya punya kemampuan buat mengelola spektrum dalam dirinya sendiri, baik itu sisi emosional, spiritual, maupun intelektual. Kita punya kendali penuh untuk menata pikiran kita supaya nggak berantakan, dan di situlah peran rasionalitas bekerja menjaga agar sisi spiritual kita tetap punya martabat.

Aku nggak mau jadi orang yang “pintar” tapi kering jiwanya, tapi aku juga nggak sudi jadi orang “spiritual” yang kehilangan akal sehatnya. Karena dari pengalaman hidupku dunia ini nggak cuma hitam putih atau fisik dan non-fisik aja, semuanya itu gradasi yang saling mengisi, makanya jadi wrna-warni! Kalau aku bisa menjelaskan fenomena energi dengan pendekatan yang masuk akal, kenapa aku harus milih buat jadi orang yang cuma bisa ngomongin hal-hal abstrak yang nggak ada ujung pangkalnya, iya gak Pak, A, Om? 😁🤘

Jadi semalam waktu Pak Hand bilang aku aneh karena terlalu Filosofis buat orang yang suka hal gaib, aku cuma bisa senyum, karena ngantuk otakku jd gak bisa mikir. Tapi sekarang setelah otakku seger, aku sadar kalo buatku, di situlah letak keasikannya. Aku bisa menikmati misteri semesta dengan rasa kagum, tapi di saat yang sama, kakiku tetap menginjak tanah dengan mantap. Menjadi unik itu bukan soal tampil beda, tapi soal berani jujur pada cara kita melihat dunia, lewat mata seorang desainer, hati seorang penjelajah ‘rasa’, dan otak seorang pemikir. 😊✨

✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧

Be kind and respectful, and I will do the same for you!

Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.

Makasih, Lovelie Light~🍀

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar