Selamat siang Kawans Sekala Niskala, siang ini mau coba ngobrol dan membahas mengenai salah satu cara mengenali tipe manusia. Buat yang pengen tahu, atau mungkin bahkan punya keresahan di topik ini, silahkan diikuti alurnya sampai habis dan dicomment juga boleh. Buat yang nggak percaya, juga nggak apa-apa, silahkan disudahi membacanya dan nggak perlu diskusi panjang-panjang.
Anggap saja kita berbeda point of view.
Seperti mungkin teman-teman sudah tahu, bahwa banyak cara dan metode manusia untuk mengetahui tipe dan karakter manusia lainnya. Ada yang menggunakan cara-cara keilmuan, ada yang menggunakan cara observasi sendiri, ada yang menilai dari gerak-geriknya, ataupun cara lainnya.
Ada yang menilai dari tanggal lahirnya, dengan perhitungan tertentu, seperti weton, shio, zodiac. Ada yang observasi seperti MBTI. Ada yang menggunakan metode lain dengan menggolongkan kepribadian seseorang berdasarkan plegmatis, melankolis, sanguinis dan koleris. Atau cara lainnya.
Ada yang menggunakan metode kombinasi di antara semua nya.
Yang buat diri saya secara pribadi, semua metode itu selalu ingin saya ketahui dan selalu ingin tahu. Karena keinginan itu, maka saya selalu menganggap semua metode yang ada itu tidak 100% benar tapi juga tidak 100% salah juga.
Masalahnya ada 2 di semua metode itu di atas..
Semuanya mengkhususkan untuk melihat manusia dari sisi karakter ataupun sifatnya, dari sejak lahir, atau sampai di masa sekarang.
Ini menjadikan analisa setahun yang lalu, bisa memiliki kemungkinan tidak relevan lagi di masa sekarang, apalagi kalau sudah banyak mengalami perubahan sifat dan karakter karena sesuatu hal. Ya kan ? Peristiwa yang dialami oleh manusianya semasa hidupnya pun pasti akan mempengaruhi sifat dan karakter manusia.
Tapi kan masih ada yang sama ? Betul kok, pasti, pasti masih ada yang sama semua karakter dan sifat nya. Tapi menjadikan keakuratannya jadi semakin rendah, karena perubahan yang ada di dalam diri manusianya.
Capek nggak sih kalau terus-terusan dianalisa dan diukur setiap waktu ? Untuk menjaga keakuratannya…jadi terasa membuang energi dan waktu hanya untuk hal itu saja.
Karena sebenarnya yang diperlukan sesungguhnya bukan mengetahui mengenai karakter ataupun sifat manusianya. Hal itu bisa berubah kok, seiring dengan perjalanan manusianya dalam menjalani kehidupan ini dan menemui pengalaman-pengalaman baru.
Apalagi banyak orang yang ingin menjadi orang lain. Mengukur segala sifat dan karakternya dengan satu tujuan, untuk menjadi orang lain. Sebuah keberuntungan apabila orang yang dituju dan dijadikan idola itu cocok dengan dirinya, sehingga menjadi orang lain akan menjadikan dirinya lebih baik lagi. Tapi apa semua orang akan seberuntung itu ? Kan pasti jawabannya nggak.
Belum lagi ditambah banyaknya informasi yang masuk di era sekarang ini, yang menjadikan banyak norma di masyarakat pun menjadi berubah. Bukan lagi sebuah norma yang pasti, tapi menjadikannya trend, yang sifatnya tidak pasti, tapi akan berubah sesuai dengan kebutuhan jaman.
Perubahan-perubahan ini yang terkadang membuat lelah diri sendiri, untuk menggapai sebuah titik yang pada ujungnya menjadikan diri seperti orang lain.
Mengapa tidak menjadi diri sendiri ? Yang memang pada dasarnya setiap orang unik dan berbeda dengan orang lain.
Seorang dalang terkemuka pernah bilang gini di sebuah tayangan.
Kalau kata Bapak Dalang di atas, itu adalah tentang kesadaran. Sekali lagi, ini bukan tentang agama, bukan tentang kasta, bukan tentang struktur sosial ataupun derajat seseorang, tapi tentang kesadaran yang dimiliki oleh orangnya.
Kenapa saya enggan mengurusi karakter dan sifat seseorang, karena itu bisa berubah. Bisa berganti, bisa hilang dan timbul lagi, bisa timbul dan hilang lagi. Kondisi yang tidak pasti ini bikin capek, karena bisa berubah-rubah.
Tapi mungkin saya lebih konsen kepada kesadaran yang dikatakan di atas. Kalau Beliau bilang itu kesadaran, saya menyebutnya sebagai sebuah pola pemikiran.
Mau nggak mau kita pasti akan punya pola pemikiran tertentu di dunia ini, yang sulit untuk berubah, karena sudah terpaku di dlaam manusianya. Sulit sekali merubah pola pikir itu, karena terbentuknya pun kita tidak tahu sama sekali asalnya dari mana, apakah sudah digariskan pada waktu lahir ? Atau melalui pengalaman hidup ? Atau melalui pelajaran-pelajaran yang didapat ? Atau lewat tradisi dan norma? Atau lewat ajaran agama ?
Sementara semua orang memiliki pola pemikiran, yang kemudian mereka gunakan sebagai referensi dalam pengambilan keputusan.
Itu sebabnya, keputusannya bisa kurang lebih mirip-mirip selama hidupnya.
Itu sebabnya, banyak orang yang beruntung di dalam hidupnya, karena membuat keputusan yang pas, dan pas lagi selama hidupnya. Dasarnya adalah pola pikir yang sama.
Atau kebalikannya, banyak orang yang tidak beruntung dalam hidupnya, karena membuat keputusan yang itu lagi dan itu lagi, yang merupakan keputusan yang salah. Karena memiliki pola pemikiran yang sama.
Tapi jangan tanyakan ke saya ya, bagaimana untuk mengetahui pola pikirnya…
Karena terus terang, saya enggan membagikan ini, karena sudah banyak catatan saya pribadi di dalam hal ini. Terlalu berharga buat saya secara pribadi kalau dibagikan kepada orang yang “hanya ingin tahu saja”.
Tapi yang jelas…maksud dari tulisan ini adalah…
Jangan terlalu fokus dengan ingin mendefinisikan karakter sendiri, karena akan berubah-rubah. Ya sekedar untuk panduan saja boleh kok, tapi jangan jadi pedoman utama.
Jangan terlalu ingin menjadi orang lain.. akan jadi buang-buang waktu, karena sejatinya dirinya sendiri adalah pribadi yang unik dan berbeda dengan orang lain.
Yang terakhir adalah..
Jadi lah seperti apa yang dinginkan oleh Pelukismu..dengan cara berperan sesuai dengan peran nya di dunia ini..

Webpreneurship Account At Pinterest
Cheers,