Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DIIKUTI TANDA TANYA Chapter 2. Kutukan Tanpa Suara - Waroeng Podjok Mangkoes

"Sarah…Sarah….SARAH…”, Bayu mengeraskan volume suaranya. Seketika Sarah terbangun dari lamunannya, dan segera memperlambat langkahnya. Tadi tanpa disa...

lovelie-light 25 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DIIKUTI TANDA TANYA Chapter 2. Kutukan Tanpa Suara - Waroeng Podjok Mangkoes

“Sarah…Sarah….SARAH…”, Bayu mengeraskan volume suaranya.

Seketika Sarah terbangun dari lamunannya, dan segera memperlambat langkahnya. Tadi tanpa disadari, Sarah mempercepat langkahnya karena pikirannya tidak lagi berada di tempatnya, hingga meninggalkan Bayu agak jauh di belakangnya.

Di sore itu, mereka berdua berjalan menuju ke Waroeng Podjok Mangkoes, melewati jalanan yang lebih sepi dari biasanya.

Pagi tadi, sewaktu di pantry kost nya, Bayu sudah menjelaskan apa yang dilihatnya kepada Sarah, sebuah sosok hitam dengan rambut panjang yang membotak dan senyum yang meringis. Meskipun ketakutan mendengar hal itu, tapi Sarah merasa lebih aman karena ada Bayu sekarang di sebelahnya.

Namun bukan itu yang membuat pikiran Sarah terbang kemana-mana, yang membuat Sarah tertegun adalah perkataan Bayu tadi pagi setelah menjelaskan apa yang dilihatnya.

“Sarah, sepertinya ini ditanamkan dan sengaja dipasangkan dengan kamu, entah oleh siapa. Aku sendiri tidak bisa membaca oleh siapa, tapi yang jelas, makhluk ini yang membuat pemikiranmu menjadi tidak stabil. Sering uring-uringan, sering cemas yang berlebihan, sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Kondisi mu kemarin itu pun bukan karena kerasukan makhluk ini, namun makhluk ini yang membuatmu menjadi rapuh, sehingga bisa kehilangan kesadaranmu.”

Maaf ya, aku kemarin tidak melihat adanya makhluk ini, tapi kalau kamu nggak keberatan kita bisa tanya lebih banyak tentang hal ini kepada temanku. Mas Sakti namanya.”

“Beliau punya warung serba ada di dekat sini, dan nanti sore kita bisa ama-sama ke sana. Jangan khawatir, aku temani ya. “

Yang menjadi pemikiran Sarah bukan tentang makhluknya, karena sudah ada rasa aman yang diberikan oleh Bayu kepadanya. Tetapi lebih kepada, siapa yang tega mengirimkan dan menanamkan makhluk itu di dirinya ? Siapa yang bisa setega itu bermain di ranah yang seperti ini ?

Bayu menghentikan pemikiran Sarah, “Sudah Sarah, nggak perlu terlalu dipikirkan”, sambil tangannya menggamit tangan Sarah untuk digandeng.

“Nanti kita bisa tanya seluruhnya pada Mas Sakti. Ya ? “

Mendengar itu, Sarah hanya mengangguk kecil sambil mendekatkan diri kepada Bayu. Keduanya segera mempercepat langkahnya, agar bisa segera tiba di Waroeng Podjok Mangkoes.

“Mas Sakti…”

Bayu memanggil Sakti ketika tiba di depan etalase warung. Seperti biasa, tidak lama kepala Sakti nongol di balik etalase Warung.

“Eh kamu Bay, lewat samping ya…’, kata Sakti.

Segera Bayu menggandeng Sarah untuk memasuki pintu samping etalase warung, seperti yang sudah biasa ia lakukan. Bayu yang sudah terbiasa dengan ruangan dalam etalase Warung, segera menuntun Sarah untuk duduk di tempat duduk di belakang warung.

“Eh, nggak sendirian ternyata Bay…kenalin dulu dong teman nya. “, sapa Sakti sambil tersenyum melihat wanita cantik yang dibawa oleh Bayu.

“Ini Sarah Mas”, ujar Bayu sambil tersenyum.

“Saya Sarah Mas. “, Sarahpun segera mengulurkan tangannya kepada Sakti, yang langsung disambut oleh Sakti dengan senyum yang lebar.

“Owalah, ini toh yang namanya Mbak Sarah, sudah ngetop namamu di sini. Bayu sering cerita ke saya tentang Mbak Sarahnya. Yang kemarin ada insiden di Kost itu kan ya Bay ? “, tanya Sakti sambil tersenyum-senyum melihat Bayu. Bayu yang tersipu malu mendengar hal itu, semakin membuat Sakti berusaha untuk menggodanya.

“Bayu cerita apa aja Mas Sakti ? “, tanya Sarah dengan polos.

“Waaah banyak, ya begitulah, Bayu di sini sudah ku anggap jadi anggota keluarga sendiri. Dia sudah nyaman di sini, jadi lebih banyak dan lebih bebas cerita tentang perasaannya. “, cerita Sakti sambil tetap tersenyum ke arah Bayu.

“Mas ah…”, Bayu jadi nggak enak dengan Sarah.

“Eh, tapi ini udah resmi kan Bay ? “, tanya Sakti dengan menggoda.

Mendengar itu, Sarah hanya tersipu malu dan membuang pandangannya ke lantai, tanpa berani menatap mata Sakti ataupun Bayu.

“Ya anggap saja keluarga sendiri di sini ya Sarah, siapapun yang dekat dengan Bayu, saya anggap keluarga juga di sini. “ , kata Sakti sambil terus tersenyum, seketika panggilannya berubah dengan menghilangkan kata Mbak di depan nama Sarah.

Sarah hanya tersenyum kecil tanpa bisa mengatakan apapun.

“Udah Mas godainnya ? Puas-puasin aja dulu kalau belum “, kata Bayu kepada Sakti.

“Hahahaha..saya tahu kok ada yang lebih penting untuk diobrolin Bay, daripada terus godain kamu. Lebih baik kita langsung aja ke topik utama ya ? “, kata Sakti.

“Nah itu, benar sekali. “

“Kamu mau tau kan tentang makhluk itu ? Sudah kelihatan semua sekarang Bay ? Terakhir kamu cerita hanya melihat jari-jarinya saja. “, ucap Sakti sambil merubah posisi duduknya.

Belum sampai Sarah dan Bayu tercengang mendengar perkataan Sakti, sudah mendapat pertanyaan baru.

“Aduh sampai lupa nawarin minum, Sarah mau minum apa ? Mau dibikinin kopi atau teh ? “.

“Nggak usah repot-repot Mas “, kata Sarah.

“Iya Mas, nanti kuambilkan saja minuman dingin dari chiller mu di depan etalase. Jangan merepotkan Mas. “, ujar Bayu.

“Oke baiklah. “, kata Sakti sambil mengangguk. Tidak lama kemudian, tangannya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, sambil bertanya, “Jadi gimana ceritanya Bay ?”

“Tadi pagi kulihat full bentuk makhluk yang di belakang Sarah Mas. Bentuknya hitam, dengan kuku jari yang runcing, rambut panjang yang tumbuh di atas kepala yang membotak, tatapan mata tajam dan senyum menyeringai.” Bayu menjelaskan, sambil tangannya ikut-ikutan membakar sebatang rokok.

Sambil mengepulkan asap dari mulutnya, dan memandang ke lantai dengan tegang, Bayu meneruskan, “Gesture makhluk itu seperti ingin memeluk dan menguasai Sarah Mas. Setidaknya, itu kesan yang kudapat dari gerakannya yang memeluk Sarah dari belakang. Kusendiri kan baru saja memasuki dunia seperti ini dan belum bisa tahu banyak langkah apa selanjutnya, jadi masih butuh banyak bimbingan dari Mas Sakti. “, Bayu menjelaskan dengan melirik Sarah yang duduk dengan sikap tegang sambil mendengarkan. “Tapi sejujurnya, ku khawatir dengan Sarah, apa makhluk itu bermaksud jahat Mas ?”

Mas Sakti melirik Bayu, lalu melirik kepada Sarah, sambil berkata, “Cieee, baru resmi udah mulai kerasa khawatir ya Bay ? “, sambil tersenyum kepada keduanya.

Mendengar itu, Sarah membelalakan matanya, tapi kemudian mau nggak mau tertawa kecil.

“Yaaah dia malah bercanda, udah kali Mas godain nya..ini serius loh aku..”, ujar Bayu.

“Tau kok kamu serius, biar Sarah nggak tegang aja Bay, “, kata Sakti sambil tertawa perlahan. “Lihat tuh, Sarah sudah mulai bisa santai, jangan terlalu ngebut Bay, pikirkan juga ritme yang kamu ajak ke sini. Mereka belum tentu bisa sesantai itu mendengar obrolan kita yang aneh ini. “

“Wah iya, aku terlalu ngebut ya Mas..maaf Mas, aku sering terburu-buru, sampai lupa kalau mungkin Sarah belum terbiasa.”, Bayu menjawab sambil menepuk jidatnya.

Sarah hanya terdiam melihat kedua laki-laki itu mengobrol di depan nya. Hatinya masih penuh dengan kekhawatiran, tapi lambat laun merasa cukup nyaman di ruang dalam etalase warung itu. Seakan tempat itu bisa memberikan rasa aman untuk dirinya, karena berada di antara orang-orang yang mengerti tentang kondisi nya, sebuah kondisi yang sama sekali asing bagi dirinya.

Tiba-tiba Sarah terhenyak dengan perkataan Sakti berikutnya, “ Sarah, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu ya..santai saja. Memang begini isi obrolan kita di sini. Bayu ini sedang memasuki sebuah dunia yang asing bagi dirinya, dan sebisa mungkin saya membantu menjelaskan dengan runut dan tepat. “

Sarah pun akhirnya berani menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya, “Tapi Mas Sakti, siapa yang mengirimkannya ?”

Sakti menghisap rokoknya, satu hisapan terakhir, untuk dihembuskan asapnya lalu mematikannya di asbak di atas meja.

“Saya kira, sudah nggak penting lagi cari tahu siapa yang mengirimkan itu Sarah. Karena apapun itu, yang terpenting bukan mencari pelaku, tapi menghentikan efek dan akibatnya. Mencari pengirimnya hanya akan membentuk sebuah dendam, tapi titik masalah nya akan tetap ada kalau tidak dicari solusinya. “, Mas Sakti menjelaskan.

Sarah terdiam mendengarkan penjelasan Sakti dengan seksama.

“Kalau kamu gak keberatan, kita cari solusinya tanpa menimbulkan dendam berkepanjangan. Kita selesaikan masalah dengan makhluk itu, lalu kita buatkan semacam pelindung untuk dirimu, agar tidak ada lagi upaya serupa ke arah yang sama. Gimana menurutmu kalau begitu Sarah ? “, tanya Mas Sakti.

Mendengar penjelasan itu, Sarah hanya mengangguk kecil sambil bergumam, “iya Mas, salah fokus saya, ini bukan tentang orang lain. Tapi ini tentang saya sendiri. “

“Nah begitu dong, kalau begini saya nggak mempermasalahkan lagi pilihan nya Bayu nih. Pilihan yang tepat ini. “, ujar Sakti sambil tertawa.

Mau nggak mau, Sarahpun tersenyum mendengar hal itu. Masih saja call back kepada hubungan barunya dengan Bayu, yang menjadi topik utama hari ini di Waroeng Podjok Mangkoes.

“Sekarang Sarah tenang saja, Saya dan Bayu akan urus hal ini nanti malam. Kamu tenang saja dan tidur yang nyenyak ya, besok kamu akan dengar cerita lengkapnya dari Bayu. “

Sarah mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Sakti. Sementara obrolan pun dilanjutkan dengan obrolan ringan, sampai beberapa saat kemudian, tiba saatnya untuk pasangan itu berpamitan dari Warung.

Sambil mengantar kepergian mereka, Sakti pun mengikuti sampai ke depan etalase warung. Namun tidak lama setelah mereka berpamitan, Sakti memanggil Bayu untuk berbicara sejenak, dengan berbisik, Sakti pun berkata,

“Bay, nggak semuanya harus kamu ceritakan ke Sarah, kita urus ini nanti malam, saya tunggu kamu di tempatnya Tunggal Dewi ya nanti. “

“Baik Mas. Terima kasih “, ucap Bayu sambil mengangguk tanda mengerti.

Tidak lama keduanya pun meninggalkan Waroeng Podjok Mang Koes.

Malam itu di kamar Kost Bayu, ia bersiap untuk pergi ke Dimensi Transisi milik Tunggal Dewi. Duduk bersila dengan tenang, lalu mulai menarik napas panjang, kemudian diteruskan dengan napas yang perlahan.

Dengan mengikuti ritme napas yang teratur, Bayu secara tidak sadar meredam isi di dalam kepalanya, dan meniadakan emosi yang sedang terasa. Tidak terasa semakin lama napasnya berangsur menjadi semakin lambat..

Lalu…

Bayangan pun berganti-ganti di dalam pikiran Bayu, langsung menuju ke tempat baru. Dimensi Transisi.

Bayu menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi rongga dadanya sebelum dilepaskan pelan-pelan melalui celah bibir. Seketika, dunia di sekitar kamar kostnya yang sempit, suara kipas angin yang berderit, aroma tumpukan buku, dan sisa kopi sore tadi mulai memudar. Gelap yang pekat menyambut, tapi hanya sesaat.

Detik berikutnya, pijakan kakinya terasa berbeda. Bukan lagi ubin dingin, melainkan permukaan halus seperti kaca hitam yang memantulkan kerlip cahaya entah dari mana.

Dimensi Transisi Tunggal Dewi.

Tempat ini selalu terasa seperti ruang tunggu di ujung semesta. Langitnya berwarna ungu gelap yang bergerak tenang seperti cairan, tanpa matahari, tapi semuanya terlihat jelas. Di sana, sudah berdiri tiga sosok yang sudah sangat dikenalnya.

Mas Sakti berdiri paling depan, masih dengan gaya santainya, melipat tangan di dada. Di sampingnya, Tunggal Dewi, sang pemilik dimensi tampak anggun dengan aura yang menenangkan sekaligus otoriter. Namun, perhatian Bayu teralihkan pada sosok Maheswari.

Maheswari biasanya adalah yang paling ceria, tapi kali ini dia tampak berbeda. Maheswari berdiri agak menjauh, bahunya merosot, dan matanya menatap kosong ke arah horison ungu. Ada mendung yang lebih gelap di wajahnya daripada langit dimensi ini. Dia diam seribu bahasa, tapi Bayu bisa merasakan gelombang frustrasi yang memancar darinya, seperti bendungan yang retak dan hampir jebol.

“Maheswari lagi ‘kena’ mental, Bay,” bisik Sakti seolah tahu isi kepala Bayu. “Kasus Astrid. Anak itu sakit-sakitan terus, dan kita sudah coba segala cara tapi energinya kayak bocor nggak habis-habis. Maheswari yang paling dekat sama dia, jadi dia yang paling kegulung emosinya.”

Bayu mengangguk kecil, merasa ngeri membayangkan beban yang dipikul Maheswari. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut, Tunggal Dewi melangkah maju. Suaranya bergema lembut namun punya otoritas yang tak terbantahkan.

“Kita di sini untuk Sarah. Waktunya nggak banyak. ‘Cacing Alaska’ itu sudah mulai bosan cuma nempel, dia mulai mau makan ‘inti’ energinya,” ucap Tunggal Dewi.

Sakti tertawa pendek mendengar istilah itu. “Cacing Alaska… sebutan yang pas buat siluman ular yang kegedean gaya tapi energinya kecil.

“Ayo, kita ke sana sekarang. Sarah sudah tidur, ini waktu paling pas buat narik parasit itu tanpa bikin inangnya trauma.”

Tanpa perlu komando fisik, mereka berempat memejamkan mata. Bayu, yang hanya pasrah mengikuti aliran energi bersama itu, merasakan tubuh astral-nya melesat, menembus lapisan realitas secepat kilat. Dalam hitungan detik, mereka sudah berada di kamar Sarah.

Sarah tampak tertidur lelap, tapi di mata mereka, pemandangannya mengerikan. Ada sosok hitam legam yang melilit tubuh Sarah dari kaki hingga bahu. Kepalanya manusia, tapi setengah badannya menyerupai ular dengan sisik hitam kusam dan berbau busuk, bersandar tepat di samping telinga Sarah. Lidah bercabang itu menjilat-jilat tubuh Sarah.

“Gila, ini sih bukan cuma nempel, ini sudah mau nyatu,” gumam Bayu, merasa mual melihat pemandangan itu.

“Lihat pangkal ekornya,” tunjuk Maheswari, suaranya parau tapi tajam. “Itu ada ikatan energi yang arahnya keluar dari kamar ini. Ada ‘tuan’ yang masih pegang talin energiya.”

Sakti mendekat, tangannya membentuk segel tertentu. “Oke, ritual pemurnian dimulai. Tunggal Dewi, tolong kunci ruangannya supaya frekuensinya nggak bocor ke tetangga. Maheswari, kamu bantu tarik dari sisi kiri. Bayu, kamu jaga fokus ke Sarah, pastikan dia tetap terlelap, kalo dia terjaga kasih tau kita.”

Proses itu dimulai. Kamar Sarah seketika dipenuhi pendar cahaya putih kebiruan. Begitu tangan Sakti menyentuh kepala si siluman ular, makhluk itu mendesis keras, suara yang tidak terdengar oleh telinga manusia, tapi menggetarkan jiwa mereka yang ada di sana.

Tubuh Sarah sempat menegang, tapi Bayu segera menyalurkan ketenangan, membisikkan kata-kata penenang langsung ke pada Sarah agar dia tetap terlelap dalam perlindungan.

“Tarik!” perintah Sakti.

Maheswari melepaskan semua frustrasinya ke arah si siluman. Ledakan emosinya yang tertahan sejak tadi justru menjadi energi kinetik yang luar biasa. Dia mencengkeram badan ular itu dengan tangan astralnya dan menariknya sekuat tenaga.

SLUUP!

Seperti mencabut lintah yang sudah kenyang darah, si siluman ular terlepas dari tubuh Sarah. Begitu terpisah, wujudnya limbung, dan terlihat menyedihkan. Tidak ada lagi wibawa siluman yang menyeramkan, benar-benar hanya seperti cacing besar yang menggeliat kepanasan di bawah sinar matahari.

Bayu menelan ludah saat sosok itu terangkat dari raga Sarah. Begitu cahaya dari tangan Mas Sakti menyinari sudut-sudut gelap di kamar itu, wujud asli si “Cacing Alaska” terlihat dengan sangat jernih. Benar-benar merusak pemandangan.

Kepalanya adalah kepala manusia, wanita paruh baya dengan kulit yang menggelambir pucat, matanya keruh seperti tertutup katarak, dan mulutnya terbuka sedikit menunjukkan gusi yang menghitam. Namun, dari dada ke bawah, dia adalah ular. Badannya meliuk-liuk kasar, dengan sisik hitam kusam yang tidak ada estetikanya sama sekali. Sisik-sisik itu kering, banyak yang mencuat keluar dan terkelupas, memperlihatkan daging astral yang kemerahan dan tampak perih.

“Lihat itu,” desis Maheswari, rasa kesal mulai bercampur dengan kemuakannya. “Dia kelaparan. Pengirimnya rakus banget, semua hasil jarahan dari Sarah langsung ditarik ke sana. Makanya dia sampai serusak ini.”

image

Illustrated by Lovelie Light (LVL)

Si siluman itu mendesis, suaranya lebih mirip rintihan parau daripada ancaman. Dia mencoba mencengkeram bahu Sarah dengan sisa-sisa kekuatannya, tapi jari-jarinya yang hitam dan kering itu patah saat berbenturan dengan segel pelindung yang dibuat Sakti.

“Cukup, Cacing,” potong Tunggal Dewi. “Kamu sudah terlalu lama jadi budak yang nggak dikasih upah.”

Dengan satu sentakan dari Maheswari yang sedang meluapkan seluruh emosinya, makhluk itu tercabut seakar-akarnya. Dia menggeliat di lantai dimensi transisi, tampak kecil dan ringkih meski ukurannya sebenarnya cukup besar. Di bawah cahaya ungu dimensi milik Tunggal Dewi, sisik-sisiknya yang berantakan itu berjatuhan seperti debu arang.

“Bawa dia ke Void,” perintah Sakti singkat. “Biar dia belajar jadi ‘nol’ lagi.”

Tunggal Dewi membuka celah dimensi. Kegelapan di dalam Void itu bukan gelap yang jahat, tapi gelap yang absolut, sebuah ruang isolasi tanpa suara, tanpa cahaya, tanpa energi eksternal. Begitu si siluman ular berkepala manusia itu masuk, dia tidak lagi bisa menyerap apapun. Dia dipaksa untuk “memakan” kesadarannya sendiri sampai semua distorsi energinya luruh dan dia kembali menjadi murni, entah berapa ratus tahun lagi waktu dunia manusia yang dibutuhkan.

“Kasihan sebenarnya,” ujar Tunggal Dewi. Dia cuma alat. Kamu tahu siapa yang punya tali energi ini?”

Tunggal Dewi memegang tali energi yang terikat di buntut, dan menunjukkan memori dari “Cacing Alaska” yang sempat di copynya, dan seketika muncul bayangan visual di udara. Bayu terperangah. Dia melihat sebuah rumah mewah, namun terasa pengap dengan energi gelap. Di sana, seorang wanita paruh baya sedang duduk di depan sebuah altar kecil dengan foto Sarah di tengahnya.

“Itu… siapa yang guna-guna Sarah?” tanya Bayu kaget.

“Keluarga mantannya Sarah” , sahut Sakti santai.

“Dulu Sarah pernah pacaran sama seorang laki-laki yang ternyata keluarganya ada yang melakukan Pesugihan, dan Sarah terpilih buat ditumbalkan. Tapi untungnya mereka putus, padahal proses penumbalan ini belum selesai, sehingga makhluknya nyangkut, pulang ke tuannya ga bisa, menyelesaikan tugasnya gak bisa, makanya kamu lihat tadi kan Bay, makhluk itu sangat kurus, dan wujudnya menyedihkan, dia gak bisa kemana-mana!” lanjut Sakti menerangkan.

“Setega itu ya manusia,” Maheswari mendengus sinis, matanya mulai sedikit bersinar lagi setelah melihat keberhasilan operasi ini.

Tunggal Dewi mengangguk. “Tapi kontraknya berakhir malam ini. Makhluk itu sudah menyerap terlalu banyak energi manusia, frekuensinya sudah terlalu kotor untuk tetap ada di dimensi antara dimensi gaib dan manusia, makanya dikirimlah dia ke Void.”

Bayu mengembuskan napas lega. “Jadi, Sarah aman sekarang?”

“Aman,” jawab Sakti sambil menepuk bahu Bayu. “Tapi besok jangan langsung kamu ceritain semua detailnya ya. Bilang aja kalau ‘urusan kantor’ sudah selesai. Biar dia pulih pelan-pelan. Maheswari, kamu juga mendingan sekarang?”

Maheswari hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih jujur dari sebelumnya. “Sedikit. Paling nggak, malam ini nggak ada lagi satu nyawa yang terbuang sia-sia karena ego manusia.”

Bayu perlahan membuka matanya kembali di kamar kost. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Sunyi. Namun, ada rasa damai yang aneh menyelinap di hatinya. Dia tahu, besok pagi Sarah akan bangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, tanpa beban yang selama ini menggelayuti pundaknya.

Di Waroeng Podjok Mangkoes besok sore, kopi pasti akan terasa jauh lebih enak.

Pagi hari berikutnya di pantry Kost Bayu, dengan tas kerja yang sudah dijinjing, dan kopi hangat di tangan, Bayu sudah rapi dan bersiap untuk pergi ke kantornya. Sambil merenung sejenak membayangkan kegiatan hari ini, Bayu mereguk pelan kopi hangat di hadapannya, dan merasakan sensasi kesegaran dari rasa dan aroma kopi yang melintas di lidah dan hidungnya.

Tidak lama kemudian, Sarah memasuki pantry, dengan raut wajah yang kusut dan terlihat bengap karena sehabis bangun tidur. Tampak sekali kondisi dirinya sedang drop dan tidak segar lagi di pagi ini.

“Pagi..”, sapa Bayu dengan pelan.

“Hai Bay…pagi juga..”, jawab Sarah dengan lirih dan perlahan.

“Lagi gak enak badan ya ?”, tanya Bayu.

Sarah hanya tersenyum pahit, sambil menyelesaikan membuat teh. Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Bayu. Kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu Bayu, sambil berkata, “Badan nya nggak enak Bay, abis bangun tidur kayak habis digebukin..”

Bayu pun tersenyum dan berkata, ‘Sudah selesai ya tadi malam. Persoalan makhluk yang menempel ke dirimu, sudah diselesaikan sama Mas Sakti. Jadi sekarang kamu nggak perlu takut & khawatir lagi..”

“Oooh gitu ya ? Jadi itu makhluk apa ? Dan dari mana dia Bay? “, Sarah mendongak sedikit sambil bertanya.

“Udah..nggak perlu dipikirin lagi. Nggak usah dicari-cari darimana dan siapanya. Yang penting sekarang kamu udah terbebas dari pengaruh yang negatif dari dia. “, Bayu menjelaskan.

Mendengar hal itu, Sarah hanya mengangguk perlahan dan meminum tehnya lagi.

“Nggak perlu takut lagi ya.”, kata Bayu kemudian.

Sarah mengangguk lagi.

Sekarang, kamu istirahat aja. Wajar badan nya agak drop begitu, karena proses pelepasannya memang membawa banyak energi dari dirimu. Itu yang bikin badannya terasa makin drop pagi ini. “, Bayu meneruskan penjelasannya. “Istirahat aja dulu, hari ini bilang sakit aja ke kantor, terus kamu tidur. Biar energinya balik dulu dan normal dulu. Ya ? “

Sarah mengangguk perlahan lagi.

“Aku berangkat dulu ke kantor ya, nanti dari kantor kukirim makan siang buat kamu. Gantian ya, sekali-sekali aku yang kirim makan siang.”, Bayu berkata sambil berdiri dan mencium kepala Sarah. “Kamu istirahat aja. “

Merasakan hal itu, Sarah bisa tersenyum dengan lebar dan hangat. Raut mukanya pun berubah menjadi lebih ceria.

“Waaaaah ada pasangan baru nih rupanya..kita ganggu nih sepertinya..”, tiba-tiba masuk dua perempuan muda ke dalam pantry yang langsung memberikan komentar.

“Apasih Mbak..? Berangkat dulu ke kantor ah..”, Bayu yang salah tingkah segera bergegas meninggalkan ruangan pantry.

“Mau dong dipamitinnya pake dicium juga kepalanya..”, ujar salah satu perempuan muda itu.

Mendengar itu, Bayu hanya bisa tersenyum kecut dan semakin salah tingkah, “nggakkkkkk..”, jawabnya sambil bergegas keluar.

“Iiiih Bayuuuu pilih kasiiiihhh..”

“Ciyeeeeee…”

Semakin lama suara godaan dan tawa semakin terdengar kecil dan akhirnya menghilang.

“Mas Bayu, mau titip makan siang nggak ? ‘, tanya Godam.

Bayu yang sedang bekerja sendirian di ruangan kantor, segera mengangkat kepalanya mencari asal suara. Nampak kepala Godam, sang Office Boy andalan, sedang melongok dari balik pintu masuk. Suasana yang tadinya hening pun mendadak menjadi lebih ceria dengan kedatangan Godam.

“Ah kamu Dam, bikin kaget aja.”, kata Bayu.

Godam hanya cengengesan, ia lalu ke dalam ruangan dan segera mengambil tempat duduk di meja kosong di sebelah meja Bayu.

“Kok Mas Bayu sendirian hari ini ? Yang lain pada kemana Mas ? “, tanya Godam.

“Lagi pada dinas luar kantor Dam. Kamu mau beli makanan di mana emangnya ? “, tanya Bayu.

“Bebas sih Mas. Mas Bayu lagi pengen beli makanan apa, nanti saya beliin. Soalnya lagi dikit yg di kantor Mas, dan dari mereka lagi nggak ada yang nitip makan siang. “, jawab Godam sambil memutar-mutar kunci motor di tangannya.

“Apa ya ? Kayaknya saya mau keluar kantor & beli sendiri aja deh Dam. Sekalian ada perlu sebentar soalnya. “, kata Bayu sambil tetap bekerja di depan laptopnya.

“Gitu ? Beneran nih…? Godam bingung nih..masak siang-siang begini nggak ngapa-ngapain jadinya..nggak ada yang nitip makan siang. “, kata Godam. Bayu baru sadar, kalau nggak ada yang titip makan siang, berarti Godam akan kehilangan kesempatan untuk ikut “dibelikan” makan siang.

“Atau gini…Godam mau nggak bantuin saya ? “, tanya Bayu.

“Boleh dong..apa Mas ?” , Godam memajukan tempat duduknya. “Godam selalu siap”.

“Jadi kan gini…saya kan lagi pengen mie ayam nih. Kamu tau kan yang deket kostan saya ? Agak jauh sih, tapi Godam naik motor kan ? “, Bayu menjelaskan.

“Tau doong..Mas Bayu kan udah pernah nitip itu. Yang jualannya Pak Gondrong itu kan ? Yang di pojokan jualannya, yang gerobak warna coklat..”, Godam mengkonfirmasi tempat yang dimaksud oleh Bayu.

“Nah iya bener..”, kata Bayu. “Tapi…..”

“Tapi apa Mas..? “, tanya Godam.

“Tapi saya mau beli 2. “

“Wah lagi lapar dan pengen banget kayaknya Mas Bayu. Boleh dong Mas. “

“Tapi yang satu porsi lagi, boleh minta tolong anterin ke kostan saya nggak Dam ? Nggak jauh kaaaan dari si tukang mie ayam itu.”

“Boleh Mas, deket kok. Eh buat apa Mas ? Kok dianter ke Kostan.”

“Buat temen Dam, yang di kost.”, jawab Bayu pelan.

“Eaaaaaaa…temen banget nih mas ? “, goda Godam sambil mencolek Bayu perlahan. Sementara Bayu mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang tunai. Lalu memberikannya kepada Godam.

“Berisik kamu Dam. Mau nolongin nggak nih ? “, kata Bayu.

“Mau dong Mas..tenang aja..aman sama Godam mah, semua aman. “, Godam pun mengambil uang tunai yang disodorkan oleh Bayu.

“Sekalian kamu beli buat kamu juga ya..nanti makan di sini aja, temenin saya. Nggak enak nih makan sendirian. “, Kata Bayu.

“Siap Mas. Eh, jadi…saya anter makanannya buat siapa ini ? “, tanya Godam.

“Titip aja ke penjaga, bilang buat Sarah. “, kata Bayu.

“Waaaaaa yang cantik yang anter makanan ke sini waktu itu ya ? “, Godam pun beranjak pergi sambil ketawa-ketawa. “Bisaaa ajaaa Mas Bayu, semuuuuttt…”.

“Haaaaa ??? Kok semut Dam ? “, Bayu kebingungan.

“Iya, halus caranya..kalo kata anak sekarang semuuuuut gitu..”, Godam menjelaskan.

“SMOOTH DAM..bukan semuuut…”, Bayu menepok jidatnya.

Godam hanya tertawa-tawa sambil keluar dari ruangan.

Hampir sejam kemudian, Godam mengetuk pintu ruang kantor Bayu sambil berujar, “Permisi..”.

Tanpa menunggu jawaban, Godam langsung masuk sambil membawa 2 bungkus mie ayam, dan 2 mangkok bersih. Segera mengambil tempat di meja sebelah Bayu, mempersiapkan mangkok kosong satu per satu, mempersiapkan bungkusan sambal dan kuah. Semua dilakukan Godam dengan gerakan-gerakan kecil dan berdiam diri.

Bayu yang berhenti bekerja sejak Godam masuk ke dalam ruangan, hanya bisa memperhatikan segala urutan aktivitas yagn dilakukan oleh Godam. Semua diikuti oleh Bayu, tanpa bisa berkata apa-apa.

Hingga akhirnya setelah mie ayam Bayu yang sudah tersida di mangkok diletakkan Godam di hadapannya, Bayu pun nggak tahan lagi langsung bertanya, “Gimana Dam ? “.

“Belum dicobain Mas mie ayamnya, jadi belum tau gimana nya. “, jawab Godam datar.

“Bukaaaaaan…maksud saya, gimana tadi titipan mie ayam yang buat Sarah ? “

“Ciyeeeee…nungguin cerita nya nih..huhuuuuy..”, kata Godam sambil nyengir-nyegir cengengesan. Bayupun sadar kalau dia sedang dikerjai oleh office Boy andalannya.

“Ya ampuuunnn…Godaaaaammm..”, Bayu setengah berteriak sambil membuat gesture mau mencekik Godam.

“Hahahahaha ampun Mas..ampun…”, Godam pun memundurkan diri ke arah kursi sambil tertawa-tawa.

“Aman Mas, aman. Tenang aja, semua aman sama Godam. Tadi udah diantar ke kost nya Mas Bayu, trus diterima sama penjaganya. Yaaaaah Godam jadi gak bisa ketemu deh sama Mbak Sarah nya Mas Bayu yang cantik. “, Godam pun mulai menyantap mie ayamnya di sebelah Bayu. Dia sadar, kalau diinstruksikan oleh Bayu untuk menemani makan, ya berarti harus ada di sebelahnya, tidak berani untuk menyalahi instruksi Bayu.

“Lagi sakit orangnya Dam, kasihan. Makanya dikirimin makanan. “, ujar Bayu sambil ikut menyantap mie ayamnya juga.

“Oh pantas, lagi sakit toh ternyata. “, kata Godam.

“Emang mau ngapain kamu kalo ketemu sama Mbak Sarah ? “, tanya Bayu, sambil mengisi kekosongan pembicaraan.

“Ya minimal mau bilang lah, kalo Mas Bayu itu orangnya baik. Udah tepat pilihannya Mbak Sarah. Gitu Mas. Tenaaaang, kalo sama Godam, semua aman terkendali..hahaha..”, Godam pun tertawa karena sadar kalau tidak bisa berhenti godain Bayu.

“Halah…gak usaaaah…gak perluuu..”, kata Bayu.

“Eh Mas Bayu, kemarin kan Pak Burhan cerita loh..tentang pabrik garment teman nya itu..yang diganggu makhluk ghaib.”, kata Godam membicarakan Pak Burhan, Sang Boss di kantor mereka.

“Hmmmm…terus..?”

“Pak Burhan juga banyak cerita sama Godam, katanya Mas Bayu sama teman nya yang bantuin beresin gangguan makhluk ghaib itu. “

“Bukan Dam..teman saya itu yang beresin, bukan saya. “

“Halah, suka merendah deh Mas Bayu. Bukannya Mas Bayu juga belajar gitu-gitu ya, nah itu buktinya kemarin Mbak Sarah cerita soal yang kerasukan itu, disembuhin sama Mas Bayu. Itu loh yang waktu dia antar makan siang ke kantor. “

“Kamu nih..perkataan semua orang dipercaya semua Dam. Nggak gitu kok sebenernya. “

“Bukan Mas, bukan apa-apa. Godam punya kakak, yang lagi punya masalah nih. Godam boleh cerita gak ?

“Boleh..masalah kenapa Dam ? “

“Jadi kakak saya nih, namanya Dinu.”

“Hah ?? Siapa ? Dino ? “

“Bukan Mas…Dinu “

“Kok keren namanya..gak pasaran…Dinu. Kok bisa keren nama kakakmu Dam. Ini kakak kandung ? “

“Halah…nama aslinya Sarifudin Mas. Panggilannya Udin waktu di kampung. Udah sampe Jakarta aja dirubah jadi Din-U..Din-U..gitu…gegayaan aja Mas..iya, Dinu itu kakak kandung..”

“Hahahahahaha…”, mau nggak mau Bayu tertawa mendengarnya. “Terus…terus..? “

“Kakak saya ini, kan kerja di bengkel motor Mas Bay. Terus dia lagi kena masalah. Temen-temen nya sesama mekanik di sana, itu pada seneng balap motor semua. Mas Bayu tau kan, balap motor yang pake taruhan itu loh Mas.. ? “

“Belum pernah ikut sih, tapi tau dan pernah denger lah. Terus…? GImana Dam ?”

“Nah, itu. Terus kan ada motor customer mereka yang dititip di bengkel itu. Ditinggal karena harus nginep, banyak yang musti diganti, dan customer nya kebetulan rumahnya jauh, jadi dititipin. “

“Terus ? Dipake balapan motor itu? “

“Iya Mas..motornya dipake buat balapan. Terus kalah. Karena musti bayar taruhan, dan mereka gak punya duit, makanya motornya disita Mas. Sekarang pada bingung deh itu..musti balikin motornya customer bengkelnya..”

“Busyet deh..pada nggak tau diri ya..ikut taruhan tapi nggak punya duit gitu ? “

“Iya Mas. ah gak tau deh. Mereka orangnya panasan sih, dipanas-panasin dikit langsung mledug. “

“Nah loh..terus kakakmu gimana ? “

“Si Dinu sih ikut-ikutan kebawa-bawa aja Mas sama pergaulan di bengkel nya. Balapannya gak ikut, cuma disuruh ikut nonton aja dan jaga-jaga jadi mekanik kalo diperlukan. Eh tapi kan jadi kebawa-bawa ya ? Jadi disuruh gantiin motor customernya juga. “

“Yah kasihan dong..keseret-seret gitu ? “

“Iya, tapi mau gimana lagi.. ? Dia ikut nanggung lah, orang ada di sana. Salah gaul si Dinu itu, emang orangnya gak pinter buat gaul Mas. “

“Eh tapi…gimana saya bisa bantunya Dam ? Kalo soal patungan duit sih, saya juga gak bisa soalnya. “

“Bukan Mas, ini bukan mau minta sumbangan kok. Ini sekedar cerita aja kesusahan kakaknya Godam. Kan Mas Bayu belajar yang gitu-gitu ya, yang menjurus ke arah klenik gitu. Barangkali aja Mas Bayu ada ide atau pandangan buat solusi Mas. “

“Apa ? Pesugihan gitu?”

“Hahahahah gak lah Mas. Gak ke situ arahnya. Saya namanya Husni, kakak saya Sarifudin, itu udah nama orang pesantren banget Mas. Mana kepikiran ke arah sana. “

“Ya kan gak tau..kirain…”

“Bukan kok Mas Bay, ini cuma share aja. Orang-orang yang belajar tentang dunia klenik soalnya suka ada ide aneh-aneh aja untuk menyelesaikan masalah. Suka ada ide apa gitu, cara yang nggak biasa kepikiran sama orang biasa. “

“Hahahahhaa masak sih Dam ? “

“Iya Mas, suka gitu…di daerah saya kan banyak yang begitu. “

“Tapi kalo dipikir-pikir, kasihan juga ya si Dinu. “

“Banget Mas. Anaknya bengong mulu sekarang kerjaannya, stress dia mikirin duit dari mana. “

“Nanti deh Dam, kalo ada ide, pasti saya akan bilang. “

“Siap Mas, tenang aja..aman Mas..sama Godam sih aman terus..”, kata Godam sambil mengambil mangkok yang ada di depan Bayu. “Ini udah selesai Mas ? “.

“Udah Dam…udah..”

“Godam bawa and cuci dulu ya. “

“Siap Godam jagoanku…langsung laksanakan..”

Keduanya tertawa bersama. Terasa keakraban yang semakin menghangat, yang dimulai dari Bayu yang membuka diri meminta bantuan. Lalu diikuti juga dengan keterbukaan Godam mengenai cerita pribadi tentang kakaknya. Sebuah keseimbangan yang tidak bisa dihindari.

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar