Part #9 dari “Hati-Hati Cerita tentang Klenik” Ditulis oleh: Lovelie Light
Hati manusia itu kayak cermin, kadang memantulkan cahaya indah, tapi kadang juga bayangan gelap dari hasrat yang nggak sabaran. Di antara keduanya, ada satu garis tipis yang sering kita salah artikan: Pelet. Kita sering banget asal tuduh, seolah semua rasa cinta yang aneh itu pasti karena pelet. Padahal, dunia di balik tirai itu jauh lebih kompleks dan berlapis.
Tulisan ini bukan cuma soal mantra dan sihir, tapi lebih dalam lagi, ini tentang cinta vs. paksaan, tentang pesona vs. manipulasi, dan tentang kehendak bebas yang terampas.
Aku sudah membaca tulisan Aa Wisanggeni dan King Of Alit terus aku mikir, aku coba lagi mengingat-ingat bahwa konsep pelet sendiri sebenarnya potongan dari konsep SANTET. Yaa… Pelet adalah bagian sederhana dari Santet.
Guruku dulu pernah memberitahuku seperti ini:
SANTET merupaka akronim dari mesisan banthet *(sekalian rusak) dan mesisan genthet *(sekalian bergabung/menyatu).
Santet dalam perspektif “sekalian rusak”, digunakan saat memisahkan dua pasangan yang saling mencintai. Sedangkan Santet dalam perspektif “sekalian bergabung/menyatu”, digunakan saat menyatukan dua orang yang tidak saling mencintai, atau lebih dikenal dengan istilah Pelet.
BING ID: lovelie_light
Kaya yang King bilang, banyak orang yang sering salah mengenali pelet. Kenapa? Karena efeknya mirip banget dengan orang yang lagi jatuh cinta beneran. Logika dan nalar sering turun, pikiran cuma terpusat pada satu orang, dan ada rasa rindu yang nggak bisa dijelaskan. Ini yang sering membuat orang salah kaprah.
Dari sudut pandangku, lebih banyak kasus yang dianggap pelet itu sebenarnya adalah gejolak emosi dan psikologis alami yang sangat kuat. Itu cuma histeria, respons natural dari otak dan hati yang lagi nggak sinkron. Sisanya, barulah kita bicara tentang intervensi supranatural yang nyata.
Ya dan memang mirip seperti Kesurupan, semuanya tentang isi didalam otak dan dihati manusia, bukan soal intervensi gaib apa lagi kiriman makhluk-makhluk untuk mengikat birahi seseorang. Kalo emang urusang gaib gampang beresinnya, tapi kalo masalah adalah tentang kegatelan dua individu, nah ini yg malesin ngurusnya… gak usah munafik, kalo suka yaa bilang suka aja, menikmati koq kamu, gak usah playing victim bilang di Pelet, cuma karena gengsi ketawan ‘main’~😛🤪
Satu hal yang harus kita ingat, pelet itu bukan cinta. Cinta itu soal kerelaan dan kehendak bebas, sedangkan pelet adalah pembajakan. Ini metafora untuk hasrat yang nggak sabar dan egois.
Dampaknya? Selain hilangnya kendali diri pada korban, hubungan yang dibangun di atas paksaan ini juga sangat rapuh. Pelaku juga nggak lepas dari karma atau efek balik yang merugikan. Hati yang datang karena dipaksa, nggak akan pernah benar-benar tinggal. Dan di dalam diri korban, ada luka tak terlihat yang sering bikin mereka merasa kosong, bingung, bahkan terpenjara dalam tubuh sendiri.
Aku sempat cerita di Quora tentang salah satu pasien guruku yang keluhannya adalah Santet penghancur usaha*, saat di lakukan ruqyah dan pembersihan ada hal lain yang terjadi… istri dari si pemohon ini mengalami gelagat aneh, dia kehilangan ingatannya, dia tidak inget pernah menikah, tidak ingat punya anak, seperti linglung, keder, bingung, ternyata hal ini dikarenakan ada nya manipulasi, dimana kesadarannya dulu di hi-jack oleh ritual pengikat sukma yang dilakukan suaminya dulu untuk bisa memiliki sang istri ini. Yaa… si suami ini dulu melakukan prosesi guna-guna, untuk bisa diterima dan menjalin kasih sama sang istri. Perlu waktu cukup lama untuk menghilagkan pengaruh sihir ini dan membantu sang istri menyusun pilah-pilah memorinya yg berantakan, belum lagi efek psikologis sang anak yang ditampik ibunya… sedihlah!*
Di balik ilusi cinta yang hadir, korban pelet sebenarnya sedang mengalami perang batin yang mengerikan. Mereka merasa seperti bukan lagi pemilik dari tubuh dan pikirannya sendiri. Ada suara asing yang terus berbisik, mendorong untuk merindukan dan mengejar seseorang yang secara logis tidak seharusnya. Ini bukan cuma perasaan jatuh cinta, tapi sebuah “pembajakan” yang membuat mereka terisolasi.
Mereka bisa saja tiba-tiba menjauhi keluarga, memutus tali silaturahmi dengan teman, atau bahkan nekat melakukan hal-hal yang dulu mereka anggap tabu. Hati yang tadinya utuh kini retak, dipenuhi kebingungan dan rasa kosong yang tak ada habisnya. Ini adalah penjara yang terbuat dari hasrat orang lain, mengunci sang korban dalam ketidakberdayaan.
Secara spiritual, pelet menciptakan distorsi energi yang luar biasa. Saat niat jahat dan mantra terkirim, ia bukan hanya memengaruhi psikis, tapi juga merusak energi inti seseorang. Aura yang tadinya bersih dan cerah bisa tercemar, membuat sang korban mudah sakit, sering merasa lelah, dan punya mimpi buruk yang berulang.
Mereka seolah ditarik dari vibrasi aslinya, dipaksa untuk hidup di frekuensi energi yang rendah dan penuh kegelapan. Dampak spiritual ini seringkali lebih parah dan sulit disembuhkan daripada luka fisik, karena menyentuh esensi dari keberadaan mereka. Pelet bukan hanya mengambil cinta, ia mencuri jiwa itu sendiri, mengubah manusia menjadi boneka yang benangnya ditarik dari jauh. Ini adalah teror yang tak terlihat, tapi terasa sampai ke tulang.
Pesanku, kita nggak bisa menyamaratakan semua hal. Ada pesona yang tulus (pengasihan), ada manipulasi yang jahat (teluh), dan ada pembajakan kehendak yang mengerikan (pelet). Dan Pelet ini adalah kutukan, bukan cinta, dan itu yang harus kita hindari, kita harus waspasa karena godaannya nyata!
BING ID: lovelie_light
✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