Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DENGAN TANDA TANYA CHAPTER 8 REALITA - Waroeng Podjok Mangkoes

Seminggu berselang semenjak kejadian pencuri kecil di kostan Bayu. Selama seminggu ini, Kostan Bayu terasa sangat normal dan semakin erat kekerabatan ...

lovelie-light 16 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DENGAN TANDA TANYA CHAPTER 8 REALITA - Waroeng Podjok Mangkoes

Seminggu berselang semenjak kejadian pencuri kecil di kostan Bayu. Selama seminggu ini, Kostan Bayu terasa sangat normal dan semakin erat kekerabatan penghuninya. Semua terjadi, selain karena sudah tidak ada lagi kasus kehilangan, yang kemudian membuahkan tidak ada lagi rasa curiga antar penghuninya.

Setiap weekend, hari Sabtu atau minggu pagi, dapur kostan semakin penuh dengan para penghuni yang bercengkerama, saling update cerita, saling ngobrol dan berkelakar. Suara pagi ketika weekend menjadi semakin riuh lagi.

Semakin banyak penghuni kost yang membuat acara bersama-sama. Entah itu hanya makan di luar bareng, atau sampai jalan-jalan keluar bersama-sama. Semua kegiatan meningkatkan kedekatan dan koneksi antar penghuni kost.

Seperti juga di minggu pagi ini, ketika Bayu datang di dapur kostan, sepulang dari berolah raga pagi besama Sarah dan 2 orang teman nya lagi. Dapur Kostan nampak penuh dengan berbagai jenis penghuni kostan, yang sedang bercengkerama di sana.

“Naaaah ini dia orangnya…”, ujar seseorang tiba-tiba.

“Bay..huhuuuyy…”, salah seorang penghuni kost melambaikan tangannya kepada Bayu dengan nada gembira.

Disambut riuh dengan penghuni kostan lain di dalam dapur. Semua membuat suara yang ramai sambil melambaikan tangannya ke arah Bayu.

Sementara Bayu, Sarah dan dua orang lainnya hanya bisa terheran-heran melihat adegan itu.

“Ada apa sih ? “, tanya Bayu sambil tersenyum kebingungan.

Tiba-tiba matanya melihat ke tengah-tengah kerumunan orang-orang itu di dapur. Nampak Mas Roy sedang tersenyum lebar ke arahnya sambil duduk tenang dan nampak jadi pusat perhatian.

Sejenak Bayu langsung bisa menangkap apa yang sudah terjadi di dalam dapur kostan.

Di tengah banyak orang yang menyalami dirinya dan menepuk bahunya, Bayu hanya terpaku memandang Mas Roy, dengan muka penuh tanda tanya. Sementara Mas Roy hanya memandang balik ke arah bayu sambil mengangkat bahu dan tersenyum.

Waduh, bahaya ini”, ujar Bayu dalam hati. Dirinya merasa sama sekali nggak nyaman dengan kondisi itu. Menjadi pusat perhatian dan diberikan ucapan dari banyak orang, disertai tepukan di bahu.

“Terima kasih Bay “

“Bayu gitu loh, kerennn..!!!”

“Thank you ya Bay, udah bikin kostan kita aman lagi. “

Begitu banyak ucapan dari para penghuni kost yang nongkrong di dapur dan bikin suasana semakin riuh.

Melihat hal itu, Sarah segera mengambil alih kendali.

Maju ke depan dan berkata lantang, “Teman-teman, terima kasih ya ucapannya. Mewakili Bayu, saya mengucapkan terima kasih kembali atas apresiasi nya. “

Mendengar itu, segera semua mata mengarah kepada Sarah, dan suasana pun terdiam.

“Terima kasih ya..tapi sekalian mau minta tolong ini, nggak usah dibesar2kan lagi yaaa…Bayu nya nggak ngincer ngetopnya soalnya. Kebetulan aku ada di sana, menemani Bayu, waktu bikin kegiatan buat bikin pagar kostan ini. Tapi dia maunya dilakukan secara rahasia dan diam-diam. Karena nggak mau sampe ketahuan orang dan jadi rame nantinya. “, Sarah meneruskan monolog lantangnya di depan teman-teman kost.

“Makanya, sekalian di sini, sekalian aku mau minta tolong ke temen-temen semua..karena kita udah punya kekompakan sendiri di kostan ini..jadi minta tolong, cerita ini kalau boleh cuma sampai di kita-kita aja ya. Nggak perlu sampai ke luar kostan ini. “, Sarah menutup kata-katanya sambil melirik ke arah Bayu.

