Perjalananku di sini bermula dari sebuah titik jenuh yang hampir meledak. Aku pernah berada tersesat di sebuah ekosistem yang seharusnya jadi tempat berbagi, tapi malah terasa seperti penjara mental. Di sana, aku dipaksa memakai topeng yang bukan milikku. Aku dipaksa menjadi orang lain, terseret dalam arus narasi fiksi yang melelahkan dan penuh kepalsuan. Jiwaku berontak, pride**-ku sebagai manusia yang merdeka merasa terhina!**
Aku ingat betul rasanya ketika kejujuran menjadi barang mahal. Saat itu, aku cuma punya dua pilihan, tetap bertahan dan pelan-pelan kehilangan jati diri, atau pergi keluar dan mencari udara segar. Aku memilih yang kedua. Aku memutuskan untuk hengkang, mengangkat kaki dari segala hiruk-pikuk drama yang nggak masuk akal itu, dan mencari sudut lain di Quora yang lebih “manusiawi”.
Aku cuma pengen kedamaian. Sesederhana itu. Aku pengen tempat di mana aku bisa bicara tanpa takut salah naskah, tempat di mana spiritualitas nggak dijadikan alat untuk memanipulasi realita. Aku mencari ruang yang jujur, tanpa narasi halu yang dipaksakan. Ternyata, keputusan untuk pergi adalah gerbang menuju takdir yang jauh lebih besar.

BING ID: lovelie_light
Tuhan emang nggak pernah tidur. Di saat aku merasa “sendirian” setelah keluar dari ekosistem yg berantakan itu, aku justru dipertemukan dengan orang-orang yang frekuensinya benar-benar sinkron. Bukan orang-orang yang jago akting, tapi mereka yang bisa diajak kompromi dan punya konsistensi luar biasa untuk membangun sesuatu yang sehat. Dari sinilah, embrio Sekala Niskala Universe (SNU) mulai berdenyut.
Ada empat pilar utama yang berdiri di sini ada King Of Alit — Wisanggeni — Cindy Delviana — dan terakhir adalah Anak Koplak yang dianggap ‘Gila’ oleh ekosistem Quora, yaitu Aku . Kami berempat bukan cuma sekadar “pengelola”, tapi kawan seperjalanan yang punya visi yang sama, menciptakan ekosistem yang menyembuhkan, bukan yang menyakitkan. Kami ingin sebuah ruang di mana setiap orang bisa jadi dirinya sendiri tanpa perlu merasa dihakimi, atau disesatkan narasi yg gak berdasar.
Kami mulai menggodog banyak konsep secara bersama-sama. Diskusi kami itu ibarat kawah candradimuka, panas, dalam, tapi penuh gizi. Nggak ada ego yang lebih tinggi di antara kami. Semua ide dilempar ke meja, dibedah, dan diramu sedemikian rupa sampai benar-benar matang sebelum disuguhkan ke publik di bawah bendera SNU.
Salah satu hasil dari “dapur” kami adalah Aramsa. Kamu mungkin kenal ini sebagai artisan parfum produk orisinal SNU, tapi buat kami, Aramsa adalah simbol. Ia adalah wujud nyata dari kolaborasi energi yang kami berempat kelola dengan koneksi yang baik. Sebuah aroma yang diciptakan untuk menyentuh sisi niskala manusia, mengingatkan mereka pada ketenangan yang hakiki.
Membangun SNU bareng Kawan-kawan disini itu rasanya seperti pulang ke rumah.
Aku nggak butuh narasi fiksi buat kelihatan hebat. Aku merasa kami di SNU ini cukup menjadi nyata. Kami membangun ekosistem yang fokus pada kekuatan dan saling membantu satu sama lain, karena kami tahu rasanya “sakit” akibat lingkungan yang beracun.
Sekarang, SNU sudah berdiri tegak sebagai ruang yang autentik. Ini adalah bentuk perlawanan manisku terhadap masa lalu, yang penuh penyesalan. Sebuah bukti bahwa ketika kita berani meninggalkan apa yang palsu, semesta akan membukakan jalan menuju mereka yang benar-benar nyata. Dan tarian ini baru saja dimulai. 😊✨
✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀
