Hai Kawans Sekala Niskala, mau cerita sedikit nih tentang latar belakang dibikin nya Sportify nya Sekala Niskala. Ada yang udah sempat dengerin belum ? Ada pasti, tapi banyak yang belum juga.
Sedikit ke”trigger” dari acara ngobrol-ngobrol pake voice di Sekala Niskala kemarin, dan ada yang menanyakan, sebenarnya pengen cerita apa sih di Spotifynya Sekala Niskala ini. Jadi sekarang pengen coba untuk share latar belakang kenapa ada Spotify nya Sekala Niskala ini.
Satu hal adalah, sejak adanya Platform untuk bertukar suara dan ngobrol di Discord Sekala Niskala, jadi lebih banyak bisa berekspresi (selain dari platform berbentuk tulisan dan gambar di Quora).
Seringkali ada obrolan-obrolan malam dengan beberapa teman di channel voice Sekala Niskala, dan terasa banyak manfaatnya, tapi ya gitu, nggak bisa kita rekam dan kita publikasikan. Utamanya sih karena minimnya peralatan rekam yang bisa menghasilkan suara yang bagus dan enak didengarkan. Kalau merekam dari Discord sedang ngobrol2 langsung akan terasa nggak enak banget kualitasnya.
Tapi yang lebih utama lagi, karena banyak anggota yang memiliki kesibukan yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa ikut mendengarkan obrolan-obrolan yang ada. Tapi mereka ingin untuk bisa ikutan ngobrol, hanya saja waktunya tidak pas di tengah kesibukan yang ada.
Dari kebutuhan ini, muncul lah sebuah ide untuk membuat sebuah obrolan santai dan diupload di sebuah platform, untuk bisa didengarkan oleh orang lain.
Bentuknya Podcast ? Haduuuuh..siapa lah kami ini ? Sehingga banyak yang mau mendengarkan ?
Plus, yang mendengarkan juga jadi sempit sekali segmennya kalau isinya berupa sebuah obrolan ngalor ngidul, dari orang-orang yang bukan siapa-siapa pula lagi, kredentialnya nggak jelas.
Akan lebih banyak manfaatnya ketika dibuat dalam sebuah bentuk dongeng atau cerita. Karena masih banyak yang mau mendengarkan sebuah cerita atau dongeng, dibandingkan dengan mendengarkan obrolan yang ngalor ngidul nggak jelas.
Siapa yang akan bercerita ?
Ini yang menjadi sebuah pertimbanggan utama. Alasan utamanya karena setiap anggota hanyalah bagian dari sebuah komunitas, dan nggak semuanyah memiliki waktu lengang dan kemauan untuk berdongeng.
Jadi kami putuskan untuk menciptakan 2 orang tokoh virtual, yaitu Sekar dan Nindya.

Sekar*, anak gemes dan lucu, dengan fisik seperti anak usia 5–6 tahun. Tapi selalu memandang dunia dengan rasa yang naif dan lugu. Gabungan dua rasa ini, bisa membuat yang berinteraksi dengannya menjadi semakin gemas dan pandangannya selalu terasa polos serta jujur.*

Nindya*, seorang kakak penyayang, tapi memiliki pengetahuan yang luas mengenai segala sesuatu dalam dunia ini. Senang berpetualang, tetapi juga tetap memiliki naluri seorang kakak yang menjaga adiknya.*
Keduanya inilah yang nanti akan mewakili Sekala Niskala untuk menyampaikan cerita dan dongeng kepada teman-teman di sini.
Karena bisa jadi berubah rasanya bila ceritanya diutarakan oleh seorang tokoh virtual, sehingga rasanya menjadi sebuah dongeng.
Tapi sebenarnya apa sih yang mau diceritain ?
Banyak kok, karena ini nanti bentuknya adalah sebuah content, jadi nggak terbatas hanya satu cerita panjang saja. Melainkan banyak cerita dalam kehidupan, yang diwakilkan melalui kehidupan sehari-harinya Sekar dan Nindya.
Untuk saat ini mereka sedang bercerita banyak tentang rasa.
Sebuah perwujudan tokoh virtual yang memiliki fisik seperti anak kecil lah, yang membuat mereka lebih bebas mengungkapkan rasa mereka. Tanpa ada intensitas tersembunyi, tanpa ditutupi, dan bentuk rasa itu mereka dapat utarakan dengan bebas dan seperti aslinya.
Mulai dari episode 4, Asal Usul Miss “K” ketwa cekikian.
Ini adalah gambaran yang kami rasakan mengenai makhluk ini. Makhluk yang nggak jelas, nggak bisa diajak berkomunkasi dengan baik karena keabsurdan karakternya, iseng, jahil, dan punya tendensi yang sulit dirubah, yaitu untuk menakut-nakuti manusia.
Di sini, kami lebih peduli tentang rasa yang ingin kami bagikan. Sehingga semua rasa yang kami miliki tentang Miss K ini, itulah persepsi yang kami bagikan dalam cerita episode 4 ini.
Serunya adalah, ada teman di Sekala Niskala ini, yang ketika diberikan script / naskah mengenai episode 4, “Asal usul Miss “K” ketawa cekikikan”, tanpa briefing tanpa diatur-atur, beliau sudah bisa mencerminkan keabsurdan karakter Miss K ini di dalamnya. Coba rasakan sendiri deh karakter Miss K di episode ini.
Seru…
Tapi hati-hati ya, ini satu-satu episode di Sekala Niskala sejauh ini yang rated “R”. Jangan didengarkan bersama anak kecil. Bukan apa-apa..sudah ada 2 orang kenalan kami yang mengaku “trauma” mendengarkan episode ini. Bikin bayangan macam-macam di kepala, gitu katanya. Mereka cukup mendengarkan satu kali saja dan enggan nambah lagi
Episode 5, mengenai Wingit yang hilang.
Di sini kami mencoba menceritakan mengenai sebuah karakter lagi. Sebuah boneka kelinci hitam yang digendong oleh tokoh Sekar kemana-mana. Bagaimana rasanya bila kehilangan sesuatu yang sudah menemani setiap hari..? Itu interpretasi tentang rasa kehilangan yang kami bagikan.
Sementara teman-teman yang mengisi suara tokoh virtual Sekar dan Nindya, menerjemahkan rasa ini dengan baik sekal, terutama tokoh Mami Raya, yang memberi sentuhan keibuan, kasih sayang dan perlindungan.
Sementara 2 jempol untuk Sekar, yang nangis beneran waktu mengisi suaranya 😛
Episode 6, Banaspati.
Beginilah interpretasi kami mengenai sesosok makhluk penyendiri yang nggak mau diganggu sama sekali. Karakter antisosial dan menjauh dari kerumunan orang, serta tidak mau tahu urusan orang lain.
Di sini kami juga memberi sedikit gambaran, bahwa Sekar itu “bukan anak kecil biasa”, dari kekuatannya yang tidak terduga, yang bisa keluar ketika emosinya sedang naik. Persis seperti persepsi kami pada cerita kehidupan mengenai kekuatan ini, yang bisa memberikan banyak kekuatan pada manusianya. Tetapi, tetap ujung-ujungnya harus bisa dicontrol.
Episode 7, tentang Ngobrol Asyik Waktu Maghrib.
Ini sebenarnya bentuk podcast kami, semenjak ada acara nonton bareng film horor, ada beberapa film yang menarik perhatian kami. Dan kami diskusikan dari sudut pandang yang berbeda, bukan tentang filmnya, tetapi tentang cerita nya. Masih banyak sih ke depan film-film yang ingin bisa kami diskusikan lagi, terutama dari sisi penceritaannya.
Jadi kalau sebagian besar menilai sebuah film horor dari sudut pandang tertentu, kami mencoba membahas dari sisi kealamian kejadiannya. Akan terasa enak dan rapih sekali ketika ada yang mengerti mengenai apa sih kejadian sebenarnya ketika sebuah peristiwa horor itu terjadi ? Apa selanjutnya yang mungkin terjadi ? Penyelesaian seperti itu mungkin atau nggak ?
Tapi …. tetap saja formatnya adalah sebuah dongeng dari Sekar dan Nindya.
Episode 8, Trah Siliwangi.
Di sini kami berkisah mengenai penjaga dalam bayangan, atau pengawal yang tidak terlihat, yang memiliki wujud macan / harimau. Yang lucu lagi di dalam pengisian suaranya, meskipun tanpa briefing apa-apa, terasa enak banget obrolan dan dialog yang terjadi antara Sekar dengan sosok harimau jantan dan harimau betina di dalam episode ini.
Terima kasih kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktu, tenaga dan energinya untuk bisa berbagi rasa di dongeng Sekar dan Nindya ini.
Bentuk seperti sandiwara radio, dengan format seperti pada jaman dahulu kala ini, bikin kami bisa lebih bebas mengekspresikan apa yang kami rasakan, dan berbagi banyak cerita. Rasa nostalgia dengan format ini, dan kangen sama konsep “back to where everything is so simple”.
Terakhir, yang kami hadirkan di Spotify Sekala Niskala ini, ini adalah hiburan berupa kisah, dongeng dan cerita dari tokoh Sekar dan Nindya. Silahkan click Sekala Niskala Universe di Spotify, dengan ekspektasi sebuah dongeng hasil share kami di Ruang Sekala Niskala ini.
Cukup dengarkan dan nikmati saja rasanya.
Yeaaaaay sudah 8 episode aja, nggak kerasa sama sekali, terima kasih support dan dukungannya ya teman-teman semuaaa…
Selamat menikmati.