“Gimana ? Setujuuuuu ? “, tanya Sarah lantang.

“Setujuuuuu…”, sambut teman-teman kost yang ada di dapur. Kemudian disambut dengan tepuk tangan riuh.

Melihat hal itu, Sarahpun tersenyum, dan kembali menengok ke arah Bayu, yang tersenyum kecil sambil mengangguk.

Terasa ada sentuhan kecil Bayu di pundak Sarah, sambil terdengar suara berbisik, “Terima kasih ya Sayang.”

Siang itu, di kostan, handphone Bayu berdering pelan. Nama “Mas Sakti”, muncul di layarnya.

Segera Bayu angkat panggilan itu.

“Ya Mas ? “, kata Bayu.

“Bay, bisa ke warung sekarang kah ? Kita perlu ke tempatnya Mas Ari, bapaknya Sabrina. Dia butuh kita. “, suara Mas Sakti terdengar tegas di sana.

“Bisa Mas, segera meluncur ya. “, jawab Bayu.

“Terima kasih Bay, ditunggu ya..sudah ada Mbok Dhar di sini. Kita sama-sama ke sana setelah kamu datang. “, jawab Sakti.

Segera setelah panggilan telephone ditutup, Bayu berangkat menuju Waroeng Podjok Mangkoes.

Melihat sisi depan dari Waroeng Podjok Mangkoes, Bayu hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, “Kok tumben tutup ? “.

Sesampainya di depan, Bayu pun mengetuk railing besi penutup warung. Tidak lama kemudian, railing besi pun terbuka setengah, dan nampak Mas Sakti sudah dalam kondisi siap, kemudian Mbok Dharmi muncul di belakangnya.

“Yuk Bay, kita langsung ke rumahnya Sabrina”, ujar Sakti.

Segera mereka bertiga berangkat ke rumah Sabrina.

Sekilas di perjalanan, Bayu sempat bertanya sedikit, “Ada apa Mas ? Kok tiba-tiba sekali ? ”

“Kata Mbok Dhar, Sabrina minta ketemu denganku dan kamu “, jawab Sakti singkat. Tapi raut muka nya mencerminkan sebuah kekhawatiran, dan langkah kakinya menjadi lebih cepat dari biasanya.

Pintu kamar Sabrina diketuk perlahan, dan dibuka oleh ibunya, Alda.

“Sabrina”, terdengar suara Alda memanggil perlahan, suaranya masih menyiratkan rasa kekhawatiran.

Dalam kamar Sabrina, nampak cahaya lampu tidur yang remang-remang, dengan bayangan seorang anak kecil yang meringkuk di dalam selimut, membelakangi pintu masuk. Mendengar panggilan itu, bayangan itu terlihat bergerak, berbalik melihat ke pintu.

Alda segera menghampiri anaknya yang masih berbaring, dan duduk di sebelah tempat tidurnya.

“Sabrina, ini ada Om Sakti & Om Bayu..katanya Sabrina mau ketemu.”, Alda bicara masih dengan suara pelan.

Mata kuyu Sabrina terbuka dan memeluk Ibu nya, posisinya berubah menjadi duduk di tempat tidur, tapi masih di dalam selimut. Suasana muram dan sedih, bukan hanya terlihat pada Sabrina, tapi juga meliputi seluruh ruang kamarnya.

Ari, bapak nya Sabrina, segera mempersilahkan Sakti dan Bayu masuk ke dalam kamar, dengan sebuah gerakan kecil tanpa suara. Segera setelah paham gestur dari Ari, Sakti dan Bayu pun memasuki kamar perlahan. Lampu kamar menyala terang, yang memperlihat seisi kamar yang rapi.

Mata Bayu segera berputar mencari-cari seisi kamar, dan akhirnya menemukan Dom, si kelinci putih kecil, sedang meringkuk di balik bantal Sabrina. Mata Dom terbuka sedikit dan menatap rombongan yang datang, lalu memejam kembali dan masih pada posisi semula.

Sakti dan Bayu segera menghampiri tempat tidur Sabrina.

“Hai Sabrina..katanya mau ketemu sama Om Bayu”, Sakti berkata perlahan sambil mendorong Bayu untuk maju ke depan.

Bayu yang menangkap isyarat kecil dari Sakti, lalu duduk di sebelah Sabrina, dan mengajak Sabrina berbicara.

“Sabrina, ini Om Bayu dan Om Sakti udah di sini. Kenapa kamu nyariin Om ? “, ucap Bayu sambil duduk di sebelah Sabrina, menggantikan Alda, ibunya. Dengan segera Alda bangkit dan berdiri di depan pintu kamar, di sebelah Ari.

Sakti pun mengambil tempat di belakang Bayu, dan sama-sama menatap Sabrina menanti jawaban.

Sabrina segera memeluk Bayu perlahan, seperti memeluk paman yang sudah lama tidak ketemu. Lalu mulai meneteskan air mata, suara napasnya langsung tidak teratur, dan sesekali terdengar sesenggukan.

“Astrid Om, Astrid aneh tadi malam..”, ujar Sabrina dalam tangisnya di pelukan Bayu.

Bayu merasakan rasa sedih dari Sabrina, tapi masih belum paham penyebabnya.

Tiba-tiba ia merasa ada tepukan di bahunya..Mas Sakti…dan terdengar bisikan, “Kita ke tempat Maheswari Bay..”

Tidak lama, Bayu merasa seperti tertarik ke belakang, dan suasana kamar menjadi semakin blur. Lalu dalam penglihatannya, langsung tergambar suasana pantai dengan warna langit yang temaram.

Bayu sadar, bahwa dia sedang dipaksa oleh Mas Sakti untuk berpindah domain, dan menuju domain Maheswari. Namun kali ini perjalanannya ada yang terasa aneh dan tidak seperti biasanya.

Biasanya ketika Bayu melakukan perjalanan perpindahan domain, semua akan berubah, dan kesadarannya hanya merasakan domain yang dituju. Tapi tidak terasa sama sekali kesadaran di tempat asal badan fisiknya, tapi kali ini berbeda. Bayu bisa merasakan kedua alam, dalam waktu yang bersamaan.

Rasanya aneh dan janggal, Bayu merasa kesadarannnya terbagi. Dia bisa merasakan sedang ada di dalam kamar Sabrina dan memeluk anak kecil itu, tapi juga sekaligus bisa merasakan sudah masuk ke dalam area Domain Maheswari, yang terletak di pinggir pantai. Semua terasa berbarengan dan ini membuat Bayu yang sedang berjalan di tepi pantai menjadi limbung.

Segera ada tangan yang menopang dirinya, dan berkata, “Tenang Bay, atur saja napasmu. Baru ya merasakan bisa memecah kesadaran gini ya ? “, suara Sakti terdengar di sampingnya.

Bayu menjadi lebih sadar, kebingungan yang melanda masih terasa tidak bisa dikontrol oleh dirinya. Namun seiring langkah mereka yang semakin mendekati rumah di pinggir pantai itu, tempat Maheswari tinggal, Bayu bisa merasa lebih tenang dan lebih menjejakkan kakinya ke pasir pantai.

Sementara di kamar Sabrina, anak kecil yang sedang bersedih itu hanya duduk di tempat tidurnya dan menundukkan kepala. Napasnya masih tersengal-sengal habis menangis. Alda segera menghampiri dan menyeka air mata anaknya dengan sehelai tissue.

“Sabrina cerita aja ke Om Bayu & Om Sakti. Kenapa Sabrina jadi sedih begini ? “, Alda berujar pelan kepada anaknya.

“Astrid Ma, Astrid aneh tadi malam. Dia nggak mau…”, perkataan Sabrina terhenti, tercekat, dan menatap kepada Bayu dan Sakti.

Ari, Bapaknya, segera membagikan cerita tadi malam.

“Tadi malam kami menengok Astrid di Rumah Sakit Mas Sakti, tapi memang Astrid tidak seperti biasanya tadi malam. Biasanya Astrid kelihatan happy dan segar kalau ketemu teman baiknya. Biasanya mereka berdua langsung bermain-main, dan tertawa-tawa. Tapi….”

Ari meneruskan ceritanya perlahan, “…tadi malam, Astrid kelihatan lemas dan kuyu sepanjang malam. Ngobrol dengan Sabrina pun hanya sambil tiduran saja, dengan suara yang lemah sekali. “

“Sampai kami pulang pun, Astrid masih lemas dan lemah. Setelah itu, Sabrina langsung ikutan drop dan sedih, sampai pagi ini. “, Ari menyelesaikan ceritanya.

Sementara di Domain Maheswari.

