Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DIIKUTI TANDA TANYA - Waroeng Podjok Mangkoes

Chapter 1. Maheswari, Pengembara dari Bintang Malam itu di dalam kamar Kost, Bayu duduk termenung sendiri di meja dengan kondisi laptop yang tertutup,...

lovelie-light 17 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SERI WAROENG PODJOK MANGKOES BUKU 2 : MISI DIIKUTI TANDA TANYA - Waroeng Podjok Mangkoes

Chapter 1. Maheswari, Pengembara dari Bintang

Malam itu di dalam kamar Kost, Bayu duduk termenung sendiri di meja dengan kondisi laptop yang tertutup, dan gelas berisi air putih yang setengah terisi. Kondisi di luar yang masih diliputi oleh gerimis air hujan sejak sore tadi, semakin membuat suasana menjadi lebih rileks dan sendu.

Pikirannya melayang kepada sebulan terakhir ini, dimana begitu banyak kejadain luar biasa yang terjadi dalam hidupnya. Sepenggal demi sepenggal memory pun dia ingat kembali dari kejadian-kejadian yang terasa berurutan menimpanya.

Sesekali terlintas sebuah senyuman kecil di bibirnya, sesekali ada kerutan di keningnya, terus saja bergantian beberapa mimik wajah silih berganti seiring memory yang terlintas. Ada rasa senang di dalam dirinya, ada rasa bersyukur, banyak pertanyaan, banyak kebingungan, tapi semuanya dirasakan sebagai sebuah perjalanan bagi Bayu.

Tiba-tiba saja terlintas bayangan seorang Maheswari, yang masih menimbulkan pertanyaan. Betapa Bayu masih saja menyimpan banyak pertanyaan kepada 2 insan perempuan yang baru saja dikenalnya. Tapi tentu saja untuk bertanya kepada Tunggal Dewi, Bayu lebih merasa enggan dan nggak enak. Mungkin karena aura Tunggal Dewi yang cukup mengintimidasi dirinya atau mungkin karena bayangan Pak Tunggal, sosok Tunggal Dewi ketika memasuki dimensi manusia yang masih terus saja teringat oleh Bayu.

Bayu pun beride, dan mulai berdiri dari duduknya, lalu bersila di lantai, mengambil sikap tegap.

Mulai mengatur napas perlahan, menurunkan semua rasa dan karsa.

Perlahan Bayu merasakan semakin ringan, semuanya menjadi tidak terasa. Bunyi gerimis hujan menjadi semakin tidak terdengar dan akhirnya senyap. Penglihatan Bayu yang tadinya gelap karena memejamkan mata, perlahan melihat sebuah sinar terang dari dunia yang berbeda.

Domain Tunggal Dewi (Tempat Maheswari)

Bayu menemukan dirinya berjalan di tepi pantai yang sangat bersih, dengan deburan ombak perlahan yang hampir mengenai kakinya. Kakinya terus melangkah menuju Basecamp pondokan kecil tempat kemarin mereka berempat bertemu dan bercengkrama.

Perlahan, Bayu mulai menikmati suasana di domain ini, tempat Maheswari tinggal. Setelah berjalan beberapa saat, tidak lama Basecamp pun mulai terlihat dan semakin jelas. Nampak seorang perempuan muda sedang beraktivitas di dalamnya, dan tiba-tiba keluar sambil membawa segelas minuman.

“Hai Bayyyy…”, Maheswari setengah berteriak sambil melambaikan tangannya. Terlihat senyum ceria di bibirnya, seakan meluapkan perasaan gembira melihat kedatangan Bayu.

“Hai..”, Bayu pun membalas lambaian kecil itu, sambil bergegas mempercepat langkahnya.

“Tumbeeeen…keren banget ya sekarang, udah bisa ke sini sendiri ya ? ”, ujar Maheswari sambil menggandeng Bayu untuk masuk ke dalam Basecampnya.

