SNU FILES → “PELET : SIHIR YANG MENGAKU CINTA DI TEPIAN WADUK DARMA”
Part 7 dari cerita mengenai “Hati-hati Tentang Cerita Klenik”
Ditulis oleh: Wisanggeni
Waduk Darma, Hujan.
Air menepi dalam kabut, dan angin menggulung sunyi ke tepian. Sepasang kursi tua di dermaga tampak usang, seperti tempat duduk yang tak pernah ditunggu siapa-siapa. Seorang lelaki tua berdiri di ujung tangga, menggenggam puntung rokok, dan berkata lirih namun dalam: “Kamu tahu, Nak… Cinta bisa dipanggil pulang. Tapi hati yang datang karena dipaksa, tak akan benar-benar tinggal.”
Katanya, di sekitar desa di ujung sana, sembari menunjuk ke arah lereng gunung ciremai. Pernah ada seorang dukun perempuan yang mampu membuat siapa pun jatuh cinta hanya dengan rambut, foto, dan nama lengkap. Banyak orang dari luar kota datang diam-diam, membawa bunga tujuh rupa, melarung dupa, berharap seseorang yang tak mencintainya akhirnya mencarinya.
Pelet: Mantra yang Membajak Kehendak
Kita diajari bahwa cinta adalah soal rasa, soal kerelaan, soal kebetulan yang ditumbuhkan bersama waktu. Tapi pelet adalah jalan pintas: ketika hasrat lebih cepat daripada hati, ketika cinta diubah menjadi kehendak sepihak. Maka dibacalah mantra, dirapalkan nama, dan dikirimkan “sesuatu” agar dia teringat, bermimpi, bahkan gelisah tanpa sebab.
Pelet bukan hanya praktik klenik ia adalah metafora tentang hasrat yang tidak sabar, tentang keinginan yang ingin menang sendiri, dan tentang kebutuhan untuk memiliki seseorang tanpa persetujuannya.
Di mana batas antara cinta dan kuasa?
Jika seseorang berkata mencintaimu, tapi mengunci kehendakmu dengan sesuatu yang tidak kau tahu, masihkah itu disebut cinta? Ataukah itu hanya pembajakan rasa, manipulasi yang dibungkus asmara?
Sebagaimana politik bisa memikat rakyat dengan iming-iming palsu, sebagaimana iklan bisa membuat orang tergoda membeli tanpa sadar, pelet adalah bentuk mind control yang lebih kuno tapi tak kalah mengerikan.
Akhirnya, kembali ke pertanyaan lama:
Apakah kamu ingin dicintai… atau ingin menang?
“Pelet mungkin bisa membuat seseorang datang, tapi hanya cinta yang tulus yang membuatnya bertahan.”

Sumber : In.Love pinterest
Pelet dalam Budaya Sunda: Antara Mitologi dan Kenyataan
Dalam masyarakat Sunda, pelet dikenal juga salah satunya dengan istilah asihan yang berupa jangjawokan (mantra rapalan). Jangjawokan ini digunakan saat ritual untuk menumbuhkan cinta atau ketertarikan pada seseorang. Namun tidak hanya dibacakan tetapi juga ada syarat dan laku (tindakan) yang harus dilakukan seperti puasa, mutih, ngrewot (makan hanya umbi-umbian), mandi kembang dll
Benda-benda seperti minyak pelet, akar-akaran, rambut, atau bahkan foto sering dijadikan sarana. Biasanya disertai mantra bahasa Sunda kuno atau Arab awam menyebutnya isim yang dirapalkan pada malam-malam tertentu, terutama pada malam Jumat Kliwon. Medium bisa berupa makanan, minuman, bahkan tiupan angin saat berpapasan.
Namun tak semua pelet bersifat fisik. Ada yang hanya lewat tatapan mata, lewat doa yang disusupi nafsu untuk menguasai, atau bahkan lewat mimpi dengan bantuan “perantara” dari alam lain.
Berikut ini adalah contoh jangjawokan asihan sunda
Mat mat kalemat,
Pangemat ka nu ngaran si ( sebutkan nama)
Eundeur sadayeuh, gehger Sabale
Komo ratu komo rusuh
Dewata nu matak hayem, mangka welas mangka asih
Asih ka badan awaking
Bagi saya yang menyukai linguistik dan sastra. Jangjawokan sunda sungguh begitu indah, bermakna penguat dan doa yang memiliki pola unik, yakni adanya rima yang sama berulang. Seperti dalam syair mat mat kalemat, semua berakhiran at.
Menggunakan majas yang estetik Eundeur sadayeuh (Gempar Sedesa), Gehger Sabale (Menggema Segedung), Komo Ratu Komo Rusuh yang bermakna seperti ratu yang damai atau yang sedang kacau. Dewata nu matak hayem, mangka welas mangka asih berarti doa yang maha kuasa semoga sayang dan cinta. Asih ka badan awaking, yang artinya semoga sayang kepada diriku.
Tidak ada yang aneh sebenarnya dengan baitnya, namun ketika ditambah ritual dan niat yang jahat. Rapalan ini akan berubah menjadi asihan yang memberikan dampak nyata kepada targetnya.
Cara Kerja Pelet: Antara Sugesti dan Intervensi Energi
Secara psikis, pelet bekerja karena sugesti bawah sadar. Si target mulai merasa gelisah, mimpi orang yang sama, terpikir terus menerus, hingga muncul rasa rindu tanpa sebab. Ini bisa didorong oleh komunikasi spiritual antara pelaku dan “makhluk perantara”, atau sekadar efek placebo karena si pelaku meyakininya sepenuh hati sehingga menjadi sugesti.
Dalam perspektif spiritual Sunda, ini disebut sebagai ngalawan kodrat rasa memaksa alam untuk mengubah kehendak orang lain. Maka tak heran jika orang-orang tua dulu memperingatkan: “Ulah ngarebut rasa nu lain. Bogoh teh kudu sabilulungan, lain dipaksakeun.” Jangan merebut rasa yang lain, cinta itu harus saling mencintai bukan dipaksakan.
Dampak Pelet: Luka yang Tak Terlihat
Pelet bisa jadi berhasil secara kasat mata orang yang dituju datang, mencintai, bahkan menikah. Tapi di balik semua itu, ada yang janggal:
- Hilangnya kendali diri pada korban: sering merasa kosong, bingung, atau tertekan tapi tidak tahu sebabnya. Berbeda dengan kosongnya program pemerintah saat ini yang sering menyengsarakan rakyat. Seperti PPATK yang serampangan membekukan rekening dorman 3 bulan.
- Hubungan menjadi rapuh: karena dibangun dari paksaan halus, bukan kesadaran utuh. Rapuhnya koalisi di pemerintahan tentunya bukan karena asihan ya.
- Ketergantungan pada ilmu: pelaku jadi terus bergantung pada “empu” dan takut kehilangan kendali. Kalo di Konoha, pemerintahnya bergantung kepada pajak rakyat.
- Efek balik (karma): banyak cerita tentang pelaku pelet yang akhirnya menderita: sulit punya keturunan, sering sakit, atau ditinggal pasangannya secara tragis. Ini yang berbahaya, kita juga harus ingat. Segala sesuatu itu ada efeknya. Siapa yang menanam dia akan menuai. Begitupun dzolimnya pemerintah yang sering menyengsarakan rakyat, misalnya dengan mengakali MK, Proyek Bancakan, Pembodohan Ibu kota baru dll. Kelak akan ada masanya, alam semesta mengembalikan ke tatanan semula yang adil dan beradab.
Sebagian orang yang sadar telah menjadi korban pelet, merasa seperti terpenjara dalam tubuh sendiri. Ada yang mencari penyembuh, ada yang memilih diam dan pasrah. Tapi tak sedikit pula yang akhirnya balik mengutuk cinta.
Waduk Darma, Masih Hujan
Hujan rintik turun perlahan di atas permukaan Waduk Darma. Kabut tipis menggantung di perbukitan, menciptakan ilusi magis seolah tempat ini bukan bagian dari dunia nyata. Di bawah pohon besar yang menghadap langsung ke danau, seorang pemuda duduk diam, kursi yang awalnya tidak berisi, kini ditempati olehnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menggigil bukan karena dingin, tapi karena kehilangan kendali atas dirinya.
Ia tak mengerti sejak kapan ia mulai mencintai perempuan itu. Bukan cinta biasa tapi candu. Ia bahkan tak ingat momen ketika hatinya benar-benar memilih. Hanya tahu, setiap bayangan perempuan itu membuat dadanya sesak, tubuhnya lemas, dan pikirannya mengawang. Dialog batin menggema dalam sanubarinya.
“Naha atuh haté abdi teu bisa leupas?
Padahal henteu luyu, henteu saluyu.
Tapi unggal peuting nyarita ngaran manehna…”
(“Kenapa hatiku tak bisa lepas? Padahal tak masuk akal. Tapi setiap malam aku menyebut namanya…”)
Ajian ini diyakini bekerja menembus batas logika, masuk ke ruang batin paling sunyi tempat di mana manusia tak bisa berbohong pada diri sendiri. Dampaknya bisa ringan seperti rindu tak beralasan, atau seberat kehilangan kendali dan kehilangan arah hidup.
Korban akan merasa dirinya bukan lagi pemilik raganya. Seperti boneka yang benangnya ditarik dari tempat jauh. Ia bisa berjarak dengan orangtuanya, putus silaturahmi dengan teman, bahkan berani melakukan hal-hal yang dulu tabu baginya.

Sumber : Jack Tower Pinterest
Penutup: Cinta atau Kutukan?
“Naha ieu kanyaah? Atawa supata?” (“Apakah ini cinta? Atau kutukan?”)
Waduk Darma terus memantulkan langit kelabu, seperti cermin bagi hati yang sudah tak lagi tahu mana kehendak sendiri dan mana kehendak yang ditanamkan. Di tanah Sunda, cerita tentang pelet bukan hanya cerita mistik ia adalah kisah tentang bagaimana nafsu bisa menembus kehendak, dan bagaimana cinta bisa dipalsukan oleh kuasa yang gelap.
Darma yang tadinya kelabu mulai berubah memerah, dan kabut menggantung di antara bukit. Di kejauhan, suara azan maghrib berkumandang seolah mengingatkan bahwa waktu selalu berjalan dan cinta sejati tak bisa ditahan. Seketika aku Kembali teringat nasihat kakek tua di awal cerita.
“Cinta bisa dipanggil pulang. Tapi hati yang datang karena dipaksa, tak akan benar-benar tinggal.”
#Memayu Hayuning Bawana