Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DENGAN TANDA TANYA CHAPTER 6 : PENCURI KECIL. - Waroeng Podjok Mangkoes

Domain Maheswari. Di pondok kecil tepi laut, yang damai dan indah di siang itu, dihembus oleh angin laut dan dipenuhi suara debur ombak yang perlahan ...

lovelie-light 14 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DENGAN TANDA TANYA CHAPTER 6 : PENCURI KECIL. - Waroeng Podjok Mangkoes

Domain Maheswari.

Di pondok kecil tepi laut, yang damai dan indah di siang itu, dihembus oleh angin laut dan dipenuhi suara debur ombak yang perlahan menyapu pantai. Nampak Maheswari sedang duduk termenung, melihat ke arah lautan lepas, dengan pandangan yang menerawang dan raut muka sedih.

Dom yang melihatnya dari dalam pondok, segera menghampiri dan menepuk pundaknya.

“Ada apa ? “, tanya Dom perlahan.

“Astrid Dom, sakit lagi…”, Maheswari menengok perlahan ke arah Dom, sambil memegang tangan Dom yang menyentuh pundaknya. Matanya sedikit berkaca-kaca dan raut mukanya mencerminkan kesedihan yang melanda perasaannya di siang itu.

Mendengar hal itu, Dom hanya dapat menarik napas panjang.

“Kapan jadwal Sabrina menengok Astrid lagi ? “, tanya Dom perlahan.

“Nanti malam Dom, kata Papa nya Sabrina nanti malam mereka akan pergi lagi ke Rumah Sakit dan menengok Sabrina. “, jawab Maheswari perlahan.

“Ya sudah, kita lihat kondisi nanti malam ya..”, kata Dom perlahan.

“Tapi perasaanku nggak enak banget Dom..”, Maheswari berkata perlahan sambil mulai menitikkan air matanya.

“Nggak apa-apa, mungkin itu cuma perasaan kamu aja. Kita lihat kondisinya nanti malam, biar bisa lebih jelas. Ya ? “, Dom menjawab sambil memeluk Maheswari.

Dalam pelukan Dom yang menenangkan, Maheswari mengeluarkan sebuah pertanyaan kecil.

“Kenapa ya Dom ? Astrid kok udah ditarik penyakit dan energi negatifnya, tapi sakit lagi dan sakit lagi.. ? “

“Mungkin memang Astrid tubuhnya sudah lemah. “

Jawaban Dom yang terasa benar, membuat Maheswari semakin tenggelam dalam tangisannya di pelukan Dom. Semuanya menjadi sia-sia, segala daya upayanya untuk mengambil penyakit Astrid, teman baiknya Sabrina, hanya membuahkan sebuah kondisi yang kembali sakit lagi dan dirawat lagi di Rumah Sakit.

“Maheswari, Sabrina di dunia nyata kan baru belajar. Dia baru belajar untuk menarik energi tertentu untuk orang sakit. Dia belum bisa untuk memberikan energi tambahan kepada orang lain. Pelan-pelan, biarkan dulu Sabrina belajar selangkah demi selangkah”, Dom memberikan penjelasan ke Maheswari.

“Tapi nanti akan bisa kan Dom ? “, tanya Maheswari.

“Seiring waktu dan pembelajaran, nanti akan bisa kok. Kan ada aku juga di sana yang mengajari dan melindungi. “, jawab Dom perlahan.

“Bisa nggak Dom ajarinnya sekarang ? Biar Sabrina langsung bisa kasih energi baru ke Astrid. “,

Dom yang sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu, hanya bisa menghela napas panjang. Sabrina di dimensi manusia, masih terlalu kecil untuk bisa mengontrol kemampuannya. Kemampuannya untuk menarik energi penyakit dan emosi negatif saja masih belum bisa dikontrol, bagaimana mungkin bisa mulai belajar memberikan energi tambahan ke orang lain ? Masih panjang sekali perjalanan Sabrina di Dimensi manusia.

Namun Dom sadar, bahwa memberikan kenyataan itu tidak akan bisa masuk ke dalam pemikiran Maheswari. Karena di dalam di Maheswari masih diliputi dan diselimuti oleh emosi. Sebuah kesia-siaan memberikan pengertian lebih lanjut, yang seharusnya dalam kondisi yang normal pun sudah bisa dimengerti oleh Maheswari.

Dom hanya mengangguk perlahan sambil berkata pelan, “Nanti mulai dicoba ya..tapi tidak bisa buru-buru. “

Tangis Maheswari pun pecah kembali.

“Pagi Bay”

Pak Burhan, atasan Bayu, nampak memasuki ruang kerja di kantornya dan mengambil tempat duduk di sebelah Bayu. Raut wajahnya nampak suram dan lesu, mungkin karena semalaman menunggu anaknya Astrid, yang dirawat di Rumah Sakit.

“Pagi Pak”

Bayu pun membalas sapaannya sambil mengangguk perlahan. Melihat Pak Burhan, Bayu merasa bisa merasakan kelelahan dan hawa kepedihan, yang bikin Bayu bingung bagaimana mau mengekspresikan rasa simpati nya.

“Bay”, tiba-tiba Pak Burhan memanggilnya sambil menyodorkan setumpuk map dari tangan.

“Ini dokumen-dokumen yang udah bisa diproses, sudah saya lihat dan saya tanda tangan. Tolong diproses ya Bay. “, Pak Burhan meneruskan instruksinya.

“Baik Pak”, Bayu menerima tumpukan map itu dengan tangan kanan.

“Saya nggak bisa terlalu lama di kantor Bay. Titip kantor dulu ya, saya masih harus kembali ke Rumah Sakit. Astrid Bay….”

Kata-kata Pak Burhan berhenti di akhir, dengan nada semakin lirih.

Mendengar itu Bayu bingung harus berbuat apa dan merespond seperti apa. Yang pertama ada di dalam kepalanya adalah membantu mengurangi pikiran atasan kantornya itu.

“Siap Pak, tenang saja. Segera diproses dokumen-dokumennya Pak. Bapak fokus dulu saja ke Astrid, nanti kalau ada apa-apa akan dikabari. “, demikian Bayu mencoba menenangkan.

“Terima kasih Bay. “, Balas Pak Burhan. “Sebenarnya..saya sudah senang kamu kenalkan dengan Sabrina dan keluarganya. Mereka sudah bantu banyak sekali. Tapi, mungkin kondisi Astrid yang memang sudah terlalu lemah……”.

Kembali Pak Burhan terdiam di ujung kalimatnya.

“Sabrina sering jenguk Pak ?”, tanya Bayu.

“Sering Bay. Bisa seminggu dua kali, diantar sama orang tuanya. Saya dan istri pun sudah akrab dengan mereka, dan saling update kabar. “

Tapi…kehadiran Sabrina…membantu kah Pak ?”, tanya Bayu perlahan. Sejujurnya, tidak ingin sama sekali untuk menyentuh ranah yang terlalu sensitif untuk ditanyakan. Tapi perlu menanyakan lebih jauh tentang hal ini kepada atasannya.

“Sangat Bay. Tiap dijenguk Sabrina, Astrid selalu semangatnya tumbuh dan jadi lebih segar. Itu kami rasakan kok, dan mau nggak mau kelihatan. Tapi semakin lama, efeknya jadi semakin pendek. Kalau dulu pertama-tama dijenguk oleh Sabrina, Astrid bisa langsung segar, dan langsung kelihatan sehat selama seminggu, setelah itu kondisinya kembali drop. “

“Semakin ke sini, durasi sehatnya jadi mengecil, terakhir-terakhir ini kadang hanya bertahan 1 - 2 hari saja. Sehatnya. Badannya langsung drop lagi di hari berikutnya.”

“Kami juga jadi benar-benar nggak enak, dengan keluarga Mas Ari dan Mbak Alda. Masak mau memaksa Sabrina buat tiap hari nengok ? Kan nggak mungkin Bay. “

Mendengar penjelasan panjang dan cerita dari Pak Burhan, Bayu hanya memperhatikan sambil mengangguk.

“Saat ini sih yang paling ngedrop itu Ibu Bay, istri saya. Dia masih belum bisa terima kondisi kalau anak kesayangannya sakitnya parah. Masih banyak denialnya, masih suka menganggap kalau sakitnya hanya sakit biasa saja dan segera sembuh. “

“Kalau saya sendiri, mendengar penjelasan dokter dan mengalami sampai sejauh ini, sudah bisa perlahan menerima, kalau Astrid menderita penyakit yang nggak biasa. “, Pak Burhan bercerita sambil matanya menerawang ke dinding ruangan.

“Tapi kesembuhan itu bisa datang kok Pak, kita kan tetap berikhtiar dan berdoa. “, sambut Bayu.

“Betul Bay.”

“Udah ah, saya jalan dulu..kok malah jadi curhat panjang sama kamu. Saya jalan dulu ya Bay, titip kantor ya. “ Pak Burhan segera menyelesaikan membereskan tas kerja dan beranjak dari mejanya.

“Siap Pak, semangat terus Pak, saya mendoakan kesembuhan Astrid. “, jawab Bayu.

Mendengar itu, Pak Burhan tersenyum kecil, dan beranjak keluar dari ruangan sambil melambaikan tangannya.

Sore harinya, di kostan Bayu, sesaat menjelang waktu matahari terbenam.

“Bayyyy…”, terdengar panggilan anak muda kepada Bayu.

Mendengar panggilan itu, Bayu yang baru saja masuk ke Kost nya, belum juga menaruh tas kantornya, menjadi berhenti dan berjalan ke arah dapur bersama. Menghampiri dua anak muda yang kelihatan sedang berbincang dengan serius, ditemani dua cangkir kopi.

“Baru pulang Bay ? “, tanya anak muda yang kelihatan lebih santai, dengan rambut pendek dan kaos berwarna merah tua.

“Dari kantor Bay ? “, anak muda lain pun bertanya, yang ini kelihatan lebih formil, masih mengenakan kemeja, dengan motif garis-garis berwarna biru. Kelihatannya juga baru pulang kantor anak muda yang ini.

“Iya, nih..baru aja sampe. Tumben pada kumpul-kumpul jam segini.”, Bayu segera mengambil posisi duduk di seberang mereka.

“Bay…udah denger belum ? “, tanya anak muda dengan kaos merah.

“Apa tuh ?”, Bayu kembali bertanya kepada anak muda itu.

“Sekarang di kost an ini lagi nggak aman Bay. Banyak yang kehilangan uang. “, anak muda dengan baju merah itu langsung memberi informasi kepada Bayu, mengenai topik yang sedang hangat mereka perbincangkan sedari sore.

“Haaaaa ?? Yang bener ? Siapa aja yang kehilangan ? “, Bayu kaget mendengar hal itu.

Pembicaraan serius mereka pun dimulai, dan Bayu terlihat menyimak dan mendengarkan. Cerita dari anak muda berbaju merah itu adalah kisah tentang 2 orang penghuni kost, yang tinggal di kamar yang berbeda jauh. Yang satu Mas Indra yang tinggal di lantai atas, dan yang satu perempuan bernama Nuri, yang tinggal di pojok, persis di seberang kamar Bayu.

Mereka berdua kehilangan uang yang disimpan dalam kamar kostnya, di dalam lemari, dengan kurun waktu yang berdekatan, berbeda satu hari. Mereka berdua sudah melaporkan hal itu kepada pemilik kost, dan pemilik kost pun segera melihat cctv di luar koridor depan kamar. Tapi sampai hari ini belum terlihat ada gerak gerik mencurigakan yang tertangkap oleh cctv mereka.

Sesaat kemudian, mereka bertiga asyik dalam obrolan mengenai topik tersebut.

Bayu hanya banyak mendengarkan, tanpa memberi opini atau pendapat apapun. Kepalanya hanya mengangguk-angguk perlahan, sambil menatap kedua pemuda yang bercerita. Sesekali pertanyaan-pertanyaan ringan meluncur dari mulutnya, untuk tahu lebih detil tentang peristiwanya, bukan untuk memberikan opini.

Malam harinya di kamar kost, Bayu duduk menatap laptop yang terbuka di hadapannya. Membaca sebuah artikel menarik mengenai sebuah kerajaan kuno yang berdiri tahun 1200 di pulau Jawa. Matanya menatap huruf demi huruf, merangkai kalimat dan membentuk sebuah visi tersendiri dalam pikirannya.

Sambil pikirannya menerawang, Bayu mengambil gelas yang berisi air putih dan meminumnya sampai habis. Lalu segera mengisinya kembali dari pitcher air putih di sebelahnya. Bayu langsung menyadari bahwa pitcher air putih di kamarnya sudah habis, dan otomatis langsung beranjak dari kamarnya untuk mengisi pitchernya dari air putih galon di ruang tengah kostan.

Sambil berjalan perlahan, Bayu membawa pitcher kosongnya, menuju ke ruang tengah dengan pikiran yang masih menerawang membayangkan cerita yang baru dibacanya.

Melalui lorong yang sudah sepi, Bayu tiba di ruang tengah kostan, dan mengisi pitcher kosongnya dari galon air yang ada di sana. Perlahan terdengar suara galon bergeluguk agak keras, seiring mulai terisinya pitcher Bayu.

Tiba-tiba matanya menatap sesuatu yang bergerak-gerak di lorong yang berseberangan dengan lorong kamarnya. Tampak sebuah bayangan kecil yang..bukan berjalan..tapi seakan akan..maju sedikit, lalu menghilang..kemudian tidak lama lagi muncul beberapa langkah di hadapannya..bergerak lagi sedikit, lalu menghilang lagi..dan muncul lagi di beberapa langkah di hadapannya.

“Seperti teleportasi..”, pikir Bayu perlahan sambil mengamati.

Sosok kecil yang blur itu kelihatan membelakangi Bayu, dan nampak tingginya hanya setinggi anak kecil. Mungin sepantar dengan anak kelas 1 SD, tapi lincah bergeraknya. Dengan kepala yang botal, dan hanya mengenakan sebuah kain kecil yang mirip seperti sarung pendek kecil melingkar di pinggangnya.

Sosok itu terus melakukan hal yang sama, bergerak di lorong kamar kost, dengan pergerakan yang semakin menjauh dari Bayu. Bergerak sedikit sedikit, lalu menghilang. Merupa lagi di beberapa langkah ke depan, lalu menghilang lagi. Begitu terus sampai akhirnya sosok itu hilang di ujung tembok lorong, lalu tidak nampak lagi.

image

Illustrated by Lovelie Light (LVL)

Bayu pun seakan tersadar dari lamunannya, dan pikirannya baru bisa berjalan dan membuat analisa.

“Ah tidak bisa ini..harus ditanyakan kepada Mas Sakti.”, ujar Bayu dalam hati, dan langsung bergegas ke kamar kostnya.

Dengan cepat, tangannya segera membuka lock di handphonenya dan menghubungi nomor Sakti.

Terdengar beberapa kali bunyi panggilan di handphonenya, sampai akhirnya Bayu mendengar suara Sakti.

“Malam Bay..”, suara Sakti terdengar.

“Malam Mas..maaf jadi ganggu malam-malam. Tapi tadi ku lihat ada sosok kecil botak yang jalan di lorong kost ku. Terus bergerak sedikit dan menghilang. Apa itu Tuyul ya Mas ? Soalnya banyak cerita di kostan ku tentang kehilangan uang. “, Bayu langsung memberondong Sakti dengan berita yang panjang lebar.

“Sebentar…pelan-pelan Bay. Tarik napas dulu, tenang dulu..baru cerita.”, Sakti berujar perlahan.

“Hhhhhhhh…”, Bayu menghela napas perlahan..diam sejenak. Lalu mulai bercerita. Diceritakan mulai dari cerita teman-teman kostnya yang sering kehilangan uang dalam jumlah kecil. Tapi sering. Selanjutnya diceritakan juga pengalaman dirinya yang baru saja terjadi, melihat sesosok makhluk kecil yang ada di lorong kamar-kamar kostnya.

Sakti pun mendengarkan dengan seksama, “Hmmmmm..”, hanya itu yang keluar dari perkataannya. Setelah di akhir cerita, baru Sakti memberikan sedikit komentar.

“Sepertinya benar sih Bay, itu sosok yang dikenal dengan nama Tuyul. “, kata Sakti.

“Terus aku musti gimana Mas ? “, tanya Bayu.

“Ya nggak gimana-gimana Bay. Kamu nggak punya kewajiban apa-apa kok selama kamu tidak terganggu. “, kata Sakti.

“Eh…”, Bayu sedikit terkejut mendengar perkataan Sakti.

“Bener kan ? Selama itu tidak mengganggu kamu, kamu nggak punya kewajiban apapun untuk melakukan apa-apa. “, tegas Sakti.

“Tapi….kasihan teman-teman kost Mas. Mereka jadi sering kehilangan uang. “, Bayu membela diri.

“Betul, tapi uangmu sendiri hilang nggak ? “, tanya Sakti.

“Nggak Mas.”, jawab Bayu perlahan.

“Ya berarti itu bukan urusan kamu, bukan kewajiban kamu untuk melakukan sesuatu. “, ujar Sakti.

“Iya sih Mas..”, Bayu menimpali perlahan sambil masih bingung dengan perasaannya sendiri.

Keduanya diam sejenak di telephone.

Lalu Sakti memulai pembicaraan lagi, “Tapi kamu kepingin nolong temen-temen kamu ya ?”

Bayu membalas singkat, “Iya Mas..”

“Nah kalau soal itu beda lagi. Motivasinya jadi menolong orang lain soalnya. Itu bukan kewajiban masuknya. Tidak harus. “

“Iya sih Mas..betul sih..”, jawab Bayu.

“Kalau begitu motivasinya, kamu harus sadar dulu Bay, kalau nanti tidak ada yang menghargai pertolonganmu, kamu tidak apa-apa. Jangan mengharapkan ada penghargaan dari yang kamu tolong. “

“Oh enggak kok Mas, sama sekali nggak mengharapkan kok. “, kata Bayu. “Motivasi ku cuma mau menolong teman-teman di kostan aja kok,

“Bener ya ? Jangan mengharap ada penghargaan apa-apa kalau motivasinya mau bantu orang. “, tanya Sakti.

“Iya Mas, bener kok. “ Jawab Bayu. “Gimana caranya Mas ? “

“Kita sambil belajar dan bahas caranya di tempatnya Tunggal Dewi yuk. “ ajak Sakti.

“Nah itu..boleh Mas. “

Bayu segera menutup telephonenya, dan mengambil posisi untuk berpindah domain.

Domain Tunggal Dewi.

Di dalam istana kecil Tunggal Dewi, di ruangan besar tempat banyak buku diletakkan berjejer-jejer dalam rak, nampak 3 sosok sedang berbincang dan berdiskusi.

“Kenapa Bay ? Apa yang bikin kamu resah ? “, tanya Tunggal Dewi dengan lembut, sambil tangannya tetap memegang sebuah buku kita besar yang terbuka, sambil menatap Bayu.

Sakti menyaksikan hal itu sambil tersenyum kecil dan berkata, “Coba Bay, ceritakan apa yang kamu lihat di kost..yang tadi kamu ceritakan kepada saya. “.

Bayu pun menceritakan lagi apa yang dialaminya barusan di kost nya. Melihat sesosok makhluk, yang selama ini dianggap sebagai pencuri kecil di kostnya.

“Hmmmmm..”, Tunggal Dewi mendengarkan dengan seksama, sambil perlahan meletakkan buku kitab besar yang sedang dipegangnya.

“Terus kamu pengennya gimana Bay ? “, tanya Tunggal Dewi.

“Aku sih pengen nolong teman-teman kostan Tunggal Dewi, yang sering kehilangan uang. Tadi udah bicara sama Mas Sakti tentang konsekuensinya kalau menolong orang, utamanya adalah usahaku tidak akan dihargai secara langsung. “, jawab Bayu.

“Baik kalau begitu, berarti kamu sudah mengerti ya ? Sekarang pertanyaan saya berlanjut kepada, apa yang menurutmu harus kamu lakukan setelah ini ? “, Tunggal Dewi menanti jawaban Bayu.

Bayu berhenti sejenak mendengar pertanyaan Tunggal Dewi, dahinya kelihatan berkernyit dan memutar otaknya.

“Nggak tahu sih..sejujurnya, yang ada di kepalaku hanya mengusir sosok itu, Tunggal Dewi. “, Bayu menjawab dengan jujur.

“Nggak apa-apa Bay, namanya juga pendapat kan. Jangan takut dong untuk kasih sebuah padangan. “, Tunggal Dewi tersenyum kecil.

“Kamu lagi diajak berpikir nih Bay..sama Tunggal Dewi. Jangan sia-siakan kesempatannya. “, Sakti menimpali singkat pembicaraan itu.

Mendengar itu, Tunggal Dewi menengok perlahan dan tersenyum kecil. Setelah itu kembali melihat kepada Bayu sambil berkata.

“Menurutmu, kalau diusir, apa konsekuensi dari itu Bay ? “

Bayu berpikir sejenak, lalu melihat Tunggal Dewi sambil berkata perlahan, “Nggak tahu sih, mungkin akan ada upaya balas dendam dari pemiliknya ? “.

“Bisa jadi..”, kata Tunggal Dewi. “Itu bisa saja terjadi, tapi anggap saja itu bisa kita atasi atau malah..anggap saja nggak ada upaya balas dendam. Apa lagi resiko dan konsekuensi selanjutnya ? “.

“Hmmmm…”, Bayu terdiam sejenak sambil memutar otaknya.

“Ini pertanyaan hipotesis aja Bay, andaikan saja, kita usir si sosok Pencuri Kecil itu…apa saja konsekuensi lain yang akan muncul ? Selain yang sudah kamu sebutkan tadi “, Sakti menambahkan diskusi di ruang Perpustakaan Tunggal Dewi itu.

Bayu mendengarkan itu sambil terdiam dan semakin berpikir keras.

“Ada kemungkinan nggak…setelah itu, akan ada makhluk yang sama lagi yang beroperasi lagi, tapi dari orang lain ? “, tanya Tunggal Dewi.

“Ada sih kemungkinan itu..”, ujar Bayu perlahan.

“Nah..betul, ada kemungkinan lain untuk sosok yg lain lagi yang datang ke tempat kostmu Bay, dan melakukan hal yang sama. Tapi suruhan orang lain.”

“Betul juga…ada kemungkinan untuk itu. “, jawab Bayu.

“Sekarang, masih terasa efektif nggak solusimu yang tadi ? Untuk mengusir makhluk itu ? “, tanya Tunggal Dewi.

“Jadi nggak efektif sih, kalau ternyata masih ada kemungkinan yang tadi. “. Bayu bicara perlahan.

“Nah..jadi gimana sebaiknya solusi yang lebih minim resiko lagi menurutmu Bay ? “, tanya Tunggal Dewi.

“Jadi fokusnya ke tempatnya sih Tunggal Dewi, bukan fokus kepada makhluknya lagi. Gimana ya…bayanganku berikutnya adalah untuk memproteksi atau memagari tempatnya, agar makhluk itu tidak bisa masuk lagi. “, kata Bayu perlahan.

“Nah itu..udah dapet kamu logiknya Bay. “, kata Tunggal Dewi.

Mendengar hal itu, Sakti hanya tersenyum kecil dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sini Bay, kita masuk ke ruang sebelah yuk “, ajak Tunggal Dewi sambil berjalan perlahan.

Mendengar itu, Bayu menengok sekilas kepada Sakti, seakan meminta ijin kepada Sakti. Melihat hal itu, Sakti hanya menatap Bayu sambil mengangguk perlahan.

“Baiklah Tunggal Dewi. “, Bayu mengikuti langkah Tunggal Dewi dari belakang.

“Karena kamu sudah dapat logikanya, saatnya kita belajar bikin pagar untuk pencuri kecil di kostan kamuya sekarang. “.

Mereka berdua menghilang di balik pintu ruangan sebelah.

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar