Hai Kawans Sekala Niskala, udah lama nggak nulis-nulis lagi di Ruang Sekala Niskala jadi hari ini mau coba share lagi tentang sesuatu..yang kepikiran adalah tentang afirmasi.

shrdkp account at Pinterest
Karena afirmasi itu banyak yang bilang itu adalah pernyataan, harus diungkapkan dengan kata-kata. Bentuknya adalah sebuah kebiasaan untuk berkata kepada diri sendiri, mengenai hal-hal yang positif. Seperti misalnya setiap bangun pagi, mengatakan kepada diri sendiri bahwa kamu cantik/ganteng, kamu bisa, kamu sanggup, kamu mampu, dan lain-lain.
Bisa kok begitu..bisa banget…
Cuma, harus dilihat dulu esensi lengkapnya dari sebuah afirmasi, karena pada dasarnya afirmasi itu bukan hanya sekedar kata-kata loh. Betul dan bisa dibangkitkan dengan kata-kata, tapi esensi awalnya afirmasi itu adalah sebuah cara berkomunikasi. Lengkapnya : bentuk komunikasi antara pikiran alam sadar dan pikiran alam sadar.
Yang seperti kita tahu sama-sama, kalau cara komunikasi itu nggak cuma pakai kata-kata aja kan ? Bisa pakai gambar, bisa pakai simbol, dan yang terakhir yang menyeluruh, bisa pakai “rasa”.
Seperti komunikasi yang dilakukan oleh pecinta binatang, ibu dan bapak dari para anabul sekalian, biasanya berkomunikasi pakai rasa. Bisa tiba-tiba ngobrol dengan anabulnya, keluarnya pakai kata-kata sih, tapi dibalas dengan gonggongan atau meongan. Tapi komunikasi tetap jalan dan seakan bisa dialog dua arah. Atau ketika seorang Ibu berkomunikasi dengan dedek bayinya yang baru lahir, yang hanya bisa menangis. Semua pakai rasa dalam komunikasinya.
Mau dipercaya atau nggak, tapi metode ini sudah dijalankan kok sejak manusia ada.
Terus apa hubungannya dengan afirmasi ?
Afirmasi juga sama kok, bisa pakai kata-kata untuk yang paling mudahnya, karena memang itu bentuk komunikasi yang paling mudah untuk manusia biasa. Bisa pakai gambar / visual, bisa pakai simbol. Tapi semuanya tetap akan terasa kurang lengkap tanpa adanya rasa.
Misalnya, membuat afirmasi positif supaya kita sehat setiap hari pakai kata-kata. Susah loh buat detilnya, beneran deh. Udah pernah ada yang coba ?
Misalnya afirmasi begini : Kamu sehat, bahagia (lah kok ada bahagia ?), badanmu kuat (bentar, ini kuat fisik atau mental nih ? ), segala penyakit akan susah hinggap di badanmu (ini penyakit fisik atau mental nih ?), badan kamu fit dan segar terus (nanti kalau terus-terusan segar, jadi susah tidur dong ? ).
Contoh dalam kurung di atas, adalah sebuah bayangan betapa susahnya mendeskripsikan sebuah keinginan, dengan detil dan seksama.
Sama seperti mendeskripsikan rasa sebuah masakan. Jadinya akan begini kalau pakai kata-kata : rasanya gurih, ada sedikit manisnya, wangi-wangi jahenya kerasa, kuahnya ngaldu banget, enaknya kayak mau meninggoy. Halah…begitu lah yang sering dideskripsikan oleh para food blogger, yang bikin di dalam bayangan kita sudah tercipa sebuah rasa masakan, tapi padahal aslinya belum tentu begitu rasa masakannya.
Karena yang paling pas untuk menggambarkan itu, adalah pakai rasa. Hadirkan saja makanannya, dan disantap bersama-sama…ya seperti itulah rasanya yang akurat.
Sama seperti pada afirmasi..
Ketika memberikan afirmasi positif ke diri sendiri, rasakan hal itu. Kalau tentang afirmasi untuk jadi sehat misalnya, rasakan sehat itu bagaimana rasanya.
Di badan bagaimana, di lidah bagaimana, di telinga bagaimana, di mulut bagaimana..penuhkan rasa di semua indera yang ada, plus ditambah di dalam diri yang berupa sebuah feeling / rasa. Gambarkan saja definisimu tentang “menjadi sehat” itu bagaimana. Badan jadi seperti apa, apa yang akan dikatakan orang-orang di sekitarmu kalau melihat dirimu sehat, bagaimana rasa di lidah tentang menjadi sehat, bagaimana rasa menjadi sehat di kulit. Semua visualisasi itu bila sudah bisa disatukan dan terdefinisi, akan membentuk sebuah “rasa” yang baru, yaitu deskripsi mu tentang “menjadi sehat”.
Kalau ada yang sudah pernah baca buku “The Secret” nya Rhonda Byrne, nah itulah pendekatan paling pas soal rasa dan afirmasi ini..

TInggal nanti afirmasinya ini buat siapa, kalau buat diri sendiri soalnya lebih mudah. Karena afirmasi adalah sebuah “bentuk komunikasi”, jadi alurnya hanya tentang berkomunikasi dengan diri sendiri.
Tapi kalau berhubungan dengan yang ada di luar diri sendiri..ini perlu sebuah koneksi..
Iya, doa juga perlu afirmasi, terutama ketika menginginkan sesuatu dan memohon tentang sesuatu. Tapi bukan cuma itu, ada hal lain yang dibutuhkan dalam berdoa selain afirmasi, yaitu koneksi.
Doa kemana saja ya maksudnya, tidak hanya kepada Sang Pencipta, tapi juga ketika mendoakan orang lain.
Ibarat jaringan internet, harus ada koneksinya dulu, baru bisa bertukar informasi dan melakukan dialog. Tanpa koneksi, bentuknya hanya jadi sebuah rasa untuk diri sendiri.
Nah, senangnya dengan Kawans di Sekala Niskala ini, mulai minggu kemarin sudah mulai ada Kelas Meditasi yang lebih advance. Ketika sudah membuka koneksi di acara meditasi bareng, senangnya adalah ternyata banyak Kawans yang mengalami kemajuan dan mendapat benefit dari acara tersebut. Serta mulai ada keinginan untuk lebih dalam lagi dalam merasakan benefit meditasinya, oleh karena itu Sekala Niskala coba untuk mengakomodir hal itu dengan membuka sesi Kelas tersendiri yang lebih advance.
Serunya adalah, ternyata pekerjaan untuk membuat koneksi sudah terlampaui, dan banyak kawans yang sudah terkoneksi di sesi meditasi bareng setiap hari Senin malam. Sehingga ketika sudah ada koneksi, lebih mudah memberikan afirmasi kepada orang lain, ataupun ketika melakukan doa bersama.
Dear Kawans Sekala Niskala, minggu depan di Kelas Meditas yang lebih advance, kita mulai belajar membuat sebuah afirmasi ya.
Terima kasih juga atas segala penghargaan dan apresiasi dari teman-teman semua, kami pun senang berbagi energi dan koneksi bersama Kawans Sekala Niskala sekalian.
Cheers,