Sebuah ajaran Jawa yang selalu menekankan untuk melihat seseorang, “dari bibit, bebet, dan bobot”, sering kali jadi panutan. Namun tidak jarang juga jadi bahan guyonan dan tertawaan, tahun segini masih pake pemikiran itu ? Udah lawas itu dan vintage.
Tapi kandungan filosofis di dalamnya mungkin yang belum sampai pada generasi anak-anak jaman sekarang ini.
Bahkan anak saya sendiri, masih menganggap ajaran dan filosofi itu sebagai sebuah penglihatan fisik. Melihat siapa orang tuanya, melihat status sosial ekonominya dan melihat kepribadian serta pendidikan orangnya.
Padahal makna nya jauhhhhh sekali dari penglihatan secara fisik.
Hari ini, saya mau coba diskusikan tentang ini. Karena kemarin waktu Lebaran, ada teman-teman anak saya yang berkunjung dan silaturahmi ke rumah, dan kami ngobrol2 panjang tentang hal ini. Senang masih ada remaja seusia anak saya, yang usianya masih 20-24 tahun, dan masih punya concern tentang membahas sebuah filosofi ajaran kuno.

Kita mulai ya.
Menilai manusia secara utuh.
Kalau ditanya tentang menilai manusia secara utuh, diri saya pasti bilang akan lihat dari 3 sisi. Yang tidak harus ketiganya, tergantung relationship nya mau sejauh apa dan selama apa. Untuk yang relasi singkat & jarang-jarang berhubungan, nggak ada salahnya kok kalau dari 1 sisi aja. Untuk yang berhubungan lebih sering dan sering ketemu, nggak ada salahnya hanya dari 2 sisi.
Tapi untuk yang punya potensi untuk berhubungan / relasi lebih panjang lagi, maka 3 sisi ini yang akan saya lihat.
Yang pertama pastinya potensi yang dimiliki oleh orangnya (Bobot).
Ini bukan tentang pendidikan, bukan tentang adab, bukan tentang sopan santun saja. Tapi mencoba masuk sampai ke hal yang tidak bisa dilihat.
Mengharapkan orangnya punya empati yang tinggi, tidak bisa mengharapkan orangnya nggak gampang baper, nggak gampang sedih, nggak gampang kecewa.
Mengharapkan orang yg punya wibawa tinggi, nggak bisa tanpa merasakan kesombongan orangnya, susah diatur, sulit dikasih tau.
Mengharapkan orang yang energik, mudah diatur dan mau bekerja keras, tidak bisa tanpa kondisi emosi yang meluap-luap.
Ini semua tentang karakter yang dimiliki oleh orangnya. Ketika karakter yang diinginkan oleh saya, tapi sebuah kondisi dimana karakter yang baik akan datang bersamaan dengan yang dinilai kurang baik. Dan itu ada di dalam 1 orang, bukan terbagi-bagi / terkotak-kotak dengan jelas.
Yang kedua adalah kesadaran & pola pikir yang dimiliki oleh orangnya. (Bebet)
Yang ini sama sekali bukan tentang status sosial & ekonomi. Banyak kok orang yg status sosial nya tinggi, tapi perilaku nya mirip sama perilaku segmen yang lebih rendah dari statusnya. Atau kebalikannya, banyak juga orang yang status ekonominya rendah, tapi perilakunya sama dengan orang-orang yang status ekonominya jauh lebih tinggi dari dirinya.
Semua bukan tentang yang Sekala saja, tapi ini tentang yang Niskala juga.
Ini adalah tentang pola pemikiran orangnya, yang nanti menunjukkan kesadarannya.
Orang yang pola pikirnya menomorsatukan orang lain, pasti beda pemikirannya sama orang yang menomorsatukan dirinya / kelompoknya. Orang yang memprioritaskan sisi komersil, pasti beda dengan orang yang memprioritaskan membantu orang lain.
Karena kalau sisi yang ini, tidak bisa seimbang dari diri orangnya sendiri. Tapi harus diseimbangkan dari orang lain. Misalnya, tidak bisa dalam sebuah kantor, semua orang pola pikirnya jangka panjang semua, dan pandai untuk membuat sebuah konsep. Tetap membutuhkan orang-orang yg punya pola pikir lebih pendek lagi dan mampu untuk melakukan pekerjaan praktikal atau kesibukan sehari-hari.
Keseimbangannya dicari dari orang-orang di sebelahnya, bukan di dalam dirinya sendiri kalau soal pola pemikiran ini.
Berikutnya yang terakhir adalah soal garis keturunan (Bibit)
Ini bukan sekedar siapa orang tuanya aja soalnya, dan bagaimana status ekonomi mereka dan bagaimana pendirikan mereka terhadap anak keturunannya.
Tapi ini soal DNA yang terbawa, yang kalau masih mengawang-awang juga rasanya, mungkin bisa diterjemahkan pada: ini tentang karma yang dibawa melalui jalan darahnya.
Karena mau nggak mau, untuk sebuah hubungan jangka panjang sekali, ini akan punya pengaruhnya dalam kehidupan.
Kira-kira begitu cara melihat secara lengkapnya.
Tujuan tulisan ini, hanya sebagai share bahwa tidak apa-apa untuk melihat dari 1 sisi saja, selama relasi nya tidak untuk jangka panjang. Untuk relasi jangka menengah, saya pribadi sih menyarankan untuk melihat orang lain dari 2 sisi. Dan untuk jangka panjang sekali, bisa menggunakan 3 sisi, agar terlihat lebih lengkap lagi.
Semoga bisa tergambar.
Cheers,