Malam itu, di sebuah tempat yang cukup jauh dari keramaian kota, jalanan dipenuhi oleh kerumunan dan gerombolan motor-motor. Suara orang-orang yang berbincang dan tertawa-tawa terdengar dimana-mana. Semua diselingi oleh sesekali suara knalpot motor yang menggerung-gerung.
Agak jauh dari kerumunan orang-orang, nampak sekumpulan manusia sedang mengelilingi sebuah motor tua yang keliahtan kusam. Bayu, Sakti, Godam dan satu sosok laki-laki lain, yang biasa dipanggil Pak Tunggal, sedang mengelilingi motor tua itu, seakan-akan melihat dan mengagumi sesuatu yang semu.
Tiba-tiba tampak berlari-lari seorang anak muda ke arah mereka.
“Gimana Mas Din ? Bisa ?”, tanya Godam.
“Bisa dong Dam, kan udah janjian. Udah, resmi kita ikut balapan. Sudah kudaftarkan motornya dan drivernya, Mas Bayu. “, jawab Dinu sambil tersenyum lebar sambil melirik Bayu.
Melihat itu, Bayu hanya terdiam dalam ketegangan. Beban yang besar kini tidak hanya ada di motor Dinu yang sudah butut, tapi lebih banyak di pundaknya sebagai pengemudi utamanya. Sejenak Bayu memandang kepada Sakti dan Pak Tunggal, sosok laki-laki tua dengan badan yang masih sehat dan pakaian tradisional sederhana, seakan mempertanyakan mengenai apa yang selanjutnya harus dilakukan.
“Nak Bayu, silahkan dikasih jembatan nya. “ , Pak Tunggal berkata perlahan, seakan mengerti isyarat dari Bayu.
Mendengar hal itu, Bayu pun teringat perkataan Tunggal Dewi di dimensinya kemarin sebelum pulang ke Dimensi manusia,
“Bayu, nanti kamu yang harus kasih jembatan untuk Dakshageni, agar bisa berpindah ke dimensi manusia. Melalui jembatan itu, Dakshageni dapat berpindah dimensi dengan akurat dan tidak menghabiskan energi dia. Penanda tujuannya adalah jembatan yang kamu buat, sementara biar di dimensi ini, Maheswari dan Dom, yang akan menjaga dan mengantarkan Dakshageni melewati jembatan antar dimensi itu. “
“Jembatan itu adalah sebuah penanda khusus, dan paling mudah berupa dupa yang dibakar. Agar rombongan mereka bertiga bisa berjalan ke dimensi ini, meskipun tanpa raga sebagai wadahnya. “
Bayu mengangguk perlahan, dan segera menyalakan dupa lalu menancapkannya di atas tempatnya yang telah ditaruh di dekat motor butut Dino. Semerbak aroma khas yang mewangi, langsung menebar dan berbaur dengan area sekitar motor butut itu berada. Semua orang yang menghirup aromanya, menikmati dengan tersenyum dan wajah sumringah, kecuali 2 orang. Dinu dan Godam segera mengambil selangkah mundur perlahan, mereka tidak terbiasa dengan peristiwa yang terjadi di hadapannya.
Namun setelah kedua orang itu menunggu agak lama, ternyata tidak terlihat apa-apa dan tidak terjadi apa-apa. Perlahan dengan gerakan ragu, mereka berdua pun maju mendekat lagi ke kerumunan orang-orang di sekeliling motor butut Dinu.
Berbeda dengan pandangan Dinu dan Godam, Bayu langsung merasakan ada energi yang berbeda, dan tidak lama kemudian, 3 sosok baru menjelma di dekat kerumunan ini. Terlihat Dakshageni, Maheswari dan Dom menjelma di sana.
Maheswari terlihat melambaikan tangannya kepada Bayu, yang membuat Bayu sedikit tenang dan tersenyum.
“Ternyata kalau di dunia manusia, mereka terlihat tidak terlalu nyata dan seperti tertutup asap dupa”, dalam hati Bayu berkata. Sebuah pengalaman baru bagi dirinya, mengenai makhluk yang berpindah dari dimensi sana ke dimensi manusia.
“Ayo Bay, kelihatannya sudah siap dirimu. “ , perkataan Mas Sakti memecah keheningan malam di antara mereka.
Bayu pun melirik kepada sekumpulan orang-orang di depan nya. Perlahan mengangguk ke arah Mas Sakti dan Pak Tunggal, lalu tersenyum ke arah Maheswari dan Dom. Sementara dalam penglihatan Bayu, terlihat Dakshageni melangkah menghampiri Bayu dan berdiri di sebelah motor butut itu.
“Mas Dinu dan Mas Godam, silahkan dipersiapkan balapannya, kami sudah siap. “, ujar Mas Sakti kepada dua orang yang kelihatannya masih menunggu ada sesuatu yang khusus yang akan terjadi, yang meskipun sedang berlangsung namun mereka berdua tidak dapat melihatnya.
Mendengar hal itu, Dinu dan Godam langsung beranjak menuju kerumunan orang yang lebih besar lagi, untuk mempersiapkan balapan motor yang segera akan berlangsung.
Bayu yang sedang ada di atas motor pun segera mempersiapkan diri. Sambil berkata kepada Dakshageni, “Dakshageni, mohon bantuanmu ya dalam balapan ini. “
Dakshageni, di sebelah motor butut itu, menoleh ke arah Bayu dan mengangguk perlahan.
Pak Tunggal dengan suara paraunya pun memberi nasihat kepada Dakshageni, “Silung, jangan lupa kendalikan kekuatanmu ya. Dalam dimensi ini, kita belum tahu kekuatanmu akan bertambah atau berkurang. Tapi coba kendalikan dan ingat tujuannya, hanya untuk sampai di garis finish pertama, bukan dengan beda yang terlalu jauh. “
Kali ini Dakshageni bukan hanya mengangguk, melainkan berpalng ke arah Pak Tunggal, dan memberi tanda penghormatan dengan menempelkan kedua telapak tangan di depan dada dan sedikit membungkuk.
“Hati=hati Bay “, ujar Sakti, yang diikuti anggukan kepala Bayu perlahan.
Bayu pun segera menggerakkan motornya dan menambah gas, untuk berjalan memutar menuju garis start. Tempat dimana kerumunan orang-orang banyak itu. Nampak Dakshageni berlari di sebelahnya dengan santai, mengikuti kecepatan motor butut yang dikendarai oleh Bayu.
Di tempat start balapan, ketika motor Dinu sudah sampai pada gilirannya untuk balapan. Nampak lawannya sudah bersiap dengan keyakinan diri yang besar, sebuah motor yang sudah tidak baru lagi, namun terlihat sudah ada beberapa bagian dari mesinnya yang terbuka, sudah diganti oleh parts yang masih kinclong. Knalpotnya pun terdengar meraung-raung dalam malam gelap itu, diselingi dengan teriakan dan pekikan semangat dari orang-orang di belakangnya.
Di atas motor itu, nampak seorang pemuda, dengan keyakinan tinggi sedang tersenyum di atas jok. Tangan kanannya memutar dan memainkan gas, sehingga suara knalpot meraung-raung dengan keras.
Dari belakang kerumunan di garis start, tiba lah Bayu dengan mengendarai motor butut nya Dinu. Tanpa suara knalpot yang meraung-raung, tanpa spare part yang kinclong di mesinnya dan dengan raut muka ketegangan tanpa keyakinan. Bayu melaju perlahan sampai di garis start, bersebelahan dengan motor lawannya.
Semua orang yang menyaksikan hal itu itu pun berteriak, “Huuuuuuuuuu….”. Seakan-akan mengekspresikan ketidak yakinan mereka akan keseimbangan pada lomba itu. Dari tampilan fisik saja, nampak berat sebelah antara 2 motor yang akan berlomba.
Salah satu panitia, seorang pemuda berkumis pun menarik Mas Dinu yang berada di garis start. Sambil berkata dengan suara keras, “Dinu, yakin mau balapan pake itu ? “
Dinu melihatnya sambil menganggukkan kepala. Tapi raut mukanya juga sama sekali tidak menyiratkan keyakinan.
“Dikasih kesempatan sekali lagi nih, nggak mau undur aja ? Yakin ? Berat sebelah ini kayaknya. “, tanya Pemuda berkumis itu lagi.
Sekali lagi Dinu hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya, tanpa berkata apa-apa.
“Ya sudah, jangan salahin kami ya, duit ya duit kamu. “, ujar Pemuda berkumis itu melengos sambil berjalan ke garis start.
Pemuda berkumis itu mengambil sebuah bendera putih kecil dari tangan orang lain, lalu berjalan menuju depan garis start. Memposisikan dirinya ada di tengah-tengah kedua motor tersebut, namun di depan garis start. Sementara kedua motor yang akan berlomba berada di belakang garis start.
Perlahan Pemuda berkumis itu mengangkat bendera putihnya, seketika orang-orang di sekitar garis start pun terdiam. Lalu bendera putih itu mulai dikibarkan perlahan tiga kali ke kiri dan ke kanan, knalpot motor terdengar semakin meraung-raung dan suara orang-orang memecah keheningan dengan segala teriakan dan semangatnya.
Tiba-tiba bendera putih diturunkan, dan melajulah kedua motor tersebut dari garis start dengan kecepatan tinggi.

illustrated by Lovelie Light (LVL)
Dalam penglihatan Bayu, sebelum bendera putih diangkat, nampak Dakshageni bergerak perlahan ke depan sepeda motor bututnya. Dari sabuknya, yang ternyata adalah seutas tali tambang yang besar, Dakshageni terlihat mengikatkan benda tersebut pada stang kemudi motor, dan mengalungkannya pada badan tegapnya.
Ketika bendera putih diangkat, Dakshageni mulai menunduk dan mengambil posisi mau berlari.
Sementara lawan Bayu memainkan gas motornya, sehingga tercipta suara knalpot yang meraung-raung keras.
Sejenak sebelum bendera putih diturunkan, Dakshageni sempat melirik ke belakang dan beradu pandang dengan Bayu. Keduanya pun saling menganggukkan kepala tanda mengerti satu sama lain.
Seketika, Bayu melihat percikan-percikan api kecil mulai menyala di badan Dakshageni. Seluruh badan Dakshageni mulai bermunculan api-api kecil, dari bahu manusianya, sampai di kaki serta tangannya. Sementar di ujung kepala kerbaunya, percikan api mulai muncul di ujung kedua tanduknya yang mencuat.
Pada saat bendera putih turun, Dakshageni segera berlari menarik motor bututnya Dinu di belakangnya. Bayu praktis hanya mengendalikan stang kemudi dan memberi gas seadanya saja. Ban motor butut itu seakan-akan terangkat dari aspal, tapi berlari dengan kecepatan tinggi.
Sementara tubuh Dakshageni tertutup oleh api yang membesar, Bayu yang berada di belakangnya sampai bisa merasakan panas dari api yang membara di tubuh Dakshageni.
Anehnya, dalam penglihatan Bayu, semua terjadi seperti sebuah gerak lambat dalam sebuah film. Ketika perlombaan dimulai, yang seharusnya semua terasa lebih cepat karena kecepatannya semakin tinggi, di mata Bayu malah terlihat semakin lambat.
Bayu menoleh perlahan ke lawannya, nampa pemuda pengemudi motor itu masih berada di sebelahnya. Dengan posisi badan yang condong ke depan, nampak wajah pemuda itu keras dan tegang, terkena terpaan angin keras dari depan motornya. Rambut pemuda itu pun berkibar-kibar ke belakang.
Bayu memalingkan wajahnya lagi ke depan, nampak olehnya Dakshageni sedang berjuang menarik motor butut Dinu dan berlari. Bayu sadar bahwa kondisi sebenarnya pasti itu terlihat cepat sekali, namun yang dilihatnya semua berada dalam gerakan yang lambat.
Perlahan motor butut Bayu mulai meninggalkan lawannya perlahan-lahan. Bayu melihat ke samping, hanya untuk menemui bahwa raut muka pemuda pengendara motor yang jadi lawannya dalam ekspresi yang terheran-heran serta tidak percaya. Ekspresi itupun seketika berubah menjadi ekspresi marah, dan gesture pemuda itu yang semakin mencondongkan badan ke depan, serta memutar gas motornya lebih kencang lagi.
Namun dalam penglihatan Bayu, motor lawannya hanya sedikit saja menyamai kecepatan motornya yang ditarik oleh Dakshageni, untuk kemudian semakin tertinggal semakin jauh.
Bayu sendiri merasa motor yang dikendarainya bergerak sangat cepat, terasa deru angin yang sangat kencang menerpa mukanya. Tapi tetap saja ritme yang dirasakan oleh Bayu melambat, sehingga dia merasa bisa mengontrol semuanya tanpa terpengaruh oleh kecepatan dan ketegangan.
Dengan semakin tertinggalnya motor lawannya, Bayu melihat bahwa kobaran api dari tubuh Daksha geni semakin membesar, dan mulai mengeluarkan percikan-percikan kecil ke arah motor butut yang dikendarainya. Bayu mulai khawatir, meskipun dia sadar bahwa kemungkinan api yang dilihatnya itu berbeda dengan api biasa yang ada di dimensi manusia, tapi instuisinya berkata lain.
Segera ia berteriak, “Dakshageni, pelankan kecepatanmu. “
Dakshageni mendengar hal itu, dan melirik ke arah belakang untuk melihat Bayu.
Bayu pun mengulanginya , “Pelankan Dakshageni, lawan sudah tertinggal jauh. Sudah cukup, garis finish sudah dekat, biarkan lawan kita mendekati. Tapi jangan sampai menyusul. “
Dakshageni mengangguk perlahan, dan kelihatan kobaran api di badannya semakin redup, tidak lagi membara seperti tadi. Bayu menoleh ke belakang untuk mengetahui posisi lawannya, dan terlihat lawannya perlahan-lahan mulai kelihatan seperti hendak menyusul dan menjadi lebih dekat lagi.
Namun garis finish sudah di depan mata, dan hanya dalam dua kejapan mata saja, motor Bayu sudah tiba di garis finish. Beberapa saat kemudian diikuti oleh motor lawannya.
Dalam penglihatan Bayu, setelah melewati garis finish, ritme yang terlihat di matanya pun mendadak menjadi normal. Semua orang bergerak dengan kecepatan normal. Dakshageni terlihat melepaskan tali tambang dari sabuknya ke motor butut itu. Sementara asap putih kelihatan mengepul dari motor yang dikendarai Bayu.
Bayu memutar motornya dari garis finish, dan segera menuju garis start. Setibanya di sana, dia sudah disambut oleh teriakan dan luapan kegembiraan dari penonton lomba di garis start. Kelihatan sekali euphoria dari orang-orang di sana, yang melihat sebuah motor butut mampu mengalahkan motor yang sudah penuh settingan dengan parts-parts yang baru.
“Pemenangnya adalah, motor Dinuuuuu…”, Pemuda berkumis tadi pun mengumumkan pemenang lomba. Seketika banyak orang yang menyalami Dinu dan menepuk2 pundak Bayu, serta menepuk-nepuk motor yang dikendarainya.
Sekilas Bayu melihat, pengendara motor lawannya tadi menendang segala sesuatu yang ada di sekitarnya, cone marka jalan, tempat sampah, semua kena pelampiasan kemarahan dan rasa frustrasinya.
“Event lomba selanjutnya adalah…….antara…….”, Pemuda berkumis pun mengumumkan lomba berikutnya.
Bayu tidak begitu mendengarkan hal itu, dan segera memanggil Dinu dan Godam. Nampak Dinu sedang berbincang dengan seseorang, dan mengisyaratkan sesuatu kepada Godam yang berada di sebelahnya. Tidak lama kemudian, Godam pun menghampiri Bayu.
“Sebentar Mas Bay, nanti saya susul ke sana..”, begitu kata Godam singkat, sambil terus berbicara dengan orang di depannya.
Melihat hal itu, Bayu pun segera melaju dengan motornya, mengarah kepada kerumunan orang-orang yang terpisah jauh dari kerumunan utama. Tempat dimana Sakti dan Tunggal Dewi menunggu dengan sabar.
“Gimana Bay ? Sukses ? “, tanya Sakti setelah Bayu tiba.
“Juara Mas..”, jawab Bayu sambil tersenyum.
“Nggak susah kan ternyata kan ?”, tanya Sakti kembali, yang disambut oleh senyum kecil dari Bayu dengan sedikit anggukan kepala.
“Dakshageni yang hebat, dia mampu mengontrol kekuatannya. “, Bayu memberikan pujian kepada Dakshageni sambil melihat ke arah makhluk itu.
Mendengar hal itu, Dakshageni memberikan senyuman yang lebar, yang di penglihatan Bayu adalah sebuah senyuman yang aneh karena wujud kepala dari Dakshageni yang merupakan kepala kerbau.
Pak Tunggal segera menepuk pundak Dakshageni, sebagai tanda sebuah kebanggaan yang diberikan. Menerima tepukan itu, Dakshageni hanya meringkuk sambil menunduk, tapi senyuman di wajah kerbaunya tidak berubah.
Maheswari dan Dom, terlihat mendekati Bayu dan memberikan tanda jempol kepada Bayu. Melihat hal itu, Bayu pun tersenyum, dan membalas dengan tanda jempol kembali kepada mereka.
Tidak lama kemudian, Godam dan Dinu datang bergabung dengan kelompok itu. Mereka berdua kelihatan tergopoh-gopoh dan kerepotan.
“Gimana Mas Dinu ? Semua udah oke kah ? “, tanya Sakti menyambut kedua orang itu.
“Sudah Mas Sakti..terima kasih banyak, semua sudah beres dan sudah oke. “, jawab Dinu dengan masih terengah-engah. “Tapi……….”
“Tapi apa….. ? “, tanya Sakti lagi.
“Tapi kita ditantang untuk balapan lagi, ada 1 orang Boss yang masih penasaran dengan motor butut ini. Untuk diadu dengan motornya Mas Sakti. “, kata Dinu menjelaskan, kali ini dengan gerakan menunduk.
Mendengar hal itu, Sakti terdiam sesaat. Melirik kepada Pak Tunggal dan kemudian kepada Bayu. Seakan-akan meminta persetujuan tentang hal itu. Keduanya juga terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Sebelumnya…urusannya Mas Dinu sudah beres kah ? “, tanya Sakti lagi kepada Dinu.
“Sudah Mas Sakti, sudah beres. Uang kemenangan sudah saya berikan kepada orang yang menyandera motor pelanggan bengkel saya kemarin. Itu orangnya ada di situ, dan besok motor pelanggan saya bisa diambil. “, jawab Dinu.
“Lalu ?”, Sakti memberikan pertanyaan mengambang kepada Dinu.
Dinu nampak ragu-ragu dengan pertanyaan Sakti. Rasa nggak enak hati pun menyelimuti dirinya. Tapi adrenaline yang terpicu dari hasil balapan tadi masih menguasai dirinya, sehingga tadi, ia pun menerima tantangan untuk melakukan balapan lagi.
“Tapi…..mungkin bisa sekali lagi Mas Sakti ? Kalau tidak keberatan….”, ucap Dinu.
Mendengar itu, Sakti kembali terdiam dan termenung sejenak. Semua mata menatap ke arahnya, dan mengharapkan jawaban dan respond nya.
“Kalau kita lakukan sekali lagi, jadi tidak bermakna Mas Dinu. Yang tadi maknanya adalah untuk menolong Mas Dinu. Tambahan sekali lagi, hanya untuk memuaskan dahaga kita sendiri, tidak ada maknanya sama sekali. “, jawab Sakti perlahan.
Mendengar perkataan Sakti, Godam mengangguk sambil memegang pundak Dinu. “Iya Mas, bener kata Mas Sakti. Kita sudah cukup dibantu Mas Sakti, Mas Bayu dan Bapak Tunggal sampai di sini. “
Dinu segera berbalik badan dan meninggalkan kerumunan itu. Gerak badannya nampak memendam sebuah kekesalan, karena keinginannya tidak bisa tercapai. Semua yang ditinggalkan, melihat kenyataan itu sambil mengambil napas panjang.
Hanya Pak Tunggal yang mampu bersuara perlahan, “Yang tadinya bertema kemanusiaan, kini sudah tumbuh jadi keserakahan. Biar saja, kita tidak bisa mengendalikan hal itu. “