Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : ISI DIIKUTI TANDA TANYA CHAPTER 4 : LOMBA MENUJU KEMANUSIAAN. - Waroeng Podjok Mangkoes

Bayu segera tiba di Waroeng Podjok Mangkoes, dimana sudah terlihat 2 orang yang menunggu di samping Warung sambil merokok. Salah satunya adalah Godam,...

lovelie-light 18 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : ISI DIIKUTI TANDA TANYA CHAPTER 4 : LOMBA MENUJU KEMANUSIAAN. - Waroeng Podjok Mangkoes

Bayu segera tiba di Waroeng Podjok Mangkoes, dimana sudah terlihat 2 orang yang menunggu di samping Warung sambil merokok. Salah satunya adalah Godam, Sang OB andalan di kantor Bayu. Dan sebelahnya lagi tebakan Bayu adalah Dinu, Kakak Godam.

Bayu segera menghampiri mereka sambil menyapa, “Lhoh, kok nggak masuk ? Udah ketemu sama Mas Sakti ? “

Godam menyambut Bayu sambil mengulurkan tangan, dan menjawab, “Belum Mas Bay, nggak enak..kan belum kenal. Jadi kita nunggu Mas Bayu dulu di sini. “

“Udah lama Dam ? “

“Belum Mas, ini baru kok, belum juga selesai ngerokok sebatang.”, Godam menjawab, lalu memperkenalkan laki-laki di sampingnya. “Mas Bayu, kenalkan, ini DInu, kakak saya yang saya ceritakan kemarin. “

Bayu segera mengulurkan tangan dan jabatan tangannya disambut oleh Dinu.

“Saya Dinu Mas.”, nampak kekusutan dan pucat di raut muka Dinu, pertanda seorang yang sedang dilanda oleh banyak pemikiran dan sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

“Bayu. Godam udah banyak cerita tentang Mas Dinu. “, Bayu pun memperkenalkan diri, sambil mengajak mereka masuk ke Warung Mas Sakti.

Di dalam Warung, mereka bertiga duduk dengan tenang di kursi tamu Sakti. Setelah dikenalkan dengan Sakti dan dipersilahkan duduk, Godam dan Dinu tidak henti-hentinya memperhatikan ruangan yang adem di balik etalase warung ini. Mereka sama sekali tidak menyangka ada suasana yang begitu adem di balik sebuah etalase warung.

Tidak lama kemudian, Sakti muncul dari dapur dengan nampan berisi 4 cangkir kopi hitam, dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Kemudian meletakkan nampan itu di atas meja, dan Bayu pun membantu dengan membagikan cangkir-cangkir kopi itu kepada masing-masing orang.

“Silahkan loh, dinikmati dulu kopinya. Santai-santai aja di sini. Kalau mau merokok silahkan, kita ngobrol-ngobrol santai saja. “, Sakti mempersilahkan tamu-tamunya, sambil mengambil sebatang rokok dari kotaknya lalu perlahan membakarnya. Asap yang keluar dari batang rokok itupun segera memenuhi ruang tamu di balik etalase warung itu.

“Cerita aja Dam sama Mas Sakti. Mas Sakti ini temenku, dan dia udah dengar ceritamu mengenai Mas Dinu. “, ujar Bayu dengan tengang.

“Eh iya..jadi gini Mas Sakti. Terima kasih sekali suguhannya, dan sambutan hangatnya. Saya nggak nyangka suasananya seenak ini di balik etalase warungnya. “, ujar Godam sambil melihat-lihat sekitarnya. Rasa gugup dan takut-takut dari Godam dan Dinu, masih menyelimuti suasana malam itu.

Dinu yang nampak gelisah, hanya bisa menggaruk-garuk dan mengusap-usap kedua telapak tangannya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Dari gesturnya sudah bisa mencerminkan sebuah kegelisahan yang tinggi. Belum lagi lututnya yang bergerak naik turun dengan irama yang semakin cepat.

Melihat hal itu, Saktipun langsung bertanya kepada Godam. “Godam, kalau kamu mau mampir ke sini pas lagi lewat, silahkan loh. Kita bisa ngobrol-ngobrol santai. Tapi kayaknya, malam ini kakakmu lagi dalam kondisi yang nggak bisa santai. Jadi mungkin lebih baik kita skip aja nggak enak-nggak enakannya, jadi bisa langsung ke cerita permasalahnnya. “.

Godam agak kaget mendengar hal itu, tapi dia juga menyadari, bahwa memang persoalan yang sedang dihadapi oleh kakaknya cukup serius. Ini bikin kakaknya nyaris tidak bisa berpikir dengan jernih.

“Iya Mas Sakti, baiklah. Kalau begitu, biar Dinu aja yang bercerita. “, lanjut Godam sambil mencolek kaki kakaknya.

Dinu yang mendengar hal itu, nampak terkejut dan melotot ke arah Godam. Tapi daripada ditahan lama-lama masalahnya, lebih baik diutarakan sekarang, begitu pikir Dinu.

“Yakin Dam ? “, tanya Dinu perlahan, menunjukkan rasa ragu-ragu yang dimilikinya.

“Ya kecuali Mas Udin punya jalan keluar lain, bisa kita usahain bareng-bareng. Tapi kalau belum punya jalan keluarnya, kita bisa ceritain ke Mas Bayu dan Mas Sakti, barangkali bisa dipikirkan bareng-bareng kan ? “ Jawab Godam dengan nada agak tinggi, karena gemas melihat kakaknya yang ragu. .

“Kalo aku sih percaya sama Mas Bayu dan Mas Sakti kelihatannya orang baik kok Mas. “, Godam segera membenarkan nada bicaranya.

Mendengar hal itu, Sakti ikut ambil bagian menengahi, “ Ya sudah, santai-santai aja dulu di sini, kita ngobrol-ngobrol aja. Diminum dulu kopi nya Mas Dinu. “

“Terima kasih Mas.”, ujar Dinu sambil mengambil cangkir kopi dan menyeruput sedikit. Seketika ada rasa sedikit tenang di dalam kegugupan dan keragu-raguannya.

“Mas Dinu kerja di mana ? “, tanya Sakti sambil mengepulkan asap rokok.

“Di bengkel Mas, di bengkel motor. “, jawab DInu.

“Ooooo..dekat dari sini kah ? “, lanjut Sakti dengan pertanyaan berikutnya.

“Nggak terlalu Mas, lumayan kalau jalan kaki dari sini. Tapi kalau naik motor sih nggak sampai 15 menit. “, jawab Dinu. Suara Sakti seakan memberikan rasa tenang kepada Dinu, sehingga semakin lancar berbicara dan perlahan hilang kegugupannya.

“Banyak langganannya Mas Dinu ? “, tanya Sakti.

“Lumayan Mas. “, jawab Dinu.

“Kemarin ada yang benerin motornya di bengkel tempat saya kerja, Mas Sakti. Karena banyak yang harus dikerjain, motornya harus ditinggal dan nginep. Kebetulan pelanggannya juga pas mau keluar kota, jadi meskipun sudah selesai dikerjakan, tapi dititip dulu beberapa hari di bengkel. Sekalian biar ada yang jagain katanya, daripada di rumahnya, karena rumahnya lagi kosong beberapa hari itu. “

TIba-tiba saja Dinu mulai membuka cerita mengenai masalah yang dihadapinya. Nampaknya dia belum sadar betul bahwa kegugupan dan keragu-raguannya sudah menghilang, tapi Godam dan Bayu melihat hal itu, dan saling bertatap mata dengan penuh kode.

Memang beda pengaruh Mas Sakti terhadap orang lain. “, pikiran Bayu mengakui hal itu.

“Nah, masalah mulai muncul, karena teman-teman di bengkel suka ikut balap motor liar Mas Sakti. Nggak bisa lihat ada motor nganggur sebentar, sama mereka diulik-ulik motornya biar bisa kenceng. Saya sih menolak ikut-ikutan, karena takut sama konsekuensinya, motor titipan pelanggan soalnya. Saya coba bilangin ke mereka, tapi alasannya, nanti gampang dirubah lagi settingannya..gitu..”

“Terus…? Dipake motornya akhirnya ? “, tanya Sakti.

“Iya Mas. Cuma masalahnya, di malam balapan itu, mereka butuh satu orang montir lagi, buat jaga-jaga. Jadi dipaksa lah saya ikut, cuma buat cadangan katanya. Kalo ada apa-apa, biar bisa bantuin reparasi motornya. “, jawab Dinu bersemangat.

“Tabrakan motornya ? “, tanya Sakti perlahan.

“Nggak Mas. Tapi kalah di balapannya.”, ujar Dinu perlahan sambil menunduk.

“Dan mereka nggak bisa bayar taruhannya. Anak-anak bodoh itu rupanya taruhan, tapi nggak punya uang. Yakin dan berharap banget bisa menang..ampun deh..” Dinu menutup wajahnya, dengan gerakan membasuh, seakan menyesali apa yang sudah terjadi.

“Jadi motornya itu sampai sekarang diambil di tempat lawan taruhan mereka, sebagai ganti untuk taruhannya. “, Dinu melanjutkan ceritanya.

“Lhoooh..terus ? Diambil motornya ? Terus gimana ? Pemiliknya nyariin dong ? “, tanya Sakti.

“Pemiliknya sih masih 3 hari lagi ambil motornya Mas Sakti. Tapi besoknya, si Boss pemilik bengkel datang, dan nyariin motornya. Pas tahu cerita kalau motornya hilang, dia marah-marah ke semuanya. Dan minta pertanggung jawaban. Dia nggak mau tahu, pokoknya motor itu harus kembali lagi ke bengkel, gimana pun caranya. “, nada bicara Dinu menjadi semakin serak dan patah-patah, menunjukkan emosi yang memuncak dan keputus asaan yang dirasakan.

“Terus gimana ? Harus pada patungan dong ? “

“Begitu sih Mas Sakti. Cuma kan kita-kita ini nggak punya duit ya, jadi apa yang mau dipake untuk patungan ? “

“Mas Dinu juga musti ikutan patungannya ? “, tanya Sakti perlahan.

“Iya Mas…sama…saya juga harus ikut tanggung jawab, karena udah ada di sana. “, Dinu menundukkan kepalanya semakin dalam. “Sekarang saya bingung Mas Sakti. Saya nggak punya jalan keluar lagi, sementara sudah semakin dekat tenggat waktunya. “

“Hmmmmm…”, Sakti terlihat berdiam diri sejenak dan memikirkan sesuatu.

“Mas Dinu punya motor lain ? Yang bisa dipake sementara ? “, tanya Sakti.

“Dipake apa Mas ? Ada sih..”, Dinu mendongakkan kepalanya dan tidak mengerti arah pertanyaan dari Sakti.

“Ya dipake buat kemana-mana maksudnya. Tinggalnya lumayan jauh kan dari bengkel ? Minimal dipake buat mondar mandir dari tempat tinggal ke bengkel. “, jawab Sakti sambil mematikan rokoknya, dan mengambil cangkir kopi lalu meminumnya.

“Ada Mas Sakti, motor biasa. Motor lama yang udah layu. “, jawab Dinu.

“ Gimana ceritanya sih motor bisa layu Mas Dinu ?”, Sakti mencoba berkelakar sedikit untuk mencairkan suasana. Mendengar hal itu, Bayu pun ikut tersenyum, dan Godam terlihat menahan ketawanya.

“Maksudnya, motor udah lama Mas Sakti, dijual pun udah nggak ada nilainya. Diajak lari juga udah nggak ada tenaganya. Kayak orang tua, udah layu dia, kerja nya cuma mondar mandir dari rumah kontrakan ke bengkel, terus pulang lagi. “, Dinu sedikit menjelaskan kondisi motor butut yang sudah menemaninya lebih dari 10 tahun.

“Dijual buat patungan ? Gak apa-apa kah ? “, tanya Sakti.

“Pikiran terakhir saya ke situ Mas Sakti. Kalau nggak ada solusi, saya jual saja terpaksa. Berapapun lakunya, dan pasti nggak akan cukup sih hasilnya buat patungan saya aja. Tapi semoga bisa membuat Boss Bengkel saya agak mereda marahnya. Biar nanti saya cicil sisa nya dari kerjaan saya. “, jawab Dinu lemas.

“Tapi kalau dijual nanti Mas Dinu bolak balik ke bengkelnya gimana ?”, tanya Sakti.

“Ya jalan kaki Mas, mau gimana lagi ? Terpaksa berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam. “, Dinu perlahan menambahkan. “Soalnya di antara rumah kontrakan saya dan bengkel, nggak ada jalur angkutan umumnya, jadi ya jalan kaki. “

“Nanti juga pelan-pelan kalau semua udah selesai, mungkin bisa beli sepeda, bisa sedikit menghemat waktu. “, Dinu menambahkan sendiri pemikirannya.

“Hmmmmmm..”, Sakti bergumam, sambil perlahan melirik ke arah Bayu.

“Gimana menurut kamu Bay ? “, tanya Sakti.

Bayu terdiam sesaat, semua mata mengarah kepada dirinya. Tanpa bisa berpikir lebih panjang, ia pun mengeluarkan pendapat mengenai apa yang dirasakannya pada saat itu.

“Kalau saya pikir sih, Mas Dinu ini ada di saat yang nggak tepat dan lingkungan yang nggak tepat pada saat itu. Makanya jadi keseret-seret ikut bertanggung jawab. Sebenarnya Mas Dinu sendiri sudah menyadari kok jawabannya, dan tidak perlu dipikirkan terlalu berat. Sudah cerita sendiri kalau tindakan paling akhir adalah menjual motornya, terus sisanya akan dicicil dari kerjaannya. Tapi kan berarti kembali lagi ke lingkungan yang nggak pas. Jadi masih ada resiko lagi dalam mencicil sisa hutangnya, Mas Dinu akan kembali terjerumus ke dalam situasi yang sama. “

“Paling pas adalah Mas Dinu nya pindah kerja, tidak di bengkel itu lagi. “, Bayu menutup pendapatnya.

Mendengar pendapat Bayu, semua melirik ke arah Dinu. Sementara yang dilirik hanya menunduk, tanpa bisa berkata apa-apa.

“Jualan gado-gado atau ketoprak aja Mas Din. “, Godam menyambut pemikiran Bayu. “Dia kalau bikin bumbu kacang, enak banget Mas Bay, saya udah sering nyoba. Passss banget racikannya. “, Godam menambahkan sambil melihat ke arah Bayu.

“Nah, kenapa nggak itu aja Mas Dinu ? Menarik itu. “, ujar Sakti. “Pada dasarnya saya setuju dengan apa yang Bayu katakan, jangan sampai Mas Dinu nya ada di lingkungan yang salah. Kalau tempat yang salah sih, kita nggak bisa kontrol itu. Tapi seenggaknya, dari 2 hal yang Bayu katakan, ada satu yang bisa dikontrol. “

“Tapi butuh modal Mas Sakti……”, Dinu berkata perlahan.

“Paham kok, tapi bisa dilakukan nggak menurut Mas Dinu ? “, tanya Sakti.

Dinu hanya mematung dan menatap dinding ruang tamu di belakang etalase warung itu. Pandangannya menerawang seakan-akan jauh ke dalam dinding. Semua sadar kalau banyak yang sedang dipikirkan oleh dirinya.

Melihat hal itu, Bayu menambahkan, “Kenapa musti ragu-ragu Mas Dinu nya ? Ada Godam nih yang jago marketingnya. Dia punya banyak kenalan, tiap hari dia ketemu orang yg beli makan siang. DIa bisa jadi tombak pemasarannya Mas Dinu. Banyak yang butuh makanan tiap hari, dan dia kenal betul orang-orangnya. “

Godam seketika mengangguk, “Iya Mas Din, aman kalo sama Godam sih..selalu aman. Godam bisa bantu nanti tawar2in ke orang-orang kantor yang sering ketemu sama Godam pas makan siang.”

“Enak loh bumbu kacang bikinannya dia Mas Bayu..Mas Sakti. Nanti kapan-kapan deh dioba kalo pas dia lagi bikin. “, Godam pun memulai strategi pemasarannya dari sekarang, menunjukkan support dan dukungan penuhnya untuk kakaknya.

“Hahahahahahahaha..”, Bayu dan Sakti bersama-sama tertawa melihat hal itu. Tidak lama disusul oleh suara tawa Godam.

Melihat situasi yang semakin cair, Dinu pun ikut tersenyum lebar. Suasana menjadi lebih santai di balik etalase warung, ketegangan terasa sudah lewat.

Tidak lama kemudian, Sakti membuka pembicaraan lebih serius.

“Jadi dari ngobrol-ngobrol tadi, kita semua jadi setuju ya..kalau ternyata persoalan dan masalahnya bukan tentang bayar hutang nya Mas Dinu. Tapi Mas Dinu harus pindah kerja dari tempatnya sekarang, karena lingkungan kerjanya yang sudah toxic. “

Semua yang mendengarkan pun mengangguk-angguk perlahan, mendengarkan hasil kesimpulan yang diajukan oleh Sakti. Dinu kelihatan lebih santai dan tidak tegang lagi, dengan serta merta mengambil kopi di cangkir dan meminum isinya. Bayu mengambil batang rokok yang masih baru, lalu mulai menyalakannya.

“Nah, kalau sudah tahu mengenai masalahnya, baru kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama. “, kata Sakti sambil ikut mengambil rokok baru dan menyalakannya. “Maksud saya, jangan sampai kita terjebak di sebuah solusi untuk masalah yang belum tentu pas. Kalau begini kan enak nih, kita pikirkan sama-sama solusinya, untuk masalah yang sudah pas. Semua sudah setuju soalnya sama inti masalahnya. “

Semua terdiam, dan saling menunggu, Bayu masih dengan sebatang rokok yang masih menyala, Godam masih memegang cangkir kopi di tangannya dan Dinu masih terlihat menunduk dan terdiam.

“Mas Dinu, kalo diminta balapan motor ? Bisa ? “, tanya Sakti tiba-tiba.

“Haaaaaaah ??!??? “, Dinu terhenyak dengan pertanyaan Sakti.

“Balapan motor, kamu seneng nggak balapan ? “, Sakti mengulang pertanyaan yang sama.

“Nggak bisa Mas Sakti, saya gugup kalau nyetir motor kecepatan tinggi. “, jawab Dinu sambil masih keheranan.

Tapi kamu bisa bikin motornya jadi lebih kenceng ? “, pertanyaan Sakti berikutnya.

“Bisa kalo itu Mas.” , jawab Dinu.

“Tapi nggak berani kalau diminta untuk balapan nya ? “, tanya Sakti lagi.

“Nggak Mas Sakti, saya suka nggak konsen kalo kecepatan tinggi. “, sekali lagi Dinu menerangkan. Sementara di dalam dirinya masih menduga-duga kemana arah pertanyaan-pertanyaan ini.

“Mas Dinu kenal sama orang yang balapan-balapan motor itu ? “, Sakti kembali bertanya.

“Kenal akhirnya Mas, karena kemarin ikutan di sana. Besok malam adalah jadwal mereka balapan lagi. “, nada suara Dinu masih terasa bingung.

“Kalo gitu, tolong diaturkan saja Mas Dinu, untuk kita ikut balapan itu. “, Sakti akhirnya sampai pada maksud pembicaraannya.

“Bb…bbbb..bbbiiisa sih Mas….tapi…pakai motor siapa ? “, tanya Dinu semakin gugup.

“Pakai motor Mas Dinu lah, yang ada aja. Tapi saya juga minta tolong disetting biar lebih kencang. “

“Nggak ngejar tapi Mas Sakti. Nggak bakalan ngejar motor2 yang ikut balapan di sana. “

“Bisaaaa…tenang aja. “, jawab Sakti sambil tersenyum.

“GImana caranya Mas ?”

“Yang penting Mas Dinu bantu settingin semampunya aja. Nanti ada yang bantu narik dari depan. Tapi…..”. Sakti menghentikan perkataannya sejenak sambil mengalihkan pandangannya sejenak.

“Tapi apa Mas ? “, tanya Dinu penasaran.

“Yang bawa motor harus kamu Bay..”, Sakti segera menatap Bayu dengan tajam.

“Haaaahhhh??!???”, Bayu hanya mampu mengeluarkan suara kagetnya, tanpa mampu mengatakan hal lainnya.

—-------

Malam itu, di kamar Kostnya, Bayu nampak penat dan sedikit kelelahan. Namun masih ada satu hal yang harus ia lakukan, pergi ke dimensi Tunggal Dewi untuk bertemu berempat dan membahas mengenai rencana besok untuk membantu Dinu.

Dalam hatinya berkata, “Balapan motor ? Haduuuh…pakai motor tua yang kurang mumpuni ? Nyetir motor kenceng aja jarang-jarang, gimana caranya sih Mas Sakti meminta untuk jadi joki balapan motor gitu ? Gimana ya besok ? Kalau tidak berhasil, semua harapan dari Mas Dinu bertumpu pada peristiwa besok ? Besok pagi dia sudah akan menghubungi panitia balapan tersebut, dan mulai mereparasi motornya. Besok adalah hari yang berat ini.

“Harus tanya ke Mas Sakti dan Tunggal Dewi ah, biar besok nggak bingung. Terlalu berat beban nya dan taruhannya buat Mas Dinu, kasihan dia. “

Bayu segera mengambil posisi duduk bersila di lantai kamar kostnya. Lalu memejamkan mata dan mulai mengatur nafasnya perlahan-lahan.

Perlahan, di dalam dirinya segera menjelma sebuah daerah yang semu, antara siang dan sore. Semakin lama semakin jelas terlihat sekelilingnya. Sampai tidak lama kemudian, Bayu pun sadar bahwa sudah memasuki dimensi yang lain.

—------

DImensi Tunggal Dewi.

Setibanya di dalam ruangan Tunggal Dewi, Bayu melihat sudah ada Mas Sakti dan Maheswari.

Ah, rupanya mereka sudah tiba lebih dahulu di sini.

Tapi ada sesosok kelinci, dengan tubuh manusia yang berotot yang besar, yang belum dia kenal sebelumnya. Sosok ini masih asing bagi Bayu, tapi setelah mereka berempat melihatnya dan menyadari kehadiran Bayu, seketika Bayu beradu pandang dengan sosok kelinci berotot tersebut.

Seperti kenal dengan sosok ini, pernah ketemu di mana ya ? “, hati Bayu berkata.

Melihat Bayu, Maheswari pun langsung melambaikan tangannya. Sakti terlihat menganggukkan kepala sedikit, sementara Tunggal Dewi melambaikan tangan tanda memanggil.

“Masuk Bay, ada yang mau kenalan dulu nih. “, kata Tunggal Dewi sambil melirik pada Dom.

Dom pun mengerti kode itu, dan segera menghampiri Bayu terlebih dahulu. Lalu mengulurkan tangannya perlahan, yang segera disambut ragu-ragu oleh Bayu.

“Mas Bayu, ini Dom, Mas..”, singkat Dom memperkenalkan dirinya.

Mendengar hal itu Bayu hanya bisa melongo, “Haaaaahhh ? ” .

Bayu yang masih kebingungan, melihat Tunggal Dewi dan Mas Sakti, seakan meminta penjelasan mengenai apa yang dilihatnya. Nama Dom ketika diucapkan, langsung memiliki konotasi seekor kelinci putih kecil yang imut dan lucu. Beda dan sangat kontras dengan sosok kelinci kekar dan berotot yang ada di hadapannya.

Terlihat oleh Bayu, Sakti mengangguk kecil, dan Tunggal Dewi berkata, “Iya Bay, ini Dom, di dimensi ini begini rupa dan fisiknya.”

Seketika Bayupun tersadar dari kekagetannya. Dia pun segera memaklumi, bahwa banyak hal di dimensi ini yang masih tidak bisa masuk akal bagi dirinya. Masih banyak terkaget-kaget seiring semakin kenal mengenai dimensi ini. Bayu segera memakluminya, dan beranggapan bahwa dirinya memang masih belum tahu apa-apa mengenai banyak hal.

Bersiap untuk banyak kekagetan dan terkejut lagi ke depannya.

“Sudah kenal Bay ?”, tanya Sakti.

Bayu hanya mengangguk kecil. Dom juga tersenyum, yang sebenarnya dalam hati Dom tertawa geli melihat kikuk dan bingungnya Bayu. Terbayang rasanya berkawan dan terbiasa melihat seekor kelinci mungil berwarna putih, lalu berubah drastis dengan sosok yang ada di dimensi ini. Namun Dom menyembunyikan rasa geli di hatinya.

Tapi Maheswari tidak dapat menutupinya, masih saja belum selesai gerakan tertawanya, meskipun sudah ditahan dan dipaksa tanpa suara. Tapi tetap saja terlihat oleh Bayu air mata di mata Maheswari yang menahan tawa geli.

Melihat itu, Tunggal Dewi pun ikut tersenyum geli, sambil berkata, “Sudah Maheswari, kasihan itu Bayu, jadi kikuk gitu. “

“Tapi aku nggak ngeledekkin Bayu, Kak Tidi. Aku ngebayangin raut muka ku waktu ketemu Dom pertama kemarin. Ternyata begitu ya mukaku, seperti muka Bayu sekarang. “

“Maheswari ah..”, kata Bayu mengomel.

“Hahahahhahaa…maaf Bay…aku geli sendiri lihat muka itu. Sama kok, aku juga begitu pas ketemu sama Dom kemarin. “, ujar Maheswari.

“Jadi Dom baru kemarin ke dimensi ini ? ‘, tanya Bayu.

“Iya Bay, baru aja kemarin ini dia nongol di sini. “, Maheswari menceritakan sedikit.

“Iya Bay”, kata Tunggal Dewi. “Dom berasal dari dimensi ini, sebangsa silung dia. Kemarin dia menjelma penuh jadi kelinci putih di dimensimu, menemani Sabrina. Setelah penuh kekuatannya, dia baru bisa lagi mewujud di dimensi ini kembali. “, Tunggal Dewi menerangkan dengan singkat.

Mendengar mereka membicarakan dirinya, Dom hanya bisa menunduk sambil mengangguk-angguk perlahan. Nampak sekali penghormatannya kepada sosok-sosok di hadapannya.

“Cukup dulu tentang Dom ya..”, Tunggal Dewi menengahi pembicaraan dan memulai topik baru. “Kubaru mendengarkan cerita Sakti tentang manusia yang ingin minta bantuan kepada kita. “

“Yang ingin kudengar darimu Bay, bukan tentang ceritanya. Tapi menurutmu, apakah manusia ini layak kita berikan bantuan ?”, tanya Tunggal Dewi.

Bayu pun kikuk mendengarkan pertanyaan dari Tunggal Dewi itu. Belum siap dengan jawabannya, Bayu segera melihat kepada Sakti sebentar.

“Gak apa-apa, kamu bilang saja pendapatmu Bay, sesuai dengan hati nuranimu saja. “, ucap Sakti menenangkan.

“Baiklah, menurutku sih dia bisa merasakan kesempatan kedua dari hidupnya. Karena masalahnya sekarangpun bukan karena kesalahannya penuh.”, ujar Bayu pendek menjawab pertanyaan Tunggal Dewi.

“Hmmmm..”, Tunggal Dewi segera berdiam dan berpikir sejenak. “Baik lah kalau begitu, kita bantu dia besok. “

Mendengar itu, Bayu merasa lega dan sedikit bergembira.

“Tapi Mas Sakti…saya yang harus lomba..? “, tanya Bayu kembali dengan keraguannya mengenai kemampuan dirinya.

“Iya Bay, kamu yang nyetir motornya nanti. “, jawab Sakti dengan singkat.

Melihat itu, Tunggal Dewi mengerti bahwa Bayu belum mendapat gambaran penuh mengenai apa yang akan terjadi.

“Bay, nanti motormu akan ditarik oleh sesosok silung, mirip seperti Dom. Hanya kamu yang bisa melihat Silung itu nanti, dan kamu yang bisa mengendalikannya. Sehingga tidak bisa orang lain yang menggantikanmu. “, Tunggal Dewi menerangkan dengan singkat.

“Lebih baik Bayu dikenalkan dulu dengan sosoknya sepertinya ya. “ , Tunggal Dewi segera melirik ke Maheswari dan Dom. “Maheswari, boleh kah minta tolong dipanggilkan sosoknya ? Biarkenalan dulu dengan Bayu ? “

“Oke Kak Tidi..”, Maheswari dengan riang segera berbalik badan dan beranjak pergi.

“Ayo Dom, temani aku “, tangan Maheswari segera menggamit tangan Dom untuk menemaninya, dan sebelum beranjak dari sana sempat berkata di hadapan Bayu, “Tungguin aku ya Bay.”

Segera kedua insan itu pergi meninggalkan ruangan.

Setelah Maheswari dan Dom pergi, ketiga insan yang tersisa pun duduk dan bercakap-cakap sejenak mengenai kondisi dan masalah yang sedang mau mereka coba selesaikan. Bayu hanya banyak terdiam, dan menunggu, sambil mengangguk-ngangguk kecil. Pikirannya masih dipenuhi banyak tanda tanya mengenai apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba….

Sebuah angin kencang dan suara deru api terbakar menyeruak memasuki ruangan Tunggal Dewi.

Seketika ketika angin sudah reda dan deru api menghilang, nampaklah sesosok kerbau berbadan manusia. Badannya masih dipenuhi percikan api dan asap, sosok ini muncul secara tiba-tiba dan membuat Bayu dan Sakti terperangah.

image

Illustrated by Lovelie Light (LVL)

“Ibu…Ibu panggil aku ? “, sosok itu langsung bertanya kepada Tunggal Dewi.

Melihat hal itu, Tunggal Dewi pun tidak kuasa menahan tertawa kecilnya.

“Silung Mahesa, mana Maheswari dan Dom ? Tadi aku minta mereka untuk jemput kamu ? “, tanya Tunggal Dewi di sela tawa nya.

“Masih ada di sana Ibu, begitu aku dengar dari Kak Maheswari kalau aku dipanggil Ibu, aku segera berlari ke sini. “

“Nggak bisa begitu doooong Silung…ayo kamu jemput lagi kakakmu itu dan Dom, lalu sama-sama ke sini. Kok malah ditingal ? “

“Oooh..baiklah..maaf Ibu..sebentar..”, Sosok itu berlari secepat kilat keluar dari ruangan itu, meninggalkan hembusan angin yang kencang dan suara deru api yang membakar.

“Bukan main ya anak itu ya…”, kata Tunggal Dewi perlahan sambil masih tersenyum.

Bayu dan Sakti hanya bisa saling melihat dan melongo melihat apa yang terjadi di hadapan mereka.

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar