Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DENGAN TANDA TANYA CHAPTER 7. - PAGAR YANG TAK TERLIHAT - Waroeng Podjok Mangkoes

Di rumahnya, Sabrina kecil tampak kuyu dan layu, matanya turun dan kehilangan binarnya. Tubuh mungilnya kelihatan lesu dan letih sekali, seakan akan b...

lovelie-light 13 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DENGAN TANDA TANYA CHAPTER 7. - PAGAR YANG TAK TERLIHAT - Waroeng Podjok Mangkoes

Di rumahnya, Sabrina kecil tampak kuyu dan layu, matanya turun dan kehilangan binarnya. Tubuh mungilnya kelihatan lesu dan letih sekali, seakan-akan berat untuk digerakkan. Anak kecil yang manis ini meringkuk di atas ranjangnya, matanya menatap nanar ke dinding kamar tidurnya.

Alda, Sang Ibu, baru saja selesai menengok buah hati kecilnya, terlihat menutup pintu kamar Sabrina perlahan sekali. Sampai akhirnya terdengar suara ceklek pada pintunya.

Seiring dengan pintu yang menutup sempurna, menetes air mata Alda perlahan. Dengan menarik napas panjang, Alda berusaha menguasai perasaan sedihnya, dan menyeka air mata yang jatuh.

Ari, yang sedang duduk di meja makan pun melihat hal itu, segera menghampiri istrinya sambil berkata, “Bagaimana Sabrina Sayang ? “.

“Masih Pah, masih lemas dia sejak kembali dari rumah sakit tadi malam. Seakan kehabisan energi. “, Alda menatap suaminya lirih. Keduanya segera berpelukan sambil berbagi perasaan.

Perasaan sama yang dimiliki hampir semua orang tua yang buah hatinya sedang sakti. Semua pasti merasa tidak tega, khawatir, dan berhenti kemampuan berpikirnya.

Ari membuka pembicaraan pertama, “Sepertinya kita harus minta tolong Mas Sakti lagi ya Sayang ? “.

“Aku juga berpikiran begitu kok Pah…siapa lagi yang tahu kondisi anak kita sebaik itu, selain Mas Sakti. Boleh ya nanti Papah yang telp Mas Sakti ya ? “, Alda menatap suaminya, dengan tatapan yang meminta dan memohon.

“Iya, ini aku coba telp sekarang nih. “, Ari mencari handphonenya dan langsung menghubungi Sakti.

“Halo Mas Sakti. Maaf mengganggu Mas…ini tentang Sabrina Mas..”.

Sementara di kostan Bayu malam hari keesokan harinya. Nampak 2 manusia sedang berjalan berdua, seorang laki-laki yang menenteng sebuah botol air minum kecil dan seorang perempuan di sebelahnya.

“Bay, kita mau ke mana sih pakai diem2 segala gini.. ? “, Tanya Sarah sambil berbisik.

“Nggak kemana-mana..Di sini aja kok, di kostan aja. Tapi aku perlu ke sudut-sudut rumah kost ini. Kamu temenin aja ya…dan…ssssttttt, jangan berisik. Jangan mengeluarkan suara..”, bisik Bayu perlahan.

“Iya…tapi kamu mau ngapain ? “, tanya Sarah sambil menggenggam lengan Bayu.

“Sssssttt..”, Bayu membalas dengan menaruh telunjuk di depan bibirnya. HIngga Sarahpun terdiam.

Mereka berdua berjalan menuju pagar kost, menyusuri tembok di sekeliling kost dari arah dalam hingga sampai di sudut. Di sudut itu, Bayu membuka botol air minum kecil yang dibawanya, kelihatan melakukan konsentrasi dan doa sebentar, lalu membuka botol itu dan menuangkan airnya ke atas tanah di sekeliling pagar.

Sarah hanya mengikuti perlahan, sambil memperhatikan Bayu yang menuangkan air dalam botol perlahan. Seakan semua lingkar dalam pagar kost ingin disiram oleh air tersebut oleh Bayu, sedikit, tetapi merata. Mereka berdua berjalan perlahan mengelilingi pagar kostan dari bagian dalam. Sampai selesai di sudut seberang dari tempat mereka mulai pertama.

Bayu pun menutup botol air kecil nya, sambil berkata, “Sekarang kita ke bagian dalam yuk. “

Mendengar itu Sarah hanya bisa mengangguk perlahan saja, tanpa bisa berkata-apa. Sarah hanya mengikuti langkah Bayu, sambil tetap menggenggam lengan Bayu.

Mereka pun sampai di bagian dalam kost, dan menuangkan sedikit demi sedikit air dalam botol kecil yang Bayu pegang, tetap mengikuti batas dari rumah kost, tapi dari sisi dalam. Suasana yang sepi, menyebabkan mereka berdua bisa lebih bebas dalam menjalankan misinya, tanpa ada yang bertanya dan tanpa ada yang melihat.

Hingga pada saat mau selesai, tiba-tiba saja ada penghuni kost yang keluar kamar dan melihat mereka melakukan aktivitasnya.

“Bay…Sarah..lagi ngapain ? Pacaran yaaaa.. ?”, tanya pemuda itu seakan-akan sedang memergoki dua sejoli yang sedang melakukan adegan romantis.

“Hahahaa..nggak Mas..biasa, lagi ngobrol intim aja kok..ini sekalian mau ke dapur. “, jawab Bayu agak kaget setelah menyadari bahwa kegiatannya terlihat oleh penghuni kost.

“Ikut dong Bay “, kata anak muda yang bernama Roy.

“Yuk Mas…”, Sarah menimpali tanpa ragu. Sambil melihat Bayu, dan Bayu pun hanya melakukan gestur mengangkat bahu perlahan saja.

—---

Suasana di dapur kost masih terasa canggung. Meskipun di tengah meja sudah tersedia 3 cangkir kopi panas di hadapan setiap orang, tapi arah dan topik obrolan masih terasa tersendat dan tidak bergulir dengan enak.

Bayu, Sarah dan satu anak muda penghuni kost bernama Roy, masih duduk sambil melihat cangkir kopi mereka masing-masing. Setiap orang berkutat dengan pemikiran yang ada di dalam kepalanya masing-masing. Sementara suasana di luar dapur masih gelap dan sesekali bunyi jangkrik terdengar sayup bersahutan, tanda sebentar lagi malam akan menjadi semakin lembab dan sunyi.

Akhirnya Roy pun memecah keheningan.

“Bay, mau cerita nih.. Kemarin malam aku kehilangan uang lagi. Ini sudah kedua kalinya. “, Roy menunduk sambil menceritakan hal ini, seakan ada beban yang berat di dalam dadanya.

Mendengar hal itu, Bayu hanya bisa menarik napas panjang, sambil bertanya perlahan. “Banyak yg hilang Mas ? “.

Roy hanya menatap Bayu sambil tersenyum kecil.

“Nggak banyak sih Mas, tapi ini juga sama sekali bukan soal jumlah kok. “, ujar Roy.

“Ini soal keamanan dan kenyamanan. Aku pribadi ya..ini pendapatku pribadi loh ya..aku pribadi sih, lebih suka kalau ini ternyata akibat ada tuyul Bay. “

“Bukan soal percaya atau nggak percaya ya. Tapi ini akan jauh lebih mendingan daripada ini adalah akibat salah satu dari penghuni atau pengurus kostan ini yang mencuri. Beneran Bay, mendingan ketahuan kalau ada Tuyul deh. “

“Bukan apa-apa, aku sendiri males kalau musti curiga ke setiap orang di kost ini. Tahu kan Bay, kalau kita di sini udah segitu kompaknya dan segitu nyaman nya tinggal bareng-bareng di sini. Ada peristiwa sama Mbak Sarah kemarin, kita semua saling bantu dan concern sama kondisinya. “

Roy segera melihat kepada Sarah, sambil membuat gesture meminta maaf, “Maaf ya Sar, kuungkit lagi peristiwamu, tapi buat contoh aja kok. “.

Sarah melihat perlahan ke arah Roy sambil mengangguk dan tersenyum. Menandakan dia tidak keberatan akan hal itu.

Roy kembali lagi mengeluarkan apa yang dirasakan.

“Lalu kita semua tahu di kost ini Bay, seberapa kamu berusaha menyembunyikannya dengan segala alasanmu, tapi kamu yang membantu Sarah. “

“Kamu nggak perlu berpura-pura Bay, kita semua di kostan ini udah tahu hal itu kok.”

Roy berhenti sejenak dan meminum kopi di depannya.

“Sekarang nggak usah ngomongin orang lain deh Bay, di antara kita bertiga aja. Nggak enak banget kan kalau sekarang aku jadi curiga sama dirimu Bay ? Atau ke dirimu Sar ? Ini bukan menuduh loh ya, sama sekali nggak ada maksud ke arah situ. Ini cuma mau menunjukkan aja, nggak enak kalau harus curiga ke teman sendiri, cuma karena nggak ngerasa aman dan nyaman aja kok. Sementara aku sendiri tahu cerita tentang dirimu Bay, dan tentang diri Sarah.”

“Begitu juga ke yang lain, sama sekali nggak enak kok curiga sama siapapun di kost ini. Karena kita semua udah kenal, dan sedikit banyak tahu mengenai cerita masing-masing.”

Bayu tersenyum sebentar mendengarkan pembahasan Roy. Dia tahu persis kekhawatiran dari Roy, mengenai perasaan aman dan nyaman yang hilang, dan tidak ingin curiga kepada penghuni kost, ataupun pengurusnya.

“Ngerti kan maksudku Bay ? “, tanya Roy.

“Ngerti kok Mas” , jawab Bayu perlahan.

Sementara Sarah hanya terdiam, seperti memikirkan sesuatu yang besar. Menunduk perlahan sambil melihat cangkir kopi di depannya, dan perlahan pandangannya beralih kepada botol air yang dibawa oleh Bayu. Matanya tiba-tiba bersinar dan berbinar, seakan baru menyadari sesuatu.

“Baaaaay…jangan-jangan air kamu tadi untuk itu ya ? “, ucap Sarah tidak terkontrol.

Bayu kaget mendengar pertanyaan itu. Pandangannya segera beradu dengan pandangan Sarah, dan perlahan gestur kepalanya membuat sebuah gerakan menggeleng.

Namun Sarah kelihatannya tidak memperhatikan gestur kecil Bayu, dan masih meneruskan pertanyaannya.

“Iya kan Bay ? Abis untuk apa lagi dong kamu ajak aku keliling kostan untuk tuang air putih ? Untuk apa dong Bay? “, Sarah tetap menanyakan hal itu.

Sementara Roy di hadapan mereka hanya bisa memperhatikan isi pembicaraan pasangan di depannya.

“Air apa Sar ? Keliling kostan gimana maksudnya ?”, tanya Roy.

“Iya Mas Roy, jadi…tadi tuh begini ceritanya..”, Sarah ragu sejenak untuk melanjutkan ceritanya, dan mengalihkan pandangannya sebentar ke Bayu. Bayu melihat Sarah sambil menggelengkan lagi kepalanya, dan kali ini Sarah menangkap maksudnya, tapi sudah terlambat.

“Yaaaaah maaf Bay, nggak boleh diceritain ya ? Tapi Mas Roy udah denger, gak apa-apa deh ya ? “, tanya Sarah sambil setengah merajuk kepada Bayu, dia sadar akan kesalahannya.

Melihat hal itu, Bayu hanya bisa tersenyum dan pasrah. Menyadari hal itu, Sarah pun segera bercerita.

“Jadi Mas Roy, tadi aku diajak sama Bayu, untuk nemenin dia. Aku sendiri juga bingung, apa yang mau dibikin sama Bayu, tapi tadi kita mengelilingi kostan ini, dan Bayu menuangkan air dari botol yang dia bawa, ke sekeliling kostan kita. “ , Sarah masih bercerita.

“Untuk itu kan Bay ? Air yang kamu tuang tadi untuk itu kan?”, Sarah masih dengan rasa ingin tahu yang tinggi, memaksa Bayu untuk menjawab.

Roy segera ikut memberondong Bayu dengan keresahannya, “Bener gitu Bay? Bukan orang kan yang ambil ? Jadi masih aman kan sebenarnya kostan kita ini kan Bay ? “.

Mendengar semua pertanyaan itu, Bayu hanya bisa menghela napas panjang. Tindakan yang tadinya mau dirahasiakan olehnya, kini semakin terasa terpojokkan, dan akhirnya.

“Jadi gini..”

“Tadi malam aku lihat sosok makhluk yang ambil. Tuyul kecil, bentuknya seperti orang biasa, tapi tingginya setinggi anak SD mungkin ya ..segini..”, ujar Bayu sambil berdiri dan menaruh tangannya di pinggang sebagai gambaran tinggi badan sosok yang dilihat.

“Bukan kok Mas Roy, sepertinya bukan manusia kok yang ambil.”, Bayu meneruskan lagi penjelasannya, sambil melihat Roy. Sementara Roy kelihatan menarik napas panjang dan menghembuskannya, sebuah gesture lega dari beban yang menghimpitnya.

Bayu pun meneruskan ceritanya.

“Tadinya ku mau mencoba untuk cari pertolongan, untuk bisa mengusir sosok itu dari sini. Sejujurnya, ku juga belum terlalu paham bagaimana mengusirnya. Jadi memang harus meminta bantuan kepada yang lebih bisa.”

“Tapi setelah ngobrol panjang mengenai dampaknya, kelihatannya kalau sosok itu diusir, nanti bisa datang lagi yang lain. Jadi nggak akan jadi efektif juga. Orang yang kumintai bantuan, dengan logis mengatakan kalau lebih baik digunakan metode memagari rumah kost ini. Agar sosok itu (dan juga sosok-sosok lainnya yang serupa dan punya niat sama), jadi nggak bisa masuk ke dalam. “

“Jadi aku mencoba untuk belajar cara memagari tempat ini dari orang tersebut, karena beliau lebih berkenan untuk mengajariku ilmunya daripada membuatnya sendiri untuk rumah ini. “.

“Itu makanya lewat media air putih ini, kucoba untuk mengelilingi seputaran kost ini, membuat sebuah pagar tidak kasat mata. “

“Tadi nya ku minta Sarah buat menemani, biar nggak terlalu kelihatan aneh, jalan sendirian mengitari kostan. Dan tadinya ku nggak mau cerita ke siapa-siapa tentang ini. Biar saja tidak ada yang tahu, toh juga belum tentu bisa efektif kok buatanku, karena masih dalam taraf baru belajar. “

Bayu menyudahi ceritanya sambil menunduk. “Begitu kurang lebih sih ceritanya. “

Sarah mendengar cerita itu, merasa bersalah, kenapa harus mengejar Bayu dengan pertanyaan-pertanyaannya, yang menyudutkan. Ia segera memeluk Bayu pelan.

“Maaf ya Bay, aku nggak tahu..”, ujar Sarah perlahan.

Bayu hanya tersenyum melirik, dan memegang tangan Sarah. “Nggak apa-apa, kan kamu nggak tahu. “

“Sejujurnya, aku juga ragu-ragu sih, antara mau cerita atau nggak. Satu hal karena khawatir jadi omongan teman-teman di sini. Tapi hal lain karena, ku juga belum tahu akan berhasil atau nggak metodeku ini. Jadi mungkin yang bijak sih, dilihat dulu beberapa hari ke depan,gimana efeknya. “, Bayu meneruskan penjelasannya.

Mendengar itu, Roy hanya bisa tersenyum kecil sambil memandang sepasang & sejoli di depannya. Tidak ada rasa risih, tapi lebih kepada lega mendengar penjelasan Bayu.

“Nggak apa-apa Bay, justru malah terima kasih kamu udah mau mencoba. Minimal, kalau di saya, saya jadi hilang kekhawatirannya ada teman di sini yang ambil uang.”, Roy pun mengangkat gelas kopinya dan menghabiskan isinya.

“Terima kasih ya Bay. “, ujar Roy sambil beranjak dari tempat duduknya. “Saya bisa tidur enak malam ini. “

Roy pun mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Bayu. Dengan ragu, Bayu menyambut uluran tangannya, dan keduanya berjabatan tangan sambil tersenyum. Roy segera berbalik badan dan meninggalkan sejoli itu di dapur.

“Saya duluan ya, mau ada janji sama kasur & bantal soalnya. “, ujar Roy sambil tersenyum.

Mendengar itu, Sarah dan Bayu hanya tertawa.

“Eh Mas Roy..”, panggil Bayu.

“Ya Bay ? “, langkah Roy pun terhenti dan menengok.

“Boleh minta tolong nggak ? Tolong obrolan yang tadi dikeep dulu di antara kita bertiga.”, tanya Bayu.

“Siap Bay..tenang aja. Sambil menunggu efeknya dari pagarmu toh? “, ujar Roy sambil menunjukkan jari jempolnya dan lanjut berjalan.

Melihat itu Bayu hanya bisa lemas, dan berkata pelan meskipun Roy sudah menghilang di balik pintu dapur, “Sebenarnya sih untuk selamanya..”

Keesokan harinya, ketika matahari sudah mulai turun dan mau digantikan oleh bulan, nampak seorang ibu paruh baya sedang berjalan. Suasana sore hari yang sudah tidak terik lagi, membuat Ibu itu terlihat menikmati suasana sore. Tidak ada langkah yang terburu-buru dan tidak ada yang perlu segera dituju.

Langkah ibu-ibu paruh baya itu terhenti sejenak, matanya menuju kepada sebuah warung kelontong kecil. Waroeng Podjok Mangkoes, nama depannya sangat familiar buat dirinya. Tapi bukan namanya yang membuat ibu itu ragu dan berhenti sesaat, melainkan kondisi fisik yang dilihatnya.

Depan dan pelataran warung itu penuh dengan orang yang berbelanja, terlihat ada 2-3 orang yang mengantri di depan warung untuk berbelanja. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat. Ibu-ibu paruh baya itu pun terdiam sambil memperhatikan perilaku yang berbelanja di warung tersebut. Satu orang selesai bertransaksi, 2 orang mengantri, dan segera 2 orang lagi datang berjalan menuju warung itu. Begitu terus selama 5 menit, terlihat urutan orang yang berbelanja masih berdatangan tanpa ada hentinya.

Perlahan Ibu-ibu itu melangkah semakin mendekati warung. Gesturnya menunjukkan sebuah kesabaran, menunggu dengan sabar sampai pelanggan yang datang ke warung tersebut sudah mulai mereda dan jarang.

Matanya mulai mengarahkan pandangan ke tempat lain, memperhatikan kerumunan orang-orang yang sedang berjalan kaki di sore itu. Sesekali melihat matahari yang sudah mulai turun menuju peraduannya. Sesekali beralih lagi ke langit yang cerah dan berwarna jingga.

Sampai akhirnya sepi itu datang, pelanggan warung tersebut seakan habis dan depan warung kembali terlihat tidak nampak seorang pun. Ibu-ibu paruh baya ini pun baru melangkah ke depan warung.

Sesampai nya di depan warung, Ibu-ibu itu segera memanggil nama yang sudah dikenalnya, “Mas Sakti..”.

Muncul sebuah wajah dari balik etalase, wajah yang agak letih karena sudah melalui hari yang panjang. “Eh Mbok Dar…masuk Mbok..masuk..lewat samping. “

“Warungnya Mas Sakti rame banget sekarang ya. “, ujar Mbok Dar.

“Nggak tahu Mbok..hari ini tiba-tiba aja kedatangan banyak orang yang beli. “, ujar Sakti.

“Pasti Mas Sakti capek banget, seharian udah melayani orang-orang yang mau beli. “, kata Mbok Dar. “Saya mau kembaliin ini aja Mas, kendi yang Mas Sakti kasih kemarin. “

Mbok Dar menyodorkan sebuah kendi kuno yang terbuat dari tanah liat, melalui etalase depan. Saktipun menerimanya.

“Gimana Mbok ? Sabrina udah minum airnya ? “, tanya Sakti.

“Sudah Mas, sudah segar sekarang Sabrina nya. Main sama Dom. Sudah mau makan, sudah nggak lemas lagi. “, Mbok Dar tersenyum waktu menjawab pertanyaan Sakti.

“Saya mau ikutan bilang terima kasih ke Mas Sakti. Sabrina kan udah kayak cucu sendiri Mas. Sedih kemarin waktu dia lemas terus dan nggak bertenaga. Mbok jadi ikutan kerasa sakit. “, Mbok Dar menunduk sebentar.

Akhirnya Sakti yang keluar dari etalase warungnya, dari pintu samping dan menemui Mbok Dar di depan etalase.

“Jangan gitu Mbok, Sabrina, Mas Ari, Mbak Alda sama Mbok Dar udah kayak keluarga sendiri. Jadi sewajarnya aja saya nolong sebisa saya. Syukurlah kalau Sabrina nya sudah pulih kembali. “, kata Sakti sambil menyalami Mbok Dar.

“Iya Mas, terasa senang rasanya lihat cucu Mbok bisa segar dan seneng lagi. “, tambah Mbok Dar.

“Mas Sakti juga jangan capek-capek..jaga kesehatannya. Sekarang warungnya udah mulai ramai, jangan terlalu dipaksa tenaganya Mas. Biar istirahatnya cukup. “

“Iya Mbok, terima kasih. “, Sakti mengangguk menjawab perkataan Mbok Dar.

“Mbok pamit ya Mas, biar Mas Sakti bisa istirahat dulu. “, Mbok Dar menyatukan kedua tangannya di depan dada.

“Mari Mbok, terima kasih udah nganterin kendinya. “, ujar Sakti sambil membuat gerakan yang sama.

Keduanya saling mengangguk kecil dan berpisah.

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar