Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

Ruang tak bernama, namun terasa,. Sekuel dari kisah lalu,.. https://sekalaniskalauniverse.quora.com/Hikayat-Kerajaan-Sangkan-Nenggala-Prambudi-Jayapangus-Sang-Guru-Besar-Part-4-dari-7 “Pak Guru Besar, boleh kah saya minta ditunjukkan mengenai beber

Ruang tak bernama, namun terasa,. Sekuel dari kisah lalu,.. “ Pak Guru Besar , boleh kah saya minta ditunjukkan mengenai beberapa pengetahuan yang sed...

lovelie-light 5 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel Ruang tak bernama, namun terasa,. Sekuel dari kisah lalu,.. https://sekalaniskalauniverse.quora.com/Hikayat-Kerajaan-Sangkan-Nenggala-Prambudi-Jayapangus-Sang-Guru-Besar-Part-4-dari-7 “Pak Guru Besar, boleh kah saya minta ditunjukkan mengenai beber

Ruang tak bernama, namun terasa,.

Sekuel dari kisah lalu,..

Pak Guru Besar, boleh kah saya minta ditunjukkan mengenai beberapa pengetahuan yang sedang saya cari ? “Boleh Dewi Anna, silahkan, mari saya antarkan ke Perpustakaan kami, tempat dimana kami mencatat semua pengetahuan dan mengarsipkannya. “, jawab Prambudi Jayapangus. “Aku dapaaaat apa yang aku cari”,. kata Dewi Anna sambil menunjukkan catatannya ke arah rombongan Begawan Belawan saat mengunjungi perguruan Prambudi Jayapangus. Perjalanan para perintis Kerajaan Sangkan Nenggala,pun berlanjut ke berbagai tempat untuk menemukan “calon Raja” yang kelak jadi tumpuan yang mengajarkan kebajikan bagi rakyatnya.

Hmmmmm,..“Semoga perjalanan mereka menemui apa yang mereka cari??!! Gumam Guru besar lirih, terdengar oleh salah satu muridnya “Mada Setta” yang dari tadi mengemasi gelas minuman bekas rombongan Begawan Belawan setelah berpamitan. “Guru,.. Siapakah gerangan mereka” ?? tanya murid itu dengan nada penasaran.

Sang Guru besar terdiam, lantas… “Sebenarnya, aku tidak begitu mengenal jelas asal-usul mereka, sama halnya mereka juga tidak jelas mengenalku,.. Jawabnya singkat.

Seketika sang murid berhenti mengelap meja ruangan dan menatap gurunya dg tajam!!

“tetapi dalam sebuah perjalanan, kadangkala kita dipertemukan dengan orang-orang yang se frekuensi dengan kita”,. lanjut Guru besar sambil melangkah pergi menuju ruang terbuka dipenuhi rumput ilalang liar di halaman samping Padepokan,.

Maksudnya guru,.?? Tanya sang murid sambil berjalan mengikuti gurunya dari belakang.

Apakah mereka semua orang baik?

Tidakkah mereka sebenarnya sedang mengintai perguruan kita?

Guru,. kedatangan mereka sangat mendadak dan penampilannya seperti pembesar kerajaan!! Tidakkah guru menaruh curiga?? desak tanya sang murid berlanjut dengan tampang berani,.

“Jika suatu saat kerajaan mereka terbentuk,.” Itu bisa jadi ancaman keberadaan padepokan ini, guru? dengan sorot mata kesal, sang murid mulai menyiratkan rasa amarahnya,.

Karena tak juga segera mendapatkan suara jawaban dari gurunya. Dia mendekati gurunya yang masih berdiri diam menatap alam luas sisi padepokan … Sang Guru Besar pun tersenyum, “tiba saatnya, anak ini butuh ilmu kehidupan dan budi pekerti, “gumam nya dalam hati.

Mada Setta adalah seorang murid yang tergolong baru. Usianya masih belasan tahun, dia anak seorang bangsawan ternama dari negeri di Timur Selatan. Sebagai calon ksatria, di perguruan ini dia menimba ilmu untuk beberapa tahun kemudian…

image

Sang Murid yang pemberani ini mendekati Guru Besar lagi,.. mengajukan pertanyaan terpendamn memecah keheningan sore. Sebuah waktu tepat,. dimana berkumpul peningkatan energi.

Guru besar menarik nafas panjang, sembari menatap muridnya yang dari tadi penuh harap sebuah jawaban. Lantas terjadilah sebuah diskusi sederhana di pelataran padepokan,..

Murid : Guru kenapa hatiku kadang mudah dipenuhi rasa marah?

Guru : Karena kamu membiarkan api dalam diri membakar, bukan menghangatkan..

Murid : Bagaimana aku bisa menenangkan api itu?

Guru : Beri dia udara kesadaran bukan bensin pembalasan.

Murid : Lalu apa yang harus kulakukan saat amarahku memuncak

Guru : Diam, Tarik nafas dalam, biarkan kata-kata tertahan sampai bening Kembali

Murid : Tapi guru, bagaimana jika pikiranku terus berputar pada hal buruk?

Guru : Arahkan pikiranmu pada satu hal baik, sekecil apapun itu agar menjadi jangkar

Murid : Apakah energi negatif bisa diubah begitu saja, guru?

Guru : Bisa, jika kamu mau melihatnya sebagai bahan bakar untuk bertumbuh, bukan alas an untuk runtuh

Murid : Bagaimana mengubah luka menjadi kekuatan?

Guru : Dengan mengijinkan luka itu mengajarimu menjadi empati yang tak bisa diajarkan oleh buku,, atau bahkan orang diluar dirimu atau bahkan oleh gurumu,..

Murid : Bagaimana jika kebencian sudah terlanjur tertanam mendalam?

Guru : Siramilah dengan pengertian, agar akarnya pelan-pelan melemah dan mati

Murid : Guru mengapa orang yang baik sering disakiti?

Guru : Karena dunia ini masih belajar membalas kebaikan dengan kebaikan

Murid : Maksudnya guru?

Guru : Jadikan segala sesuatu itu tanpa syarat

Murid : Apa yang bisa kulakukan saat kecewa?

Guru : Jadikan kecewa sebagai penanda bahwa hatimu masih hidup dan mampu merasakan

Murid : Apakah semua rasa sakit harus di terima guru?

Guru : Tidak semua,.. tapi yang bisa dihindari harus diubah menjadi hikmah dan pembelajaran

Mada Setta sang pembelajar inipun terdiam. Jawaban singkat gurunya mengisi ruang kosong pikirannya selama ini.

image

Guru Besar Jayapangus kemudia perlahan berjalan pergi meninggalkan tempat itu, namun sang murid tetap mengejar mengikutinya,..

“Guru,.. satu hal lagi,. Maafkan aku jika lancang bertanya”,.. “Apa yang Guru berikan kepada Dewi Ana dari perpustakaan, siang tadi.. catatan apakah itu??

Sang Guru Besar terperanjat dan tetap mengendalikan keheranannya,. “ohh,. Itu sebuah catatan kecil untuk pemula di padepokan ini” “ Sebuah afirmasi bagi pemula, bagi murid muda sepertimu,. Apa kamu ingin mengetahui juga??

Murid : “tentang apa,. Guru?? Apakah aku boleh juga mengetahuinya saat ini,.

Guru : “yaa,.. tentu saja boleh”,.. sambil menunjuk sebuah tempat di lokasi tumpukan catatan terdepan rak tua dari bambu,,.. “carilah,.. dan ambilah kesana “ disana ada beberapa kertas dan lembaran yang sama dengan yang di terima Dewi Ana,. Ujar sang guru sambil melangkah pergi.

Mada Setta berjalan cepat ke tempat kertas itu, sampai akhirnya mendapati kertas yang dimaksud oleh gurunya. Sebuah kertas tua kusam tertulis dengan tinta lama, namun masih tajam untuk dibaca.. Dengan lirih dia membacakan tulisan itu,..

Tertulis di kalimat pembuka kertas itu : “Ini hanya afirmasi sederhana, abaikan jika tidak perlu,. Ini hanya kisi,. karena yang terbaik hanya yang lahir dari dirimu sendiri mendalam,..

Mada Setta membacakan kertas itu lirih :

Aku.. ( sebutkan namamu dengan mendalam)

ikhlas, bersyukur dan berserah

atas semua hal dalam hidupku

aku selaras dengan cahaya-Illahi

bercahaya penuh kasih sayang

mengalir selaras dengan alam semesta

aku hadir disini, saat ini, sekarang

tak terikat masa lalu, tak cemas masa depan

menuju diri bathin yang lebih tinggi

aku adalah kesadaran yang menyaksikan

bukan tubuh, pikiran, emosi atau perasaan

aku KEPALA, BUKAN EKOR

aku meletakkan urusan duniawi di tangan

bathinku hanya tentang Tuhan

aku tidak menggengam dan khawatir apapun

aku bahagia dan pencipta rasa bahagiaku sendiri

aku netral, rela, menerima dengan akal budi

cinta dan Suka cita yang penuh damai

Tuhan “tempatnya Rahsa”

aku tahu cara bersyukur

dan aku tahu cara berterimakasih

aku pencipta surgaku sendiri

Matahari sore itu berlahan pergi dan tenggelam di ufuk barat,. Mada Setta berlari tergesa menyalakan lentera-lentera ruangan sebagai tugas nya sehari-harinya sambil menggenggam kertas itu.

Murid-murid perguruan tampak satu persatu berjalan menuju aula sederhana di tengah bangunan untuk persiapan belajar dengan duduk ber sap-sap rapi,.

Pelajaran malam ini adalah “aqidatul ‘awam” sebuah kitab klasik ilmu tauhid berbentuk syair, gurindam atau nazham “untuk orang-orang awam”

Hari demi hari berlalu,. semua berjalan mengalir tanpa kesimpulan. Tak ada harta karun yang perlu dicari dalam menapaki perjalanan hidup ini. Sejak Langkah pertama, atau saat menapaki perjalanan atau apa saja yang kamu temui di perjalanan,.. itulah “Harta karun yang sesungguhnya”,. “

Bersambung -

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar