Logo Sekala Niskala
SNU Sekala Niskala Universe
quora-sync

SNU FILES [LVL] → REFRAME KATA DUKUN: MENGURAI PERAN HEALER DALAM SEJARAH DAN DI ZAMAN NOW

Part 13 dari “Hati Hati Cerita tentang Klenik" Ditulis oleh: Lovelie Light Kawans Sekala Niskala, apa yang muncul di kepala kalian kalo aku gulirkan k...

lovelie-light 7 m baca
Gaya Huruf
Ukuran Teks
Backup
Ilustrasi untuk artikel SNU FILES [LVL] → REFRAME KATA DUKUN: MENGURAI PERAN HEALER DALAM SEJARAH DAN DI ZAMAN NOW

Part #13 dari “Hati-Hati Cerita tentang Klenik” Ditulis oleh: Lovelie Light

Kawans Sekala Niskala, apa yang muncul di kepala kalian kalo aku gulirkan kata “DUKUN” di hadapan Kawans sekalian… persepsi apa yang dominan di kepala Kawans? Saat ini aku bisa jamin sebagian dari Kawans sekalian berpersepsi NEGATIF kan akan ‘istilah’ ini…

Project SNU FILES ini bergulir dan digagas oleh kami dari Sekala Niskala dengan tujuan untuk mengajak Kawans semua untuk mau melihat dari sudut pandang lain yg lebih luas, agar penilaian akan segala sesuatu tidak jomplang, dan banyak orang mau belajar untuk lebih bijak menyikapi perbedaan sudut pandang, pengalaman dan ilmu yang dimiliki.

Makasih juga sama King Of Alit , Wisanggeni dan Cindy Delviana *tandem in crime-*ku yang kalo aku lemparkan ide ke mereka, mereka bisa mengimbangi kegilaanku… it’s my bless to know y’ll~💖🤪🤘

Oke mari kita mulai bahasan kita soal DUKUN.

.

DUKUN. Satu kata ini bisa memancing beragam reaksi. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok penipu yang penuh mistis dan menakutkan. Bagi yang lain, ia mungkin dianggap sebagai pilar tradisi yang tersisa. Padahal, jauh sebelum label-label itu menempel, istilah “dukun” menyimpan cerita yang jauh lebih dalam dan bermakna.

Lewat tulisanku ini aku bukan ingin membenarkan atau menyalahkan pov manapun, tapi mau mengajak kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih utuh, proporsional, dan manusiawi.

Jauh di masa lalu, peran “dukun” sangat krusial dalam struktur masyarakat. Sebelum adanya rumah sakit dan klinik modern, dukun adalah satu-satunya perpanjangan tangan Sang “penyembuh” yang tersedia. Mereka adalah tabib yang mengerti ramuan herbal, bidan kampung yang membantu persalinan, dan ahli pijat yang memperbaiki keseleo dan patah tulang. Pengetahuan mereka bukan hanya dipandang sebagai “ilmu gaib,” melainkan sebagai kearifan lokal yang teruji turun-temurun.

Fungsi mereka pun tidak sebatas pada kesehatan fisik. Dukun juga berperan sebagai konsultan spiritual dan mediator antara masyarakat dan alam semesta. Mereka membantu mencari solusi untuk masalah sosial, menenangkan hati yang gundah, atau melakukan ritual untuk menjaga keseimbangan. Mereka adalah pusat informasi, penasihat, dan penjaga harmoni komunitas.

image

BING ID: lovelie_light

PERGESERAN MAKNA mulai terjadi saat modernitas masuk ke Tanah Air. Ilmu kedokteran dan sains rasional membawa pendekatan baru yang lebih terstruktur dan terukur. Praktik dukun yang dianggap non-ilmiah mulai tergeser dan dilabeli sebagai pengobatan alternatif. Ini menciptakan dikotomi: pengobatan medis adalah “ilmiah,” sementara praktik dukun adalah “tradisional” yang seringkali dipertanyakan keabsahannya.

Seiring dengan itu, peran agama-agama formal juga sangat signifikan. Banyak ajaran agama memiliki pandangan yang ketat terhadap praktik spiritual yang dianggap di luar koridornya, seperti penggunaan jimat atau interaksi dengan entitas gaib. Istilah “dukun” pun mulai bergeser ke ranah yang lebih peyoratif, dikaitkan dengan hal-hal yang berbau syirik atau sesat, padahal praktek penyembuhan yg dilakukan para “dukun” ini belum tentu dan gak selalu syirik atau sesat. Maka disinilah muncul stigma negatif itu, dan semakin kuat karena berkurangnya kesadaran orang untuk mempelajari dan memahami ttg sejarah dan kearifan budayanya sendiri.

Orang bakar dupa untuk wewangian di kata Syirik, begitu namanya diganti jadi “buhur” langsung di puja-puja dan diakui jadi gaya kekinian… aneh aja sih~🙄😑😓

Jangan lupakan juga peran media. Film horor, sinetron, dan berita sensasional seringkali menampilkan dukun dari sisi yang paling menakutkan dan negatif. Gak semua orang kaya aku kalo nonton horror di komentari dan di maki2 “mana logika supranatralnya?!”, gak semua orang juga nonton series Supernatural lalu menggunakan trick dan detail di series itu buat ngalahin demit.

Dalam film-film horor yang beredar di masyarakat, keberadaan Dukun digambarkan sebagai sosok antagonis yang melakukan santet, pesugihan, atau tipu daya. Sayangnya, penggambaran ini begitu masif hingga membentuk citra dukun di benak publik menjadi sesuatu yang harus dijauhi, bukan dihargai karena peran mereka membantu orang lain.

KETIKA STIGMA ITU TERGANTUNG GEOGRAFI: MENGAPA “SHAMAN” DIHORMATI, TAPI “DUKUN” DILAKNAT?

Jika kita melihat lebih jauh, ada satu ironi yang menarik: perlakuan masyarakat modern terhadap “Dukun” di Indonesia dan “Shaman” di negara Barat sangatlah berbeda. Padahal, jika dilihat dari fungsi dan dasar kemampuannya, keduanya memiliki banyak kemiripan—yakni sebagai penyembuh, penasihat spiritual, dan penjaga kearifan alam.

Namun, mengapa “shaman” seringkali dikaitkan dengan kesan mistis yang positif, seolah-olah sosok bijaksana yang berasal dari cerita fiksi, sementara “dukun” sering dicap negatif, kuno, dan menakutkan? Jawabannya ada pada narasi dan konteks budaya yang menyelimutinya.

Di Barat, istilah “shaman” seringkali dikaitkan dengan budaya-budaya asli yang dianggap “eksotik” dan jauh dari realitas keseharian. Praktik mereka diromantisasi sebagai warisan kuno yang murni dan dekat dengan alam. Media dan industri wellness juga berhasil mengemas ulang “shamanism” sebagai terapi spiritual modern yang keren, aman, dan bisa diakses oleh siapa saja. “Shamanic healing” menjadi tren, seolah-olah sebuah kegiatan eksklusif untuk mencapai pencerahan.

Sebaliknya, “dukun” adalah realitas sehari-hari di Indonesia. Ia adalah bagian dari sejarah, mitos, dan tradisi yang berbenturan langsung dengan modernitas, sains, dan ajaran agama-agama formal. Media lokal cenderung menampilkan sisi-sisi paling sensasional, menakutkan, dan jahat dari praktik “dukun,” yang mengukuhkan stigma negatif di benak publik. Akibatnya, “dukun” menjadi simbol dari apa yang “harus ditinggalkan,” sementara “shaman” menjadi simbol dari apa yang “harus dicari.”

Perbedaan perlakuan ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap praktik spiritual seringkali tidak didasarkan pada esensi, melainkan pada jarak, semakin jauh asal budayanya, semakin besar potensi untuk diromantisasi. Ini adalah poin penting untuk mengajak Kawans sekalian memahami bahwa “dukun” tidaklah lebih “buruk” dari “shaman,” melainkan hanya kurang beruntung dalam urusan public relations dan narasi. 😁🤭

image

BING ID: lovelie_light

Terlepas dari segala stigma negatif pasa “DUKUN”, kenapa sih bisa-bisanya orang masih mencari mereka?

Dari sisi perilaku manusia, manusia secara fundamental selalu mencari jawaban. Ketika medis tak lagi bisa memberi harapan, atau saat akal sehat tidak mampu menjelaskan masalah yang terjadi, kita sering kali mencari sesuatu yang melampaui logika. Di sinilah peran dukun sebagai tempat bernaung bagi harapan dan keyakinan kembali muncul.

Dari perspektif spiritual dan supranatural, kita bisa melihatnya dari sisi yang berbeda. Kemampuan dukun seringkali didasarkan pada intuisi, kepekaan energi, dan koneksi dengan alam semesta. Mereka tidak selalu menggunakan ilmu hitam, tetapi bisa jadi mereka hanya memiliki kepekaan lebih untuk merasakan energi di sekitar, mirip dengan cara kita merasakan vibe suatu tempat atau orang.

Praktik mereka seringkali erat kaitannya dengan alam. Penggunaan ramuan herbal, air yang sudah diisi energi (*kaya moon water atau air doa), atau batu-batuan seperti kristal yang bukan sekadar ritual kosong, melainkan sebuah cara untuk memanfaatkan energi alam sebagai medium penyembuhan atau perlindungan. Ini adalah bentuk grounding kuno yang sudah dilakukan nenek moyang kita selama ribuan tahun.

Untuk memilah antara yang baik dan buruk, kita bisa fokus pada niat dan etika. Dukun yang tulus adalah mereka yang bekerja dengan niat membantu tanpa pamrih, tidak menuntut bayaran di luar nalar, dan tidak pernah menggunakan kemampuannya untuk mencelakai orang lain. Mereka adalah “pelayan” bagi sesama, bukan “penguasa” yang haus kekuasaan atau uang. Jadi Kawans bisa analisa dulu detail-detail logisnya sebelum menggunakan jasa dukun, supaya tidak terjebak.

Aku sih mikir udah saatnya kita memecah stigma “dukun.” Daripada melihat mereka sebagai satu entitas seragam, lebih baik kita melihat mereka dari fungsi spesifiknya. Dukun bisa jadi seorang herbalist yang kaya akan pengetahuan botani, spiritual guide yang mumpuni dalam memberi nasihat, atau cultural guardian yang menjaga ritual tradisional dari kepunahan. Jadi lebih banyak perannya dalam masyarakat sehingga kita tidak hanya terjebak pada satu jenis labeling, kebiasaan!

Ini bukan soal percaya atau tidak, tapi soal menghargai bahwa ada ilmu dan kearifan yang berbeda dari apa yang kita kenal. Dengan tidak langsung menghakimi, kita bisa melihat adanya warisan budaya yang berharga, yang jika dipahami dengan baik, bisa menjadi bagian dari spektrum spiritual kita sendiri.

Lihatlah di sekeliling kita hari ini. Konsep “dukun” ini sebenernya udang mulai berevolusi menjadi sesuatu yang lebih modern dan diterima. Ada healer yang menggunakan kristal dan energi, pelatih mindfulness yang membantu kita menemukan kedamaian batin, atau bahkan ahli pengobatan herbal yang meracik ramuan dengan herbal alami. Mereka semua adalah bentuk-bentuk modern dari peran dukun di masa lalu.

Makanya kalo kita mendengar kata “dukun,” cobalah untuk tidak langsung mengasosiasikannya dengan sihir atau kejahatan. Sebaliknya, lihatlah sebagai sebuah cerminan sejarah, sebuah manifestasi perilaku manusia yang mencari jawaban, dan sebuah spektrum spiritual yang luas. Jangan terjebak pada doktrin kebencian yang dibentuk agar masyarkat penuh kesalah pahaman.

Kalo buat aku akhirnya “dukun” cuma sebuah label. Yang lebih penting adalah esensi di baliknya → niat tulus untuk menolong, kearifan yang diturunkan, dan rasa hormat pada energi tak kasat mata yang membentuk realitas kita.

✧ ——— °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖° ——— ✧

Be kind and respectful, and I will do the same for you!

Hati-hati dalam menggunakan kebebasan berkomentar, termasuk saat me-repost tulisan saya. Saya bukan Indigo dan tidak memberikan konsultasi dan atau menjawab pertanyaan pribadi tentang hal-hal gaib.

Makasih, Lovelie Light~🍀

image

Tag Terkait: #Quora-sync
Originally published on Quora Space

Diskusi & Komentar