Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SNU FILE 23: Seni Membangun Pagar & Jembatan by Wisanggeni Pagi itu aku berjalan di kawasan Menteng. Jalanan masih basah oleh sisa hujan semalam, udara dingin menempel di kulit. Di kiri kanan, berdiri rumah-rumah megah dengan pagar menjulang tinggi.

SNU FILE 23: Seni Membangun Pagar & Jembatan by Wisanggeni image https://qph.cf2.quoracdn.net/main qimg 8377adda9cadf91be00fe2519560a822 Pagi itu aku ...

lovelie-light 3 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SNU FILE 23: Seni Membangun Pagar & Jembatan by Wisanggeni Pagi itu aku berjalan di kawasan Menteng. Jalanan masih basah oleh sisa hujan semalam, udara dingin menempel di kulit. Di kiri kanan, berdiri rumah-rumah megah dengan pagar menjulang tinggi.

SNU FILE 23: Seni Membangun Pagar & Jembatan by Wisanggeni

image

Pagi itu aku berjalan di kawasan Menteng. Jalanan masih basah oleh sisa hujan semalam, udara dingin menempel di kulit. Di kiri kanan, berdiri rumah-rumah megah dengan pagar menjulang tinggi. Besi-besi runcing di puncaknya berkilat terkena cahaya matahari, seolah berkata: “di balik sini ada kemewahan, tapi tak semua orang berhak melihat.” Aku melangkah perlahan, seraya bertanya dalam hati: apakah pagar itu benar-benar melindungi, atau justru memenjarakan pemiliknya dari dunia luar?

Beberapa hari kemudian aku berjalan di pedesaan, Cibibingbin namanya sebuah desa perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di sana, aku menemukan sebuah jembatan kecil, terbuat dari kayu yang mulai lapuk dan papan yang berdecit setiap kali diinjak. Usang, sederhana, jauh dari megah. Namun jembatan itu hidup, sebab setiap jam ada saja orang melintas: ibu-ibu membawa belanjaan, anak-anak berlari menuju sekolah, hingga petani yang menanggung hasil panen di pundak. Rapuh, tapi menghubungkan. Sederhana, tapi menentukan.

Dua pemandangan itu menempel di kepalaku. Pagar yang gagah namun membatasi, dan jembatan yang ringkih namun menghidupkan. Seolah keduanya sedang mengajarkan sesuatu: bahwa hidup selalu soal memilih kapan kita butuh batas, dan kapan kita harus berani membangun hubungan.

Batas adalah seni mengenal diri sendiri. Ia bukan sekadar garis larangan atau tanda penolakan, melainkan cermin bahwa kita paham di mana letak daya dan rapuhnya. Dengan batas, kita berani berkata “cukup” pada pekerjaan yang melampaui tenaga, atau “tidak” pada orang yang hanya datang untuk mengambil tanpa pernah memberi. Batas ini adalah lanjutan dari apa yang kita bicarakan di SNU File 22 tentang privasi dan proteksi energi oleh Lovelie Light (LVL) : tanpa batas, energi kita habis, jiwa kita terkuras, dan kita kehilangan kendali atas ruang pribadi.

Namun hidup tidak berhenti di pagar. Dunia ini dibangun dari hubungan, dan hubungan lahir dari jembatan. Jembatan itu adab dan laku, sebagaimana diingatkan dalam SNU File 21 oleh King Of Alit Ia bisa berupa kata yang menenangkan, sikap yang ramah, atau sekadar keberanian untuk hadir tanpa menghakimi atau kesadaran akan sikap yang bermakna tahu diri. Jembatan menuntut kita menundukkan ego, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan percaya bahwa keberbedaan bisa dirayakan, bukan ditakuti. Tanpa jembatan, toleransi hanya menjadi wacana; kita akan terjebak dalam pulau-pulau kesepian yang saling memandang dari jauh.

image

Persoalannya, terlalu tebal pagar menjadikan kita asing. Terlalu banyak jembatan membuat kita lelah. Di sinilah laku bijak diuji: kapan pagar ditegakkan, kapan jembatan dipanjangkan. Ada kalanya kita perlu menutup pintu agar energi tetap terjaga, namun di saat lain, kita perlu membuka gerbang selebar mungkin agar cahaya orang lain bisa ikut menerangi.

Keseimbangan bukan hasil hitungan matematis, melainkan seni yang terus diasah dalam pengalaman sehari-hari.

Barangkali, hidup menuntut kita menjadi arsitek bagi diri sendiri: membangun pagar tanpa memenjarakan, dan merancang jembatan tanpa kehilangan arah. Sebab tanpa batas, kita hanyut dalam arus orang lain; tanpa jembatan, kita hampa dalam kesendirian. Pada akhirnya, pagar dan jembatan bukanlah lawan, melainkan dua sisi dari kesadaran yang sama—bagaimana kita menjaga diri, sekaligus tetap hadir bagi semesta.

Dan pada akhirnya, ingatan itu kembali menemuiku. Pagar-pagar tinggi di Menteng yang berdiri gagah, seakan menolak dunia luar, dan jembatan kayu di desa yang renta namun terus dilintasi, seakan menolak mati. Dua gambaran itu seperti dua wajah dari kehidupan: ada yang memilih mengunci dirinya rapat-rapat, ada pula yang berani membuka sambungan meski rapuh.

Mungkin hidup memang tidak menuntut kita memilih salah satu, tapi mengajari kita meramu keduanya. Menjadi kokoh seperti pagar tanpa terpenjara olehnya, sekaligus setia seperti jembatan meski rentan dilalui banyak kaki. Sebab yang membuat kita utuh bukan hanya kemampuan menjaga diri, tapi juga kesanggupan hadir bagi orang lain.

#Memayu Hayuning Bawana

Quorahttps://sekalaniskala.quora.com/

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar