Kawans Sekala Niskala pernah kepikiran nggak, kenapa makhluk halus sering diklaim tinggal di pohon beringin atau rumah tua, padahal katanya mereka punya dimensi astral sendiri?
Pertanyan ini datang dari Aa Wisanggeni di voice discord semalam, kemudian akhirnya bersama King Of Alit kita berdiskusi, dan dari diskusi ini aku merasa pertanyaan ini kemungkinan besar ditanyakan juga oleh banyak orang, makanya aku memutuskan untuk membahasnya di Ruang SNU ini.
Sebenarnya, alam semesta ini bekerja mirip kayak ruangan yang penuh dengan berbagai sinyal. Di titik kamu duduk sekarang, ada sinyal Wi-Fi, frekuensi radio, sampai gelombang HP yang semuanya numpuk di ruang yang sama tapi nggak saling tabrakan karena beda frekuensi. Kita manusia ada di frekuensi “siaran nasional” yang padat dan fisik, sementara mereka ada di frekuensi “streaming” yang lebih halus. Masalahnya, supaya mereka bisa “tertangkap” atau punya pengaruh di frekuensi kita, mereka butuh perangkat keras sebagai penguat sinyal.
Di sinilah pohon besar berperan sebagai router fisik bagi mereka. Pohon itu makhluk hidup yang punya sirkulasi bio-elektrik dan energi bumi yang sangat stabil selama ratusan tahun. Bagi makhluk astral, pohon bukan tempat buat tidur layaknya kita tidur di kasur, tapi itu adalah hotspot energi. Mereka menempelkan frekuensi mereka ke medan elektromagnetik pohon tersebut supaya nggak “loss signal” dari dunia fisik. Dengan melakukan tethering ke pohon, mereka punya alamat koordinat yang tetap, sehingga mereka bisa eksis di dekat frekuensi manusia tanpa harus menguras banyak energi.

BING ID: lovelie_light
Menariknya, kearifan lokal yang masih dibawa oleh suku-suku pedalaman kita sudah paham hal ini sejak lama melalui cara yang lebih intuitif. Mereka meyakini bahwa pohon-pohon raksasa bukan sekadar kebetulan tumbuh jadi besar, melainkan sengaja dibentuk oleh alam sebagai portal perlindungan. Dalam perspektif ini, alam “mengundang” entitas penjaga dari dimensi lain untuk menetap di sana sebagai sistem pertahanan diri. Portal ini berfungsi sebagai benteng gaib; saat ada manusia yang berniat merusak hutan secara ugal-ugalan, para penjaga di portal pohon inilah yang akan memberikan “peringatan” secara energetik agar ekosistem tersebut tetap terjaga. Ternyata King Of Alit sendiri pernah punya pengalaman di salah satu wilayah, tentang Pohon yang bisa menjadi portal yang mempercepat waktu perjalanan ketia King singgah di sebuah area yang ditinggali oleh suku tertentu yang masih memelihara kearifan dan hutan mereka.
Lalu gimana dengan rumah-rumah yang nggak bernyawa? Nah, kalau pohon itu router yang masih nyala, rumah itu ibarat baterai cadangan yang penuh dengan residu energi. Misal kita sebut aja bangunan yang sudah lama ditinggalkan biasanya menyimpan sisa-sisa emosi atau memori yang sangat pekat dari penghuni sebelumnya. Nah, energi sisa ini jadi bahan bakar yang bikin dinding antar dimensi di sana jadi sangat tipis. Rumah yang gelap dan sunyi punya “gangguan sinyal” yang minim, beda banget sama mal atau perkantoran yang penuh radiasi gawai, dan energi manusia yang aktif, makanya makhluk astral jauh lebih nyaman “nge-link” di sana karena frekuensinya lebih sinkron.
Kondisi ini menciptakan apa yang kita sebut sebagai Dimensi Transisi, yang aku suka singgung ditulisan-tulisanku yang lain, yaitu sebuah zona di mana frekuensi dunia kita dan dunia mereka saling tumpang tindih dengan sangat rapat. Portal di sini bukan lubang hitam yang menghisap orang, melainkan titik anomali di mana vibrasi kedua dunia ini hampir sama persis. Pohon besar yang menyerap energi bumi dalam jumlah besar secara alami menciptakan “celah” di layer realitas. Di titik inilah, makhluk astral bisa dengan mudah melakukan interaksi atau sekadar menampakkan diri sekelebat, karena mereka nggak butuh banyak power buat menyesuaikan frekuensi mereka ke mata kita.
Seringkali kita langsung parno dan menganggap keberadaan mereka sebagai gangguan. Padahal, kalau kita lihat pakai kacamata yang lebih luwes ini ya, itu cuma soal strategi “hunian” secara energetik. Menjaga pohon besar atau bangunan tua bersejarah yang masih ada sebenarnya adalah bentuk memelihara titik port yang menjaga stabilitas energi di lingkungan tersebut. Kalau ‘pohon portal’ ini ditebang sembarangan, para “penghuni” ini bakal kehilangan sinyal dan jadi sampah energi. Akibatnya, frekuensi mereka yang berantakan bisa memengaruhi suasana lingkungan bahkan suasana hati atau mental orang-orang di sekitarnya secara nggak sadar.
Dunia kita ini isinya nggak cuma soal apa yang kelihatan ama mata, tapi soal bagaimana lapisan-lapisan sinyal ini saling mengisi. Memahami kalau pohon besar dan rumah-rumah adalah “pemancar” bagi mereka bikin kita jadi lebih bijak dan nggak gampang kagetan. Kita berbagi ruang yang sama, cuma beda cara aksesnya aja. Tetaplah jadi manusia yang mau berfikir dan menganalisa, karena di balik setiap rimbunnya dahan atau sunyinya tembok-tembok bangunan, ada teknologi semesta yang sedang bekerja menjaga agar frekuensi kehidupan kita tetap seimbang.

BING ID: lovelie_light
✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀
