Part #22 dari “Hati-Hati Cerita tentang Klenik” Ditulis oleh: Lovelie Light
Melanjutkan tulisan King Of Alit yang ini:
Tentang adab, laku dan toleransi… dimana aku juga ingin menambahkan soal privasi seperti pada tulisanku yang ini:
Aku tau sekali tiap orang punya kepentingannya sendiri, punya urusannya sendiri, punya haknya sendiri, tapi semua itu tidak akan menjadikan pembenaran pada sikap dan laku yg tidak baik pada orang lain.
Akhir-akhir ini aku merasa kalo ada yang perlahan hilang dalam gaya bersosialisasi bahkan hanya sekedar di media sosial. Istilah “privasi” sering dianggap remeh. Rasanya semua orang bebas melempar komentar, membagikan opini, atau bahkan men-stalk kehidupan orang lain di dunia maya. Tapi buat kita yang peka dengan energi, privasi itu jauh lebih dari sekadar batasan, ia adalah benteng perlindungan esensial yang menjaga frekuensi diri kita tetap stabil dan positif.
Sering aku ungkap kalo yang namanya setiap interaksi itu adalah pertukaran energi. Ketika kita melihat, membaca, atau bereaksi terhadap postingan orang lain, kita sedang menyerap getaran mereka, entah itu positif, netral, atau bahkan negatif. Sama halnya ketika kita membagikan sesuatu tentang diri kita, energi kita ikut menyebar. Bayangkan jika kita tidak punya batasan privasi, yang ada energi kita bisa dengan mudah terkontaminasi atau terkuras habis oleh frekuensi asing yang tidak sejalan. Makanya, menghargai privasi orang lain sama saja dengan menghormati ruang energi mereka.

BING ID: lovelie_light
Dalam perspektif spiritual, setiap individu adalah alam semesta kecil dengan auranya masing-masing. Aura ini adalah medan energi yang sangat sensitif, yang bisa terpengaruh oleh vibrasi di sekitarnya. Ketika seseorang merasa privasinya dilanggar, misalnya, fotonya diambil tanpa izin, rahasianya disebarkan, atau ia menjadi bahan gosip dan bully, medan energinya bisa langsung terganggu. Ini bukan cuma soal perasaan, tapi juga soal integritas energi. Melanggar privasi sama saja dengan merusak aura seseorang secara non-fisik.
Ini juga berlaku di media sosial. Sering kita melihat orang merasa berhak tahu semua hal tentang orang lain, bahkan sampai menyerbu kolom komentar dengan pertanyaan personal yang tidak pantas, atau komentar-komentar yang menghakimi padahal mereka gak tau apa-apa soal individu yg mereka hakimi itu. Platform digital adalah “ruang publik” yang di dalamnya terdapat “ruang pribadi” setiap individu. Memaksa seseorang membagikan sesuatu yang tidak ingin mereka bagikan, atau melabeli mereka dengan penghakiman-penghakiman sepihak sama seperti memaksa masuk ke dalam rumah yang pintunya terkunci. Itu adalah pelanggaran etika dan pengrusakan energi yang serius.
Privasi juga berkaitan erat dengan boundaries. Batasan yang jelas, seperti menolak request follow dari akun yang tidak dikenal, mematikan notifikasi, mematikan kolom komentar, pesan pribadi atau bahkan menonaktifkan akun untuk sementara, adalah wujud self-care modern. Kita tidak perlu merasa bersalah karena ingin menjaga diri. Justru dengan menjaga privasi, kita sedang mengumpulkan kembali energi yang mungkin terdispersi dan fokus pada apa yang benar-benar penting untuk pertumbuhan spiritual kita. Ini adalah bentuk grounding digital atau bahasa umumnya detox digital, di mana kita kembali terhubung dengan diri sendiri tanpa gangguan frekuensi eksternal yang tidak relevan.

BING ID: lovelie_light
Bagi mereka yang memiliki intuisi kuat dan sensitif terhadap energi, privasi adalah kebutuhan primer. Kita bisa tahu kapan energi seseorang terasa berat atau negatif hanya dari interaksi singkat di kolom komentar. Makanya, menjaga jarak dan memfilter interaksi adalah skill bertahan hidup. Menghargai privasi orang lain berarti kita juga menghargai kepekaan mereka terhadap energi, dan mengakui bahwa tidak semua hal perlu diketahui, apalagi dibagikan.
Jadi, mari kita pandang privasi sebagai sebuah laku spiritual. Ini bukan tentang bersikap antisosial*,* melainkan tentang membangun relasi yang sehat, baik di dunia nyata maupun maya. Dengan menghargai privasi orang lain, kita menciptakan ekosistem digital yang lebih aman, di mana setiap individu bisa merasa nyaman, frekuensi mereka terjaga, dan vibrasi kolektif menjadi lebih harmonis.
Kamu enggak suka privasimu diacak-acak? Enggak suka dikomentari seenak jidat sama orang yg enggak dikenal? Ya udah, jangan lakukan itu juga ke orang lain. Kamu manusia, bukan topeng monyet yang bisa bertindak tanpa etika di balik topeng.
Hakmu adalah cermin dari hak orang lain. Makanya, kebebasan yang kamu punya adalah tanggung jawab untuk tidak mengambil kebebasan orang lain! — Lovelie Light 2025
✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧
Be kind and respectful, and I will do the same for you!
Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.
Makasih, Lovelie Light~🍀