Bayu dan Sakti semakin mendekati rumah pantai, tempat mereka biasa berkumpul dengan Maheswari. Namun nampak satu sosok tegap dan kekar, berkepala kelinci, berada di depan pintu menyambut mereka berdua.

“Dom..apa yang sebenarnya terjadi ? “, tanya Sakti kepada sosok itu.

Dom hanya menggeleng perlahan.

“Maheswari mana Dom ? “, Bayu pun ikut bertanya kepada Dom. Dan hanya dijawab dengan gelengan perlahan yang sama.

“Tadi malam kami ke Rumah Sakit, menjenguk Astrid, seperti biasa. Tapi kondisinya tidak biasa Mas Sakti. Astrid sudah tidak punya energi apa-apa lagi untuk ditarik, tidak ada lagi energi sakit, tidak ada lagi energi sedih, tidak ada lagi energi negatif apapun. Semua energinya positif, yang nggak bisa ditarik. “

Dom bercerita perlahan sambil duduk di kursi depan rumah pantai itu.

“Karena tidak ada yang bisa ditarik energinya, jadinya nggak ada yang bisa diberikan juga, karena seakan-akan wadahnya Astrid sudah menolak semua hal. Akibatnya, Astrid tetap menjadi lemah. “

Dom terdiam, dan menghela napas panjang dalam duduk, pandangannya melihat ke bibir pantai di depannya.

“Terus sekarang..Maheswari di mana Dom ? “, tanya Bayu.

“Ada di kamarnya Mas. Dia mengurung diri sejak tadi malam, nggak mau bertemu siapapun. “, jawab Dom singkat.

“Dia ngotot ya Dom ? “, ujar Sakti.

“Iya Mas, dia ngotot banget sejak tadi malam. Ingin tetap memberikan yang terbaik untuk sahabat baiknya. Tapi frustrasi sendiri, karena tubuh sahabat kecilnya itu menolak terus. “, Dom kembali menjawab.

Sakti hanya bisa ikut duduk dan memandang bibir pantai bersama Dom.

“Mungkin kita biarkan dulu sampai emosinya mereda ya. Dan sepertinya yang dia anggap panutan dan kakaknya yang bisa ngomong soal ini dengan dia. “, Sakti berkata perlahan.

Dom pun menatap Sakti dan perlahan menundukkan kepala.

“Iya Mas, pendapatku juga begitu. Biar Ibu yang bicara dengan dia nanti ya ? Sepertinya perkataan Ibu yang didengar. “

Sakti mengangguk mendengar itu.

“Dom, kamu jaga Maheswari dan Sabrina ya. Kami titip buat kamu jaga. Sementara, kami kembali dulu ke rumahnya Sabrina. “, Sakti mengucapkan itu sambil menepuk bahu Dom dengan lembut.

“Baik Mas Sakti, siap untuk dijaga “, ujar Dom sambil mengangguk kecil.

Sakti tersenyum kecil dan mengangguk, lalu berpaling ke arah Bayu.

“Yuk Bay, kita kembali..”.

Dalam perjalanan pulang dari rumah Sabrina, Sakti dan Bayu berdampingan berjalan pelan. Malam sudah turun, dan matahari pun sudah menghilang dan digantikan rembulan.

Suasana malam, dilengkapi dengan kemuraman suasana hati kedua insan itu, berdiam dalam jalan, tanpa mengeluarkan kata-kata. PIkiran keduanya sibuk berputar dan berpindah, tentang apa yang sedang dihadapi.

Bayu pun memulai pembicaraannya, “Jadi kita harus gimana Mas ? “.

Sakti melambatkan langkah, dengan mata yang menerawang ke depan jalan. Menatap beberapa orang yang sedang lalu lalang di hadapannya.

Sambil berkata perlahan, “Bay, kamu ke Warung dulu ya sebentar…setelah itu kita ke tempatnya Tunggal Dewi. “.

Bayu pun mengangguk pelan dan menjawab, “Baik Mas”.

“Mas..”

Tiba-tiba terdengar sapaan suara perempuan dengan suara yang kecil dan lirih. Keduanya mendengar suara itu, saling tatap, lalu berhenti dan melongok ke samping dan belakang, mencari sumber suara.

Tapi tidak ditemukan siapa-siapa. Mereka tidak menjumpai 1 orang pun di dekat mereka yang memanggil.

Keduanya bingung sejenak.

Lalu Sakti memberi sebuah kode, dengan mengeluarkan sebatang rokok, dan mulai menyalakannya.

“Kita tunggu sejenak di sini Bay. “.

“Boleh Mas, aku penasaran itu suara siapa. “, ucap Bayu, sambil mengambil rokok dari kantongnya dan mulai menyalakannya juga.

Mereka berdua berdiam diri, tidak mengucapkan satu patah kata pun. Menajamkan telinga, mata dan rasa, sembari menikmati hisapan rokok di pinggir jalan.

“Mas…”

Terdengar suara perempuan yang lirih lagi. Bayu dan Sakti sama-sama mendengarnya, tapi tidak satupun wujud yang terlihat di pandangan mereka, baik sosok yang nyata maupun yang tidak.

“Mas Sakti…”, ucapan itu kembali terdengar lirih, kali ini dari jarak yang agak jauh.

Sakti berjalan perlahan mencari sumber suara, sampai di sebuah ujung gang kecil, yang hanya muat 1 motor untuk melintasinya. Pandangan sakti mengarah ke dalam gang kecil itu, dan menemukan sebuah bayangan.

Dengan isyarat kecil, Sakti segera memanggil Bayu untuk mengikuti langkahnya. Dan keduanya bergegas masuk ke dalam gang untuk menemui sosok yang memanggilnya.

Sosok perempuan dengan baju terusan bunga-bunga warna cerah, rambut ikal sebahu yang tergerai tanpa ikatan, namun wajahnya yang menunduk, masih diselimuti bayangan gelap.

“Tadi kamu manggil saya ? “, tanya Sakti perlahan.

“Mas Sakti, boleh saya minta tolong ? “, ujar sosok itu perlahan.

“Minta tolong apa ? “, tanya Sakti lagi.

Bayu hanya diam saja melihat percakapan itu. Dia lihat dengan jelas sosok itu di hadapannya, seakan sosok itu adalah manusia lain. Tapi belum berani berkomentar apa-apa, selain hanya mengikuti arah pembicaraan mereka berdua.

“Saya Inggrid, saya minta tolong untuk bebaskan adik saya..adik saya sedang terperangkap. “, ujar perempuan itu sambil mendongakkan kepalanya.

image

Illustrated by Lovelie Light (LVL)

Yang membuat Bayu kaget adalah, wajah sosok perempuan itu bersimbah darah segar. Pemandangan ini bikin badan Bayu agak tegang, karena bagi dirinya, ini adalah pertama kali melihat sosok dengan penampilan yang tragis seperti ini.

“Inggrid, kamu kembali saja ya. “, ujar Sakti. “Saya tahu kamu mengeluarkan banyak tenaga untuk pertemuan ini, dan mewujud seperti ini. Kamu kembali dulu, nanti saya cari kamu di tempatmu sekarang dan kita bisa ngobrol panjang tentang masalahmu. “

Mendengar perkataan Sakti, perempuan itu hanya tersenyum. Mata dan wajahnya seketika berubah menjadi lebih cerah, seakan menemukan sebuah harapan. Anggukan kecil kepala perempuan itu, menandakan bahwa ia mengerti maksud dari perkataan Sakti.

Perlahan keberadaan sosok perempuan itu di dalam gang memudar, dan kemudian menghilang.

Bayu masih terkejut, dan tidak mampu berkata apa-apa. Sampai dikagetkan oleh Sakti, dengan kata-kata, “Ayo Bay..kita lanjut ke warung. “

Bayu hanya mengangguk dan mengikuti Sakti.

“Siapa tadi Mas ? “

“Nggak tahu Bay, nggak kenal. “

“Tapi..nanti dicari sama Mas Sakti ? Baru ngobrol pas kita udah di warung ? Gitu ya ? “

“Biar nanti saya yang urus dia Bay, kita selesaikan dulu saja apa yang ada di depan kita. Setuju ?”, ujar Sakti.

“Setuju Mas. “, jawab Bayu singkat.

Mereka berdua segera melanjutkan perjalanan menuju Waroeng Podjok Mangkoes. Perjalanan yang sepi, karena tidak terlalu terisi dengan percakapan, tidak ada pertanyaan dan jawaban, yang ada hanya pembicaraan singkat.

Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, dan hanya sesekali bercakap seperlunya.

Semakin mendekati Waroeng Podjok Mangkoes, semakin terlihat oleh Bayu dan Sakti, bahwa ada beberapa orang yang menunggu di luar Warung. Beberapa anak muda dengan motornya, nampak bercengkrama di depan Warung yang sedang tutup.

Seketika Sakti segera memegang tangan Bayu perlahan.

“Bay, sepertinya kita nggak bisa ke Warung deh..”, ujar Sakti perlahan. Mereka berdua pun menghentikan langkahnya.

“Siapa mereka Mas ? “, tanya Bayu.

“Anak-anak motor, yang suka balapan dan suruhan-suruhan mereka. “, jawab Sakti.

“Mau apa mereka itu ? , ujar Bayu.

“Sudah beberapa hari ini, Warung di datangi oleh mereka. Maksud mereka mau mencari tahu, siapa yang bisa bikin sepeda motor tua jadi menang balapan ? “, Kata Sakti, sejenak berhenti, lalu melanjutkan ceritanya.

“Ada yang memberanikan diri bertanya langsung, ada yang basa basi dengan berbelanja dulu di warung, ada yang datang langsung dan kadang ada yang menyuruh temannya atau ARTnya. Tapi rata-rata tujuannya sama, mereka penasaran siapa yang bisa bikin motor tua jadi menang dalam pertandingan. Dan rata-rata mereka sudah menyimpulkan, kalau itu pasti menggunakan cara yang nggak wajar. “

Mendengar itu, Bayu hanya bisa membayangkan satu orang yang menyebarkan cerita itu…GODAM!!!

“Kita nggak bisa ke Warung sepertinya Bay. “

“Terlalu banyak orang, dan terlalu menyia-nyiakan waktu kita untuk interaksi dengan banyak orang itu. Kalaupun dicuekkin dan kita langsung masuk ke dalam, nggak akan tenang jadinya di dalam warung. “

“Kita ke tempat kost ku aja Mas .. gimana ? “, ujar Bayu menawarkan.

“Nah, boleh tuh. “, jawab Sakti perlahan.

“Yuk kalau gitu..agak jauh dikit lagi gak apa-apa ya Mas ? “

Keduanya memilih melipir melalui seberang jalan Waroeng Podjok Mangkoes, untuk menghindari kerumunan anak muda di depan Warung. Dengan berjalan menunduk, keduanya merubah arah tujuannya dan melanjutkan berjalan kaki menuju tempat kost Bayu.

Suasana malam mulai terasa semakin sepi dan dingin, tapi badan Bayu terasa hangat. Mungkin karena berjalan kaki agak lumayan jauh, sehingga suhu badannya meningkat. Atau mungkin karena pikiran-pikirannya yang berseliweran di dalam kepala, banyak hal yang harus dilakukan setelah sampai di tempat kost tadi, yang membuat ritme tubuhnya meningkat.

Selang beberapa menit, mereka berdua tiba di sebuah jalan masuk kecil dari jalan utama, dan berbelok. Rumah tempat Bayu kost sudah terlihat, dan tidak lama kemudian, keduanya sampai di depan pagar tempat Kost Bayu.

“Bagus pagar bikinanmu Bay..udah hebat”, kata Sakti ketika melewati pagar kostan Bayu.

Bayu terdiam mendengar itu, dan sedikit agak lama untuk menyadari apa yang sedang dibicarakan oleh Sakti.

“Ooohh…pagar itu ya ”, Bayu menunduk dan tersenyum kecil ketika mulai menyadari topik pembicaraannya. “Ah, kan cuma ngikut apa yang diajarkan sama Tunggal Dewi Mas..”

“Tapi bagus loh..kuat..untuk yang pertama kali bikin, segini bagus loh Bay. “, ujar Sakti.

Mendengar itu, senyum Bayu semakin berkembang, dan berusaha disembunyikan.

Segera Bayu mengambil HP nya, “Sebentar Mas, ku telp Sarah dulu..biar siapin minum untuk mas Sakti.

Sakti hanya tertawa melihat Bayu menjadi gugup dan salah tingkah gitu, hanya karena dipuji sedikit.

Tapi tawanya terhenti melihat reaksi Bayu ketika membuka HPnya.

Raut muka Bayu menjadi pucat dan emosinya terlihat drop.

“Mas..”, kata-kata Bayu tercekat di tenggorokannya.

Hanya sanggup menunjukkan HP nya pada Mas Sakti, dan isinya adalah sebuah message, yang mungkin waktu diterima tidak terdengar, karena mereka berdua sedang dalam perjalanan.

Pak Burhan :

Telah meninggal dunia, anak kami satu-satunya, ASTRID AMELIA, pada pukul 20:03…….

——- END ———-

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar