Hai Kawans Sekala Niskala, ngobrol lagi yuk tentang kehidupan ini ? Ada yang menarik yang bisa kita obrolin nih..yaitu tentang dari mana asal bahagia yang dirasakan di dalam dirimu..
Biasa, kalau lagi punya topik aneh-aneh gini, adalah karena ada keresahan dalam diri. Seperti di minggu ini, kerasanya banyak sekali yang diskusi tentang hal ini, tentang sebuah rasa, yaitu rasa bahagia. Dari mana asalnya rasa bahagia ini ?
Belum lagi ada pertanyaan yang saya jawab di Quora mengenai hal ini.
Kebetulan juga di minggu ini dalam kegiatan kelas meditasi advance, kami juga belajar mengenai kebahagiaan.
Beberapa peristiwa ini akhirnya menimbulkan sebuah dorongan untuk membuat tulisan mengenai dari mana sebenarnya asal dari kebahagiaan ini ?
Pikiran saya yang pendek dan nggak berkembang banyak ini, langsung mengacu kepada kebutuhan hidup manusia. Dalam bayangan saya, manusia akan bisa bahagia, bila sudah terpenuhi kebutuhan hidupnya, baik atas usaha sendiri ataupun di luar diri sendiri. Acuannya yang paling mudah, adalah skema piramida kebutuhan hidup dari Maslow

Zazzle account at Pinterest
Paling utama adalah kebutuhan fisik, seperti yang tergambar di atas, kebutuhan fisik yang terpenuhi bisa menimbulkan rasa bahagia. Cuma masalahnya adalah, di dalam memenuhi kebutuhan fisik ini, seringkali rasa bahagianya hanya sebentar dan tidak bertahan lama. Sesuai dengan namanya, kebutuhan fisik, badan kita akan terus menerus membutuhkan hal itu, ini yang membuat rasa bahagianya nggak bisa bertahan lama.
Kemudian sisanya masuk ke kebutuhan non fisik / mental. Dari mulai rasa aman, kebutuhan tentang cinta dan hubungannya, kebutuhan mengenai penghargaan dari orang lain, dan aktualisasi diri. Yang masuk ke dalam sisi non fisik ini lebih bisa bertahan lama rasa bahagianya, karena cenderung tidak terlalu sering dibutuhkan oleh diri .
Yang asyik itu adalah, perpaduan dari pemenuhan kebutuhan fisik dan mental dengan cara mengkombinasikan hal ini. Seperti misalnya, makan bersama keluarga, ini termasuk yang mengkombinasikan kedua kategori itu. Ada lah contoh yang lain, tapi kan nggak usah disebutkan ya, bisa dicari sendiri contoh-contoh yang lainnya tentang kombinasi ini..
Sisi manusia dan pikiran orang biasa saya berfokus kepada hal itu, dan selalu menganggap hal ini adalah sebuah jalan yang linear. Yang artinya harus memulai dari bawah dulu, kemudian semakin lama secara bertahap akan mulai naik perlahan dan satu demi satu meraih kebahagiaan.
Namun sisi spiritualitas dalam diri sering melawan pemikiran ini, dan mencoba-coba sendiri untuk tidak hanya menemukan kebahagiaan dalam diri dengan pemikiran yang linear dan urut, tapi dengan tidak urut. Dengan kata lain, mencoba berpikir di luar sistem, untuk mencoba menemukan rasa bahagia dengan tidak mengikuti aturan yang ada.
Salah satu hal yang saya temukan adalah soal berpuasa. Yang ternyata hal ini bisa melewati kebutuhan fisik yang ada, dengan konsekuensi tertentu pastinya, tetapi bukan tidak mungkin dan tidak bisa. Konsekuensi utamanya pasti merasa lapar dan haus, tapi toh setelah beberapa hari membiasakan diri, ternyata tubuh kita secara alami tidak segitu seringnya kok butuh makan. Bahkan sampai 24 jam pun tidak makan dan tidak minum, masih bisa menggunakan cadangan nutrisi di hari kemarin.
Hasilnya ? Justru kebutuhan yang lebih atas akan bisa tercapai juga, seperti rasa self esteem dan confidence, yang naik justru karena sudah melewati sebuah masa berpuasa. Meskipun nggak bisa lepas dari kebutuhan fisik, alias nggak bisa seumur hidup tanpa makan dan minum, tapi masih memungkinkan kok untuk diskip sejenak untuk mencapai yang lebih di atasnya lagi.
Dua jenis pemikiran ini dari sisi pikiran manusia biasa dan sisi spiritual saya, seakan bisa bercampur dan memulai untuk mencoba sesuatu lagi.
Dengan sebuah pemikiran di luar sistem yang ada, yaitu kebahagiaan itu adalah ketika bisa terpenuhi kebutuhannya, mencoba untuk merubah hal itu menjadi : kebahagiaan itu juga bisa ketika tidak merasakan kebutuhan itu sebagai sebuah keharusan. Yang seharusnya bisa terjadi di semua stage / level kebutuhan manusia, tidak hanya masalah kebutuhan fisik saja, melainkan kebutuhan mental juga.
Belum sampai ke sana, mungkin ini adalah salah satu perjalanan saya. Tapi memulai dengan langkah kecil seperti berpuasa adalah awal dari sebuah perjalanan panjang.
Di luar hal itu, yang jelas, untuk mendapatkan kebahagiaan untuk diri, bisa dimulai dari hal yang kecil. Makan yang enak dulu, berdandan, tidur yang cukup, olah raga yang teratur, itu bisa jadi langkah awal untuk mendapatkan kebahagiaan. Setelah itu merambah ke kebutuhan mental, mulai dari rasa aman, kebutuhan cinta , dan merambah ke atas.
Yang tidak bisa memenuhi hal itu, tidak usah terlalu kecewa dan jadi ovt, karena toh secara spiritual sebenarnya bisa dilewati kebutuhan-kebutuhan ini untuk mendapatkan rasa bahagia..seperti yang saya ceritakan di atas.
Dengan kata lain, tidak ada alasan untuk tidak bisa bahagia..karena tidak hanya bisa diraih dengan memenuhi kebutuhannya saja, tapi juga bisa dilampaui dengan menghilangkan kebutuhan itu dengan sebuah langkah kecil.
Inti dari alinea di atas adalah sesederhana : “bersyukur”, bahwa sudah ada di posisi sekarang dan mendapatkan pengalaman hidup seperti sekarang.
Cheers,