SNU FILES – Part 12
“DUKUN: Di Ambang Harapan dan Ketakutan”
Ditulis oleh: Wisanggeni
Di antara sawah yang menghampar hijau dan punggung Gunung Ciremai yang diguyur hujan pelan, aku duduk dengan secangkir kopi arabika dengan seduhan ala japanese yang hangatnya menenangkan. Kopinya sungguh bisa melemparkanku ke kota kembang, ke sebuah kedai kopi kecil yang aku suka habiskan waktu dengan mendengarkan cerita dari seorang mojang. (alah baru mulai udah galau : komen cindul pasti)
Dari kejauhan, kabut turun pelan-pelan, seolah menutup wajah-wajah yang menyimpan rahasia. Rahasia tentang masa depan, jodoh dan kematian.
Di tempat seperti ini, kisah tentang dukun bukan hanya cerita, tapi napas yang diam-diam berhembus di antara percakapan warga, dalam bisik-bisik pasar, atau tatapan lirih seorang ibu yang kelelahan berdoa. Dukun atau apapun seperti yang dikatakan KOA dalam tulisan pembukanya : ia bisa disebut paranormal / shaman / healer. Mereka semua adalah sosok liminal. Tidak ada lembaga yang melegitimasinya. Ia tidak sepenuhnya milik terang, juga tidak sepenuhnya milik gelap. Ia hidup di tepi dunia: di ambang antara harapan dan ketakutan.
Ada yang datang padanya karena rasa putus asa, ada pula karena tidak percaya dunia medis, atau hukum negara. Tapi tak sedikit pula yang datang dengan niat membengkokkan takdir, menundukkan kehendak orang lain, atau menyakiti yang tidak mau tunduk.

Etsy pinterest
Niat & Kehendak
Di sinilah masalahnya: niat. Bukan hanya niat si dukun, tapi juga niat si peminta. Sebab dukun, pada dasarnya, hanyalah cermin: ia memantulkan kembali isi hati yang datang padanya. Jika yang datang membawa dendam, ia pun akan menjelma alat balas dendam. Tapi jika yang datang membawa harapan—yang tulus dan berserah—ia bisa jadi penghibur sunyi yang tidak ditemukan di rumah sakit, kantor polisi, atau bahkan rumah ibadah.
Dalam budaya Sunda, dukun adalah bayang-bayang dari masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang. Ia diwariskan bukan dari buku, tapi dari pengalaman, dari cerita, dari perjumpaan. Ia lebih didengar daripada dibuktikan.
Aku tidak sedang membela, apalagi mempromosikan. Tapi di dunia yang makin digital dan mekanik, kehadiran mereka kadang lebih menenangkan daripada algoritma atau chatbot yang terlalu cepat menjawab luka hati. Bahkan ketika palsu, seorang dukun masih punya waktu untuk mendengarkan curhat yang panjang.
Dan seperti kopi yang kini tinggal setengah di cangkirku, profesi ini tidak bisa diteguk dengan tergesa. Ia harus dinikmati perlahan. Kadang pahit, kadang menyadarkan. Kadang menipu lidah, tapi menghangatkan dada.
Belahan dunia lain
King Of Alit mengatakan dalam tulisan awal bahwa profesi ini bukan soal ada atau tidak ada, karena sudah pasti ada karena profesi ini sudah menemani peradaban manusia sejak lama di dunia ini.
Dukun atau apapun itu sesungguhnya bukan milik tanah ini saja. Ia ada di setiap belahan bumi, dengan nama yang berbeda, dengan kisah yang serupa. Di Peru, mereka disebut curandero—penyembuh yang memakai ramuan, doa, dan roh leluhur untuk memulihkan jiwa. Di Afrika Barat, dikenal sangoma dan babalawo, yang membaca garis hidup lewat cowrie shell atau merapal mantra pada malam bulan gelap. Di Amerika Utara, suku asli menyebut mereka medicine man, penjaga keseimbangan antara manusia dan semesta.
Aku pernah membaca kisah dari Mongolia, tentang seorang shaman perempuan, yang sejak kecil bermimpi dikejar serigala putih. Ia mengira itu kutukan. Tapi saat beranjak dewasa, ia justru jadi penyambung pesan antara manusia dan alam yang murka. Ia tidak beriklan, tidak meminta bayaran. Ia hanya datang ketika diminta, dan menghilang seperti angin yang telah menyampaikan titah langit.
Mereka semua serupa dalam satu hal: berjalan dalam sunyi, bekerja dalam ambang, dan memanggil sesuatu yang tidak bisa dipanggil oleh sembarang orang. Bukan sekadar supranatural, tapi kepekaan terhadap luka batin, disonansi dalam rumah, atau ketakutan yang disembunyikan dengan rapi di balik senyum.
Di sini, di bawah Gunung Ciremai yang tenang, aku jadi sadar: meski dunia telah berubah, kita masih menyisakan ruang untuk yang tak terlihat. Entah itu disebut percaya, putus asa, atau hanya karena tak tahu lagi harus berpegangan pada apa.

Ratandaart Pinterest
Sebagai panutup artikel wingitnya King Of Alit menuliskan sebenarnya apa sih yang salah dari profesi seorang Dukun ?
Mari kita resapi dengan salah satu sudut pandang seperti ini.
Konflik Moral
Jalan sunyi yang diambil oleh dukun tak selamanya bersih. Karena di titik tertentu, setiap dukun akan berdiri di persimpangan moral : Apakah ia menolong karena panggilan jiwa, atau karena permintaan yang menggoda kekuasaan?
Di satu sisi, ada orang yang datang membawa luka meminta disembuhkan dari sakit yang tak terdeteksi rumah sakit. Tapi di sisi lain, ada pula yang datang dengan niat jahat: meminta orang lain jatuh, tergila-gila, hancur, kalah.
Dan si dukun. Ia bukan nabi. Ia juga manusia. Kadang tergoda. Kadang lelah. Kadang merasa “kenapa tidak?” jika semuanya bisa dibayar lebih mahal dari harga nurani.
Begitulah, konflik moral itu bukan soal benar-salah yang hitam putih. Tapi tentang bagaimana seorang manusia yang diberi kuasa lebih oleh semesta, dipaksa memilih dalam ruang yang abu-abu.
Apalagi ketika orang-orang yang datang padanya bukan hanya membawa permintaan, tapi juga menyodorkan kesepakatan: uang, kekuasaan, atau rasa dipuja sebagai “yang paling tahu”.
Dukun yang dulu duduk diam di bawah pohon bambu, kini harus menimbang: Apakah ia akan jadi penyelamat, atau pelaku dari kehancuran?
Di sinilah titik paling berbahaya itu. Bukan saat ia memanggil roh leluhur, tapi saat ia mulai mendengar bisikan ambisinya sendiri.
Dukun yang Tidak Lagi Merapal Apa-apa
Di kaki Gunung Ciremai, saat kabut turun lebih cepat dari biasa dan suara tonggeret berganti desau dedaunan, seorang lelaki tua duduk sendirian di bale bambu. Di tangannya, secangkir kopi robusta hangat dari ladang di lereng sebelah timur hitam, pahit, tak berampas.
Ia adalah dukun yang tidak lagi banyak merapal. Tidak karena ilmunya hilang, tapi karena ia tahu, kadang manusia datang bukan untuk disembuhkan, melainkan untuk membalas dendam. Dan ia lelah jadi jembatan dari niat-niat buruk yang dibungkus doa-doa palsu.
“Aku tidak marah pada dunia,” bisiknya lirih sambil menatap barisan sawah yang mulai gelap. “Aku hanya kecewa pada bagaimana manusia memperlakukan kepercayaan seolah bisa dibeli, ditawar, atau dimanipulasi.”
Ia menyeruput kopinya pelan. Tak ada tamu hari ini. Tak ada dupa yang dibakar. Tak ada mantra yang dilafalkan. Hanya ia, suara jangkrik, dan langit yang makin berat.
Di tempat ini, dukun bukan lagi tentang kuasa. Tapi tentang kesadaran bahwa tidak semua bisa dan boleh diintervensi. Bahwa dalam dunia yang terus mencari shortcut, masih ada yang memilih untuk diam, membiarkan luka sembuh sendiri, dan membiarkan waktu bekerja seperti mestinya.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sejati. Cerita selanjutnya kita akan nantikan teh Lovelie Light (LVL) dan dilengkapi sempurna oleh Cindy Delviana
Sungguh tak terasa sambil menuliskan cerita, bayanganku di kota kembang telah kembali ke peraduan. Dalam titik ini aku sudah benar - benar merelakan. Ingatan, harapan yang berpendar dan berkelindan aku niatkan menjadi sebuah doa bagi kebahagiaanya. (Cindul ketawa lagi kalo baca ini).
Sampai jumpa di cerita selanjutnya kawan SN !! Salam Begawan Balawan
#Memayu Hayuning Bawana