Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SNU FILES “KESURUPAN: RASA YANG TAK TERUCAP, JIWA YANG TAK PUNYA RUMAH” Part #5 dari “Hati-Hati Cerita tentang Klenik Oleh: Wisanggeni Senja merekah pelan di langit Kuningan. Kabut tipis bergulung dari lembah ke lembah, seolah membawa kabar dari

SNU FILES “KESURUPAN: RASA YANG TAK TERUCAP, JIWA YANG TAK PUNYA RUMAH” Part 5 dari “Hati Hati Cerita tentang Klenik Oleh: Wisanggeni Senja merekah pe...

lovelie-light 2 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SNU FILES “KESURUPAN: RASA YANG TAK TERUCAP, JIWA YANG TAK PUNYA RUMAH” Part #5 dari “Hati-Hati Cerita tentang Klenik Oleh: Wisanggeni Senja merekah pelan di langit Kuningan. Kabut tipis bergulung dari lembah ke lembah, seolah membawa kabar dari

SNU FILES “KESURUPAN: RASA YANG TAK TERUCAP, JIWA YANG TAK PUNYA RUMAH”

Part #5 dari “Hati-Hati Cerita tentang Klenik

Oleh: Wisanggeni

Senja merekah pelan di langit Kuningan.

Kabut tipis bergulung dari lembah ke lembah, seolah membawa kabar dari dunia yang tak terjamah oleh peta.

Di kejauhan, gamelan tua terdengar samar tak tahu dari mana asalnya.

Angin menggigit pelan, seperti menyampaikan pesan yang tak sempat dirangkai jadi kata.

image

Malam itu, seorang siswa menjerit di tengah lapangan sekolah.

Tubuhnya gemetar, matanya kosong.

Dari balik suara parau, keluar kalimat yang tak pernah dia pelajari. Bahasa entah dari mana.

Yang lain menyusul.

Tangis. Jerit. Geliat tubuh-tubuh muda yang kehilangan pijakan.

Guru-guru panik. Sebagian membaca ayat, sebagian lagi mencari “orang pintar”.

Tapi aku tahu, ini bukan hanya soal jin atau makhluk ghaib semata.

Ini soal jiwa yang tak didengar. Tentang rasa yang tak terucap. Tentang ruang batin yang diabaikan. Atau bisa jadi tentang Perilaku yang tidak berprikemanusiaan.

Kesurupan, dalam Kearifan Sunda

Orang tua dulu bilang:

“Lamun rasa jeung sukma henteu nyambung, awak jadi kosong. Kosong teh bakal dieusi ku nu sanés.”

(Jika rasa dan jiwa tak menyatu, tubuh jadi kosong. Kosong itu akan diisi oleh yang lain.)

Kesurupan bukan cuma horor, tapi pesan sunyi dari semesta.

Sinyal bahwa manusia sedang melupakan keseimbangan: antara pikiran dan hati, antara lahir dan batin, antara dunia nyata dan tak kasatmata.

Di desa, kesurupan dipercaya terjadi jika:

• Alam terganggu tanpa permisi.

• Pantangan adat dilanggar.

• Berpolah sompral.

• Sengaja dikirim dengan niat jahat.

• Atau… ada beban batin yang dipendam.

Kita Tak Sedang Dikutuk, Hanya Tak Didengar

Aku jadi teringat ucapan Kasepuhan di daerah Lereng Gunung Ciremai:

“Budak nu kasurupan téh lain keur disiksa, tapi keur diondang. Aya nu hayang diajak nyarita, ngaliwatan manehna.”

(Anak yang kesurupan itu bukan untuk disiksa, tapi sedang diundang. Ada yang ingin bicara lewat dirinya.)

Sungguh, kadang jiwa kita hanya ingin didengarkan.

Tapi siapa yang sempat mendengar, di zaman yang semua orang sibuk menjadi speaker dan lupa jadi pendengar?

Estetika Jiwa yang Tercerabut

Kesurupan, dalam makna terdalamnya, adalah puisi tragis dari jiwa-jiwa rapuh yang kehilangan rumah.

Leluhur Sunda menyembuhkan bukan dengan teriakan, tapi dengan kelembutan:

mereka berdialog dengan rasa.

Mereka tidak memaki roh, tapi menawari pulang.

Mereka tidak mengusir, tapi mengantar dengan doa.

Sebab mereka percaya:

“Nu lemes teu bisa dilawan ku nu heuras, rasa teu bisa dipaksa.”

(Yang halus tak bisa ditaklukkan oleh yang kasar, rasa tak bisa dipaksa)

Penutup: Jangan Menertawai yang Kesurupan, Dengarkanlah Ia

Kini, saat kisah ini kau baca, mungkin di sebuah sudut sekolah, satu anak kembali mengerang.

Tolong, jangan tertawakan ia.

Jangan buru-buru menyebutnya aneh, apalagi gila.

Mungkin ia hanya terlalu penuh.

Dan tubuhnya tak sanggup lagi menahan semua luka yang tak sempat diungkapkan.

Lalu semesta mengambil alih.

Lewat jeritannya, alam akhirnya bersuara.

#memayu hayuning bawana

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar