Di rumah Sabrina, anak kecil ajaib itu sedang termenung dan sedih di dalam kamarnya. Bersama Dom, si kelinci putih, Sabrina duduk di lantai, bersender pada ranjang. Sementara Dom berjalan-jalan di seputaran Sabrina, sambi sesekali berhenti dan mencium kaki Sabrina yang selonjoran.
“Sedih deh Dom, Astrid sakit-sakitan terus. Aku kasihan melihatnya. Masak sebentar-sebentar masuk rumah sakit, trus sehat dan pulang sebentar, nanti balik lagi sakit lagi dan harus ke Rumah Sakit.”
“Terus aja begitu..nggak selesai-selesai. Kasihan papa mamanya, musti bolak-balik terus. Belum lagi tiap sakit, Astrid itu jadi pucat banget. Kulitnya yang tadinya putih jadi makin putih lagi dan gak bersinar. Terus jadi lemes bawaannya, gak ada semangat lagi. Sedih banget ngelihatnya. “
Dom terlihat berhenti sejenak, berdiri dengan 2 kaki belakangnya menghadap Sabrina. Seakan-akan mau mengatakan sesuatu. Mulutnya bergerak-gerak seperti sedang mengunyah sesuatu.
“Iya kan Dom ? Kamu juga kasihan kan ? Coba deh kalo kamu bisa ikut dan lihat Astrid waktu lagi sakit di Rumah Sakit, pasti jadi makin gak tega deh.”
Dom kelihatan mendengarkan, sambil tetap berdiri di kedua kaki belakangnya, sambil menyeka muka kecilnya dengan kaki depannya yang mungil. Gerakan yang diulang-ulang terus, seakan mengerti bahwa bayangan Astrid yang lagi sakit benar-benar membuat cemas, dan seakan Dom berusaha menghilangkan bayangan itu dari kepalanya, dengan gerakan mengusap2 muka mungilnya.
“Nah kan, kamu aja nggak sanggup kan ngebayanginnya lama-lama kan ? Sama Dom, aku juga gitu nih..”
Sabrina termenung sambil menatap langit-langit kamarnya. Pandangannya menerawang jauh ke depan, tapi kosong. Kekhawatiran penuh mengisi dadanya, kekhawatiran tentang Astrid sahabatnya.
Tanpa terasa, tangan putih Dom yang mungil menyentuh tangannya.
Sementara di Dimensi Maheswari.
Kesadaran Maheswari yang menjadi satu dengan Sabrina, merasakan juga hal itu. Kesedihan dan kekhawatiran yang besar, tiba-tiba melanda dirinya. Sambil menerawang dan melihat ke lautan lepas di depan Pondok kecilnya, Maheswari terus menerawang dan melihat jauh ke lautan lepas, dengan pikirannya yang memikirkan sahabat baik Sabrina.
Sampai tidak merasakan sebuah kehadiran, hingga ketika sebuah tangan besar berurat menyentuh tangannya dan sebuah suara berat memanggilnya..
“Maheswari..”
Seketika Maheswari segera melonjak dari tempat duduknya, dan secara refleks membuat sebuah kuda-kuda dengan sikap waspada. .
“SIapa kamuuu ? Mau apa kamu di sini ? “, teriak Maheswari.
Terlihat di hadapannya sesosok kelinci besar, lebih besar dari ukuran orang biasa. Bediri dengan badan berotot besar dan sikap wibawa, sedang berdiri tegap di hadapannya. Sosok yang asing dan tiba-tiba muncul di hadapannya membuat Maheswari menjadi lebih terjaga dan sangat khawatir.

Illustrated by Lovelie Light (LVL)
“Kamu tidak kenal dengan saya ? “, tanya kelinci besar berotot itu.
Mendengar hal itu, Maheswari pun mengendurkan kuda-kuda dan sikap waspada. Ada sesuatu di kehadiran makhluk ini yang terasa dekat dan tidak asing lagi. Kedua tangannya pun yang tadinya keras dan membentuk gerakan bertahan serta siap menyerang, menjadi turun. Badan Maheswari menjadi tegak dan terlihat lebih rileks.
Lalu dengan suara yang ragu, Mahewari bertanya perlahan, “Dom..? “
“Iya benar, aku Dom. Di Dimensi transisi mu, begini lah rupa ku. “, kata Kelinci berotot itu sambil tersenyum. Sikapnya tetap tegap, namun akhirnya Maheswari menyadari, bahwa itu bukan sikap tegap karena mau menyerang, itu hanya postur tubuh berototnya saja.
“Waaaaah benerrr ini Dom…?” , tanya Sabrina masih tidak percaya.
“Benar, aku Dom. Beda ya sama di dunia manusia ya ? “, Sosok kelinci kekar itu masih tersenyum lebar.
“Bedaaaaaa…”, teriak Maheswari masih tidak percaya.
Maheswari pun melihat Dom dari atas sampai bawah. Mulai perlahan melangkah perlahan mendekati dan berjalan berhati-hati mengelilingi Dom, tetap sambil memperhatikan dari atas sampai bawah. Beberapa saat Maheswari masih mengelilingi Dom sambil mengamati.
Sampai pada sebuah titik dimana Maheswari sudah mendapatkan feeling dan koneksi bahwa memang Dom si kelinci putih yang ada di hadapannya. Sambil berteriak kencang, Maheswari pun memeluk Dom dengan kencang, “Dooooommmmmmm…”
Perbedaan tinggi mereka yang berbeda jauh, membuat Maheswari memeluk Dom kekar ini hanya sampai di pinggangnya. Sementara kekekaran otot Dom juga membuat tangan Maheswari tidak dapat memeluk Dom dengan penuh, hanya bisa menggapai lengan Dom saja.
Dimensi Tunggal Dewi.
Maheswari dan Dom berjalan memasuki halaman depan dimensi transisi Tunggal Dewi, nampak keremangan temaram matahari di pagi hari ketika baru terbit, menyelimuti suasana dimensi transisi ini. Sebuah pemandangan yang bagaikan lukisan indah, Bangunan kayu dengan design arsitektur kuno sudah terlihat di depan mata, tempat dimana Tunggal Dewi tinggal. Mereka berdua berjalan melewati halaman depan yang luas, menuju Bangunan Kayu tersebut.
“Dom, kenapa nggak kamu aja sih yang cerita tentang dirimu ?”, tanya Maheswari sambil menggandeng tangan Dom, si kelinci kekar.
“Tunggal Dewi lebih bisa menjelaskan hal itu soalnya. “, Dom menatap ke depan sambil menjawab.
“Bener sih, Kak TD emang pasti punya banyak cerita tentang itu dan latar belakangnya.”, Maheswari tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dari nada suara yang terucap. “Tapi aku seneeeng banget akhirnya bisa ketemu kamu di dimensi transisi ini Dom.”
“Ya kan memang aku ditugaskan Tunggal Dewi tidak hanya untuk menemani Sabrina, tapi untuk mengawal dan mengajarinya juga tentang dunia manusia. Sedangkan dirimu kan semakin lama semakin bisa tersambung dengan kesadarannya Sabrina, jadi itu bisa jadi jalan ku untuk bertemu dengan dirimu. “
“Posturmu emang bener kayak pengawal sih Dom, kekar dan berotot gitu. “, kata Maheswari.
“Nanti kita dengar sama-smaa ya cerita dari Tunggal Dewi, mengapa bisa begini penampilanku. “, jawab Dom sambil tetap menghadap ke depan.
Maheswari mendapatkan sebuah kesan tegang yang dirasakan oleh Dom. Bukan dari gesture badannya, tapi lebih kepada suaranya. Semakin mendekati pertemuan dengan Tunggal Dewi, Dom semakin serius dan berat nada suaranya. Ini bisa terasa oleh Maheswari.
—-----
“Kak TiDi……”
Maheswari setengah menjerit ketika bertemu dengan sosok Tunggal Dewi yang sedang berdiri memegang buku tebal di hadapannya. Ia segera berlari dan memeluk Tunggal Dewi, seakan-akan ingin melampiaskan rindu panjang yang sudah menumpuk.
Tunggal Dewi pun kelihatan kerepotan, karena satu tangannya sedang memegang buku tebal, dan satu tangannya melepaskan kaca matanya. Sambil membalas pelukan Maheswari yang erat, Tunggal Dewi pun bertanya, “Kok tumben kamu ke sini ? Ada apa Maheswari ? “
Lalu mata Tunggal Dewi melihat kehadiran sesosok lain di hadapannya, seekor kelinci dengan tubuh kekar berotot seperti manusia, yang berdiri tegak agak jauh di belakang mereka berdua. Seketika Dom pun menundukkan kepalanya, dan kedua tangannya menyatu di hadapan dada, sambil memberikan sikap hormat.
Langsung terlihat kesan bahwa Dom sangat menghormati sosok Tunggal Dewi ini, entah apa cerita di belakangnya. Tapi sikap membungkuk dan enggan mendekat ke arah Tunggal Dewi, benar-benar menggambarkan sebuah penghormatan yang sangat.
“Oooow ada kamu ternyata Silung Kwasi..”, kata Tunggal Dewi perlahan. “Maheswari baru ketemu sama Dom di dimensi ini ya ? “, Tunggal Dewi pun mengalihkan pandangannya kepada wanita yang ada di dalam pelukannya itu.
Maheswari menengadahkan kepalanya dan melihat kepada Tunggal Dewi, masih belum mau melepaskan pelukannya, sambil mengangguk perlahan. Tapi diiringi oleh senyuman yang lebar, seperti ingin mengekspresikan sebuah kebahagiaan yang besar.
“Bagus kalau begitu…sudah kenalan kan ? “, tanya Tunggal Dewi.
“Sudah Kak Tidi. Tapi Dom nggak mau cerita, terus ngajak ke sini dan tanya langsung aja ke Kak Tidi katanya. “, Maheswari perlahan melepaskan pelukannya.
Tunggal Dewi mengalihkan pandangannya pada Dom, seakan bertanya kebenaran hal itu. Dom yang bertemu mata dengan Tunggal Dewi pun segera menunduk semakin dalam.
“Biar Ibu aja yang cerita.”, kata Dom perlahan.
Tunggal Dewi tersenyum kecil dan melihat kepada Maheswari.
“Maheswari mau tau ya cerita tentang Dom ? “
Maheswari kembali mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, kita duduk dulu ya. Dom juga ya, karena ini cerita yang panjang buat Maheswari. “
Tunggal Dewi mengajak Maheswari untuk mengambil tempat duduk berdekatan. Sementara Dom, mengambil tempat yang agak jauh dan berseberangan dari mereka.
Sebelum kenal dengan Dom, kamu harus kenal dulu dengan bangsa nya, yaitu bangsa Silung. Silung adalah bangsa tersendiri dari entitas ghaib yang ada di dunia ini, biasanya mendapatkan energi pertamanya dari energi hewan yang sudah mati. Energi hewan yang baru mati, akan diserap oleh mereka, dan dijadikan sebagai energi diri sendiri oleh bangsa ini.
Itu sebabnya bangsa Silung ini banyak yang menyerupai seperti hewan-hewan yang ada di dunia nyata manusia. Termasuk Dom ini, dia adalah jenis silung kwasi, atau kalau di bahasa manusia adalah siluman kelinci.
Dahulu kala, Dom ada di dunia para siluman dengan nama yang berbeda. Ibarat seorang pendekar yang sakti dan tidak terkalahkan. Dia berkuasa dan banyak dihormati di kalangannya, karena tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktiannya. Namun kondisi itu membuatnya menjadi semakin besar ambisinya untuk mengalahkan semua orang dan menjadi yang paling sakti.
Setelah semua bangsa Siluman dikalahkan, dia mulai menantang para jawara dari bangsa-bangsa yang lain. Hanya untuk menjadi yang paling sakti. Kehidupan ini sudah dijalani Dom selama beratus tahun lamanya. Banyak bangsa lain yang dikalahkan juga oleh Dom, dan bertekuk lutut di hadapannya, serta mengakui kesaktiannya.
Hingga pada suatu hari dia bertemu dengan sesosok makhluk dari bangsa lain yang memiliki kemampuan unik yang tidak dia duga.
Sosok itu mampu menyerap semua energi dan memiliki dendam terhadap Dom. HIngga Dom diserap semua energinya sampai hampir habis.
Beruntung kondisi terburuk bisa dicegah, dan Dom terluka parah dan kehabisan energi. Kesaktiannya diserap habis oleh sosok itu, dan menjadi tidak berdaya sama sekali.
Pada saat itulah Dom datang bertemu dengan Tunggal Dewi, dan dirawat di dimensi transisi Tunggal Dewi. Dalam asuhan Tunggal Dewi, Dom berjanji tidak akan sombong dan tinggi hati lagi. Sementara Tunggal Dewi memberinya pelajaran mengenai ilmu untuk menyerap energi, tapi disertai dengan sebuah pemahaman dari awal dengan menyerap emosi sedih dan perasaan sakit terlebih dahulu.
Dengan melakukan hal ini, Dom bisa memahami dan menyadari ketika bisa merasakan kondisi para korban-korban terdahulunya yang dikalahkan dan disakiti, serta merasakan apa yang mereka rasakan.
Tidak lama, ada Sabrina yang terlahir di dunia manusia, Dom pun diberikan jasad dan raga seekor kelinci oleh Tunggal Dewi. Dengan tujuan agar bisa semakin memahami perasaan, emosi negatif serta sakit yang dirasakan oleh bangsa manusia juga.
Dalam perjalanannya, menyerap energi di tahap awal ini, Dom bisa tumbuh perlahan energinya, dan menjadi semakin kuat. Sampai di titik ini, Dom pun bisa bahkan bisa memiliki dua wujud akhirnya, satu di dunia manusia sebagai seekor kelinci putih, dan di dimensi transisi dengan penampilan seekor kelinci kekar berotot.
“Dom, cerita mu terpaksa diutarakan sepenuhnya kepada Maheswari..tanpa ada yang ditutupi..nggak apa-apa ya ?, tanya Tunggal Dewi sambil melihat ke arah Dom.
“Sebaiknya Ibu saja, saya mengikuti”, Dom mengangguk sambil tetap mengambil sikap hormat kepada Tunggal Dewi.
Ini menyiratkan bahwa penghormatan Dom sangat mendalam kepada sosok Tunggal Dewi, sampai sama sekali tidak berani menatap matanya secara langsung. Pengingat bahwa Dom masih ada keberadaannya di dimensi transisi, dan malah meluas ke dimensi manusia, semua adalah berkat dari Tunggal Dewi.
Maheswari yang menyaksikan semua itu, hanya bisa melihat dengan takjub dan semakin kagum dengan sosok Tunggal Dewi.
“Kak Tidi, terima kasih ceritanya.”, kata Maheswari sambil tetap berpegangan tangan dengan Tunggal Dewi.
Tunggal Dewi pun melihat ke arahnya, dan kemudian berkata, “Maheswari, kamu mau jalan-jalan ke dimensi transisi lain ? Yang berisi para silung yang sedang dalam pengobatan dan pengawasan ? “
Tanpa ragu sedikitpun, Maheswari langsung menjawab, “Mauuuu..”
Dimensi Silung
Tunggal Dewi, Maheswari dan Dom, berjalan menembus sebuah tempat yang kelihatannya mirip sebuah hutan belantara. Dengan pepohonan yang tinggi, disertai dengan tumbuhan pakis yang merambat di batangnya, serta jalan setapak yang terkadang tertutup tumbuhan di tengah-tengahnya. Ini menyebabkan Dom harus membabat pepohonan kecil yang menghalangi jalan setapak, demi memberikan arah yang benar kepada mereka.
Dalam perjalanannya yang panjang dan sedikit mendaki, suasana pun menjadi terasa lebih dingin hawanya, dan kelembaban menjadi lebih pekat lagi. Terkadang berhembus angin dingin yang cukup kencang, yang menerpa kulit mereka bertiga ketika semakin dalam menembus hutan belantara itu.
Setelah melewati tanjakan yang cukup panjang, sampai akhirnya mereka pun sampai di sebuah tempat terbuka. Seakan-akan di tengah hutan terdapat padang rumput yang tersembunyi dari mana-mana. Pohon-pohon besar yang tadinya menaungi mereka, sekarang hanya terlihat membatasi pinggiran dari pada yang cukup luas itu.
Padang rumput itu terlihat sangat luas, seukuran lebih besar dari sebuah desa. Nampak beberapa rumah dengan ukuran yang cukup besar, berdiri di tengah-tengahnya. Beberapa sosok nampak dari kejauhan, tengah menjalani aktivias sehari-hari.
Namun yang mengherankan bagi Maheswari adalah bahwa sosok-sosok itu merupakan gabungan bentuk antara hewan dan manusia. Semakin mendekati, beberapa sosok mulai terlihat jelas, dan merupakan gabungan dari sosok kuda dengan tubuh manusia, ada lagi sosok manusia dengan tubuh ular.
Beberapa sosok tersebut pun mulai menyadari kehadiran ketiga sosok yang baru hadir, dan kelihatan sekali kalau mereka semua menunduk dan memberikan tanda hormat kepada Tunggal Dewi. Salah satu sosok manusia dengan kaki kambing, malah menghampiri Tunggal Dewi sambil meraih tangannnya lalu menciumnya.
“Selamat Datang Ibu..”, ucap sosok itu sambil tetap menunduk setelah mencium tangan Tunggal Dewi.
“Halo Chagarawa, perkenalkan teman-teman saya..ini Maheswari “, kata Tunggal Dewi sambil menunjuk Maheswari di sebelahnya.
Maheswari pun segera mengulurkan tangannya untuk berkenalan, “Hai..saya Maheswari. “
“Selamat datang Maheswari, perkenalkan saya Chagarawa. “, kata SIlung Kambing itu sambil menyambut uluran tangan Maheswari.
Tunggal Dewi pun berkata, “Kalau yang ini, kamu masih kenal kah Chagarawa ? “, sambil menunjuk kepada Dom yang tetap menunduk.
Melihat sosok Dom, Chagarawa pun tidak kuasa untuk segera menghampiri dan memeluk dengan erat. Nampak luapan kegembiraan dan kerinduan dari Chagarawa, seakan bertemu kembali dengan teman lamanya.
“Aaaaaaaahhhh Silung Kwasiiiiiii…kamu udah makin sehaaaaattttt…”, Chagarawa segera meluapkan rasa yang dimilikinya.
Dom pun menyambut pelukan erat itu tanpa bisa menyembunyikan rasa rindunya juga kepada sosok di depannya ini.
“Halo Paman Chagarawa, saya ijin untuk berkunjung. Paman sehat kah ?”, Dom bertanya kepada sosok yang baru saja melepaskan pelukannya.
“Sehat kok..sehat..duuuh senangnya bisa melihat mu lagi Silung Kwasi. “, kata Chagarawa dengan senyum lebar di raut wajahnya.
“Dom ini belum akan kembali ke sini Chagarawa..”, ujar Tunggal Dewi perlahan. “Dia hanya mampir sebentar, dan mengantar Maheswari untuk berkenalan dengan teman-teman di sini. “
“Baik Ibu, silahkan…”, Chagarawa segera menunduk sambil mempersilahkan Tunggal Dewi dan Maheswari untuk berjalan di depan.
Setelah mereka berdua lewat, Chagarawa menghampiri Dom dan bertanya dengan perlahan, “Namamu Dom sekarang ? “
“Ibu yang kasih, Paman..”, jawab Dom sambil tersenyum.
“Nama yang bagus…gaya lho dikasih nama sama Ibu”, ujar Chagarawa sambil ikut tersenyum. Keduanya terlihat saling melempar senyum dengan penuh arti.
Sementara Tunggal Dewi menjelaskan kepada Maheswari, “Dimensi transisi ini adalah tempat singgah bagi para siluman yang terluka. Mereka yang bertemu dengan diriku dalam keadaan terluka ataupun terlantar, bisa singgah di sini dan menyembuhkan diri dari lukanya. “
“Bagi yang ingin menjadi lebih baik, semua diarahkan oleh Chagarawa ini. Beliau yang mengatur semua yang ada di tempat ini, serta mengarahkan mereka untuk menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Chagarawa ini adalah kepercayaanku dalam mengelola tempat ini. Nanti ketika mereka sudah sembuh dan ingin pergi berkelana lagi ke dimensi lain, mereka bebas untuk melakukan itu. “
Mendengar itu, Maheswari hanya mengangguk-angguk, tapi pandangan matanya menyapu semua yang bisa dilihat di hadapannya. Seakan-akan ini adalah informasi yang dicari oleh dirinya dan harus segera dilahap serta dimengerti dengan cepat.
Tidak lama, Chagarawa pun mengantarkan rombongan itu untuk melihat-lihat di dalam perkampungan Dimensi Transisi Silung itu. Menunjukkan banyak aktivitas yang dilakukan para Silung yang sedang singgah dan tinggal di sana.
Sampai di sebuah tempat yang kelihatannya adalah sebuah dapur, yang sedang melakukan aktivitas untuk menyiapkan makanan.
Chagarawa segera berkata kepada rombongan, “Maheswari, ini adalah dapur pusat kita. Semua makanan diolah dan dibuat di dapur ini. Diambil dari hasil tanaman di sekitar kami dan hasil ternak. Mungkin agak berbeda dengan makanan di duniamu, tapi tetap saja kami proses di sini. “
Maheswari mendengarkan keterangan itu dengan seksama dan tetap memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya. Nampak beberapa silung yang sedang mondar mandir dan bekerja menyiapkan makanan dan bumbunya.
Tiba-tiba sebuah sosok wanita tua berkaki ular, menghampiri rombongan itu sambil mengulurkan tangannya kepada Tunggal Dewi. Tunggal Dewi pun menyambut uluran tangan tersebut, sambil menyapa, “ Apa kabarmu Nyai Bogageni ? “.
Sosok wanita tua berkaki ular yang dipanggil Nyai Bogageni pun segera mencium tangan Tunggal Dewi sambil berkata dengan tetap menunduk dan sedikit mundur, “ Baik Ibu, semoga Ibu juga sehat-sehat selalu. “
Tunggal Dewi tersenyum mendengar hal itu.
“Ki Chagarawa, ada sedikit masalah nih Kang..ada kekurangan beberapa bumbu dapur yang harus dipetik dari hutan. “, Nyai Bogageni segera mengadukan masalahnya kepada pengatur perkampungan tersebut sebagai pembuka.
“Lho, siapa yang biasanya bertugas ambil itu Nyai..? “, tanya Chagarawa.
“Si kerbau muda, Dakshageni…”, jawab Nyai Bogageni sambil menundukkan kepalanya.
“Kemana dia sekarang ? “, tanya Chagarawa sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
“Mohon maaf, main terus anak itu Ki..susah diaturnya..”, Nyai Bagageni mengeluhkan salah satu anggota nya di dapur itu.
“Bukan main..”, ujar Chagarawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Mendengar hal itu, Tunggal Dewi langsung menengahi masalah, dengan berkata, “ Biar saya yang memanggilnya.”
Sebentar kemudian, Tunggal Dewi kelihatan melakukan gerakan bersiul dengan nada tinggi. Namun yang didengar oleh semuanya hanya sebuah hembusan angin yang kencang yang keluar dari mulut Tunggal Dewi. Mereka pun sadar, bahwa siulan itu bukan siulan biasa, melainkan sebuah nada tinggi yang dikeluarkan dengan tenaga dan energi tambahan yang besar.
Seketika dan secepat kilat, berhembuslah angin kencang yang panas, dan disertai dengan bunyi api yang menderu, yang tiba-tiba berhenti. Seiring dengan hal itu, tanpa ada yang menduga, muncul lah sesosok makhluk berkepala kerbau dengan berbadan manusia.
Nampak makhluk dengan kepala kerbau itu terengah-engah dan memburu napasnya, lalu menunduk dan segera mengambil tangan Tunggal Dewi untuk kemudian diciumnya.
“Ibu. “, makhluk itu berkata dengan perlahan sambil menunduk.
“Kamu dari mana Dakshageni ? “, tanya Tunggal Dewi perlahan.
“Itu Ibu, sedang di pinggiran sebelah utara, sedang mencabut ubi. “ , jawab makhluk yang disapa dengan panggilan Dakshageni.
“Benar..? “, tanya Tunggal Dewi.
“Benar Ibu..tapi sambil bermain-main di sana..ada sekelompok anak muda yang sedang menaikkan layangan di sana..”, jawab Dakshageni sambil semakin menunduk di hadapan Tunggal Dewi.
“Saya tidak melarang kamu bermain, selama kamu bisa menuntaskan tugas kamu membantu Nyai Bogageni di dapur. “ , Tunggal Dewi berkata perlahan sambil menatap Dakshageni.
Dakshageni tidak berani menjawab ataupun membalas tatapan Tunggal Dewi. Dia hanya menunduk dalam, dan sesekali melirik ke arah Nyai Bogageni di sebelahnya dengan tatapan ketakutan.
“Jangan diulangi lagi ya Dakshageni. ”, kata-kata penutup dari Tunggal Dewi, membuat Dakshageni yang mendengarnya hanya mampu menanggukkan kepalanya.
“Hayoooo..dimarahi Ibu kan kamu. Ayo kerja, jangan main terus. Nyai butuh pepaya muda, daun pepaya, akar kayu putih dan kulit pohon kayu manis………”, Nyai Bogageni belum selesai berbicara, tiba-tiba Dakshageni sudah melaju dengan cepat tanpa ada yang bisa melihatnya. Hembusan angin kuat dan suara api yang menderu pun, langsung terasa oleh mereka yang ada di dalam dapur itu. Semua di sana hanya bisa melihat sebuah lintasan bayangan yang menyerupai api melesat secepat kilat keluar dari dapur.
Belum sampai 2 helaan napas, tiba-tiba lintasan api itu melesat kembali dari arah luar kembali ke dapur. Hembusan angin dan suara deru api pun kembali terasa. Dakshageni telah kembali ke dalam dapur, membawa semua pesanan Nyai Bogageni sambil terengah-engah.
“Nyai..ini pesanannya.” , Dakshageni berkata sambil menunjukkan barang-barang yang dipesan kepada Nyai Bogageni, lalu meletakkannya di atas meja dapur.
Melihat hal itu, Maheswari hanya bisa tercengang dan bersorak kecil sambil bertepuk tangan pelan tanpa bisa ditahan. Dia sangat menikmati perjalanannya ke perkampungan Siluman di Dimensi Transisi yang ini. Tunggal Dewi hanya tersenyum kecil melihat hal itu.
Di pinggiran jalan raya, nampak sepasang anak muda sedang berjalan berdampingan. Sang Pemudi terlihat memegang gelas plastik yang kelihatannya berisi air jeruk yang dingin, lengkap dengan sedotan. Sedangkan Pemudanya, nampak dengan tenang melenggang di sampingnya menemani Pemudi itu.
Mereka berdua kelihatan mengobrol dan sesekali tertawa melintasi pinggiran jalan raya. Sang Pemudi beberapa kali meneguk air jeruk dari gelasnya, sementara Sang Pemuda menggamit tangan Pemudi itu, untuk mengajaknya berbelok ke jalan yang lebih kecil. Suasana riang nampak dari keduanya, dan suara tawa mereka yang renyah sesekali terdengar dari jauh.
“Gimana nasi gorengnya ? Enak kan ? “, tanya Bayu Sang Pemuda kepada sebelahnya.
“Bener Bay, yang itu enak kok..makasih ya udah diajak ke sana. “, Sarah Sang Pemudi menjawab sambil tersenyum.
“Itu langgananku dari lama, memang agak jauh sih dari tempat kost. Tapi dia enak masaknya, dan hampir selalu ramai kayak tadi. Entah kenapa kalau makan di sana rasanya selalu pas. “, Bayu menambahkan.
“Makin pas berarti kan kalo makannya sama aku ? “, Sarah tertawa kecil.
“Yang penting, aku udah melaksanakan janji, ngajak kamu makan malem. “, jawab Bayu sambil tersenyum. “Meskipun cuma di nasi goreng gerobakan. “
“Yang penting sama-samanya Bay, bukan soal gerobakannya. “ , kata Sarah sambil tersenyum.
Bayu juga tersenyum mendengar itu.
“Gimana rasanya badan kamu ? Enakan ? “.
“Udah segar Bay, udah kembali normal kayaknya. Udah nggak pernah lagi ngerasa kecapekan, udah berkurang jauh overthinkingnya, udah nggak pernah ingat-ingat masa lalu lagi. “
“Halah gayaaaa…ingat masa lalu juga gak apa-apa kok. “, Bayu tertawa-tawa mendengar jawaban Sarah.
“Jangan lah..kan udah ada kamu. “, kata Sarah dengan manja.
Bayu agak risih mendengar hal itu, tidak terbiasa ada yang bergantung kepada dirinya. Seumur hidupnya, Bayu selalu merasa sendirian dan semua dilakukan sendiri, tanpa pernah ada yang bergantung kepada dirinya. Tapi dirinya berusaha untuk segera menyesuaikan diri, dan menampikkan rasa risih tersebut.
“Ngomong-ngomong, Bayu belum cerita, itu makhluk apa yang menempel ke diriku ? “, tanya Sarah sambil melihat Bayu dan berharap penjelasan lebih panjang.
“Sejenis siluman, bentuknya ular. Atasnya seperti sosok nenek-nenek tua, tapi dengan badan manusia dan kaki seperti ular. Berwarna hitam pekat…”, jelas Bayu, sambil ragu-ragu dan melihat ke arah Sarah. “Kamu yakin mau tau lebih detail mengenai makhluk itu ? Kan udah nggak ada ? Nanti nggak takut ? “
“Serem sih bayangin nya Bay..tapi masih pengen tahu. “
“Ya udah, nanti pelan-pelan aja ceritanya ya..nunggu kamu udah pulih total aja dulu. Biar nggak terlalu takut lagi denger ceritanya. Nanti malah jadi overthinking loh. Padahal kan makhluknya udah nggak ada. “
“Kamu kan juga belum cerita detil mengenai caranya mengambil makhluk itu ? “
“Kamu ingat malam itu nggak ? Yang paginya aku bilang kamu bangun dengan kondisi lemas dan kuyu ? “
“Ingat. “, jawab Sarah singkat.
“Apa yang kamu rasakan malam itu ? “
“Kayak habis lari jauh dan panjang, kayak abis olah raga dan kecapekan. Rasanya tidurnya nggak dapet istirahat sama sekali, kayak semaleman lari jauuuuh banget dan paginya lelah dan penat sekali badannya. “
Mendengar itu, Bayu pun hanya tersenyum.
Dan perlahan dalam perjalanan ke arah kostnya, Bayu pun menceritakan detil kejadian ketika mengangkat siluman ular itu dari tubuh Sarah. Namun yang diceritakan hanya dari sudut pandang Bayu dan Sakti saja. Tanpa menyebut-nyebut 2 nama lainnya, yaitu Tunggal Dewi dan Maheswari. Bayu merasa belum terlalu nyaman untuk membuka kedua nama itu kepada Sarah, rasanya menyembunyikannya masih merupakan keputusan yang tepat bagi dirinya.
Selama perjalanan, Sarah mendengarkan dengan seksama cerita dari Bayu. Sepanjang jalan, semakin jelas cerita dari Bayu sampai tidak terasa ketika ceritanya berakhir, mereka berdua sudah sampai di depan rumah Kost mereka.
Tiba-tiba handphone Bayu berbunyi, tanda ada panggilan telephone.
Setelah melihat sejenak siapa yang menghubungi, Bayu pun segera mengangkat panggilan telephone itu. Sarah yang berada di sebelahnya, mau nggak mau ikut mendengarkan.
“Ya Dam ? Tumben malem-malem nelpon..ada apa ? “, Bayu menjawab panggilan telephone nya yang ternyata berasal dari Godam. Sejenak Bayu mendengarkan jawaban dari orang Godam yang hanya dia yang bisa mendengarnya.
“Sekarang ? Sama kamu juga ?”, tanya Bayu kemudian. Terdengar samar suara Godam dengan sangat kecil.
“Bisa sih..boleh aja..15 menit lagi ya sampai di Waroeng Mangkoes ya ? Saya dari kostan nih..”, ucap Bayu sambil melirik ke Sarah yang mendengarkan.
Sarahpun hanya mengangguk dan tersenyum perlahan.