Bayu mengikuti gandengan tangan Maheswari, sambil berkata sambil tersenyum, “Iya nih, pengen nyoba aja sendiri..biar nggak tergantung terus sama Mas Sakti. ”

“Keren..gitu doong..main ke sini sekali-sekali. Kamu lagi di mana emang sekarang Bay ? ”, tanya Maheswari setelah mereka berdua duduk di kursi santai di Basecamp.

“Heee ? Kan sekarang lagi di sini ?”, Bayu kebingungan mendengar pertanyaan Maheswari.

“Bukan itu..tau lah kamu lagi di sini. Maksudku, di dimensimu kamu lagi di mana emang sekarang ? Kok bisa tau-tau main ke sini ? ”

“Ooooh..lagi di kamar kost, lagi siap-siap mau tidur..”

“Terus ? Kepikiran aku ya ?”, Maheswari bertanya sambil tertawa lepas. “Mau minum apa Bay ?”

“Apa aja boleh ? ”, kata Bayu.

“Bay, kamu harus inget ya..kalo kamu ke sini itu, bukan tidur loh hitungannya di dunia kamu. Tetap saja kamu perlu tidur di dunia manusia, karena ada raga manusia yang butuh istirahat. Jadi jangan sampai kurang tidurnya karena kamu keenakan jalan-jalan ke sini. ”, Maheswari nyerocos sambil menuangkan minuman dingin kepada Bayu dari sebuah kendi kaca.

“Oh, iya ya ? Maaf, aku belum tahu banyak mengenai aturan-aturannya pindah-pindah domain ini”, kata Bayu sambil mengambil gelas yang disodorkan oleh Maheswari.

“Ya pokoknya diingat aja, jangan sampai nggak beristirahat badan manusiamu. ”

Bayu hanya mengangguk perlahan.

“Cheers Bay ”, Maheswari menyodorkan gelasnya untuk didentingkan dengan gelas Bayu.

Segera disambut oleh Bayu dengan menyodorkan gelasnya juga, dan membuat suara “Tink” kecil, kemudian keduanya minum dari gelasnya.

“Beda sama diriku Bay…”, ujar Maheswari tertahan, sejenak meletakkan gelasnya di atas meja, lalu mengambil posisi bersender santai di kursi sambil menatap lautan lepas di hadapan mereka.

“Kenapa dengan dirimu ? ”, tanya Bayu.

“Kalau diriku, punya 2 kesadaran yang saling berhubungan. Keduanya bisa berdiri sendiri, tapi saling terkoneksi. ”

“Maksudnya ? ”, Bayu memajukan posisi duduknya.

“Aku kan yang asli di sini, sesosok insan extra terrestrial yang ghaib. Extra terrestrial maksudnya..aku bukan dari planetmu Bay. Dari luar sana, di galaksi yang jauh, tapi termasuk makhluk yang ghaib. Jadi aku nggak punya tubuh fisik.”

“Loh..terus ? Sabrina itu ?”

“Sabrina itu tubuh fisik yang diberikan oleh Kak Tidi kepadaku. Asliku ada di sini. ”

Bayu menyadari bahwa Tidi itu adalah panggilan khusus untuk Maheswari kepada sosok yang dianggap sebagai kakaknya, Tunggal Dewi.

“Tapi kesadaran mu ada di mana dong ? Ada di keduanya ya ? Ada di Sabrina dan ada di Maheswari ? Begitu ya ?”

“Aku yang asli di sini, ada kesadaran sendiri. Ini aku bisa bicara denganmu sekarang Bay. Pun nanti kalau kamu berkunjung lagi ke domain ini, aku selalu ada di sini, eh…nggak deng..kadang-kadang Kak Tidi juga mengajak aku bepergian.”, Maheswari meneruskan ceritanya.

“Tapi aku yang ada di duniamu, ada di dalam diri Sabrina. Sama, punya kesadaran penuh juga. Sabrina dan Maheswari bisa melewati dua peristiwa yang berbeda di dua domain yang berbeda tapi tetap dengan kesadaran masing-masing.”

“Berbeda dengan dirimu, kesadaranmu di dunia mu hilang ketika kamu berkunjung ke sini. Tapi kamu yang di sini punya kesadaran penuh.”

Maheswari menghentikan cerita panjangnya, sambil menatap Bayu, “Nangkep nggak ? ”

“Nggak semuanya sih, tapi mengerti sebagian..”, ujar Bayu menjawab.

“Tanya dong yang nggak ngerti ”

“Sabar dong, ini too much information nih otak ku ”, ujar Bayu sambil sedikit tertawa.

“Nge-hang ya ? ”, tanya Maheswari pelan sambil memberikan gestur zany face.

“Hahahahahahhahaa”, mereka berdua tertawa bersama-sama.

“Iya Bay, ini adalah asliku. Sabrina itu, tempatku belajar tentang manusia di dunia kamu. Itu permintaanku kepada Kak Tidi waktu aku pertama tiba di dunia kalian ini. ”, Maheswari bercerita mengenai masa lalunya.

Pertama kali aku tiba di planet ini, aku merasa kebingungan dan tanpa tujuan. Karena aku tidak punya raga fisik, jadi aku masuk ke domain-domain lain yang non fisik secara bergantian, tidak langsung ke domain manusia. Yang menyambutku pertama adalah makhluk-makhluk ghaib dari dunia ini, dan yang kutemui pertama yang galak-galak, mereka territorial banget, galak kalau menyangkut sosok asing yang masuk territory nya. Kalau sudah punya wilayah tertentu, benar-benar dijaga wilayahnya.

Sempat beberapa kali berseteru dengan makhluk hitam berbulu karena ku masuk ke wilayahnya. Kan aku nggak tau ya, kenapa mereka seegois itu sih mau menetapkan wilayah itu sebagai territory mereka, sementara di duniaku tidak kenal konsep se-egois itu dan selalu ada konsep berbagi. Makhluk hitam berbulu itu sih masih bisa kulawan dengan kekuatanku.

Tapi ku kena batunya ketika bertemu dengan makhluk yang mirip bola api besar, dengan nyala warna biru. Kalau dengan makhluk yang ini masalahnya bukan tentang territory, tapi tentang rasa keingintahuanku yang tinggi. Dan dia tidak suka diusik dengan rasa keingintahuanku.

Keok aku dibuatnya hanya dalam beberapa menit bertarung. Pada waktu itu, kalah jauh energiku dengan energi makhluk itu.

Untungnya..

Kak TiDi menemukanku sedang bertarung dengan makhluk itu, segera Kak TiDi menghancurkan makhluk itu sampai kocar kacir. Tapi diriku sudah lemah dan terluka akibat pertarungan itu. Kak TiDi lah yang mengadopsi diriku di domain nya ini. Ku ambil istilah mengadopsi, karena dia bukan hanya merawat dan menyembuhkan ku, tapi juga mengajariku tentang banyak hal mengenai domain-domain yang ada di dunia ini.

Dia mengajariku bagaimana menaikkan energiku, sehingga aku bisa membangun sendiri domain ini di dalam domain Kak TiDi. Banyak petualangan yang sudah kami lewati bersama, karena Kak TIDi sering mengajakku dalam menelusuri domain-domain lain, terutama bila dia sudah ada tugas tertentu, pasti aku diminta untuk menemani dan membantunya.

Sampai akhirnya kami bertemu dengan Mas Sakti, yang waktu itu adalah bagian dari tugasnya Kak TiDi juga untuk menemukan dia.

Entah kenapa, aku jadi tertarik dengan manusia, karena melihat Mas Sakti untuk pertama kalinya. Sejak saat itu aku selalu meminta Kak TiDi untuk bisa lebih banyak lagi belajar mengenai dunia manusia dan rasa yang mereka miliki. Ini semua mungkin karena bawaan dari spesies dan ras ku ya, yang selalu haus untuk belajar, belajar dan ingin tahu mengenai banyak hal.

