Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SNU FILES → “KESURUPAN'

Part 6 dari cerita mengenai "Hati hati Tentang Cerita Klenik" ditulis oleh : King of Alit Hai Kawans Sekala Niskala, ketemu lagi tulisan kolaborasi me...

lovelie-light 6 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SNU FILES → “KESURUPAN'

Part 6 dari cerita mengenai “Hati-hati Tentang Cerita Klenik” ditulis oleh : King of Alit

Hai Kawans Sekala Niskala, ketemu lagi tulisan kolaborasi mengenai hal-hal yang ada di perbatasan antara yang Sekala (yang nyata) dan yang niskala (yang tidak terlihat).

Udah baca tulisannya Teteh Lovelie Light (LVL) yang di SNU Files Part 4 ? Yang tetang kesurupa ini ?

“Semesta ini penuh misteri, yang mungkin nggak akan pernah bisa masuk ke dalam tabung reaksi. Maksudnya, adalah memang realita bahwa dalam semesta itu selalu akan ada misteri, tidak dapat dijelaskan, tidak melulu mengenai logika, dan pasti ada sebagian porsi yang mengenai kepercayaan atau keyakinan. Tinggal kita mengatur porsi di dalam pola pemikiran kita, seberapa besar yang butuh logika, dan seberapa besar yang menurut keyakinan.

Trus lanjut ke cerita di tulisannya Aa Chiko Wisanggeni di SNU Files Part 5, yang saya nilai menarik dengan kata-kata : “Lamun rasa jeung sukma henteu nyambung, awak jadi kosong. Kosong teh bakal dieusi ku nu sanés.”

(Jika rasa dan jiwa tak menyatu, tubuh jadi kosong. Kosong itu akan diisi oleh yang lain.)

Menyorot mengenai hubungan rasa dan sukma, dan sambungan dua ini yang memberikan isi dalam kehidupan.

Saya sendiri bingung mau ambil angle dari mana untuk cerita mengenai kondisi ini, dan mungkin nggak secanggih kedua rekan di atas dalam menuliskannya. Jadi mungkin lebih pas saya ambil dari sisi pengalaman dan experience saja ya.

image

Ramya Kakarla Account at Pinterest

Ini tentang menghancurkan logika dan keyakinan.

Jaman dulu, pertama kali melihat dan berinteraksi dengan kesurupan, ada sebuah cerita yang terjadi lebih dari 30 tahun yang lalu. Ketika diri ini yang masih muda, di bawah usia 20. Sebuah usia yang masih mencari jati diri dan kenyataan dalam hidup. Sebuah fase pergumulan, belum tentang keyakinan, tapi lebih mengarah kepada soal logika.

Cerita berawal dari ketika diri ini sedang berkumpul bersama teman-teman yang senang dengan hal spiritual dan klenik. Iya, memang jalan hidup saya dari muda sudah dikenalkan dengan dunia ini, jadi nggak heran di usia itu sudah mulai memasuki pergaulan yang “nggak normal” untuk anak-anak seusia itu.

TIba-tiba salah satu teman kerasukan, dan mulai bertingkah rusuh dengan melakukan silat-silat kecil. Untung jaman itu belum jaman yang namanya istilah “Aing Maung”, belum ada sosial media, jangankan sosial media, telephone pun masih menggunakan PSTN dan tidak semua rumah memiliki fasilitas itu.

Saat sang teman yang kerasukan itu meloncat dan jongkok di atas sandaran kursi di tempat duduknya, di situlah logika saya benar-benar dihancurkan. Posisi duduk yang normal di bantalan kursi yang memang di sediakan di kursi adalah hal yang normal, tapi jongkok dengan cara berjongkok di atas sandaran kursi adalah sesuatu yang benar-benar meruntuhkan logika. Kok bisa nggak jatuh ? Kok bisa jongkok dengan tenang tanpa mengatur keseimbangan ? Kok bisadengan sekali loncat bisa langsung nangkring di atas sandaran kursi ?

Logika anak usia belasan tahun langsung hancur, dan seketika proporsi di dalam kepala menjadi lebih besar yang non logis. Seketika proporsi logika menurun, dan proporsi mengenai keyakinan dan kepercayaan menjadi memuncak. Oooow ternyata nggak semua di dalam dunia ini adalah tentang logika, ada juga yang di luar logis…dan butuh untuk disikapi dengan sebuah kepercayaan / keyakinan.

Cerita berikutnya adalah tentang kondisi kebalikan.

Dimana rentang waktu berjalan 5 tahun ke depan, saat diri ini memasuki usia 20 lebih, adalah kali kedua saya berinteraksi dengan kondisi kesurupan ini.

Terjadi ketika sedang duduk-duduk bersama teman-teman, tiba-tiba rumah sebelah mengeluarkan suara kegaduhan yang mengusik malam. Dan seketika yang punya rumah pun keluar dengan raut muka yang panik dan kebingungan, sementara setelah pintu depan terbuka, suara teriakan-teriakan semakin terdengar..

“Tolong, saudara saya kemasukan”, begitu teriak orang yang punya rumah kepada kami, tetangganya. Kami yang mendengarnya pun menjadi panik dan naluri tetangga yang “saling tolong menolong”, sebagai tempat pertama meminta pertolongan, pun naik dan seorang teman segera menyalakan motor dan mencari orang yang bisa menolong. Fokus utama mencari pemuka agama.

Singkat cerita, ketika pemuka agama hadir dan berhadapan dengan korban yang kerasukan, tentu saja ritual dimulai dengan membacakan doa-doa agama.

Dengan mengejutkan, yang kerasukan pun mengkoreksi doa-doa yang dibacakan. Baik dari sisi lafal pengucapan yang salah, ataupun arti yang dimiliki. Sungguh sebuah peristiwa yang mengejutkan. Dimana yang merasuki, bisa mengkoreksi pemuka agama dalam pembacaan doa nya.

Ini yang membuat keyakinan saya menjadi runtuh, dan kondisi berbalik. Keyakinan yang kuat bisa seketika diruntuhkan dengan melihat peristiwa tersebut, keyakinan kalau semua yang tidak logis bisa disiasati dengan doa-doa agama pun menjadi hancur. Ya maklum lah, fase kehidupan usia segitu memang sedang membenturkan segala sesuatu, melihat hal dari sisi hitam putih, benar salah dan baik buruk.

Berbanding terbalik dengan cerita awal tadi, yang membalikkan dan menurunkan logika serta menaikkan keyakinan, tapi di peristiwa yang ini, logika yang sudah turun, diikuti dengan keyakinan yang menurun pula.

Ini tentang rasa yang mengisi sukma.

Waktupun berlalu, dan semakin banyak interaksi dan pengalaman yang ditemui…

Satu peristiwa penting yang ingin saya ceritakan dan bagi di sini adalah cerita mengenai tahun lalu, genap hampir setahun yang lalu. Ketika Ayah tercinta memasuki fase menutup usia.

Di suatu malam, kira-kira seminggu sebelum Ayah tercinta berpulang, beliau terbangun di suatu malam. Kondisi mendiang ayah sewaktu itu sudah lemah, sehingga segala sesuatu yang beliau lakukan butuh waktu lebih lama, dan lebih lambat. Semudah bangun dari tempat tidur pun butuh proses yang agak panjang dan proses lebih lama.

Tiba-tiba beliau bangun di malam menjelang dini hari, dengan kondisi panik dan bergerak dengan cepat dan gesit.

Semua panik, bahkan istri dan anak-anaknya pun mendapatkan pertanyaan yang sama dari mendiang Ayah di masa itu, “Kamu siapa ? Mau apa di sini ? ”. Seakan tidak kenal dengan orang-orang di sekelilingnya yang menemaninya terus bertahun-tahun.

Ketika saya masuk ke kamar beliau, terlihat beliau sedang berdiri di tempat tidur.

Pengalaman yang dimiliki dari perisitiwa-peristiwa kehidupan yang saya lewati mengenai kondisi ini, sudah bisa mengatasi masalah mengenai soal logika dan keyakinan. Tidak ada masalah lagi tentang hal itu.

Tapi pengalaman ini justru malah menimbulkan sebuah polemik baru, sebuah kondisi ketika semua sudah tertata dengan baik, logika, non logika, keyakinan, kepercayaan, sudah pada proporsi yang pas tepat, namun dihancurkan dengan sebuah emosi.

Beda ternyata ketika kita berhadapan dengan orang yang kita tidak memiliki rasa besar terhadap dirinya, dengan Ayah sendiri dimana kita memiliki rasa yang begitu besar. Sebuah pergumulan yang lebih sulit lagi ternyata kenyataan yang model begini.

Meskipun pada akhirnya, tetap bisa teratasi (mungkin saya nggak perlu cerita detil mengenai cara dan teknisnya), tetapi tetap saja ternyata ada keterikatan emosi yang menjadi penghalang.

Ini semua semakin menguatkan cerita dari Teteh Lovelie Light (LVL) yang bilang kalau, semesta ini nggak mungkin bisa kita pahami seutuhnya. Tetap saja di usia senja saya ini, masih juga menemukan misteri baru, pergumulan baru dalam diri, mengenai hal-hal yang nyata dan tidak nyata.

Misteri itu tidak untuk dihilangkan dengan tuntas…tetapi masih dibutuhkan untuk lebih mengenal diri dan alam ini.

Lalu tersambung dengan tulisan Aa Wisanggeni mengenai “Jika rasa dan sukma tidak bersatu, tubuh menjadi kosong. Dan akan ada yang mengisi kekosongan itu”. Saya mengalaminya dengan cara terputus nya rasa dan sukma, oleh emosi dan keterikatan, yang bikin bingung.

Silahkan disikapi tulisan ini sebagai sebuah cerita, ataupun sebuah pelajaran. Atau mungkin sebuah tulisan yang kepanjangan mengenai bualan orang tua. Tapi kalau boleh saya berharap, semoga bisa ada yang melihat sebuah sisi mengenai pergumulan dalam diri itu harus selalu tetap ada, dalam mencari sesuatu yang baru.

Dalam mengisi hidup ini, masih dibutuhkan banyak misteri…masih butuh banyak rasa dalam hidup ini, yang mengisi sukma kita..

Selamat pagi dan selamat menikmati hari Rabu, semoga semua Kawans di Sekala Niskala bisa mendapat kebahagiaan hari ini.

Cheers,

Quorahttps://qr.ae/p2jzpm

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar