SNU Files, Batas : Rasa & Logika - Part 16 dari “Hati-hati Cerita Tentang Klenik”
by Wisanggeni.
Pagi itu, secangkir kopi hitam mengepul di hadapanku. Di kejauhan, hamparan sawah Kuningan membentang seperti permadani hijau yang digelar alam. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara gemericik air irigasi. Segalanya tenang, bahkan nyaris terlalu tenang.
Namun, justru dalam ketenangan itu, pikiranku berkelana. Di balik pemandangan sederhana ini, aku teringat tulisan kemarin. Teh Lovelie Light (LVL) berbicara tentang jeda, sebagai cara untuk me-restart diri. Jeda bukan sekadar berhenti, melainkan ruang hening untuk menata ulang langkah. Apalagi sebentar lagi Sekala Niskala akan merayakan ulang tahunnya—jeda itu menjadi sarana persiapan, ibarat menarik napas panjang sebelum berlari kembali.
King Of Alit memaparkan tentang energi. Tentang daya tak kasat mata yang perlu dikumpulkan agar perjalanan ke depan tidak kehilangan nyawa. Energi bukan hanya fisik, tapi juga batin. Dan ulang tahun Sekala Niskala, katanya, pantas disambut dengan energi baru: segar, bersih, penuh daya dorong untuk menghadapi babak berikutnya.
Hari ini, aku ingin melanjutkan tulisan itu. Bukan lagi tentang jeda atau energi, melainkan tentang sesuatu yang lebih halus—tentang batas.
Batas antara rasa dan logika.
Batas antara yang kita percaya dan yang bisa kita buktikan.
Batas tipis di mana cerita, keyakinan, bahkan klenik, hidup dan diwariskan.
Di desa-desa sekitar sawah ini, orang masih berbisik tentang suara gamelan di tengah malam, atau bayangan perempuan berambut panjang di tepi pematang. Bagi sebagian, itu sekadar ilusi. Bagi yang lain, itu pertanda. Logika mencoba memberi penjelasan; rasa, sebaliknya, justru memberi makna.
Mungkin ulang tahun Sekala Niskala juga lahir dari dialektika yang sama. Jika hanya dengan logika, ulang tahun hanyalah pergantian angka—tahun bertambah, kalender berganti. Tetapi dengan rasa, ulang tahun menjadi momentum: ruang untuk mengingat, merenung, sekaligus menyalakan api harapan.
Di situlah jeda, energi, dan batas saling bertemu. Jeda memberi ruang, energi memberi dorongan, dan batas mengajarkan kehati-hatian dalam melangkah. Karena Sekala Niskala bukan sekadar nama, melainkan perjalanan yang terus berada di ambang: antara sekala dan niskala, antara nyata dan tak nyata, antara logika yang mengukur dan rasa yang menghidupkan.

Sumber : Creative Craft Idea Pinterest
Sebuah Kisah untuk Mengikat Tiga Hal
Bayangkan seorang nelayan tua di pesisir Cirebon. Setelah berhari-hari melaut, ia memilih berhenti sejenak. Perahunya ditambatkan, jala digantung. “Laut pun butuh waktu untuk diam,” ujarnya. Itulah jeda: keberanian untuk berhenti agar bisa melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih jelas.
Ketika tiba musim panen ikan, ia turun lagi ke laut dengan semangat baru. Tapi sebelum berangkat, ia selalu duduk sebentar di tepi pantai, merapal doa, dan menarik napas panjang. Bukan sekadar untuk menguatkan ototnya, tapi untuk mengumpulkan energi—daya yang membuat setiap kayuhan terasa lebih mantap.
Namun, setiap kali berada di tengah laut malam hari, ia juga sadar ada batas yang tidak boleh dilanggar. Batas antara keberanian dan keserakahan, antara memanfaatkan laut dan merusaknya, antara keyakinan pada doa dan kalkulasi logika. Batas itulah yang menjadikan ia manusia: sadar bahwa hidup tidak melulu tentang mengambil, tapi juga tentang menjaga keseimbangan.
Maka, menyambut ulang tahun Sekala Niskala bukan sekadar soal perayaan. Ia adalah soal keberanian untuk berdiri di batas itu: menjaga logika agar tetap waras, namun memberi ruang bagi rasa agar tetap hidup. Sebab mungkin, justru di pertemuan keduanya, kita menemukan makna yang lebih utuh tentang siapa kita, dan ke mana kita hendak melangkah.
Cangkir kopiku kini sudah kosong, hanya menyisakan ampas tipis di dasar gelas. Namun, di depan mata, sawah masih hijau, angin masih berhembus, dan hari terus berjalan. Begitulah rasanya merayakan ulang tahun pertama Sekala Niskala: ada yang selesai, ada yang baru dimulai. Kopi boleh habis, tapi perjalanan masih panjang.
#Memayu Hayuning Bawana