Sampai suatu saat, Kak TiDi mendapat tugas untuk memberi berkah kepada sepasang manusia yang sudah sekian lama berusaha untuk memiliki anak. Setelah berusaha dan berupaya, bertahun kemudian pasangan itu pun dikaruniai oleh sebuah kehamilan. Tetapi dengan tragisnya, calon anak mereka itu sebenarnya meninggal di dalam kandungan ibunya. Karena sepasang manusia itu sudah banyak berbuat kebaikan kepada orang lain, Kak TiDi diberikan tugas untuk mengisi jasad dan raga anak itu dengan sebuah anugrah baru.

Di situlah muncul ide Kak TiDi, untuk memasukkan kesadaranku ke dalam Sabrina. Sehingga aku bisa lebih banyak belajar mengenai manusia, dari sejak kelahirannya, sampai menjadi dewasa nanti.

image

illustration of (still) a mysterious character by Lovelie Light (LVL)

“Begitu cerita nya Bay. ”, Maheswari menghentikan ceritanya sambil menengok kepada Bayu.

“Tidur kamu yaaaaaaaa ? ”

“Nggak koook…dengerin cerita kamu kok..”, ujar Bayu terburu-buru sambil mengejapkan matanya. Dongeng yang menarik dari Maheswari malah membawanya terlena menutup matanya sejenak.

“Aaaaaaaa Bayuuu pulaaaaaang sanaaah..malah tiduuur di sini.”, ujar Maheswari sambil menunjuk ke tengah laut.

“Iya iya…aku pulang dulu deh..”

“Bukan ngusir nih..tapi pulaaaang sanaaa…kamu gak boleh ketiduran di sini, nanti kamu malah gak bisa pulang. ”, Maheswari pun menarik tangan Bayu untuk segera bangkit dari tempat duduknya.

“Iya..iya…”, ujar Bayu sambil melangkahkan kaki dengan berat, matanya yang sudah sayu menunjukkan bahwa energinya untuk tetap sadar di domain Tunggal Dewi sudah mulai habis.

“Maheswari, ku jalan dulu ya, nanti mampir-mampir lagi ke sini..makasih ya cerita-ceritanya, ” ujar Bayu sambil melambaikan tangannya.

“Daaaaag Baaaaaaaaaaay…see youuuu…”

Seketika Bayu pun kembali ke kamar kostnya. Kesadarannya kembali lagi ke dunia nyata manusia, dengan rintik hujan yang terdengar, dengungan alat-alat elektronik dan lampu yang terasa, serta dinginnya lantai kamar kostnya terasa di kakinya.

Badannya pun merasa lemah dan habis energinya, matanya berat dan terasa semakin berbayang. Dengan perlahan Bayu merangkak menaikki kasur nya, membetulkan letak bantalnya sebentar, dan tidak lama terlelap dengan pulas.

image

illustration of (still) a mysterious character by Lovelie Light (LVL)

“Sabrina, ayo mandiiii…jadi nggak kita nengok Astrid ? ”, Alda setengah berteriak dari arah meja makan sambil meletakkan sarapan nasi goreng yang baru selesai dimasak. Melihat anaknya masih saja berlari-lari mengejar Dom, kelinci putihnya, sambil melihat jam dinding di rumahnya, benar-benar membuat Alda senewen.

Suasana pagi itu di rumah Ari dan Alda, agak berbeda dengan suasana weekend biasanya. Biasanya mereka sekeluarga masih bercengkrama dengan akrab di ruang keluarga, tapi di hari Minggu pagi ini, agak berbeda agendanya.

Semalam, Ari baru saja menerima telepon dari Pak Burhan, mengabarkan bahwa Astrid sakit lagi dan harus dirawat di Rumah Sakit. Segera setelah Ari memberitahukan kabar itu kepada anaknya, Sabrina pun langsung merengek minta diantarkan ke Rumah Sakit untuk menjenguk sahabat karibnya.

Ari dan Alda mengerti koneksi yang dirasakan oleh anak perempuan satu-satunya, terhadap kondisi Astrid, anak Pak Burhan. Sehingga mereka pun memaklumi keinginan anaknya untuk segera bertemu dengan sahabatnya itu.

Tapi pagi hari ini, Sabrina masih terlihat kejar-kejaran dengan si kelinci putih yang sudah mulai menggemuk. Alda yang melihat hal itu semakin gemas ingin segera melihat anaknya rapi dan siap untuk pergi ke Rumah Sakit.

“Iya Mama..ini aku mandi nih..aku mandi..”, melihat Mamanya berdiri sambil bertolak pinggang, Sabrina segera mengambil handuk dan masuk kamar mandi,

“Mandi yang bersih ya Sayang…”, Alda berteriak lagi setelah melihat anaknya masuk kamar mandi.

“Iya Maaaaaaa…”, terdengar lirih suara Sabrina dari balik pintu kamar mandi.

Tiba-tiba si Kelinci putih menghampiri kaki Alda, dan mengendus-endusnya.

Melihat hal itu, Alda segera berujar, “Nggak dong Dom, Mama gak mau main. Kita mau pergi dulu ya, Dom jaga rumah ya temenin Mbok Dar ya ? ”

Dom segera berjalan dengan gontai, seakan-akan lemas karena akan ditinggal oleh orang serumah. Hidungnya bergerak-gerak dan menengok ke arah Alda.

“Kasihan si Dom..sini Mama gendong dulu..ikut sarapan ya kamu ya, tapi tunggu Sabrina selesai mandi ya..” , Alda langsung menggendong Dom sambil mengelus badannya yang dipenuhi bulu putih yang lebat.

Ari dan Alda berjalan menelusuri lorong rumah sakit, menuju ke ruang perawatan anak kamar 306. Tadi melalui pesan, Pak Burhan mengabarkan bahwa Astrid dirawat di ruang 306. Sementara Sabrina digendong oleh Papanya, sambil melihat ruang-ruang yang dilewati. Mata Sabrina melihat sekilas setiap ruang perawatan yang mereka lalui sambil mengira-ngira kondisi anak yang sedang dirawat di dalamnya.

Sementara, Maheswari di dalam Domain nya berbagi kesadaran dengan Sabrina, dan ikut merasakan apa yang Sabrina rasakan.

Kesadaran Maheswari di Domain nya pun ikut melihat,

“Kasihan anak-anak itu, perlu sampai sebegitunya kah mereka merasakan penderitaan penyakit ?”

Sabrina memperhatikan kondisi anak-anak kecil itu sekilas, begitu banyak informasi yang masuk ke dalam otaknya, yang mempengaruhi pemikiran dia dan yang pasti banyak menimbulkan rasa simpati.

Akhirnya rombongan pun tiba di depan kamar rawat 306, perlahan Ari mengetuk pintu dan membukanya. Di dalamnya nampak Pak Burhan melihat kedatangan mereka, dengan perubahan raut muka bahagia dan penuh pengharapan, dan segera bangkit untuk menyambut kedatangan keluarga Sabrina.

“Hai..Sabrina “, sapa Pak Burhan sembari memberi gesture melambaikan tangan, yang segera disambut dengan gerakan yang sama oleh Sabrina.

“Mas Ari, makasih banyak ya mau datang..”, ujar Pak Burhan sambil menyalami tangan Ari. Pak Burhan sama sekali tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakan dari kedatangan Ari, Alda dan Sabrina.

“Iya Mas Burhan, Sabrina begitu mendengar Astrid sakit memaksa mau ke sini dari tadi malam kok.”, jawab Ari, sambil menurunkan Sabrina dari gendongannya.

Sabrina pun langsung meluncur dan menghampiri Bu Linda, Mamanya Astrid, dan mencium tangannya. Bu Linda juga menyambut dengan penuh suka cita kedatangan Sabrina, sambil langsung memeluk Sabrina dengan penuh rasa gembira. Kelihatan sekali keluarga ini benar-benar merasakan sebuah harapan yang hadir, dengan kedatangan Sabrina, karena berkaca pada pengalaman sebelumnya.

Sabrina pun menghampiri Astrid yang sedang terbaring lemah di ranjang ruangan, meskipun ada selang infus yang terpasang di tangan kirinya, tapi mata Astrid kelihatan berbinar-binar ketika melihat kedatangan sahabatnya. Sebuah senyuman kecil pun terbersit di mulut Astrid.

“Sabrina”, sapa Astrid lirih.

“Astriiiiiiiiiiid “, Sabrina segera membalas sapaan sahabatnya sambil memeluknya dengan susah payah dari bawah ranjang perawatan.

“Dom ikut nggak ? “, tanya Astrid.

“Nggak lah, Dom jagain rumah sama Mbok Dar. Nanti kalo ikut, dia lari-lari di sini. Padahal dia gendut sekarang, tapi masih suka lari-lari… jadi kalo lari suka bunyi dung dung dung gitu…“

“Hahahahahaha”, keduanya tertawa bersama.

Pak Burhan, Bu LInda, Ari dan Alda pun tersenyum melihat dan memperhatikan keduanya. Tidak lama mereka berempat terlibat dalam pembicaraan sendiri.

“Jadi apa kata dokter Mas ? “, tanya Ari.

“Belum tahu, dokter hanya bilang pencernaannya terganggu. Padahal kami sudah menjaga makanannya Astrid Mas, hati-hati sekali kami menjaga kebersihan makanannya. “, jawab Pak Burhan.

“Tapi Astrid bikin kami khawatir Mas Ari…”, Bu Linda pun ikut dalam pembicaraan itu. “Seharian muntah-muntah dan buang air terus, hampir tidak ada makanan yang berhasil masuk. “

“Mungkin kah sisa bakteri atau virus yang kemarin Mbak Linda ? “, Alda bertanya.

“Nggak tau juga Mbak Alda, nggak bisa dipastikan..kami sendiri pun bingung jadinya, lebih ke arah…khawatir sih..”, Bu Linda membagikan apa yang ada di dalam pikirannya.

“Lalu apa ada tindakan dari dokter Mas ? “, tanya Ari.

“Sementara ini masih konsentrasi ke penyembuhan pencernaan aja Mas Ari, lewat pengobatan. Tidak ada tindakan yang besar kok, ini kami menunggu perkembangan berikutnya dari pemeriksaan dokter nanti siang. “, jawab Pak Burhan lirih.

“Papaaaaa….”, terdengar suara Astrid memanggil Papa nya.

Seketika para orang dewasa di ruang itu melihat ke arah suara, dan menemukan Sabrina sudah duduk di pinggir ranjang, dengan kaki kecilnya yang menjulur ke lantai.

“Astrid boleh jalan-jalan nggak sama Sabrina ? Di sini-sini aja kok, nggak kemana-mana“, tanya Astrid dengan raut muka segar dan penuh harap. Sabrina melihat raut muka temannya pun, segera meniru raut muka tersebut, sehingga nampak 2 anak perempuan dengan raut muka memohon kepada orang tua-orang tuanya.

image

illustration of (still) a mysterious character by Lovelie Light (LVL)

Sementara di kostan, Bayu baru saja membuat kopi di area pantry, dan menikmati kopi paginya sambil duduk dan termenung sendiri. Pikirannya masih dipenuhi oleh peristiwa tadi malam pada waktu ia bisa dengan bebas mengunjungi domain Maheswari dengan santainya. Rasa bersemangat dan semakin penasaran akan dunia barunya, memenuhi dada di pagi itu.

Bayu menikmati kopi hitamnya di pagi itu sambil mengepulkan asap rokok, pikirannya mengembara mengikuti alur-alur kemungkinan mengenai apa saja yang bisa dilakukannya dengan kemampuan barunya. Hingga tanpa disadari, kehadiran seseorang di pantry kostan itu membuyarkan lamunannya.

“Selamat Pagi “

“Pagi…eh Mbak Sarah..”, jawab Bayu dengan linglung.

“Pagi-pagi udah bengong sendirian kamu Bay, belum puas tidurnya tadi malam ?”. Sarah terlihat cantik pagi itu, dengan cepol rambut sederhana, tanpa make up, dan segera mengambil tempat duduk di depan Bayu.

“Ah nggak Mbak, enak kok tidurnya tadi malam. Cuma nyawa nya masih belum ngumpul aja, penyakit weekend kan gini Mbak. Mbak Sarah enak tidurnya ? “, tanya Bayu sambil mematikan rokoknya.

“Enak kok..”, kata Sarah pelan, sambil membuka tempat makanan yang dia bawa, lalu menyodorkannya kepada Bayu. “Sarapan dulu Bay, ada roti nih, aku bikin tadi pagi buat kamu. “, kata Sarah.

“Kok aku jadi sering dibikin sarapan Mbak ?”, kata Bayu sambil mengambil sepotong roti tawar berisi meisjes coklat itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

Sarah terlihat agak tertegun mendengar hal itu.

“Eh salah deng, makasih ya Mbak ku. “, Bayu berkata sambil menganggukkan kepala sedikit. “Masak belum bilang makasih udah nanya2.”

Sarah hanya tersenyum mendengar hal itu, sambil berkata, “Yah hitung-hitung sebagai ucapan rasa terima kasihku atas peristiwa waktu itu Bay. Yang kamu menolongku dari kerasukan.”

“Tapi kan itu bukan kerasukan Mbak, nggak ada kok kerasukannya. Itu kamu lagi stress aja, jadi kehilangan diri sendiri. “, jawab Bayu perlahan, sambil mengunyah.

“Tapi kan kamu yang nyembuhin Bay, jadi tetap makasihnya.”

“Tapi itu udah lama loh Mbak dan kamu terus-terusan bikinin aku sarapan…”, kata Bayu, masih sambil mengunyah.

Sarah tertegun sejenak mendengar perkataan Bayu, sambil menarik diri dia menanyakan perlahan, “Kamu keberatan ya kalau kubikinin sarapan terus2an ? “

Bayu memandang Sarah sejenak..lalu terdiam dan menunduk..

“Bukan nggak suka Mbak, sekali-sekali gantian dong, aku yang sediain makan malem buat Mbak Sarah. Boleh ? “, ujar Bayu pelan.

Seketika Sarah tersenyum sedikit tersipu mendengar hal itu. Dan hanya menjawab dengan suara pelan, “Boleh kok “

Bayu pun ikut tersenyum.

Lalu berkata, “Mbak Sarah, aku nggak begitu ahli dan jago soal gini-gini, jadi suka kikuk kalo di depan cewek. Jadi maaf ya kalau ada perkataanku yang nggak pas, tapi emang bener nggak jago soalnya kalo ngomong. “

“Yang jelas, ku bingung musti respond apa kalau Mbak Sarah baik jadi baik gini sama aku, dibuatin sarapan, dianterin makan siang, diperhatiin. Padahal aku nggak ngapa-ngapain.”

Mendengar itu, Sarah hanya menyodorkan tangannya dan sambil mengetuk meja. “Bayu, aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu ?”

Bayu melihat tangan Sarah, kemudian saling bertatap mata, lalu bertanya, “Minta apa Mbak ?”

“Stop panggil Mbak dong, aku berasa tua nih..”

Keduanya tertawa kecil mendengar hal itu, dan seketika suasana menjadi lebih cair, dan perbincangan pun berlanjut dengan lebih luwes lagi.

Hingga beberapa saat kemudian, Bayu tertegun, karena melihat sesuatu. Matanya melihat sesuatu di belakang Sarah, dua tangan hitam yang perlahan muncul dari arah belakang punggung Sarah, dan perlahan terlihat merangkul dari belakang. Kedua tangan itu terlihat seperti bayangan hitam dan memiliki kuku yang runcing, bergerak perlahan, dan tidak lama kemudian, terlihat sebuah kepala pun muncul di belakang Sarah.

Dengan rambut panjang dan tipis, terlihat kepala itu memiliki penampilan yang membotak, mata yang gelap dan tajam, serta mulut yang meringis, tidak tersenyum, tidak juga tertutup, tapi meringis tajam, seakan ingin mengkonsumsi dan mengintimidasi yang melihatnya.

Bayu kemudian memegang tangan Sarah perlahan, sambil berkata, “Sarah, jangan takut apa yang akan ku katakan ya, tapi ini kamu harus tahu apa yang aku lihat di dirimu. “

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar